
Cristian membuka lebar kedua kaki Beeve, lalu melakukan hentakan.
Masih sempit, beruntung sekali si bajingan itu mendapatkan mu, batin Cristian.
Saat Cristian masih sibuk melakukan pekerjaannya, tiba-tiba darah nifas Beeve yang belum genap 40 hari pun mengalir.
“Hah! Apa ini?!” Cristian yang tak tahu masalah nifas pun berpikir kalau Beeve sedang datang bulan.
“Kau jorok sekali! Pada hal sedang berhalangan, malah bermain dengan ku!” pekik Cristian.
“Ma-maafkan aku, itu bukan darah haid, melainkan darah nifas pasca melahirkan,” terang Beeve.
“Apapun itu aku enggak perduli, yang jelas kau telah mengotori ku!” hardik Cristian menyudahi permainan.
“Crist! Kau tetap akan membayar ku kan?!” tanya Beeve panik, ia takut kalau Cristian akan ingkar janji.
“Enak saja! Enggak jadi!” Cristian segera bangkit dari tubuh Beeve.
“Crist! Ku mohon! Jangan begini, aku sangat butuh uangnya, tolong aku hiks!!” Beeve yang sangat takut putrinya di jual pun kembali menangis.
“Maafkan aku, nanti setelah 40 hari, aku akan kembali melayani mu, tapi tolong berikan aku uangnya, aku benar-benar terdesak, hiks...” Beeve menangis hebat, ia juga memeluk kaki Cristian.
“Bee, jangan begini, aku enggak akan luluh!”
“Tolong aku, aku sangat butuh, tolong kasihani aku untuk kali ini saja Crist, apapun akan ku lakukan.” Beeve terus menangis dengan masih memeluk kaki Cristian.
Cristian yang kebetulan ingin melihat wajah bayinya pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Baik, akan ku berikan, tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Berikan hak asuh anak kita pada ku,” ucap Cristian. Sontak Beeve tambah lemas mendengar permintaan Cristian.
“Apa? Crist, bukannya kau enggak mau pada anak ku?” ucap Beeve.
“Itu dulu, sekarang beda, aku akan merawat anak ku, kalau kau mau, kau tetap bisa bersamanya.”
“Maksudnya bagaimana Crist?”
“Ya, kau harus menikah dengan ku,” terang Cristian.
“Tapi kitakan beda agama Crist!”
“Soal itu bisa di atur, aku enggak masalah kalau harus ikut dengan mu, toh dulu aku pernah berjanji akan menikahi mu dan memeluk agama mu, aku ingin menepati itu, bagaimana pun, aku ingin anak ku di sisi ku,” terang Cristian.
Beeve di buat makin bingung, ia benar-benar tercekik dari segala arah.
__ADS_1
“Crist, aku enggak bisa.”
“Ya sudah, aku enggak memaksa mu, kalau mau oke, enggak it's okay.” Cristian tahu Beeve akan menurutinya, ia pun mengambil handuk untuk mandi.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Kenapa hidup ku begitu kacau? Tapi kalau aku enggak mau, aku akan kehilangan putri ku selamanya, kalau aku setuju, setidaknya aku masih bersamanya, toh aku dan mas Andri memang harus berpisah,” batin Beeve.
Dengan berat hati Beeve pun menggenggam tangan Cristian.
“Baiklah, aku setuju, tapi janji ya, jangan pisahkan aku dengan anak ku,” pinta Beeve.
“Aku janji sayang.” Cristian mengecup kening Beeve. Lalu mengajaknya mandi bersama.
Setelah keluar dari hotel, Cristian mengajak Beeve membuat perjanjian hitam di atas putih, yang garis besarnya menyatakan hak asuh putri mereka jatuh ke tangan Cristian, kemudian di tanda tangani di atas materai 10.000 oleh kedua belah pihak.
Selanjutnya Cristian memberi check pada Beeve senilai 320 juta.
“Setelah menyelesaikan urusan mu, datanglah ke rumah ku, dan gps handphone mu tak boleh mati.” ucap Cristian yang kini menduplikat gps Beeve ke handphonenya.
“Aku mengerti, kalau begitu aku pergi dulu.” Beeve pun meninggalkan Cristian di cafe sendirian, menuju rumahnya.
Sesampainya Beeve ke rumah, ia melihat Arinda telah berpakaian rapi, dan ingin menaiki mobil dengan membawa putrinya. Beeve pun buru-buru turun dari taksi.
