Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 223 (Mendesak)


__ADS_3

Selesai sungkem pada ibu dan ayah mertua, Emir dan Helena pun beranjak menuju saudara tertua mereka, yaitu Andri dan Beeve.


“Selamat untuk mu, adik ku Emir, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah, saling menyayangi lah kalian di dalam kehidupan rumah tangga kalian, simpan yang buruk, dan ceritakan yang baik, bagi kami keluarga kalian.” Andri yang tak bisa mengatakan petuah pun hanya bisa memberi nasehat seadanya pada sang adik.


“Terimakasih mas atas wejangannya, aku akan menjalankan segala yang mas katakan dengan sebaik-baiknya.” ucap Emir.


Andri pun menepuk bahu adiknya dengan perasaan haru. Ketika Emir beranjak ke istri saudaranya, ia menatap lekat wajah mantan kekasihnya itu.


Lalu Beeve menjabat terlebih dahulu tangan Emir.


“Selamat ya mas, jadilah imam yang baik untuk Helena dan keturunan mu nanti, jaga keutuhan cinta kalian agar tetap satu, dan... tanamkan dalam hati, satu istri sampai mati.” ucapan Beeve membuat Andri yang duduk di sebelahnya merasa tersindir, ia pun menjauhkan pandangannya dari istrinya.


Kenapa selalu aku yang kena! Enggak lihat serial drama dan berita di media sosial, yang di bahas hanya tentang selingkuh dan poligami, berat banget status ku yang pernah beristri dua, batin Andri.


“Terimakasih banyak kakak ipar, semoga kau juga bahagia dalam pernikahan mu, tiada orang ketiga yang akan menggangu lagi.” Andri yang mendapat sindiran langsung dari sang adik pun mulai emosi.


“Hei! Cepat beranjak!" Andri melepas paksa genggaman tangan Emir dari Beeve.


Kurang ajar kau Mir! Bisa saja merusak suasana hati ku, batin Andri.


Setelah Emir selesai, Helena pun menyusul di sebelahnya, untuk sungkem pada kakak iparnya.


Selanjutnya, acara resepsi pun di gelar dengan mengundang banyak artis ibu kota sebagai penghibur acara musik pada pesta pernikahan Emir dan Helena.


Beeve dan Andri yang terbawa suasana akan lantunan lagu yang bergema ria ikut menari-menari di atas lantai dansa bersama para undangan, pada saat Beeve sedang memeluk suaminya, tiba-tiba ia merasa tak enak badan. Sontak ia berhenti dari aktivitas dansa yang mereka lakukan.


“Kau kenapa sayang?” tanya Andri.


“Enggak tahu mas, tiba-tiba aku enggak enak badan.” ucap Beeve.


“Enggak enak gimana yang? Apa kita istirahat dulu?” Andri yang khawatir dengan keadaan Beeve, menuntunnya duduk ke salah satu kursi yang dia sediakan khusus tamu. Kemudian Andri mengambil teh manis hangat untuk istrinya.


“Minum duluvsayang.” Andri menyodorkan teh manis yang ada di tangannya pada Beeve.


“Terimakasih banyak mas.” Beeve pun menerima teh pemberian dari suaminya, lalu meneguknya.


“Jelaskan pada ku, apa yang kau rasakan,” pinta Andri.


“Perut ku rasanya begah dan kepala ku pusing mas,” terang singkat Beeve.

__ADS_1


“Mungkin masuk angin sayang, apa kita pergi ke klinik sebentar?” Andri mengusap puncak kepala istrinya yang sedang mengusap-usap perutnya.


“Enggak usah mas, nanti saja setelah semua acara selesai.” ucap Beeve yang tak enak meninggalkan lokasi pesta di tengah acara.


“Baiklah sayang, kalau begitu kita duduk disini saja, jangan kemana-mana lagi.” Andri pun mengambil duduk di sebelah istrinya.


“Jangan mas, kau sapalah para tamu undangan, masa kita berdua berada disini,” ujar Beeve.


“Tapi kau kan sedang sakit sayang.” Andri merasa tak enak meninggalkan istrinya sendirian.


“Enggak apa-apa mas, pergilah, tamu kita lebih penting saat ini, ayo sana!” Beeve menepuk punggung suaminya, agar segera bangkit dari kursi.


“Baiklah, tapi kalau kau merasa enggak kuat, katakan pada ku sayang,” ucap Andri.


