Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 113 (Menyesal)


__ADS_3

Kamar hangat penuh gairah yang selama ini jadi saksi bisu kisah cinta mereka tinggal kenangan.


Kini Andri tidur sendiri tanpa ada yang menemani.


“Aku sangat gegabah, aku yang tak sabaran malah mengikuti emosi ku, andaikan saja aku diam, tak ribut kesana kemari, pasti kami masih bersama, paling tololnya aku malah menjatuhkan harga dirinya di hadapan keluarga ku sendiri, yang membuat mereka tak suka padanya.” penyesalan Andri tiada ujung kala mengingat kesalahannya.


Mau Andri atau pun Beeve tak dapat tidur malam itu karena saling merindu satu sama lain.


Keesokan harinya, saat Andri masih termenung di atas ranjang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok tok!!


“Andri, Andri! Buka pintunya!” ucap Rahma dari balik pintu.


Dengan berat hati Andri bangkit dari atas ranjang dan membuka pintu.


Krieett....


“Lama banget kau buka pintunya, ya Allah ini sudah jam 14:00, tapi kau belum membuka gorden kamar mu? Bahkan kau juga tak menyalakan lampu?” Rahma mengomentari kamar anaknya yang bagai rumah hantu, gelap tak bercahaya sedikit pun.


“Bu, tolong jangan ganggu Andri, biarkan Andri sendirian,” pinta Andri.


“Apa-apan sih kau! Hanya karena si pembohong itu kau mau uring-uringan begini? Kau bukan anak ABG lagi, yang sedikit-sedikit sedih karena cinta.” Rahma masuk ke dalam kamar putranya.


Sreeek!!! ia pun membuka gorden jendela, agar sinar mentari masuk ke dalam kamar anaknya.


“Cepat mandi.”


“Bu...”


“Andri! Kau bukan anak-anak lagi, sampai kapan kau mau begini? Untung hari ini minggu, jadi kau bisa berleha-leha, jangan harap di hari kerja, kau harus bersikap professional, ibu enggak mau tahu!” terang Rahma.


Andri yang malas mandi memilih kembali ke atas ranjangnya.


“Heh!! Cepat, karena istri mu akan segera tiba,” ujar Rahma.


“Istri ku?” Andri langsung bangkit dari ranjangnya.


“Baik bu, Andri mandi sekarang.” bak anak muda di mabuk cinta, mengetahui Beeve akan kembali, Andri pun langsung masuk kamar mandi membersihkan diri.


15 menit kemudian, Andri yang telah berpakaian rapi keluar kamar, namun saat ia melihat ke arah ruang tamu, raut wajahnya menjadi masam.


“Andri, cepat kemari.” titah Yudi. Andri pun mendekat dan bergabung bersama orang tuanya duduk di atas sofa.


“Jadi, yang ibu maksud dengan istri dia?” mata Andri menunjuk ke arah Arinda.


“Diakan memang istri mu, mulai sekarang Arinda akan tinggal disini, bersama mu,” ucap Rahma.

__ADS_1


“Bu, ini rumah Beeve, dia enggak bisa tinggal disini!” pekik Andri.


“Ini memang rumah Beeve, tapi itu dulu! Karena dia bukan lagi menantu ibu dan ayah, maka rumah ini bukan miliknya lagi, mengerti!”


“Enggak bisa, Andri enggak setuju!”


“Tapi kami setuju.” Yudi menguatkan pendapat istrinya, yang membuat Andri memutar mata malas.


“Bu, ayah, kalau memang mas Andri enggak setuju Arinda disini enggak apa-apa, Arinda terima kok, bagaimana pun juga, rumah ini memang milik Beeve, Arinda tinggal sendiri juga enggak masalah.” Arinda yang licik mulai berperan menjadi menantu yang lemah.


“Enggak bisa gitu nak, kau kan lagi hamil, pasti butuh sosok Andri di samping mu, kalau Andri yang kesana, kasihan dia, dari rumah mu ke kantor jaraknya sangat jauh, jadi kau tinggal disini saja ya nak.” Rahma yang berubah haluan kini mulai menyayangi Arinda, bagaimana pun juga cucu kandungnya satu-satunya adalah yang ada dalam perut Arinda.


“Menurut ibu gitu ya?” ucap Arinda.


“Tentu saja.” sahut Rahma.


“Bu, bisa enggak, untuk tidak ikut campur dengan urusan ku?”


