Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 179 (Akibat)


__ADS_3

Yudi dan Rahma melirik satu sama lain, karena mereka tahu isi hati Emir pada Beeve.


Emir... Emir, dasar kurang kerjaan! Mata mu itu kenapa sih Mir! Pada hal Helena lebih cantik dari Beeve, tapi yang di kepala hanya ada Beeve, batin Rahma.


Setelah selesai sarapan pagi, mereka semua pun berangkat kerja, Andri yang tak ingin kecolongan lagi, segera mengambil kunci mobilnya.


“Kau mau kemana Ndri?” tanya Rahma.


“Mau antar Beeve kerja bu,” jawab Andri.


Emir yang ada di garasi pun melirik Andri dengan tajam, seolah tak suka dengan apa yang saudaranya lakukan. Beeve dan Andri pun masuk ke dalam mobil, lalu meluncur menuju restoran.


“Pada hal aku bisa berangkat sendiri mas, harusnya kau di rumah saja istirahat, besok kan sudah mulai kerja lagi,” ucap Beeve.


“Enggak apa-apa sayang, lagi pula aku suka melakukannya,” ujar Andri.


Setelah 1 jam lebih dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di tujuan.


“Ini restoran yang kau kelola sayang?”


“Iya mas.”


“Wah, lumayan besar juga ya, enggak di sangka, kau jadi wanita bisnis sekarang.” ucap Andri seraya keluar dari dalam mobil, begitu pula dengan Beeve.


Saat itu, jam menunjukkan pukul 08:30 pagi, para karyawati Beeve pun sudah ada dalam restoran, ada yang mengurus sayuran di dapur, ada yang menyapu, ada juga yang menyeka meja, semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Ketika para karyawati melihat Beeve datang bersama Andri mereka pun menyapa dengan ramah.


“Selamat pagi bu.” ucap para karyawati satu persatu.


“Pagi juga semuanya.” sahut Beeve seraya menuju ruangannya untuk meletakkan tas. Andri yang berjalan mengikuti Beeve pun melempar senyum pada orang-orang yang baru pertama kali ia temui.


“Bu! Hari ini tumben datangnya bawa supir.” ucap Laura, sontak Andri dan Beeve menoleh ke arah karyawati muda itu.


“Ini bukan supir ku Lau.” ucap Beeve, sedangkan Andri benar-benar tersinggung atas perkataan Laura.


“Oh, begitu ya bu, maaf kalau saya salah.” Andri berharap Beeve untuk menjelaskan siapa dirinya.


“Iya, enggak apa-apa, kenalkan, ini suami ku, namanya mas Andri.” Beeve pun memperkenalkan Andri pada para karyawatinya.


Laura jadi tak enak, karena telah mengatakan Andri supir, sebab Andri terlihat kurus dan kurang berwibawa di matanya.


“Maaf ya pak atas kebodohan saya.” Laura mengulurkan tangannya pada Andri.


Andri yang berjiwa besar pun menerima jabatan tangan dari Laura.


“Iya enggak apa-apa,” ucap Andri.


Setelah selesai dengan sesi perkenalan, Beeve pun mengajak suaminya ke ruangannya.


Sesampainya mereka, Andri melihat ada sebuah kaca besar disana, ia pun berdiri tepat di hadapan kaca tersebut.


“Benar-benar jelek,” gumamnya.


“Apanya yang jelek mas?” tanya Beeve seraya berdiri di sebelah suaminya.

__ADS_1


“Aku sangat jelek, tubuh ku hanya tinggal tulang, wajah ku juga berkerut, kantung mata ku turun, pantas mereka mengira aku supir mu.” terang Andri yang merasa minder akan penampilannya.


“Hum, enggak juga kok mas, kalau kau makan banyak, badan mu akan berisi lagi, kau akan sama seperti yang dulu, makanya makan yang banyak ya mas, olah raga teratur, namanya juga orang baru sembuh.” Beeve menyemangati Andri yang berkecil hati.


“Iya, kau benar juga.” Andri pun bertekad untuk sembuh dan mengembalikan berat badannya.


“Mas, kau mau disini, apa ikut aku ke dapur?” tanya Beeve yang takut Andri tak nyaman bila bertemu karyawatinya.


“Aku ikut dengan mu,” jawab Andri.


Keduanya pun menuju dapur bersama, sesampainya mereka, Beeve mulai membantu orang-orang bagian dapur untuk mencuci bahan-bahan makanan yang ada di masak, Andri begitu salut pada Beeve, yang ikut turun tangan meski berstatus sebagai pemilik restoran.


Ku pikir dulu rencananya ingin membuka rumah makan saat aku terpuruk hanya angan-angannya semata, ternyata dia serius, ya Allah, aku benar-benar beruntung menjadi suaminya, sudah baik hati, pemaaf, cerdas dan pekerja keras lagi, batin Andri.


Andri yang tak mau kalah pun membantu Beeve yang saat itu sedang mencuci ikan salmon.


“Mas, kau duduk saja, nanti tangan mu kotor,” ujar Beeve.


“Enggak apa-apa sayang, aku hanya ingin membantu mu.” Andri pun meniru cara Beeve dalam membersihkan ikan. Setelah selesai, Beeve mengajak Andri untuk kembali ke depan.


“Tunggu aku disini.” ucap Beeve, seraya menyuruh Andri untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana.


“Oke sayang.” Andri pun menurut dengan apa yang Beeve katakan. Selang 5 menit Beeve kembali dengan membawa nasi satu piring penuh dan juga daging sapi panggang berukuran besar.


“Sayang, aku kan baru makan di rumah.”


“Ayo cepat habiskan, semua ini makanan penuh karbohidrat dan juga protein tinggi, yang bisa menambah berat badan mu mas.” melihat usaha istrinya, Andri pun tak dapat menolak, meski perutnya masih teras penuh.