“Siap mas!” dengan berat hati Andri meninggakkan Beeve menuju pelaminan, mendampingi kedua orang tuanya untuk menyapa para tamu yang datang memberi selamat pada sang adik terkasih.


________________________________________


Malam harinya, Helena yang telah berada di kamar Emir yang penuh akan dekorasi khas pengantin pun duduk bersebelahan bersama sang suami di pinggir ranjang.


Tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya, karena sama-sama merasa malu dan canggung.


Apa yang harus ku lakukan? Masa kami berdua hanya duduk diam begini? Akh... kenapa Helena tak banyak bicara kali ini? Biasanya dia selalu ada hal baru untuk di bahas, batin Emir.


Keduanya pun melakukan aksi malu-malu kucing selama 2 jam.


Bang Emir gimana sih? Masa aku belum di apa-apain juga? Enggak mungkinkan ku terkam duluan! batin Helena.


Dasar Helena, harusnya dia buka topik duluan, kalau dia masih diam juga, lebih baik aku tidur, batin Emir.


Emir yang telah lelah duduk tegap pun perlahan menggeser bokongnya ke tengah ranjang, selanjutnya ia merebahkan tubuhnya.


Helena yang masih kaku tak berani menoleh, ia berpikir kalau suaminya sedang memberi kode.


Namun hingga 5 menit ia menunggu tak ada sentuhan, apa lagi kata godaan yang ia dapat dari suaminya, yang membuat dahinya mengernyit.


Dengan mengumpulkan seluruh kepercayaan diri, ia pun menoleh ke arah Emir yang rebahan di belakangnya.


Astaga! Kok dia malah tidur? batin Helena.

__ADS_1


Ia yang tak terima malam pertamanya berakhir dengan tidur manis pun, mulai mengendalikan situasi.


“Bang! Bang Emir!” dengan kasar ia menggoyang-goyang tubuh suaminya.


“Hemn??” Emir yang lelah akan aktivitas seharian begitu susah untuk di bangunkan.


“Bang! Jangan tidur, inikan malam pertama kita, gimana sih!” Helena yang pantang menyerah memelintir pun telinga suaminya.


“A-a-a! Sakit! Kau ngapain di kamar ku?!” pekik Emir yang lupa kalau dia sudah menikah.


“Ngapain? Jelas saja untuk menemani mu tidur bang! Eh... kau malah tidur duluan! Huh!” Helena yang kesal pun bersedekap.


“Oh iya, aku lupa, kalau aku sudah menikah.” gumam Emir seraya mengusap wajahnya dengan tangannya. Ia pun melirik wajah Helena yang sangat kacau.


“Biasa saja dong! Kau sendiri enggak ada pergerakan, ya aku tidurlah, cape tahu duduk terus mirip patung!” pekik Emir.


“Oh... jadi abang nunggu aku yang inisiatif duluan??” Helena membulatkan netranya pada Emir, yang membuat pria tampan itu grogi.


“Ya, enggak gitu juga, tapi....” Emir tak tahu harus berkata apa karena sorot netra yang ia terima dari istrinya begitu tajam.


“Ya sudah, kalau itu mau mu! Harusnya bilang dari tadi, aku sih enggak masalah bang!” ucap Helena dengan tertawa genit.


“Hah?!” saat Emir masih terperangah, Helena melepas satu persatu balutan yang ada pada tubuhnya, yang membuat Emir deg degan parah.


Ia yang belum pernah melihat bagian bawah wanita secara langsung, tanpa sensor merasa ingin pingsan.


Helena yang kini telah polos bak bayi baru lahir ke dunia berdiri di atas Emir.


Emir yang berada di antara kedua kaki jenjang istrinya menutup mata karena melihat hutan yang tak banyak di tumbuhi pohon.


“Bang! Apa yang kau lakukan?!” pekik Helena yang sudah tak sabar.


“A-aku belum siap!” ucap Emir dengan suara kikuk.


“Aku enggak mau tahu! Siap enggak siap aku enggak perduli bang, pokoknya malam ini harus kita lewatkan dengan ritual malam pertama!”


“Besok saja, lagi pula kita belum mandi!” Emir yang masih menutup mata menolak ajakan dari istrinya.


“Enggak bisa! Kau mau buka baju sendiri? Atau aku bantu?! Pilih salah satu Abang sayang!” Helena mendesak suaminya agar segera menunaikan kewajibannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2