Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 236 (Terbalaskan)


__ADS_3

“Ayo sayang.” sebelum keluar dari kawasan penjara, Arinda mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan setelan celana jeans biru muda, dan atasan baju kaus oblong hitam polos.


Dasar pelit! Beli baju saja yang harga 15.000 ribu, enggak modal, kalau enggak mampu, mending setia pada istri di rumah pak, batin Arinda.


Hatinya sungguh berkecamuk melihat Leo yang sok keren tapi miskin di matanya, namun karena ia menaruh harapan pada lelaki mata keranjang itu, terpaksa ia menahan semua kepahitan dan juga merelakan kehormatannya di permainkan dengan cuma-cuma alias gratis.


Sesampainya mereka dalam mobil, Leo memborgol tangan kiri Arinda pada hand grip yang ada di atas kepalanya.


“Loh pak, kenapa tangan ku di borgol?” tanya Arinda dengan wajah bingung.


“Untuk jaga-jaga, takut kau kabur, hehehe...” Leo tertawa cengengesan. Arinda yang sudah geram benar-benar tak dapat menahan emosinya, namun lagi-lagi ia harus bersabar, karena bagaimana pun juga, mereka masih dalam lingkungan penjara.


“Ah bapak, jangan gitu dong, mana mungkin aku kabur, bisa keluar seperti ini saja merupakan suatu berkat besar untuk ku,” ujar Arinda.


“Aku percaya kau manis, tapi walau begitu, aku enggak sebodoh yang ada di otak mu, hehehe!” ujar Leo.


Jahanam! Kau harus mati di tangan ku hari ini! Beraninya kau mengolok dan mempermainkan ku! batin Arinda.


Setelah semuanya selesai, Leo pun mulai melajukan mobil membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


Untuk memeriahkan suasana, Leo memutar lagu dangdut jadul kesukaannya, Arinda yang mendengarnya pura-pura suka, dan ikut bernyanyi bersama Leo.


Mereka yang telah 30 menit dalam perjalanan membuat Arinda bertanya-tanya kemana tujuan mereka sebenarnya.


“Pak, kita mau ke hotel mana sih? Perasaan sudah banyak hotel yang kita lewati?” tanya Arinda.


“Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai, kau pasti menyukai tempatnya,” ujar Leo.


“Benarkah?”


“Tentu.”


Arinda pun mencoba santai, dan bersabar hati menghadapi pria yang sedang mengemudi di sebelahnya.


Setelah menempuh perjalanan selama 50 menit, akhirnya mereka tiba di tujuan. Arinda pun celingak-celinguk kesana kemari, sebab ia tak menemukan satu bangunan pun, melainkan pepohonan menjulang tinggi ke langit, serta tepat di hadapan mereka adalah tebing, yang di bawahnya pantai tanpa penghuni.


Apa-apaan ini? batin Arinda.

__ADS_1


Lalu Leo membelai rambut Arinda seraya berkata, “Kau suka tempatnya kan sayang?” Lalu Arinda menoleh ke arah Leo yang ada di sebelahnya.


“Aku pikir kita ke hotel pak,” ucap Arinda.


“Hah? Hotel? Hahaha!” Leo tertawa cekikikan.


“Apa ada yang lucu?” tanya Arinda.


“Ya, kau sangat lucu, untuk apa aku membawa narapidana seperti mu ke tempat bagus? Hahaha! Kau itu hanya sampah! Makanya aku juga enggak bersedia memberi uang setelah aku obok-obok mu, karena apa? Karena kau hanya sebuah kotoran! Benalu masyarakat! Toh aku kasih bedak saja kau sudah mau, berarti harga dirimu hanya sebatas paket skincare 250 ribu, dari pada memberi pada mu, lebih baik untuk anak istri ku, hahaha!” Leo begitu merendahkan Arinda, hingga Arinda tanpa ada keraguan lagi, memutuskan akan menghabisi Leo saat itu juga.


Awas saja! Lengah sedikit! Nyawa mu melayang! batin Arinda dengan mata memerah.


“Aku tahu, aku memang hanya kotoran di mata bapak, maafkan kebodohan ku, yang meminta hal-hal yang tak pantas untuk ku, dan aku sangat berterimakasih telah di ajak keluar untuk menghidup udara segar,” terang Arinda.


“Baguslah kalau kau sadar diri sayang! Sekarang ayo kita main!” Leo pun membuka seluruh bajunya.


“Bisa tolong bantu aku untuk buka baju juga pak? Aku sangat kesulitan,” ujar Arinda.


“Baiklah.” Leo pun membantu Arinda untuk melucuti bajunya.


“Ayo, cepat hisap pisang ku!” titah Leo.


