Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 253 (Sahabat Sejati)


__ADS_3

“Selamat pagi juga dok, kabar ku kurang baik, untuk itu aku kesini.” ucap Andri seraya duduk di hadapan sang dokter.


“Ada apa pak?” tanya sang dokter.


“Aku semalam batuk berdarah, tolong periksa dok, itu batuk biasa atau apa,” ujar Andri.


“Baik pak.” sang dokter terlebih dahulu memeriksa kondisi Andri melalui stetoskop, selanjutnya mencek tensinya.


“Pak Andri apa bapak selama ini mengalami detak jantung meningkat, pernapasan lebih pendek dan cepat?”


“Beberapa hari ini memang begitu sih dok,” jawab Andri, yang merasakan hal itu dari 3 hari yang lalu.


“Baiklah, kalau begitu kita lakukan rontgen.” ujar sang dokter. Dokter pun melakukan rontgen thorax untuk menemukan masalah pada bagian dalam tubuh Andri.


Setelah hasil keluar, sang dokter pun menjelaskan padanya. “Pak Andri, setelah saya melihat hasil rontgen, bapak mengalami yang namanya edema paru.”


“Maksudnya bagaimana dok? Itu berbahaya atau tidak?” tanya Andri dengan perasaan was-was.


“Edama paru itu merupakan penumpukan cairan di sekitar paru-paru dengan gejala berupa dahak yang dikeluarkan saat batuk berwarna merah muda dan berbusa. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol atau tidak diobati. Rusaknya otot jantung yang menyebabkan kelemahan pada fungsi jantung (kardiomiopati),kekakuan, kebocoran, kelemahan, atau kerusakan katup jantung atau Penyakit jantung koroner dan penumpukan cairan di paru-paru juga bisa pak Andri.” penjelasan dari sang dokter membuat mental Andri buyar, sebab hampir semua gejala yang di sebutkan adalah penyakit yang ia alami selama ini. Ia pun mencoba menguatkan hati.


“Tapi bisa di obati kan dok?” tanyanya kembali.


“Semua penyakit pasti bisa di obati pak Andri, apa lagi ini masih ringan, yang penting bapak jaga kesehatan, olah raga rutin, konsumsi obat secara teratur, jangan terlalu di pikirkan pak, kadang penyakit itu datangnya dari rasa khawatir kita yang berlebih.” terang sang dokter.


“Baik dok, aku mengerti,” ucap Andri.


Setelah selesai melakukan konsultasi, Andri keluar dari rumah sakit, ia yang berjalan menuju parkiran tiba-tiba merasa mual dan pusing.


Ia pun berhenti sejenak, karena Andri merasa seluruh dunia berputar, ia yang takut akan roboh ke tanah, dengan hati-hati berjongkok, lalu memegang kakinya dengan kuat.


“Astaghfirullah, ada apa lagi ini ya Allah, tolong aku ya Allah, panjangkan umur ku, aku masih ingin bersama istri dan anak-anak ku dalam waktu yang lama.” Andri pun menyandarkan punggungnya pada mobil yang ada di sebelahnya.


Air mata kesedihan mengalir dari sudut mata pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi ayah, di hatinya timbul segunung penyesalan, karena telah menyepelekan kesehatannya selama ini.


Andai ku tahu, pada akhirnya Beeve akan kembali, pasti aku akan mendengarkan orang-orang yang selalu menasehati ku, untuk menjaga kesehatan ku, pada hal kami baru kembali bersama, tapi cobaan selalu datang menghampiri.” Andri tak henti merenungi nasibnya, ia pun bertekad untuk melakukan segala hal yang di anjurkan oleh dokter, agar bisa sembuh.


Setelah 30 menit berjongkok, Andri merasa baikan, ia pun bergegas menuju kantor.

__ADS_1


Sesampainya ia di kantor, Andri yang memiliki segudang pekerjaan yang belum selesai, mengerjakannya dengan penuh semangat.


Arman yang datang mengantarkan hasil laporan sales pun memuji kinerja sahabatnya.


“Luar biasa, laporan segitu banyak kau selesaikan dalam waktu setengah hari? Pada hal masih banyak waktu, untuk apa kau buru semua itu?”


“Aku mau ke gym nanti sore,” ujar Andri.


“Wah wah! bukannya di rumah mu ada tempat gym?”


“Lebih enak ramai-ramai.” ujar Andri yang ingin menghindari keluarganya selama ia sakit.


“Hati-hati dapat istri baru disana, karenakan body cewek-cewek gym bikin iman goyah!” Arman menggoda Andri.


