
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Andri dan Arman pun bergegas menuju kafe yang telah di tentukan. Setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga.
Andri dan Arman pun memasuki room kafe nomor 02, sesuai dengan yang di katakan oleh Lea melalui pesan elektronik.
Drkkkk....!!! Andri menarik pintu room.
“Halo Ndri!” sapa Lea dengan penuh semangat, namun seketika senyumnya senyap, kala melihat Arman masuk setelah Andri.
“Hai, maaf lama menunggu.” sahut Andri, seraya mengambil duduk di hadapan Lea.
“Aku enggak di sapa nih bu manager?” tanya Arman yang duduk di sebelahnya.
Kenapa dia harus ikut sih? Gagal total rencana ku mau makan malam berdua bersama Andri, batin Lea.
“Halo man, kenapa kau juga ikut kemari?” tanya Lea kembali.
“Di ajak sama pak bos!” jawab Arman.
“Mana rekan kerja mu, kenapa hanya kau seorang?” sapa Andri, lalu Lea pun tersenyum malu.
“Mereka enggak bisa ikut, karena ada jadwal lain, karena sudah terlanjur janji pada mu, makanya aku datang sendiri, tadinya aku mau membatalkan, tapi... enggak enak pada mu,” ujar Lea.
Setan! Untung aku bawa Arman, batin Andri.
“Begitu ya?” ucap Andri mengangguk penuh makna.
“Harusnya kalau memang enggak bisa, katakan langsung pada Andri, tahu begitu aku sudah langsung pulang ke rumah,” ujar Arman.
“Ya enggak bisa gitu dong, walau pun Andri teman lama, harus tetap di hormati sebagai rekan bisnis,” terang Lea.
“Sudah-sudah, mari kita makan dulu, aku sudah sangat lapar,” ucap Andri melerai perdebatan antara keduanya.
Akhirnya mereka menyudahi perdebatan kecil itu dengan makan malam.
Sial banget, aku kan pengen berduaan sama Andri, si kampret ini malah ikut-ikutan lagi! batin Lea.
Mereka makan tanpa sepatah kata pun, selesai makan, Andri menyeka setiap sudut bibirnya.
“Aku pulang duluan ya.” Andri berpamitan pada pada Lea dan Arman.
“Kok duluan? Sama-sama saja!” ujar Arman.
“Cepat banget, kita enggak ngobrol ringan dulu?” tanya Lea.
“Maaf Lea, istri ku menunggu di rumah,” ucap Andri menahan geram.
“Apa lagi aku, jadi lain kali saja ya,” timpal Arman.
Andri dan Arman pun keluar dari room terlebih dahulu meninggalkan Lea sendirian.
Rencana Lea untuk menggoda Andri gagal total, ia yang berpikir dapat menarik perhatian Andri benar-benar melakukan hal yang sia-sia.
Di parkiran, Arman berkata pada Andri, “Aku yakin, undangan makan malam ini, di khususkan untuk kalian berdua, kau lihat kan, wajahnya kecewa berat saat tahu aku ikut.” ucap Arman.
__ADS_1
“Kau benar, beruntung kau ikut, kalau enggak, bisa jadi salah faham besar antara aku dan Beeve, siapa yang tahu isi kepala Lea, bisa jadi dia mau menjebak atau apa,” terang Andri.
“Hati-hati saja Ndri, jangan sampai berujung seperti Arinda,” ucap Arman.
“Iya Man, terimakasih atas nasehatnya, tapi... kau punya kontaknya Lea kan?”
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Arman.
“Kalau ada apa-apa, dia menghubungi mu saja, jangan aku.” Andri yang ingin menghindari Lea pun memutuskan untuk memblokir nomor kontak wanita tersebut.
Setelah itu, kedua sahabat itu pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Sesampainya Andri ke rumah, ia melihat istrinya masih sibuk bermain handphone di atas ranjang.
“Hei sayang, kenapa belum tidur?” sapa Andri seraya mendekat ke istrinya.
”Aku menunggu mu pulang mas,” sahut Beeve.
“Oh....aku sudah pulang, sekarang tidurlah,” ucap Andri.
“Kau dari mana saja mas? Tumben pulang malam.”
“Aku makan malam bersama Arman dan juga Lea, untuk merayakan pencapaian target sales di hari pertama peluncurkan produk baru kita,” terang Andri.
“Oh.”