“Bukannya kau sendiri yang mengajak ibu untuk ikut campur? Kalau kau bisa mengatasinya sendiri, pasti kami enggak akan bertindak, pokoknya enggak ada penolakan, kalian harus tinggal bersama, ingat Ndri, anak mu yang sesungguhnya ada pada rahim Arinda, kehilangan Beeve tak sebanding dengan kehilangan anak mu, jika kau menyia-nyiakannnya.” terang Rahma.


“Betul, dan ini...” Yudi menyodorkan sebuah amplop coklat pada Andri.


“Apa ini?” tanya Andri.


“Buka saja, lalu tanda tangan,” titah Yudi.


“Apa ini!” pekik Andri seraya bangkit dari duduknya.


“Kau enggak bisa baca?” ucap Yudi.


“Anak SD juga bisa baca yah! Tapi apa maksud kalian memberikan ku surat cerai? Hah! Ini pernikahan ku, bukan kalian!” hardik Andri.


“Bukannya kau sendiri yang meminta untuk cerai dengannya? Kami mengabulkannya, tanda tangan saja, lagi pula dia tak pantas jadi istri mu, nak!” ucap Rahma.


“Akhh!!!” srekk!! Andri merobek surat cerai yang ayahnya berikan.


“Jangan harap, kemarin aku berkata begitu karena emosi, sedikit pun enggak ada kerelaan sari hati kecil ku untuk berpisah dengan pun, never!”


“Dan emosi mu telah membunuh saudara ibu satu-satunya, kau mau buat celaka siapa lagi setelah ini? Ku pikir kau lebih baik dari Emir, ternyata tidak!” amarah Rahma makin berkobar karena Andri.


“Jangan bahas kesana bu, Andri juga enggak mau ini terjadi.”


“Makanya, kau itu jangan bebal, pokoknya Arinda tinggal di rumah ini, bersama mu,” titah Rahma.


“Baik aku terima, tapi jangan paksa aku untuk cerai dari Beeve, karena sampai kapan pun aku takkan menceraikannya.” setelah mengatakan itu Andri beranjak dari ruang tamu.


“Kau mau kemana?” tanya Rahma.

__ADS_1


“Mencari Beeve, membawanya kembali, akan ku perbaiki segalanya,” terang Andri.


“Andri!” Rahma mencoba mencegah anaknya.


“Sudah bu, biarkan saja.” ucap Yudi.


“Tapi yah, Andri...”


“Iya bu, enggak apa-apa, Arinda sih enggak masalah kalau harus berbagi tempat dengan Beeve,” ujar Arinda.


“Benar kau ikhlas tinggal satu atap bersama Beeve?” tanya Rahma memastikan.


“Iya bu, aku ikhlas, bagaimana pun dia masih istri sah mas Andri,” jawab Arinda.


Huh! Mana sudi aku tinggal bersama dia! Si wanita kotor tanpa kelas sedikit pun, Tapi enggak apa-apa, yang penting aku sudah mendapatkan hati ayah dan ibu mas Andri, batin Arinda.


____________________________________________


Andri yang mengemudi, melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Beeve. Ia berpikir kalau Beeve pulang kesana.


Sesampainya ia di rumah keluarga mertuanya, ia pun turun dari dalam mobil.


Ting tong ting tong!! Andri menekan bel rumah orang tua Beeve.


Kriett...


Julian yang membukakan pintu langsung menyambar Andri dengan kata-kata pedas.


“Untuk apa kau kemari brengse*! Enyah kau! Jahan pernah injakkan kaki mu di rumah ku!”


“Maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat Jul, tapi aku datang kemari karena ingin membawa Beeve pulang,” terang Andri.


“Dia enggak ada disini, lagi pula aku sudah memutus hubungan ku dengannya, cari dia di tempat lain!” terang Julian.


“Apa?! Jadi dia enggak ada disini?!”


“Iya bodoh!”


“Bagaimana bisa kau memutus hubungan juga dengannya?” ucap Andri tak percaya.


“Enggak usah banyak omong, kau juga tahu alasannya, sekarang pergi dari sini pembunuh!” Bam!! Julian membanting pintu rumahnya dengan keras.


Andri yang gelisah pun mengambil handphone dari dalam sakunya. Kemudian ia mendial nomor Beeve.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan


Berulang kali Andri mendial nomor istrinya, namun tak kunjung terhubung.

__ADS_1


“Kau dimana Bee, apa kau baik-baik saja sayang?” Andri kembali masuk ke dalam mobil, kemudian melaju dengan lambat karena ia ingin mencari Beeve di sekitaran jalan raya.


__ADS_2