Selanjutnya Laura datang dengan membawa jus alpukat untuk Andri.


“Terimakasih banyak,” ucap Andri. Lalu Beeve yang masih sibuk pun berkata pada suaminya.


“Mas, kau harus habiskan semuanya, aku mau kembali bekerja dulu, jangan ada satu biji nasi atau kecap pun di atas piring setelah aku kembali.” titah Beeve.


Setelah memberi peringatan, Beeve pun kembali ke ruang kerjanya untuk melihat laporan sales mereka yang kemarin.


Ya Tuhan, istri ku kok begini banget, aku malah di kasih makanan porsi 3 orang, astaga Bee, perhatian mu totalitas sayang, batin Andri.


Karena tak ingin membuat istrinya kecewa, Andri pun mulai memakan apa yang Beeve sajikan. 30 menit kemudian, Beeve yang telah selesai dengan urusannya kembali kepada Andri.


“Wah! Mas, kau belum habis juga?” Beeve melihat mata Andri memerah karena memaksa untuk menelan nasi yang belum ia habiskan.


Hoek.... bahkan Andri hampir muntah, namun ia tetap berusaha menghabiskan apa yang ada dalam mulutnya.


Beeve pun menyuruh salah satu karyawatinya untuk membawakan air hangat untuk Andri.


“Nih! Minum dulu mas.” Beeve menyodorkan air putih hangat untuk Andri.


“Te-terimakasih sayang.” Andri pun meneguk air minum pemberian istrinya hingga habis.


Setelah itu, ia melirik Beeve yang memperhatikan sisa nasi yang masih ada di piringnya.


“Aku...”


“Harus habis.” Beeve pun menyuap Andri, dengan sangat terpaksa, Andri membuka mulutnya kembali. Selesai makan, Beeve memberikan vitamin untuk suaminya.

__ADS_1


“Ini, di minum mas.”


“Apa ini?” Andri melihat seksama botol vitamin yang bertuliskan suplemen makan.


“Biar kau kuat makan.” ucap Beeve seraya mengelus rambut Andri.


“Terimkasih sayang, tapi bukannya vitamin makan di minum sebelum makan ya?”


“Betul mas, tapi karena vitaminnya baru sampai di antar kurir, makanya minum sekarang saja, aku ingin kau cepat sembuh.” Beeve tersenyum pada Andri.


“Terimaksih sayang atas kebaikan mu.” Meski perutnya telah begah, namun demi sang istri, Andri meneguk vitamin yang berikan.


____________________________________________


Arinda yang berada di selnya ke datangan tahanan wanita baru yang bernama Lilis, bertubuh besar dengan tinggi 172 cm. Sosoknya yang garang membuat para tahanan lain merasa resah.


“Akh! Sial, kenapa aku harus di salahkan dengan apa yang enggak ku perbuat.” Lilis marah-marah dengan keadaan yang menimpanya.


Arinda yang saat itu sedang tidur siang di atas tikar pun menjadi sasaran pertamanya.


“Heh! Minggir kau! Aku mau tidur!” Lilis membangunkan Arinda dengan menendang-nendang pahanya.


“Apa sih ganggu! orang lagi tidur juga!” suara Arinda meninggi karena merasa terusik.


Ketika ia membuka mata, ia melihat Lilis telah melotot padanya.


“Kau anak baru?” Arinda pun bangkit dari tidurnya, lalu berdiri tepat di hadapan Lilis.


“Kalau anak baru memangnya kenapa?” suara cempreng dan berat Lilis membuat gendang telinga Arinda sakit.


“Heh! Apa enggak ada yang memberitahu mu? Kalau setiap anak baru yang masuk ke dalam sel ini, harus tunduk dan hormat pada senior, aku juga begitu dulu pas masuk ke sini!” Arinda yang merasa berhak atas sel mereka yang terdiri dari 6 orang wanita di tambah Lilis pun mulai melakukan perundungan.


“Kalian juga kenapa diam saja?! Apa karena dia tinggi besar? Wajahnya menyeramkan bagai monster makanya kalian takut?” Arinda memarahi teman-temannya yang lain.


Karena dapat dorongan dari Arinda, ke empat teman-temannya pun ikut berdiri mengerumuni Lilis.


“Oh, mainnya keroyokan nih?” Lilis mengangkat alis kirinya ke atas.


“Memangnya kenapa? Kau takut? Ini salam perkenalan dari kami!” Arinda dan ke empat temannya pun mulai menghajar Lilis dengan brutal, Lilis yang ternyata adalah seorang pembunuh berantai dapat mengimbangi kekuatan mereka berlima.


“Kalian belum tahu siapa aku ya! Aku adalah Lilis, sang pembunuh berantai!” Lilis pun dengan mudah menghajar ke empat teman Arinda, selanjutnya ia mulai membuat ancang-ancang untuk menghajar Arinda, si induk tukang perundung.


Kemudian Lilis menarik kasar rambut Arinda, lalu memukul-mukul wajah Arinda dengan kepalan tangannya yang besar, sampai babak belur.


“Senior kata mu? Hah?! Apa itu senior, di dunia kriminal! Siapa yang kuat, dia yang berkuasa!” Lilis yang belum puas menghajar Arinda mencekik lehernya, hingga air liur Arinda mengalir.


Setelah Arinda hampir meregang nyawa, baru Lilis melepaskannya.


“Mulai sekarang, aku bosnya!” Lilis yang bagai iblis pun menurunkan celananya lalu berjongkok di antara kepala Arinda.


Currr....


Lilis yang sadis mengencingi wajah Arinda yang malang. Arinda yang tak berkutik hanya dapat menerima perlakuan Lilis yang tak manusiawi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2