Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 257 (Menangis)


__ADS_3

“Jangan Mir! Kita bisa selesaikan semuanya di rumah ini, malu tahu, kau baru menikah dengan Helena beberapa bulan, masa sudah mau pisah hanya karena masalah sepele.” meski Rahma ingin mengikuti keputusan putranya, namun ia tak berdaya, karena selain rekan bisnis, orang tua Helena adalah sahabatnya dan Yudi.


“Masalah sepele kata ibu? Kenapa sih bu? Kalau soal Beeve ibu enggak pernah serius? Pada hal dia adalah keponakan kandung ibu!” netranya membulat kala Rahma meremehkan Beeve yang telah menderita selama ini.


“Mana mungkin ibu meremehkannya, justru ibu sangat menyayanginya, ibu hanya enggak mau, karena masalah salah paham, semua jadi runyam,” terang Rahma.


“Iya ibu benar, tapi sudah ku jelaskan berulang kali, kalau aku dan Beeve tak ada hubungan apapun, lagi pula untuk apa sih dia mengurus masa lalu ku? Sedangkan dia, tak sekali pun ku campuri.”


Beeve yang baru keluar dari kamar mendengar suara cekcok dari arah ruang tamu.


“Ada apa ribut-ribut?” Beeve pun berjalan menuju ruang tamu, ia pun terkejut saat melihat Helena menangis, dan juga koper yang tercecer di lantai.


“Ada apa ini?” tanya Beeve dengan penuh selidik.


Emir mendadak diam karena Beeve, Helena yang melihat hal tersebut semakin panas dingin.


Ternyata benar, bang Emir masih menyukai kak Beeve, batin Helena.


Karena tak ada yang menjelaskan, akhirnya Rahma pun buka suara.


“Emir ingin memulangkan Helena ke rumah orang tuanya, karena masalah cemburu pada mu,” terang Rahma.


Lalu Beeve dengan wajah datar mendekat ke Helena.


“Jadi itu penyebab kau membenci ku? Sampai berani menghina ku secara langsung?” sorot mata tajam dari Beeve membuat Helena serba salah, meski ia sanggup untuk melawan namun tak mungkin ia lakukan dalam situasi bersama suami dan mertuanya.


“Sudah Bee, jangan buat tambah rumit, namanya juga soal hati.” Rahma yang tak ingin ada keributan baru menenangkan Beeve.


“Aku susah memaafkannya berkali-kali bu, saat ini pun sudah ku maafkan, tapi aku enggak habis pikir, sampai hati dia merendahkan ku, dari sebelum ia menikah, sampai hari ini juga, pada hal aku enggak pernah membalas kelakuannya sekali saja.” Beeve yang jarang mengatakan isi hatinya membuat ketiganya jadi diam.


“Maafkan aku Bee, ini semua salah ku,” ucap Emir.


“Kau enggak perlu minta maaf mas, karena ini murni kesalahan Helena, dengar ya, aku dan mas Emir enggak punya hubungan apapun, lagi pula aku memiliki suami, untuk apa aku melirik orang lain, Helena, jangan terlalu ikut campur dengan yang bukan urusan mu, kalau kau tulus mencintai suami mu, harusnya kau bisa menerima dan memaafkan segala masa lalunya, apabila ada hal yang tak berkenan di hati mu!”


Helena menundukkan kepala karena malu, begitu pula dengan Emir.


“Iya, Beeve benar Helena, apa kau sudah paham sekarang?” ucap Rahma. Helena dengan berat hati menganggukkan kepala.


Dasar kurang ajar! Wanita ini semakin berani memojokkan ku, batin Helena.


“Jaga atittude mu, hargai juga pendidikan mu, harusnya, orang sekelas dirimu yang tamatan luar negeri dan berprofesi dokter, tak pantas minder dengan aku yang hanya tamatan SMA, sikap mu sekarang mencerminkan kau tak percaya diri!” kata-kata Beeve membuat harga diri Helena hanyut sampai ke dasar laut, ia pun menelan salivanya.

__ADS_1


Merasa di atas angin banget perempuan bodoh ini! batin Helena.


“Hem... baiklah, ibu rasa sudah cukup, Helena minta maaf pada kakak mu.” ujar Rahma, tapi Helena yang merasa serba benar tak melunakkan hatinya saat itu.


“Ini bukan salah ku, tapi dia!” netra Helena menatap tajam ke arah Beeve.


Emir menghela nafas panjang, ia yang tadinya sudah sempat luluh, kini semakin yakin untuk menitipkan Arinda ke rumah orang tuanya.


