Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 173 (Minder)


__ADS_3

Malam harinya, ketika Beeve akan mengambil nasi untuk Andri di meja makan, ia pun melewati ruang tamu terlebih dahulu.


Dan tanpa sengaja, ia melihat Rahma, Emir dan juga seorang wanita cantik tengah mengobrol di ruang tamu. Karena penasaran Beeve berhenti sejenak.


Siapa wanita itu? batin Beeve.


Emir yang melihat kehadiran Beeve berdiri di dekat ruang makan menelan salivanya.


Waduh, bisa gawat nih, kalau Beeve berpikir wanita ini pacar ku, batin Emir.


Beeve yang sudah selesai dengan penasarannya pun kembali beranjak menuju dapur.


“Mungkin itu calon mas Emir,” gumam Beeve.


_________________________________________


“Bagaimana Mir? Bukankah Helena cantik? Dia juga lulusan Harpard dengan nilai cumlaude, sekarang dia sedang bertugas di rumah sakit Harapan Bunda nak.” terang Rahma, memuji prestasi Helena agar Emir tertarik pada gadis cantik itu tersebut.


“Iya bu, bagus-bagus!” Emir menganggukkan kepalanya, namun pandangannya ada di tempat lain.


“Kau sendiri lulusan mana Mir?” tanya Helena dengan suara yang lembut.


“Aku?”


“Iya, kau.”


“Hahaha, aku masih menyusun skripsi, dan aku kuliah di universitas lokal, kita berdua benar-benar berbeda ya.” Emir mencoba merendah, agar Helena tak menyukainya.


“Universitas dalam negeri juga bagus, menuntut ilmu bisa dimana saja, enggak harus keluar negeri, yang penting kita sungguh-sungguh ingin belajar.” Helena yang bijaksana membuat Rahma makin jatuh cinta.


Berbeda dengan Emir, yang memikirkan Beeve yang belum kembali dari dapur.


Semoga saja dia enggak salah paham, batin Emir.


Mata Emir terus fokus ke arah dapur, hingga ia melihat Beeve kembali dengan membawa nasi dan air di atas nampan.


“Bee!” gumamnya tanpa sadar, membuat Rahma dan Helena menoleh ke arah Beeve yang lewat di belakang mereka.


Dasar Emir! batin Rahma.


“Beeve! kemarilah nak!” Rahma memanggil menantunya untuk bergabung bersama mereka di ruang tamu.


Lalu Beeve pun mendekat, “Iya tan? Ada apa?” ucap Beeve seraya duduk si sebelah Rahma.


“Kenalkan, ini Helena, calon tunangan Emir.” mata Emir membulat sempurna, saat Rahma berkata demikian.


“Ibu! Ngomong apa sih! Baru juga ketemu Helena hari ini,” ucap Emir panik.


“Halo Helena, aku Beeve.” Beeve mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Helena.


“Halo juga, aku Helena, calon Emir, kalau memang di jodohkan oleh Tuhan, hehehe.” keduanya pun berjabatan tangan dengan saling melempar senyum satu sama lain.

__ADS_1


“Cocok kok, kalian sangat serasi.” ucap Beeve yang membuat Helena malu-malu kucing.


“Cocok dari mana sih,” gumam Emir.


“Beeve ini siapa tan? Art di rumah ini ya?” ketiganya pun melirik tajam pada Helena, saat seorang menantu di kira Art.


“Dimana sopan santun mu? Dia ini menantu tertua di rumah ini, sekaligus keponakan kandung ibu ku, kalau ngomong jangan asal ya!” pekik Emir yang tak terima Beeve di rendahkan.


“Oh, maaf-maaf kak Bee, aku enggak sengaja, habisnya pakaian kakak terlalu sederhana, makanya ku pikir bukan keluarga, maaf ya kak.” Helena menggenggam tangan Beeve dengan perasaan menyesal.


“Enggak apa-apa kok, namanya juga belum kenal,” ungkap Beeve.


“Nah! Sekarang kau kan sudah tahu siapa Beeve, ke depannya, mana tahu kau dan Emir telah resmi, akur-akurlah bersama kakak mu.” Rahma memberi petuah pada menantu dan calon menantunya.


“Tentu saja tan, aku juga akan mendengarkan kata-kata kak Beeve.” Helena mengelus punggung tangan Beeve, seolah ia ingin lebih dekat dengan calon kakak iparnya itu.


“Ya sudah tan, aku mau ke atas dulu, pasti mas Andri menunggu ku, karena dia belum makan dari tadi.” Beeve pun bangkit dari duduknya.