Kok cuma oh sih? batin Andri.
“Iya, aku percaya kok mas, enggak usah panik begitu,” ucap Beeve.
“Aku enggak panik sayang, hanya ingin menjelaskan pada mu keadaan yang sebenarnya.”
“Iya, kalau soal pekerjaan enggak apa-apa kok mas.”
“Syukurlah, kalau begitu aku mandi dulu ya.” Andri dengan sedikit was-was masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Keesokan harinya, Helena yang telah sampai ke klinik pun berjumpa dengan Yezi.
“Dok, akhirnya kita bertemu lagi,” sapa Yezi.
“Kakak beneran datang ya,” ucap Helena.
“Enggak usah panggil kakak dong, panggil nama ku saja, sepertinya kita seumuran.” ujar Yezi yang merasa perbincangan mereka kurang nyaman.
“Kalau begitu, panggil aku Helena juga, rasanya aneh kalau di luaran memanggil ku dokter.”
“Baiklah Helena, semoga ke depan kita sering bertemu,” ucap Yezi.
“Iya, semoga saja.” keduanya pun masuk ke dalam klinik untuk melakukan perawatan.
Setelah 3 jam memanjakan diri, Yezi dan Helena lanjut makan di kafe.
“Apa kau sudah menikah?” tanya Yezi.
__ADS_1
“Alhamdulillah sudah, kau sendiri?” tanya Helena kembali.
“Aku masih gadis, hehehe...” jawab Yezi.
“Oh... lagi pula masih muda, melanglang buana saja dulu,” ujar Helena.
“Iya, kau benar, rencana ku untuk menikah sih masih lama, tapi... kau menikah dengan siapa?”
“Kasih tahu enggak ya?” Helena tersipu malu saat akan mengatakan siapa suaminya.
“Kasih tahu dong, penasaran banget aku,” ucap Yezi.
“Emir Han!” seru Helena.
“Emir Han? Si yutuber dan artis selebgra*?” wajah Yezi begitu antusias mengetahui temannya adalah istri seorang artis.
“Betul!” jawab Helena.
“Ya Tuhan!! Aku beruntung banget bisa ketemu istrinya! Akh... aku fans beratnya loh!” Yezi menggenggam kedua tangan Helena.
“Aku juga beruntung bisa menjadi istrinya.” ucap Helena dengan senyum tak menentu.
“Tapi aku pernah dengar gosip, kalau dia itu punya hubungan spesial bersama teman sekolah ku dulu, dia cinta mati banget sama wanita itu, sampai sekarang enggak bisa dia lupakan.” Yezi pun mulai memanas-manasi Helena.
“Masa sih, setahu ku dia enggak punya mantan pacar,” ucap Helena dengan percaya diri.
“Iya, aku juga enggak tahu soal keberannya, tapi banyak yang mengklaim, kalau mereka lengket banget, sampai di kira pacar sungguhan,” terang Yezi.
Helena dengan wajah ragu pun bertanya, “Siapa wanita itu?”
“Beeve An Mahveen.”
Deg deg deg deg!!!
Jantung Helena berdetak sangat kencan, mendengar nama kakak iparnya.
Kak Beeve? Jadi penilaian ku selama ini benar? batin Helena.
“Dia teman satu sekolah ku dulu, banyak yang bilang dia cantik, tapi... ku lihat kau lebih cantik sih di lihat dari sudut mana pun! Bahkan kabarnya, mereka itu menjalin hubungan, saat Beeve sudah bersuami.” ucap Yezi.
“Pasti itu hanya gosip.” ucap Helena dengan perasaan ragu.
“Aku juga yakin, itu hanya gosip semata, mana mungkin seorang Beeve mempunyai hubungan spesial dengan Emir Han, ya kan? Paling orang-orang hanya ingin menjatuhkan nama baik Emir, kau enggak usah pikirkan, karena benar atau tidak, intinya kau adalah pemenangnya,” Yezi mengusap tangan Helena.
Apa sampai sekarang bang Emir masih menyukai kak Beeve? Pantas saja si abang enggak suka aku bicara apapun soal kak Beeve, ya Tuhan, apa yang di katakan Yezi benar?” batin Helena.
Perasaannya jadi gelisah tak menentu karena terngiang-ngiang akan cerita palsu dari Yezi, walau pada kenyataannya itu 100% benar.
...Bersambung......
__ADS_1