
Mata Emir yang tajam, dapat melihat sisa air mata yang ada di kelopak mata Beeve.
“Kau menangis?” tanya Emir.
“Hah? Enggak kok,” jawab Beeve.
“Oh, ku pikir kau menangis,” ujar Emir dengan terus menatap mata Beeve.
“Enggak kok Mir, sudahlah, ayo kita urus pendaftaran sekarang, ku rasa pasti sudah buka." ujar Beeve dengan tersenyum canggung.
“Hei, bukannya sudah ku bilang, kau harus memanggil ku dengan sebutan mas?” Emir kembali mengingatkan Beeve.
“Iya iya, maaf aku lupa mas Emir,” ucap Beeve.
Lalu keduanya berjalan bersama menuju ruang pendaftaran mahasiswa baru.
Sedang dari kejauhan, Cristian memperhatikan mereka, “Hum! Dasar nakal, pada hal sudah menikah, tapi bisa-bisanya tertawa dengan laki-laki lain, tapi... sepertinya aku mengenal laki-laki itu.” Cristian pun berpikir keras, mengingat-ingat tentang Emir hingga akhirnya, ia pun tersadar.
“Diakan selebgram sekaligus youtuber dengan 2 juta subscriber, sejak kapan Beeve dekat dengan laki-laki itu?!” hati Cristian semakin terbakar, ternyata sang mantan malah semakin bahagia setelah ia tinggalkan.
“Bangsa*! Pantang bagi mu untuk bahagia mantan tersayang,” gumam Cristian.
_______________________________________________
Andri yang tengah sibuk memeriksa file penting dalam komputernya untuk rapat jam 09:00 pun di ganggu oleh sebuah ketukan pintu.
Tok tok tok!
“Ck, siapa sih? Pada hal masih jam 08:00,” gumam Andri.
Tok tok tok!
Karena ketukan itu masih berlangsung, Andri pun menyuruhnya masuk.
“Silahkan masuk,”
Ceklek!!... Kriettt!!!
“Permisi pak.” ternyata yang menggangu fokusnya adalah Arinda dengan setelan baju kemeja tangan panjang warna biru muda dan rok hitam di atas lutut.
“Selamat pagi pak, maaf menggangu.” ucap Arinda seraya membawa secangkir kopi panas di atas nampan.
Andri cukup jengkel, namun ia tak ingin merusak suasana hatinya yang positif pagi itu.
“Ada apa kau kemari? Pada hal masih pagi, dan masih ada 1 jam lagi untuk mu bersantai,” ujar Andri.
Lalu Arinda dengan senyum manis meletakkan kopi di atas meja kerja Andri.
“Maaf pak, tapi saya sedang tidak ada pekerjaan di rumah, jadi saya berpikir untuk lebih awal ke kantor,” terang Arinda.
“Terlalu rajin,” batin Andri.
“Baiklah, terimakasih atas kopinya, kau bisa keluar.” titah Andri seraya mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptopnya.
Namun Arinda yang ingin mengambil hati Andri tetap berdiri di tempatnya.
“Apa ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Arinda dengan senyum hangatnya.
“Tidak ada, sebaiknya kau keluar, karena saya sedang tidak ingin di ganggu,” jawab ketus Andri.
“Baik pak kalau begitu, tapi kalau ada yang perlu, bapak panggil saya saja,” ucap Arinda.
__ADS_1
Saat Arinda telah balik kanan menuju pintu keluar, tiba-tiba handphone Andri berbunyi, yang ternyata ada di atas sebuah meja, yang ada di sudut ruang kerjanya.
Andri yang merasa malas untuk beranjak, terpaksa meminta tolong pada Arinda.
“Sebentar,” ucap Andri.
“Iya pak?”
“Tolong kau ambil handphone ku yang ada disana.” Andri menunjuk ke arah meja tempat handphonenya berada.
“Baik pak.” Arinda dengan sigap mengambilnya, lalu memberikannya pada Andri.
📲 “Halo Man,” Andri.
📲 “Halo Ndri, apa kau sudah di kantor?” Arman.
📲 “Sudah, kau sendiri?” Andri.
📲 “Aku masih di lobby, oh iya klien kita sebentar lagi akan tiba, jadi kita bertemu di ruang rapat saja ya,” Arman.
📲 “Baiklah,” Andri.
Andri pun mematikan laptopnya, dan memasukkannya ke dalam tas jinjing berwarna hitam, lalu ia berdiri dari duduknya dan beranjak pergi, namun ia melupakan handphonenya yang ada di atas meja kerjanya.
