Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 271 (In A Dream)


__ADS_3

“Mas!” Beeve memeluk tubuh Andri dengan erat.


“Mas! Kenapa kau jarang menemui ku? A-aku rindu, hiks...” Beeve semakin erat memeluk tubuh Andri, seolah tak mau lepas


“Bee... hei sayang... jangan menangis lagi.” Andri mengusap rambut indah istrinya.


“Huahh... kau enggak tahu mas rasanya di tinggal orang yang kita sayang, ingin bertemu tapi tak bisa, ingin mendekap mu, tangan tak sampai, aku rindu segala hal yang pernah kita lakukan, bawa aku mas, sejujurnya aku enggak tahan berjalan sendirian tanpa mu.” ternyata Beeve sudah tak memiliki semangat hidup sejak kepergian Andri.


“Istighfar sayang, Allah enggak suka orang yang tak pandai bersyukur, ingat, ada empat nyawa yang membutuhkan mu, tegar kan dirimu, kalau kau benar-benar mencintai ku, hiduplah dengan benar, rawat anak-anak kita, ajarkan agama, mereka harus lebih baik dari pada kita di masa lalu, dan...”


“Dan apa mas?” ucap Beeve yang masih menangis sesengukan di pelukan suaminya.


“Kau harus temukan hati yang baru, bagaimana pun, masa depan mu masih panjang istri ku.” Andri melepas pelukannya lalu mencubit hidup hidung mancung milik Beeve.


“Jangan paksa aku mas, karena aku tak akan menikah lagi,” Beeve menolak saran dari suaminya.


“Ya, kau tak boleh menikah, jika orangnya tak jelas, tapi... akan ada yang datang untuk melamar mu, yang siap mencintai mu dan anak-anak kita setulus hatinya, jangan tolak jika orang tersebut meminang mu, ingat istri ku, yang ku butuhkan sekarang adalah do'a dari mu dan anak-anak ku, sedangkan yang kau adalah pendamping yang siap membantu mu untuk membimbing anak-anak kita,” terang Andri.


“Maaf mas, aku enggak bisa, hatiku telah ku kunci, sejak kepergian mu,” ungkap Beeve.


Lalu Andri tersenyum dan mencium pipi istrinya, “Terimakasih telah mencintai ku, aku bangga pernah menjadi bagian hidup mu, tapi jika orang itu datang, jangan tolak, karena kau pasti bahagia bersamanya.” setelah mengatakan hal itu, perlahan tubuh Andri mulai memudar.


“Mas! Jangan pergi, biarkan aku bersama mu lebih lama, hiks...”


“Jaga diri baik-baik sayang, mencintai tak harus mengorbankan diri ke arah yang kelam, hidup terus berlanjut, jalani dengan penuh syukur. jangan siksa dirimu, hanya karena orang yang tiada, aku juga akan tersiksa, jika kau tetap terisak, dan tak dapat mengikhlaskan kepergian ku.” Setelah mengatakan hal itu, Andri pun hilang bak di telan bumi.


“Bu, ibu...” Madori sang suster yang merawat Soleh pun membangunkannya.


“Hah!!” sontak Beeve membuka matanya.


“Ibu enggak apa-apa?” tanya Madori, sebab Beeve meracau tak jelas dalam tidurnya.


“Aku enggak apa-apa,” jawab Beeve.


“Syukurlah, karena tadi ibu bicara tak jelas dan juga menangis,” ujar Madori.


Beeve pun tersenyum tipis, ia yang merasa lapar keluar kamar, dan berjalan menuju dapur.


Ketika Beeve akan sampai, ia mencium aruma sedap menggugah selera dari arah dapur.


“Wanginya enak,” gumam Beeve.


Setibanya, ia melihat Emir tengah memasak mie goreng pedas, lengkap dengan udang manis besar dan kerupuk.


Seketika Beeve ingat, saat ia ngidam mie goreng buatan Emir 4 tahun yang lalu.


Emir yang sadar akan kehadiran Beeve pun menyapanya. “Hai bu, kamarilah, aku sudah memasak menu kesuakaan mu saat kau merasa gundah!”

__ADS_1


“Kau tahu dari mana mas, pada hal aku enggak pernah bilang hal itu pada mu?” ucap Beeve seraya mendekat ke meja makan.


“Kalau soal kau, aku tahu segala, jadi... ini!” Emir menyodorkan 1 piring mie goreng berwarna merah menantang, di hiasi udang manis goreng tepung dan juga kerupuk di atasnya.


“Untuk mu mana mas?” tanya Beeve, sebab ia melihat hanya ada 1 porsi saja.


“Aku sedang diet,” ujar Emir.


“Kurus begitu, kenapa harus diet sih!”