“Arinda! Jangan bawa putri ku, aku sudah membawa uang yang kau minta!” teriak Beeve seraya menahan pintu mobil Arinda.
“Baiklah, ku pikir kau enggak akan datang.” Arinda turun kembali dari mobilnya.
“Ayo, kita bicara di dalam saja,” Arinda mengajak Beeve masuk. Arinda berjalan terlebih dahulu dengan para pengawalnya ke dalam rumah, yang di susul oleh Beeve.
“Mana uangnya?!” tanya Arinda seraya bersedekap.
“Ini.” Beeve menyodorkan tas berisi uangnya berserta cek yang di berikan Cristian.
“Hum, bagus aku suka uang!” Arinda begitu antusias menerima pemberian Beeve
“Tapi kau enggak lupa satu hal kan?”
“Apa lagi?”
“Telepon mas Andri, katakan kau ingin pisah.” titah Arinda.
“Tapi aku enggak punya nomornya.”
“Alasan, nih!” Arinda pun memberikan nomor Andri pada Beeve.
Setelah itu, Beeve mendial Andri melalui aplikasi What*App.
📲 “Halo, ini siapa ya?” Andri.
__ADS_1
📲 “Halo mas,” Beeve.
📲 “Sayang! Kau kemana saja, kenapa kau enggak kasih kabar pada ku? Apa benar kau kabur dari rumah?” Andri
Beeve pun melirik Arinda, ia tahu kalau Arinda telah membuat cerita palsu baru tentangnya.
📲 “Iya mas, itu benar,” Beeve.
📲 “Sayang, kenapa kau lakukan itu pada ku? Kenapa kau meninggalkan ku? Pulanglah, aku berjuang untuk mu dan anak kita,” Andri.
📲 “Maaf mas, aku enggak bisa lagi kembali pada mu, semua sudah terlanjur rumit,” Beeve.
📲 “Sayang, ku mohon jangan berkata begitu, aku enggak bisa hidup tanpa mu,” Andri.
📲 “Maafkan aku mas, tujuan ku menelepon mu hanya untuk meminta cerai, tolong kabulkan itu, karena apapun yang kau katakan sekarang enggak akan merubah keputusan ku,” Beeve.
📲 “Enggak sayang, aku enggak akan pernah menceraikan mu!” Andri.
📲 “Tapi aku ingin cerai! Jangan cari aku lagi! Jangan harapkan aku lagi! Sadarlah mas! Semua yang terjadi karena kebodohan mu! Ini semua salah mu! Andai kau menceraikan Arinda saat itu juga, kita takkan berpisah! Kau pikir aku suka mengatakan ini? Tidak! Tapi aku harus melakukannya, karena aku sudah enggak mau menjadi istri mu lagi! Jangan cari aku lagi!” Beeve.
Arinda yang mendengar perkataan Beeve geleng-geleng kepala.
“Hebat banget, pada hal yang minta ceraikan kau! Kenapa bawa-bawa nama ku segala?!” ucap Arinda.
“Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan, sekarang kembalikan anak ku!”
“Tenang saja, Hana akan ku berikan, asal kau menanda tangani ini.” Arinda memberi Beeve dokumen perceraian. Beeve tanpa pikir dua kali pun menandatanganinya.
“Dan kau harus keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun.” ucap Arinda.
“Akan ku lakukan, sekarang kembalikan anak ku,” pinta Beeve.
“Berikan Hana padanya,” titah Arinda pada Desi.
“Baik nyah,” ucap Desi. Lalu Desi pun meyerahkan Hana pada Beeve.
Beeve pun merasa lega, setelah mendapatkan putrinya.
“Ingat, jangan lapor polisi, kalau enggak, aku akan menyakiti mu dan anak mu, jangan pernah tampakkan batang hidung mu dalam kehidupan ku dan seluruh keluarga mas Andri.”
“Jangan khawatir, kalau begitu aku pergi sekarang,” ucap Beeve.
“Oke, silahkan!” Pada akhirnya Beeve meninggalkan rumahnya dan Andri.
Aku enggak pernah kembali lagi kesini, ini adalah gudang neraka untuk ku, andaikan kau menceraikannya, pasti kita masih bisa bersama, tapi kau terlalu meremehkan segala hal mas, batin Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1