
“Lalu bagaimana dengan Arinda?” tanya Beeve.
“Maafkan aku soal itu, aku belum bisa menceraikannya, lagi pula dia mengandung anak ku, aku juga sudah bicara padanya, dan dia setuju untuk berbagi rumah dengan mu,” terang Andri.
“Apa? Serumah?” Beeve tak percaya Andri bisa mengatakan itu padanya.
“Iya, aku tak bisa menyingkirkannya karena ayah dan ibu, tolong pahamilah,” ucap Andri.
“Mas!”
“Bee! Ku mohon, aku mencintai mu, tapi tak bisa meninggalkannya, kalau kau memang mencintai ku, tolong sayang, berdamailah dengan ku,” pinta Andri.
“Enggak mas, kalau harus hidup bersamanya, aku enggak mau, ceraikan saja aku! Lebih baik aku menderita sekarang atau seumur hidup ku, dari pada melihat wajahnya, aku juga enggak ikhlas kalau kau menyentuhnya selama aku menjadi istri mu, meski kau katakan aku egois tapi itulah kenyataannya, aku enggak mau kalau harus berbagi suami dengannya!” saat Beeve ingin pergi, Andri mencegatnya.
“Kau enggak boleh kemana-mana lagi.” Andri menarik tangan Beeve keluar dari kamar Feni.
“Lepaskan aku! Aku enggak mau ikut dengan mu mas.” Beeve yang melihat Feni di ruang tamu pun meminta tolong.
“Bu, bantu aku bu, aku enggak mau ikut dengannya,” pinta Beeve.
“Maaf nak, ibu enggak bisa melakukannya, ikutilah suami, jangan durhaka.” ujar Feni yang sangat tergiur dengan hadiah yang Andri janjikan.
“Ibu kok malah bela orang yang enggak di kenal ini sih?” ucap Beeve.
“Diakan suami mu, bukan orang lain,” ujar Feni.
“Ini hadiahnya bu, total 10 milyar di tambah 100 juta, karena sudah memberi double informasi pada saya,” ucap Andri.
“Bukannya 21 milyar ya pak?” ucap Feni.
Beeve tercengang karena reward dirinya begitu luar biasa.
“21 milyar?” Andri mengernyitkan dahinya karena bingung.
“Iya, lihat ini.” Feni menunjukkan hadiah yang di tawarkan Emir lewat insta*ram.
Andri menghela nafas panjang, karena ternyata adiknya ikut andil juga.
“Coba lihat bu!” Beeve meminta ponsel Feni, kemudian ia melihat pamflet dirinya, tak cukup sampai disitu, Beeve juga melihat wajahnya di iklankan para artis.
“Mas! Kau membuat ku viral?”
“Untuk mu semua akan ku lakukan.” ucap Andri.
“Oke bu, saya akan bayar yang 11 milyar nya lagi, ibu bisa datang ke kantor ku besok, akan ku bayar lunas,” terang Andri.
“Yang benar pak? Jangan-jangan cuma modus lagi.” kesal dirinya di kira penipu, Andri membuka koper besar yang ia bawa.
Sreeekk!!!
“Lihat! Ini isinya uang semua, 10 milyar saja saya kasih, apa lagi yang 11 milyar.”
__ADS_1
Mata Feni berbinar terang melihat uang yang seumur hidupnya belum pernah ia lihat.
“Ba-ba-baik, saya percaya,” ucap Feni seraya memeluk koper uang pemberian Andri.
“Silahkan bawa Beeve pak, semoga keluarga kalian sakinah mawadah warohmah.” Feni mendo'akan rumah tangga Beeve dan Andri.
Setelah transaksi selesai, Andri menarik tangan Beeve keluar dari rumah Feni.
“Mas, lepas! Aku enggak mau!”
“Bee, berhenti merengek, kau tahu wajah mu saat ini dimana-mana, akan banyak orang yang memanfaatkan situasi, kalau aku membiarkan mu tetap disini, maka orang lain bisa menculik mu, apa kau sudah lupa pada preman yang hampir mencelakai mu?” Andri mengingatkan Beeve, tentang kejadian yang lalu.
“Tapi aku enggak sudi, kalau harus berbagi rumah apa lagi suami dengan Arinda!” pekik Beeve.
Andri yang tak ingin berlama-lama di kosan itu menggendong Beeve ala bridal style menuju mobilnya.
Meski Beeve meronta Andri tak mau melepaskannya.