“Hei, walau aku sekarang jadi babu ayah di perusahaan, aku harus tetap menjaga penampilan ku, karena aku masih aktif di yutub dan beberapa pemotretan elit," terang Emir.


“Pada hal penghasilan di kantor banyak, untuk apa melakukan itu semua?”


“Karena aku suka, dan itu hobby ku, dan dari dulukan cita-cita ku jadi artis, bukan pengusaha.”


“Oh, begitu ya!” ucap Beeve dengan memancungkan bibirnya.


“Jangan banyak omong ah!” Drrrkk... !! Emir menggeser bangku untuk tempat duduk Beeve.


“Makan dulu, nanti kalau mienya mengembang malah enggak enak!” Emir pun meletakkan mie goreng buatannya di hadpan Beeve, setelah itu, ia ambil segelas air hangat untuk wanita kesayangannya itu.


“Air dinginlah mas, inikan pedas, masa aku harus minum air hangat?” ucap Beeve.


“Kalau air dingin nanti si kembar masuk angin saat meminum asi mu, lebih bagus air hangat untuk perut mereka.” Emir yang banyak tahu pun melarang Beeve mengkonsumsi air yang tak baik untuknya.


“Bawel banget sih!” pekik Beeve.


Beeve menatap lekat wajah Emir, Apa akhirnya, aku dan mas Emir akan bersama? Inikah yang kau mau mas? batin Beeve.


Mendapat sorotan tajam penuh makna dari Beeve membuat Emir jadi grogi.


“Hei, apa aku terlalu tampan, hingga membuat mu terkesimang?” ucap Emir dengan percaya diri.


“Idih! Aku melihat mu, karena ada belek kering di sudut mata mu!”


“Apa?!” Emir yang sangat memprioritaskan penampilan pun langsung berlari, ke kaca yang ada di hadapan meja kompor listrik mereka.


“Mana? Enggak ada tuh!” Emir terus mencari kotoran mata yang Bevee katakan.


“Tapi bohong!” Beeve tertawa kecil melihat Emir panik.


“Dasar, enggak jelas kau!” pekik Emir.


“Maaf-maaf.. habis mas Emir sok tampan banget!”


“Memang aku tampan, di lihat dari sudut mana pun, aku sangat tampan, dan tetap tampan!”

__ADS_1


“Ih! Jijik banget deh!” Beeve meledek Emir Han.


“Hei, dari Sabang sampai Merauke, bahkan Benua Eropa, mengakui ketampanan ku!”


“Iya-iya! Sudah, enggak usah banyak omong lagi, lebih baik ambilkan aku ayam goreng yang ada di bawah tudung nasi.” ucap Beeve,yang muak melihat Emir memuji diri sendiri.


“Baiklah.” saat Emir membuka tudung nasi, ia pun melihat, ayam gorengnya hanya tersisa satu. Ia yang usil mulai mengerjai Beeve.


“Tinggal 1.” ucap Emir seraya menggigit ayam goreng tersebut.


“Enggak apa-apa.”


“Tapi sudah ku makan sebagian nih!” Emir menunjukkan bekas gigitannya.


“Enggak masalah mas!”


Apa? Dia mau makanan sisa ku? batin Emir.


Lalu ia pun meletakkan dada ayam tersebut di atas piring kakak iparnya.


“Apa kau mau mas?” Beeve menawarkan mie goreng tersebut pada Emir.


“Nanti kau kurang,” jawab Emir.


“Tapi hanya 1 sendok!” ucap Beeve seraya mengarahkan garpu berisi mie goreng ke mulut Emir.


“Bee, jangan lakukan ini.” ucap Emir yang takut tak bisa menahan perasannya.


“Aku hanya ingin membalas kebaikan mu mas,” ungkap Beeve.


“Bersikap biasa saja, kalau kau terlalu baik pada ku, nanti aku jadi salah sangka, kau tahu dari dulu aku mencintai mu, sedangkan kau tidak,” terang Emir.


Lalu Beeve pun meletakkan kembali mie yang ingin ia berikan pada Emir.


“Maafkan aku,” ucap Beeve.


“Kau tak perlu minta maaf, disini aku yang salah, karena tak bisa menghapus rasa cinta ku pada mu, sudahlah, lanjutkan makan mu, jangan pikirkan apapun, kasihan anak-anak kau tinggal terlalu lama,” ujar Emir.


Lalu Beeve pun menyatap masakan buatan Emir, dengan banyak pikiran di kepalanya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Emir.


“Enak mas!”


“Kalau begitu harus habis ya!” seru Emir, kemudian, ia pun bangkit dari duduknya, untuk membuat segelas susu ibu hamil untuk Beeve.


...Bersambung......

__ADS_1




__ADS_2