“Sialan kau! Uhuk uhuk uhuk!” Andri tiba-tiba batuk di tengah percakapan mereka.


“Ndri!” netra Arman membulat sempurna saat melihat sahabatnya memuntahkan darah. Lalu Andri menggenggam lengan Arman.


“Tolong, jangan beritahukan pada siapapun, aku enggak mau kalau keluarga ku khawatir.” terang Andri.


“Enggak bisa gitu Ndri, bagaimana pun, keluarga mu harus tahu, jangan menyembunyikan apapun!” Arman menolak permintaan sahabatnya.


“Man, kau bisa ku percayakan?


“Baiklah, tapi kau wajib jujur pada ku terkait perkembangan kesehatan mu, sempat kau menyembunyikan sesuatu dariku, maaf saja, perjanjian kita akan batal,” terang Arman, ia yang telah lama bersahabat dengan bosnya tersebut, menginginkan yang terbaik untuk pria malang itu.


“Aku setuju, terimakasih atas pengertiannya Man,” ucap Andri.


“Sama-sama, ya sudah, kau bersihkan diri dulu, takutnya ada yang melihat, setelah itu kau tidur.” Arman meminta sahabatnya untuk istirahat, berharap batuknya mereda.


“Tapi tugas ku masih banyak Man.” Andri menolak, karena merasa pekerjaannya tanggung bila harus di tinggalkan.


“Aku yang akan mengerjakan, pergilah, bersihkan diri, makan, minum obat, setelah itu tidur, tolong! Lakukan kata-kata ku, bisa kan?!” netra Arman memerah saat mengatakannya.


“Terimakasih banyak Man, kau memang sahabat sejati ku yang sesungguhnya.”


“Iya! Pergi sana! Aku ingin duduk di kursi mu!” Arman mendesak sahabatnya untuk beranjak pergi.

__ADS_1


“Baiklah.” Andri pun bangkit dari kursinya, kemudian menuju toilet untuk membasuh setiap bercak darah yang ada dalam rongga mulut dan bajunya, setelah itu ia ke kamar yang ada dalam ruangannya, meminum obat, selanjutnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Arman yang sibuk bekerja di atas kursi panas Andri tak hentinya memikirkan nasib yang menimpa sahabatnya.


“Ku harap kau dapat melewatinya Ndri, kau harus kuat.” Arman tak dapat menahan air matanya, kondisi Andri membuatnya seakan ikut merasakan sakit yang sama.


Kau adalah sahabat terbaik ku, hati mu sangat tulus pada ku selama ini, kau angkat derajat ku dari orang tak punya menjadi seorang yang sukses, memiliki segalanya, kau jadikan aku sebagai saudara, pada hal aku hanya anak yang di buang orang tua ku ke panti asuhan, Ndri! Aku akan mendampingi mu sampai kau sembuh, batin Arman.


Ia pun menghentikan jemarinya yang bekerja di keyboard laptop Andri, sebab air matanya tak hentinya menetes.


4 jam kemudian, Arman yang telah selesai mengerjakan pekerjaan Andri mutuskan untuk mengecek keadaan sahabatnya ke dalam kamar.


Ceklek...


Perlahan ia pun melangkah masuk, dan melihat Andri dengan keadaan tubuh di basahi oleh keringat.


“Ndri, bangun!” Arman menepuk pipi Andri. Pria tampan itu pun perlahan membuka netranya.


“Kenapa Man?” ucap Andri dengan tubuh menggigil.


“Ayo ke rumah sakit, kita berobat, udah enggak beres nih!” Arman panik bukan main.


“Panggil dokter kesini saja, aku enggak sanggup untuk berjalan.” pinta Andri.


“Baiklah.” Arman pun segera meghubungi dokter yang menangani Andri tadi pagi.


Sebelum sang dokter datang, Arman membantu Andri untuk mengganti baju.


___________________________________________


Pukul 23:00 malam, Beeve masih duduk di ruang tamu. menunggu suaminya yang tak kunjung kembali.


Emir yang baru pulang dari syuting melihat kakak iparnya yang belum tidur.


“Bee, kenapa kau masih disini? Ibu hamil itu harus banyak istirahat, jangan begadang nanti masuk angin,” ujar Emir.


“Iya mas, sebentar lagi aku masuk kamar,” ucap Beeve dengan menghela napas panjang.

__ADS_1


“Ada apa Bee?” Emir pun duduk di hdapan kakak iparnya.


...Bersambung......


__ADS_2