“Pak, bisakah kau lepas borgol ku? Aku sangat kesulitan menyervis mu, kalau tangan ku tergantung sebelah, selain itu tangan ku juga sudah pegal.” terang Arinda.


“Alasan, cepat lakukan!” tingkah kasar Leo menjadi-jadi pada Arinda. Hingga Arinda pun terpaksa menuruti kemauan Leo.


20 menit berselang di penyesapan es krim batang milik Leo, pria itu merasa kurang puas.


“Kau sengaja ya? Kenapa kau enggak agresif seperti biasanya?” tanya Leo.


“Aku kesakitan, apa bapak tidak bisa melihat pergelangan tangan ku yang terluka?”


Lalu Leo melirik ke arah tangan Arinda yang memerah karena tertarik-tarik.


Karena ingin hasratnya terpuaskan, Leo akhirnya membuka borgol yang menjerat pergerakan Arinda.


“Sudah ku lepas! Lakukan yang terbaik!” titah Leo.

__ADS_1


“Tentu saja pak.” Arinda pun mulai memasukkan pisang besar itu ke dalam mulutnya, seraya memijat-mijat kedua kaki Leo dengan kedua tangannya, saat Leo masih dalam keadaan nikmat, Arinda yang telah dendam kesumat, tanpa ragu dan pikir dua kali, menggigit kuat pisang gagah milik Leo, hingga pria kurang ajar itu menjerit kesakitan.


“Akhh!! Sakit!!!” Leo memukul dengan tenaga penuh bahu dan kepala Arinda, namun Arinda yang telah di bakar rasa emosi tak mau melepas gigitannya.


“Lepas pelacu*! Lepas!!!” teriak Leo kesakitan, perlahan darah mengucur deras dari mulut Arinda.


Leo sendiri masih berusaha melepaskan diri dari jerat Arinda, namun wanita licik itu mendorong kuat tubuh Leo menuju pinggir tebing, dengan keadaan masih menggigit pisang pria tak bermodal itu.


“Hum! Hum... hum!!” Arinda makin mempertajam gigitannya, hingga pada akhirnya, benda berharga milik Leo, memisahkan diri dari sarangnya.


“Aaahhh!! Sakiiiiittt!!” Leo sudah seperti cacing kepanasan, terjatuh ke tanah, lalu berguling-guling kesana kemari, Arinda yang berhasil mendapatkan pisang milik Leo, dengan segera membuangnya ke jurang.


“Kau pikir aku wanita sembarangan? Bisa-bisanya kau meremehkan ku sampai level 0! Laki-laki miskin tak bermodal seperti mu, pantas mati! Andri mantan suami ku saja, tak seperti mu penghinaannya pada ku, meski aku telah menyakitinya! Kau pikir aku bodoh hah?!” Arinda yang amarahnya meledak-ledak mengambil batu karang yang ada di tanah, lalu melemparnya ke wajah Leo.


“Akh!! Sakit!!” lagi dan lagi, Leo mengepak di tanah merasakan sakit yang ada di tubuhnya.


Kemudian Arinda mengambil kembali batu karang yang baru saja ia lemparkan ke wajah Leo.


“Kau pikir aku lontong? Oh tidak! Kau katakan aku pelacu*, hanya karena kau bisa memakai ku! Astaga... malah aku lebih rendah dari pada itu kau buat, kau kira aku ini maniac se*s keparat! Hanya kau, orang yang berani membuat ku seperti kotoran!”


Pluk!! Arinda melempar wajah Leo dengan batu karang kembali.


“Ampun!! Ampun, lepaskan aku.... aku masih ingin hidup!!” Leo memohon agar ia di bebaskan.


“Enak saja! Manusia seperti mu, tak pantas hidup lebih lama di dunia yang kejam ini, dan asal kau tahu ya binatan*! aku ini wanita terhormat! kata-kata mu yang tadi di mobil, benar-benar tak bisa di maafkan! Untuk itu, akan ku cabut nyawa mu!”


Pluk pluk pluk! Arinda berulang kali menghempaskan batu karang di tangannya ke wajah Leo, hingga wajah pria hidung belakang itu hancur tak berbentuk berlumuran darah, dagingnya pun berceceran dimana-dimana.


Setelah Leo meregang nyawa, Arinda menghela nafas panjang, ia yang kena cipratan darah Leo pun harus repot untuk membersihkan diri.


“Sialan! Sudah mati, bikin susah lagi!” Arinda menyeret tubuh Leo kembali ke mobil.


“Mana handphone si totol ini?” gumam Arinda seraya mencari keberadaan telepon genggam pria tersebut.


Tak perlu waktu lama, ia pun mendapatkannya, Arinda dengan sigap menelepon ibunya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2