“Baiklah Bee, hati-hati ya,” ucap Rahma.


“Kak Bee, nanti aku minta nomor telepon mu pada Emir ya.”


“Silahkan saja.” selanjutnya Beeve meninggalkan ruang tamu menuju lantai 2.


Setelah Beeve jauh, Emir pun memelototi Helena.


“Ada apa?” tanya Helena.


“Sudahlah, lagi pula Beeve juga enggak masalah dengan ke salah pahaman tadi.” Rahma mencoba meredakan emosi Emir.


“Iya, kau berlebihan sekali, kak Beeve saja enggak heboh seperti mu!”


“Sudahlah, aku mau istirahat, kau bisa pulang Helena.” Emir secara terang-terangan mengusir Helena, yang membuat Rahma merasa tak enak hati.


“Emir, kau ini kenapa sih? Helena kan baru datang,” ujar Rahma.


“Ya sudah kalau begitu, aku mau ke kamar, kalau kalian masih mau menggosip terserah!” Emir meninggalkan Helena dan Rahma di ruang tamu, ia pun menuju kamarnya yang ada di lantai 2.


“Maaf ya kalau sifat Emir kasar pada mu,” ucap Rahma.


“Enggak apa-apa tante, justru Helena suka dengan laki-laki jutek seperti Emir,” terang Helena.


“Kau enggak salah Helena?”


“Tentu enggak tante, tipe Helena memang ada pada Emir, cuek, judes, ganteng dan pekerja keras.” Rahma mengernyitkan dahinya, pasalnya jika ia jadi Helena, sudah jelas ia takkan mau pada laki-laki yang mulutnya sepedas cabe setan.


“Oh iya-iya, semoga kau betah dengannya,” ucap Rahma.


_____________________________________________


Beeve yang masih menyuapi Andri pun melamun, kata-kata Helena masih terngiang-ngiang di telinganya.

__ADS_1


Apa aku kurang glamor ya? batin Beeve.


Andri yang melihat istrinya tak fokus pun mencubit kecil pipinya.


“Akh!!” Beeve meringis kesakitan.


“Kau lagi mikirin apa?” tanya Andri penasaran.


“Bukan apa-apa mas,” jawab Beeve.


“Ayolah, kau dari tadi banyak bengong, ceritakan pada ku, apa yang mengganjal di hati mu itu sayang.” Andri mendesak Beeve untuk jujur.


“Mas.”


“Hum?”


“Aku jelek ya?”


“Siapa bilang kau jelek? Kau adalah gadis yang paling cantik di seluruh Indonesia!” seru Andri.


“Ih, aku serius mas!” perkataan Andri seolah ejekan bagi Beeve.


“Aku serius sayang, memangnya masih ada wanita yang lebih cantik darimu?” Beeve memutar mata malas atas perkataan Andri yang menurutnya tidak masuk akal.


“Terus gaya ku bagaimana mas? Norak ya? Mirip pembantu ya mas?”


“Siapa yang bilang begitu? Kau pakai apa saja terlihat anggun, cuma orang yang kalah saing saja, mengatakan dirimu jelek!”


“Oh ya?” Beeve melirik Andri dengan penuh selidik.


“Tentu sayang, lagi pula siapa sih yang mengatakan kau mirip Art?” tanya Andri penasaran.


“Enggak ada mas, aku hanya ingin tahu pendapat mu mengenai diriku,” ujar Beeve.


“Oh... begitu ya.” setelah Beeve selesai menyuap Andri, Beeve pun meletakkan piring di atas meja, lalu ia menuju lemari untuk berkaca.


Benar sih apa kata Helena, gaya ku benar-benar norak banget, enggak terlihat seperti menantu, apa aku perlu boros sedikit demi penampilan ku? batin Beeve.


Andri yang duduk di atas ranjang, berpangku tangan, ia tahu ada yang tak beres dengan Beeve.


“Pasti ada yang mengkritik penampilannya,” gumam Andri.


Lalu Andri beranjak dari ranjang menuju lemari, kemudian ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Beeve.


“Jangan pikirkan apa kata orang, setiap orang itu memiliki gaya masing-masing, yang pentingkan kita nyaman memakai milik kita sendiri,” ujar Andri.


“Kau benar mas.” Beeve pun melepas lingkaran tangan Andri dari pinggangnya.


“Aku mau antar piring ke dapur dulu mas.” ucap Beeve seraya mengambil kembali piring Andri yang ada di atas meja.


Andri menghela nafas panjang, karena Beeve terus menghindar kontak fisik yang ia lakukan secara halus.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2