Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 150 (Melahirkan)


__ADS_3

Beeve yang sudah tak tahan dengan kondisinya naik ke atas ranjang dengan terus menangis.


“Sakit..., sakit banget, siapapun tolong aku!!! Akhhh! Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?!” Beeve yang tak tahu apapun soal persalinan bingung harus berbuat apa.


Ia pun mulai mengelus-elus perutnya, “Sayang, tenang ya, mama kesakitan banget nak, akhh!!” Di tengah penderitaan yang Beeve rasakan, ia ingat sewaktu SMA pernah menonton video ibu melahirkan di Yutub bersama Arinda.


Ia pun mulai bersiap dengan modal ingatan masa lalunya. Beeve menurunkan celananya, kemudian memegang erat punggung ranjang yang terbuat dari kayu jati asli, selanjutnya ia menekuk lututnya.


“Tiup!!! Tiupp! Huuuhh... huuuhh....., akh!! Makin sakit!!” Beeve terus menerus mencoba mengejen, namun bayinya tak kunjung turun juga.


Ia pun menangis sejadi-jadinya, nafasnya ngos-ngosan, pinggangnya serasa mau putus, “Nak, ayo keluar sayang.” Beeve benar-benar bingung harus bagaimana. Sebab di video yang ia tonton si ibu begitu mudah melahirkan anaknya.


“Ibu... Sakit, ibu...!!” Beeve menangis seraya memanggil-manggil almarhum ibunya. Keringat Beeve juga bercucuran, wajahnya kian pucat, ia terus mengejan sekuat tenaga namun tak kunjung berhasil.


Rasa sakit yang ia rasakan kian hebat, “Umm... um... huuuh... huuuh..., ya Allah, ini gimana caranya biar keluar?!! Mas Andri..., huahh..., tolong aku, hiks..., sakit mas!!” Beeve meraung-raung dalam kamarnya sendirian, ia makin down karena tak ada satu orang pun di sampingnya ketika ia berjuang untuk melahirkan anaknya.


“Apa aku akan mati kalau enggak berhasil melahirkannya? Enggak, enggak boleh, kita harus selamat bersama nak, ayo nak cepat keluar bantu mama nak.” Beeve terus meminta kerja sama pada sang anak yang masih berada dalam perutnya.


Karena tiduran tak berhasil mengeluarkan bayinya selama 3 jam, Beeve berinisiatif mencoba posisi baru, yaitu dengan berjongkok memegang tiang punggung ranjangnya.


“Uhh...!! Uuhh...!! Huuhh...huhh... Bismillahirrahmanirrahim akhh!!!” setelah melalui proses panjang selama 5 jam akhirnya Beeve berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.


Oek...oek.. oek..


Tangisan bayi perempuan cantik yang bermandikan darah nifas Beeve terlahir ke dunia.


Beeve yang telah kehabisan tenaga pun tak kuat untuk menggendong bayinya lagi


Dengan perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya jadi sayu, lalu ia melirik bayinya yang masih menangis dengan badan bergetar.


Air matanya pun menetes karena terharu, “Ku pikir aku enggak akan selamat,” gumam Beeve.


Kemudian ia memeluk anaknya di atas ranjang yang penuh akan darah.

__ADS_1


“Selanjutnya apa lagi yang harus ku lalukan?” mata Beeve pun tertuju pada Ari-ari putrinya.


“Oh iya, aku harus memotongnya.” Beeve melepas pelukannya dari putrinya, kemudian dengan perlahan turun dari ranjang menuju meja rias untuk mengambil gunting.


Baru sebentar ia berdiri, tubuhnya tiba-tiba ambruk ke lantai, ia benar-benar kekurangan tenaga saat itu, namun demi sang buah hati, Beeve terus berjuang menuju meja rias meski dengan cara merangkak.


Setelah mendapatkan gunting, Beeve kembali keranjang dengan merangkak lagi.


Arinda ternyata memasang camera cctv di kamar Beeve, ia pun melihat dengan jelas dari awal sampai akhir, proses Beeve melahirkan dengan begitu menyedihkan.


“Kasihan deh, baru tahukan rasanya sakit itu seperti apa? Melahirkan tanpa ada yang menemani, karena kau dan anak mu selamat, aku akan memberi mu menghukum lain.” Arinda yang murka akan keberuntungan Beeve, memutuskan untuk tak membuka pintu kamar wanita malang itu beberapa hari ke depan.