“Helena... Helena, ternyata penilaian ku tak salah.” ucap Emir. Ia pun menarik tangan istrinya menuju kelaur rumah.


“Emir.. jangan Mir!” Rahma menghentikan putranya, sedang Beeve diam di tempat, menonton aksi ketiganya.


Aku enggak akan ikut campur lagi, batin Beeve.


“Aku enggak mau pulang bu, tolong bantu aku." Isak tangis Helena pecah, ketika ia di masukkan paksa oleh Emir ke dalam mobil.


“Emir! Dengarkan ibu!" pekik Rahma.


“Enggak! Ibu yang harus dengarkan aku, jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga ku!” setelah itu, Emir masuk ke dalam mobil, meninggalkan ibunya dengan keadaan kalang kabut.


“Aduh, bisa rusak persahabatan ku dengan mereka, bagaimana ini, malunya...” Rahma pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang resah.


“Bee, tolong hentikan Emir, hanya kau yang bisa melakukannya!” Rahma meminta tolong pada menantu tertuanya.


“Itu bukan urusan ku, lagi pula aku tak melakukan apapun padanya, dia saja yang sibuk mengusik ku!”


“Bee, keluarga kita akan menanggung malu dengan masalah ini, tolonglah nak.” Rahma memohon ada Beeve yang menurutnya akan bersedia membantu.


“Waktu pada ku ibu biasa saja, malah tak berlurani, memaksa cerai, ini dan itu, pada hal kita masih punya ikatan darah bu.” Beeve membungkam mulut mertuanya. Setelah itu, Beeve kembali ke dalam kamarnya.


Selama dalam perjalanan, Helena terus menangis dan meminta agar Emir mengurungkan niatnya, namun Emir yang kokoh tak merubah pendiriannya.


Sesampainya di depan pintu rumah Helena, Emir pun turun terlebih dahulu.


“Cepat keluar! Jangan berlagak manja lagi, karena aku enggak akan luluh!” pekik Emir. Dengan terpaksa, Helena keluar dari mobil Emir.


Lalu Emir yang telah sampai di teras menekan bel pintu.


Ting tong! Tak lama, dari dalam rumah aeseorang membukakan pintu.


“Eh, nak Emir, kenapa enggak bilang dulu kalau mau datang?” ucap Fatimah, lalu ia melirik ke arah belakang menantunya.

__ADS_1


“Helena? Kenapa kau menangis?” Fatimah pun menghampiri putrinya yang menarik kopernya sendiri.


“Mama... hiks...” air mata Helena kembali pecah, saat ibunya bertanya.


“Ada apa ini? Hah??” Fatimah yang bingung melihat putri dan menantunya secara bergantian.


Saat Emir ingin menjawab, tiba-tiba Gurun datang dari dalam rumah.


“Loh nak Emir.” ucap Gurun.


“Assalamu'alaikum pa.” Emir menjabat tangan ayah dan ibu mertuanya.


“Walaikumsalam.” sahut keduanya, Gurun yang melihat wajah resah istri dan putrinya pun mulai bertanya-tanya dalam hati.


Apa Helena membuat ulah? batinnya.


“Ayo, silahkan masuk, kenapa malah berdiri di depan pintu?” ujar Gurun, lalu mereka semua pun masuk ke dalam rumah, dan duduk bersama di atas sofa yang berada di ruang tamu.


“Semua baik-baik sajakan nak Emir, Helena?" tanya Gurun.


“Maafkan saya sebelumnya pa, karena datang ke rumah ini dengan cara yang kurang baik, tapi tujuan saya kesini adalah untuk memulangkan Helena,” ucap Emir.


“Astaghfirullah.” gurun menekan dadanya.


“Papa!” Fatimah memegang pundak suaminya.


“Papa baik-baik saja?!” ucap Emir.


“Aku baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba? Ada masalah apa nak? Ceritakan pada kami,” tanya Gurun penasaran.


“Begini pa, ma.” Emir pun menceritakan seluruh kronologi yang terjadi, mulai awal menikah sampai hari itu, ayahanda Helena ikut malu akan sikap putrinya yang begitu labil dan kekanak-kanakan.


“Aku mengerti.” hanya itu kata yang terucap dari mulut Gurun.


“Syukurlah, kalau papa paham, maka dari itu, ku titipkan Helena pada kalian, semoga ia dapat merenungi kesalahan yang ia perbuat selama ini,” terang Emir.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2