Untuk itu ia berbalik kembali, dan tanpa sengaja menabrak tubuh Arinda yang berdiri tepat di belakangnya mengikuti langkahnya.
Bruk!! Alhasil Arinda terjatuh ke lantai dengan posisi duduk.
“Ssstt.. Au!” Arinda meringis kesakitan.
“Maaf saya tidak sengaja.” ucap Andri seraya berjongkok di hadapan Arinda.
“Iya, lagi pula saya yang salah pak.” ucap Arinda dengan mimik wajah kesakitan.
“Iya pak, saya baik-baik-baik saja,” ujar Arinda.
“Syukurlah, sekaliagi maafkan saya.” ucap Andri.
Ketika Arinda mencoba berdiri tiba-tiba ia kembali meringis.
“Akh..., aduh...” sontak Andri memegang lengannya.
“Kaki mu sakit?” tanya Andri kembali.
“Tidak pak, kalau bapak mau pergi, pergilah pak, saya enggak apa-apa kok,” jawab Arinda.
Andri yang merasa tak enak pun akhirnya memapah tubuh Arinda menuju sofa yang ada di sudut ruangan.
Deg deg deg deg!!! Jantung Arinda berdetak kencang, saat Andri menyentuhnya lebih lama.
Sesampainya di sofa, Arinda duduk di bantu oleh Andri.
“Istirahatlah disini sampai kaki mu baikan, aku masih sibuk, kalau perlu kau bisa ke rumah sakit, nanti akan aku berikan biaya pengobatan mu,”
“Saya...”
“Sudahlah, kita bicaranya nanti saja, aku sedang buru-buru,” ujar Andri.
“Baik pak kalau begitu.” Andri yang di kejar waktu pun meninggalkan Arinda di ruangannya sendirian.
Deg deg deg deg!!!
__ADS_1
“Ya Tuhan, ada apa dengan jantung ku?” Arinda memegang dadanya yang terasa sesak.
“Memang sih, untuk siapapun yang melihat mas Andri pasti jatuh hati, eh! Aku enggak boleh begitu, mas Andri itu suami dari sahabat ku,” gumam Arinda.
“ Walau pun sikapnya jutek, tapi perhatian banget kalau orang lain sakit,l.” tanpa sadar Arinda mulai mengagumi Andri.
Ia yang merasa mendapat hak atas ruangan Andri saat itu merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ia duduki saat itu.
_______________________________________________
Setelah selesai melakukan pendaftaran Beeve dan Emir pun beranjak pulang.
“Mas, kau pulang duluan ya,” ucap Beeve pada Emir.
“Aku antar kau pulang,” ujar Emir.
“Enggak usah mas, aku naik taksi online saja,”
“Ck, nanti aku di marahi Andri, kalau dia tahu kau pulang sendiri, kau pikir aku kuliah disini hanya untuk diriku sendiri?” ucap Emir memberi pengertian pada Beeve.
“Maksudnya mas?”
“Sudahlah, ayo pulang bersama,”
“Aku enggak mau mas,” tolak Beeve.
“Kenapa sih?” tanya Emir kesal.
“Lihat.” Beeve menunjuk dengan matanya, ke sekeliling mereka.
“Banyak fans mu sedang merekam, aku enggak mau ada gosip kalau aku adalah pacar mu,” ucap Beeve.
“Ck, sudahlah jangan pedulikan mereka, ayo!” titah Emir.
Karena Emir tetap ngotot, akhirnya Beeve pun menurut.
Dan sesampainya di parkiran kendaraan khusus mahasiswa, Beeve terkejut karena Emir datang ke kampus membawa motor gede.
“Kita naik motor?” tanya Beeve.
“Iya.” Emir pun menaiki motor Ninjanya.
“Aduh... naik motor saat hamil muda kan bahaya,” batin Beeve.
Emir yang sudah di hadapan Beeve dengan motornya pun menyuruh Beeve untuk naik.
“Cepat naik,” titah Emir.
“Aku naik mobil saja ya mas,” ucap Beeve.
“Sst! Cepat, aku ada janji hari ini dengan orang lain.” karena Emir mendesaknya, akhirnya Beeve terpaksa naik ke atas motor adik iparnya.
Posisi bangku yang Beeve duduki cukup tinggi dan miring, membuat tubuhnya harus membungkuk.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
...Instagram :@Kissky_muchu...
...Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya....
__ADS_1