Setelah Andri dan Beeve berhasil masuk ke dalam mobil, Andri langsung mengunci pintu, agar Beeve tak dapat keluar.
“Bee, jangan paksa aku berbuat kasar pada mu ya,” ucap Andri.
“Maksudnya?”
Andri yang tak ingin repot kedua kalinya mengambil lakban dari laci kecil yang ada di dekat stir mobilnya.
Kemudian ia mengikat kedua tangan Beeve dengan lakban kualitas nomor satu tersebut.
“Mas! Apa-apan sih kau!” pekik Beeve.
Selanjutnya Andri melajukan mobil membelah jalan.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di depan rumah yang penuh kenangan.
“Kita sudah sampai.” ucap Andri.
“Aku juga tahu mas!” sahut Beeve dengan jutek.
Kemudian Andri tersenyum, “Baru dua bulan enggak bertemu, kau sudah banyak berubah,” ujar Andri.
“Jangan banyak bicara mas, lepaskan ikatannya.” pinta Beeve, kemudian Andri yang rindu, mengecup bibir Beeve seraya memberi pagutann lembut.
“Bau minyak ” ucap Andri seraya melepas ciumannya.
“Kalau bau jangan lakukan,” balas Beeve.
“Walau bau tetap ku suka.” Andri mencoba memberi rayuan pada istrinya.
“Gombal, dasar buaya!” pekik Beeve.
“Aku serius, tapi..., dari mana kau dapat baju ini?” Andri memegang kerah baju Beeve yang sangat lusuh.
__ADS_1
“Belilah mas.”
“Pfff... jelek banget pilihan mu.”
“Apa sih mas? Jelek-jelek juga hasil keringat sendiri.”
“Iya sayang, aku hanya bercanda, kau ini! Makin galak ya, bikin aku gemes.” Andri kembali mengecup bibir Beeve.
“Dunia yang mengajarkan ku untuk seperti itu mas, aku cape jadi orang baik,” terang Beeve.
“Jangan berubah Bee, jadilah dirimu sendiri,” ujar Andri memeluk istrinya yang bau.
“Aku enggak bisa, dan jangan menyesal kalau aku membuat kekacauan di rumah ini.” terang Beeve.
“Lakukan semau mu, asal jangan pergi dari sisi ku, itu saja.” Andri pun melepas pelukannya, selanjutnya ia membuka lakban yang mengikat kedua tangan istrinya.
“Oke, jangan menyesal ya mas.” setelah percakapan singkat tersebut keduanya masuk ke dalam rumah, Winda yang membuka pintu terkejut karena sang nyonya telah kembali.
“Nyonya!” seru Winda.
“Mbak Wind!” Beeve dan Winda saling pun berpelukan.
Arinda yang lewat ruang tamu tersentak, melihat Beeve telah ada dalam rumah impiannya.
Prang!
Gelas di tangannya pun tergelincir, jatuh ke lantai hingga pecah.
Kampret, kenapa bisa secepat ini! batin Arinda.
Mereka yang mendengar suara gelas pecah langsung menoleh ke sumber suara.
“Ayo.” Andri menggenggam tangan Beeve menuju Arinda.
Darah Arinda serasa mendidih, ketika ia dan Beeve berdiri saling berhadapaan satu sama lain.
“Bisa kita bertiga duduk bersama di sofa?” tanya Andri pada kedua istrinya.
Dengan menahan sesak di dadanya Arinda menganggukkan kepala dengan senyum palsunya.
Mereka bertiga pun beranjak ke sofa, Beeve yang ingin membuat Arinda marah menggenggam tangan Andri. Tak sampai di situ, Beeve juga menuntun Andri untuk duduk di sofa yang muat untuk dua orang.
Arinda menelan salivanya, posisinya bagai orang lain disana. Ia pun duduk di hadapan Beeve dan Andri.
“Arinda, aku sudah membawa Beeve kembali, sesuai yang ku katakan kemarin pada mu, kalau kita akan tinggal bersama, ku harap kau berlapang dada, kau juga begitu Bee, akurlah bersama Arinda,” terang Andri.
Arinda yang bermuka dua mulai memainkan dramanya.
“Baik mas, aku sih senang kalau kita bisa akur, dan kau jangan lupa mas, harus adil pada kami berdua,” ucap Arinda.
“Tentu, aku akan bersikap seadil-adilnya,” ujar Andri.
__ADS_1
“Iya mas, aku juga setuju,” ucap Beeve dengan senyum penuh arti.
Enak saja, akan ku buat kau menderita lahir batin, dasar licik! batin Beeve.