Sementara Beeve yang berhasil memotong ari-ari anaknya merasa lega. Tapi tugasnya belum selesai, sebab bayinya masih sangat kotor.


“Kau perlu mandi nak.” Beeve yang takut kalau anaknya jatuh bila ia memaksakan diri membawanya ke kamar mandi, memutuskan untuk menyeka tubuh bayi mungilnya dengan bagian selimut yang masih bersih.


Hatinya sangat sedih, karena sang bayi lahir di tempat yang tak seharusnya.


“Kejam sekali permainan mu Arinda, pada hal yang punya masalah adalah kita berdua, tapi kau melibatkan bayi ku yang tak berdosa, awas saja, kalau aku keluar dari sini, kau takkan dapat ampunan dariku, dan kalau sampai bayi ku kenapa-napa ku kubur kau hidup-hidup.” Beeve benar-benar sangat marah, namun ia tak dapat berbuat apapun, malangnya lagi, baju bayinya tak ada di kamarnya, karena telah di simpan di kamar khusus putri kecilnya.


Belum lagi bayinya tiba-tiba menangis, oek.. oek... oek..!!!


Suara nyaring sang buah hati membuat Beeve panik.


Ia dengan segera membalut tubuh putrinya dengan gaun selembut sutera miliknya. Ia yang sudah tak ada tenaga tiba-tiba tak sadarkan diri, sedangkan anaknya masih terus menangis.


____________________________________________


Andri yang baru saja selesai memakai baju formalnya berniat menelepon sang istri.


“Dia lagi apa ya sekarang? Apa sudah tidur?” Andri pun melirik jam di handphonenya yang menunjukkan pukul 07:50 pagi.


“Berarti di Indonesia sekarang jam 20:52,” gumam Andri. Ia yang rindu pun mendial nomor Beeve.

__ADS_1


Tutt... tut.. tut...


“Hem? Kok enggak tersambung ya? Apa handphonenya mati? Atau kartu simnya kena masa tenggang?” Andri yang tak ingin berpikir negatif pun memutuskan untuk menghubungi Beeve setelah ia pulang bekerja.


____________________________________________


Oek.. oek.. suara tangis banyinya membuat Beeve sadar dari pingsannya.


“Ya Allah, sudah berapa lama kau menangis nak?” Beeve melirik ke arah sang putri yang mulutnya menganga seperti mencari makanan.


Apa dia lapar ya? batin Beeve.


Beeve pun menggeser tubuhnya menuju sang buah hati, selanjutnya ia membuka kancing baju atasnya, dan memberikan asi pada putrinya.


“Ssst!! Aduh, sakit!” celetuk Beeve, posisinya yang salah dalam memberi asi membuatnya merasa nyeri di bagian ujung bukitnya.


“Kok beda sih rasanya, pada hal kalau mas Andri yang melakukan rasanya enggak begini.” gumam Beeve yang baru pertama kali menyusui.


Cukup lama Beeve memberi bayinya asi, hingga akhirnya si bayi berhenti, bukan karena terlelap, melainkan karena menangis kembali.


“Sayang, ada apa nak? Apa lagi yang kurang? Asi mama enggak enak ya sayang?? Ayo sayang minum lagi, nih masih banyak sayang.” Beeve membujuk putrinya, namun sang putri tak mau lagi menyusu.


“Nak, jangan nangis terus, mama kan enggak tau dede mau apa?! Hiks..” karena sang bayi tak kunjung berhenti menangis, Beeve pun jadi ikut menangis, sebab ia tak tahu apa yang anaknya inginkan.


2 jam telah berlalu, putrinya masih saja menangis, begitu pula dengan Beeve.


Arinda yang masih memantau dari handphonenya tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha, rasakan! Emang enak! Dasar Beeve bodoh, anak mu itu menangis karena kedinginan, bukan karena kelaparan, lagi pula anak bayi di kasih bedong gaun tipis begitu, hahaha, tapi enggak apa-apa deh, cukup menarik buat di tonton.” Arinda sangat senang atas penderitaan Beeve.


“Ini belum seberapa Bee, aku akan mengambil anak mu, agar kau sama stresnya dengan ku, tapi ku harap, kau akan masuk rumah sakit jiwa, hahaha!!”


...Bersambung......

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2