
“Astaghfirullah mas, maafkan aku ya, karena aku kau jadi terluka.” Beeve merasa bersalah atas luka yang suaminya alami.
“Ini hanya luka kecil sayang, bukan masalah besar,” terang Andri.
“Ya sudah, aku ambilkan plester ya.” ketika Beeve ingin berdiri, Andri menahan kedua bahunya.
“Enggak usah sayang, biar aku saja yang melakukannya, kau lanjutkan istirahat mu.” Andri pun bangkit dari duduknya, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Kasihan mas Andri,” gumam Beeve.
Setelah beberapa saat, Andri yang telah selesai mandi keluar dari kamar mandi, namun ia tak melihat istrinya di atas ranjang.
“Kemana dia?” Andri pun mulai berpakaian, selanjutnya ia keluar kamar untuk mencari istrinya.
“Mas!” Beeve yang ternyata duduk di ruang tamu bersama Bia memanggilnya.
“Eh, kalian disini?” Andri mendekat ke Beeve dan putrinya.
“Iya, aku lagi menunggu makanan online yang baru saja ku pesan,” terang Beeve.
“Oh, maaf ya sayang, tadi aku lupa memesannya,” ucap Andri.
“Enggak apa-apa mas, oh iya mas, tahu enggak kalau malam ini mas Emir dan Helena berangkat ke Swiss?”
“Enggak, mereka kan enggak memberitahu ku,” ujar Andri.
“Oh, ku pikir mas tahu.” ucap Beeve.
“Swiss itu dimana ma?” tanya Bia yang ingin tahu.
“Swiss itu terletak di Eropa Barat sayang, berbatasan dengan negara Paris, dekat dengan tempat tinggal Bia sewaktu di Prancis dulu sayang.”
“Oh... kapan-kapan kita kesana dong ma.”
“Insya Allah, do'akan agar rezeki kita semua lancar, biar bisa main kesana,” ujar Beeve.
“Iya sayang, papa janji, kalau Bia rajin belajar, dan berprestasi di kelas mu, kita sekeluarga akan liburan kesana.” Andri menyemangati putrinya agar lebih giat dalam belajar.
“Benar ya pa?!” Bia begitu antusias pada janji ayah sambungnya.
“Tentu dong, tapi kalau Bia malas belajar, dan enggak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah, jangankan ke Swiss, Ancol pun papa enggak akan bawa Bia,” terang Andri.
“Tenang saja pa, Bia akan belajar dengan giat, Bia janji, akan bisa membaca dalam waktu dekat!”
Beeve dan Andri merasa bahagia, karena putri mereka begitu bersemangat.
“Bagus! Bagus... mama bangga sama Bia, tetap semangat ya nak, karena kalau Bia pintar, itu untuk Bia sendiri, bukan buat mama dan papa.” ucap Beeve seraya mencium pipi putrinya.
__ADS_1
“Betul kata mama.” Andri pun ikut mengecup pipi putri mereka.
__________________________________________
Emir dan Helena yang telah berada dalam pesawat duduk bersebelahan.
Helena meletakkan kepalanya di bahu sang suami, dengan maksud ingin bermanja-manja.
“Hei, bahu ku sakit, singkirkan kepala mu yang penuh lemak itu dek.” pinta Emir yang merasa bahunya begitu pegal.
“Abang... baru juga sebentar,” ucap Helena.
“Kau sandarkan saja kepala mu ke punggung kursi, jangan bahu ku, pegal tahu!” pekik Emir.
“Ih! Abang gitu banget, tampilannya doang yang kekar, tapi nyatanya loyo!” Helena meledek tubuh besar suaminya.
“Kalau kepala mu ringan, mungkin aku masih tahan lebih lama, coba berkaca, kepala mu itu mirip badak, besar dan bongsor!” terang Emir.
“Tega banget jadi suami, kalau aku badak, berarti kau badak juga!” ucap Helena.
“Aku sih manusia!” Emir menyunggingkan bibirnya.
“Mana ada badan nikah sama manusia!”
“Astaga... enggak mau ngalah banget kau!”
“Iya deh, aku mengalah.” kemudian Helena memindahkan kepalanya ke punggung kursi.
Kasihan juga sih, tapi apa boleh buat, pundak ku lelah, batin Emir.
Emir pun memejamkan matanya untuk tidur, 15 menit kemudian, ia pun terbangun, sebab pahanya terasa berat.
Ketika ia membuka mata, ternyata Helena telah meletakkan kepalanya di atas pangkuan Emir.
Hum! Dasar Helena, ada saja tingkahnya, batin Emir.
Karena istrinya terlihat nyenyak, Emir tak tega untuk membangunkannya, alhasil ia membiarkan wanita cantik itu tetap istirahat dengan tenang.
__________________________________________
Pukul 04:00 pagi, Andri terbangun dari tidurnya, ia yang belum mendapatkan Art harian pun terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah kembali.
Ia bangkit dari ranjang dengan perlahan, agar istrinya tak terbangun.
“Kalau pagi-pagi biasanya ngapain ya?” gumam Andri, lalu ia pun teringat dengan bekas piring yang mereka pakai tadi malam.
“Oh iya, aku hampir lupa, cuci piring.” dengan sigap Andri beranjak ke dapur.
__ADS_1
Lalu ia mencuci piring dan juga gelas kotor yang ada di atas wastafel. Andri yang trauma akan memecahkan barang lagi, menyikat dengan hati-hati peralatan dapur yang ia cuci.
Setelah selesai, Andri mengambil sapu dari bilik kecil yang ada di dapur, ia pun mulai menyapu segala sudut rumahnya sampai bersih, kemudian ia lanjutkan dengan mengepel.
Hari masih pagi, tapi tubuhnya telah bermandikan keringat.
“Lumayan juga nih, enggak perlu joging buat bakar lemak, hahaha...” Andri tertawa sendiri di teras rumahnya.
Usai bersih-bersih, Andri membangunkan putrinya.
“Bia, kau mandi sendiri ya, papa masih ada pekerjaan lain di dapur,” ucap Andri.
“Iya pa.” Bia yang patuh pun dengan mandiri membersihkan dirinya sendiri. Sedangkan Andri kembali menuju dapur untuk memasak nasi, masalah lauk pauk, ia memesan secara online.
Pukul 06:30, Andri telah menyelesaikan segala pekerjaan rumah, makanan juga sudah tersaji di atas meja. Ia yang telah rapi dengan pakaian formalnya membangunkan sang istri tercinta.
“Sayang... bangun sayang...” Andri mengecup pipi istrinya dengan lembut.
“Eh... mas, kau sudah bangun?” tanya Beeve dengan mata yang masih berat karena ngantuk.
“Iya sayang, bahkan aku sudah rapi, pagi ini ada meeting mendesak, jadi aku harus segera ke kantor.” terang Andri seraya mengusap rambut istrinya.
“Baiklah mas, akan antar kau ke depan.” Beeve pun bangkit dari tidurnya.
“Aku masih sempat sarapan kok, ayo kita ke meja makan.” Andri pun membantu istrinya berjalan menuju dapur. Ternyata Bia juga sudah di meja makan, duduk manis di atas kursi.
“Mama sudah bangun?” sapa Bia.
“Iya nak, kau sudah rapi ya sayang?” ujar Beeve.
“Sudah ma.”
“Pada hal berangkatnya masih lama, hehehe...” Beeve tertawa kecil. Lalu ia pun duduk di atas kursi. Sang suami tercinta pun melayaninya dan juga si buah hati dengan telaten.
“Pagi ini kita makan bubur ayam ya.” Andri meletakkan seporsi bubur ayam di hadapan mereka masing-masing.
“Terimakasih banyak ya mas, sudah berkerja keras dari kemarin sampai sekarang,” ucap Beeve.
“Ini sih bukan apa-apa sayang, dan juga sudah ke wajiban ku untuk membantu mu,” terang Andri.
“Alhamdulillah, aku beruntung banget punya suami seperti mu.”
“Aku juga beruntung punya istri seperti mu sayang. Oh ya, hari ini kau jangan kemana-mana, di rumah saja, kau masih sangat lemah, masalah kerjaan di restoran, aku sudah dapat orang untuk menghandle nya, pikirkan kesehatan mu dulu ya sayang,” terang Andri.
“Iya mas, sekali lagi terimakasih banyak.”
“Dan... kalau aku belum dapat Art harian, kita terpaksa menginap di rumah ibu sebelum bibi Ratih pulang, kau setuju kan sayang?”
__ADS_1
“Iya mas, terserah kau saja bagaimana baiknya.” setelah sepakat, keluarga kecil itu pun melanjutkan sarapan mereka.
...Bersambung......