
“Kau mau kemana Her?” tanya Winda.
“Aku di pecat mbak Win sama nyonya Arinda,” jawab Hera.
“Kok bisa?! Masalahnya apa?”
“Hanya karena masakan ku hambar,” ucap Hera.
“Sepertinya dia sengaja, ingin memberhentikan kita semua,” ujar Winda penuh curiga.
“Aku enggak tahu kalau masalah itu mbak, lagi pula aku juga sudah enggak tahan kerja disini, karena setiap waktu dia bisa meletup-letup bagai kompor mbak,” terang Hera.
Ima dan Mirna yang baru masuk ke kamar melihat Hera yang tengah berkemas.
“Mau kemana Her?” tanya keduanya.
“Aku berhenti,” jawab Hera.
“Hah? Apa mbak Winda juga akan keluar?” tanya Mirna.
“Aku belum tahu,” jawab Winda.
“Ya ampun, kalau kalian keluar, aku juga ikut, aku enggak mau disini, bisa-bisa aku jadi sasaran nyonya Arinda lagi.” ucap Mirna yang merasa tak nyaman lagi kerja di rumah Beeve.
“Aku juga ikut berhenti, kalau kalian semua pergi,” ujar Ima.
“Hei, kenapa jadi pada berhenti? Kasihan nyonya Beeve kalau kita tinggalkan,” ucap Winda.
“Kasihan sih iya mbak, tapi lebih kasihan nasib ku, kalau jadi bulan-bulanan nyonya Arinda, sepertinya dia sudah menargetkan kita secara bergilir untuk di pecat, aku takutnya tak bisa menahan diri, bisa-bisa ku gorok lehernya kalau sampai main tangan pada ku, untuk itu lebih baik aku pergi,” terang Ima.
Ima dan Mirna pun ikut membereskan barang-barang mereka ke dalam koper masing-masing, Winda benar-benar tak dapat mencegah kepergian ketiganya.
Ia juga sebenarnya ingin berhenti, namun kasihan pada sang nyonya yang tengah hamil tua.
Pada pukul 19:00, Beeve yang baru keluar dari dalam kamar merasa aneh dengan keadaan rumah yang begitu sepi.
“Kemana semua orang?” lalu Beeve menyusuri seluruh rumah, namun tak menemukan siapapun.
Saat ia menuju kamar Art, Beeve melihat Winda yang tengah bermain handphone.
“Mbak, kemana semua orang?” tanya Beeve.
“Mereka berhenti nyonya,” jawab Winda.
“Loh, kenapa? Apa masalahnya mbak?” tanya Beeve.
“Karena mereka sudah enggak nyaman lagi nyah,” jawab singkat Winda.
“Pasti gara-gara Arinda nih!” Beeve yang kesal menuju lantai 2.
__ADS_1
Ting! Setelah pintu lift terbuka, Beeve buru-buru menuju kamar Arinda.
Tok tok tok!! Beeve mengetuk pintu dengan sangat keras.
Ceklek!
“Ada apa kau mengganggu malam-malam begini?”
“Kenapa kau memecat mereka semua? Bukannya tadi pagi sudah ku katakan, jangan ada yang berhenti??”
“Siapa juga yang menyuruh mereka berhenti? Kamu fitnah banget ya!” pekik Arinda.
“Buktinya mereka semua berhenti! Hanya tinggal Winda seorang, benar-benar ya! Sekarang harus bagaimana? Memang kau bisa mengerjakan semuanya?”
“Kalau masalah itu tenang saja, aku sudah punya penggantinya,” ucap Arinda.
“Sudah punya pengganti?” Beeve mengernyitkan dahinya.
“Iya? Tentunya kandidat yang lebih berbobot dari pada mereka semua,” ujar Arinda dengan percaya diri.
“Oh ya? Awas saja kalau enggak lebih baik." Beeve yang sudah malas melihat wajah Arinda memutuskan untuk beranjak dari sana.
Nasib ku memang mujur, enggak di sangka, Hera yang ku usik, yang lainnya malah ikut pergi juga, hehehe, batin Arinda.
Keesokan harinya, kandidat Art yang di pilih Arinda pun datang, mereka berjumlah enam orang, sesuai dengan jumlah Art yang keluar.
Para Art itu bekerja dengan rajin dan juga telaten, attitude nya juga baik, hingga Beeve tak ada keluhan sedikit pun.
“Terimakasih mbak Des,” ucap Beeve.
“Sama-sama nyonya,” sahut Desi.
Saat Beeve tengah sarapan di dapur, Arinda yang memiliki rencana besar pun masuk ke kamar Beeve yang tidak di kunci.
“Cepat-cepat!!!” Arinda mencari handphone dan dompet Beeve.
Tak butuh waktu lama, Beeve yang tak berhati-hati dalam menyimpan barangnya, dengan mudah di temukan oleh Arinda.
“Sempurna!” ucap Arinda.
Kemudian, Arinda mengambil kartu debit Atm dan juga Black Cart milik Beeve. Ia juga tak lupa mengambil kunci kamar Beeve. Setelah itu, ia keluar dari dalam kamar madunya.
Beeve yang telah selesai sarapan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
“Aku harus cepat mandi, karena sebentar lagi ada kelas.” gumam Beeve. Ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Kemudian Arinda dengan perlahan mendekati pintu kamar Beeve, dan dengan hati-hati ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar.
Retek!! Setelah itu, ia pergi ke dapur menemui Desi.
__ADS_1
“Hei Des, tadi kau jadikan menaburkan misoprospol nya ke dalam nasi dan minuman Beeve?” tanya Arinda memastikan.
“Beres nyah! Sebentar lagi pasti nyonya Beeve akan kontraksi,” jawab Desi.
“Kau beri dosis berapa banyak?” tanya Arinda.
“400 mcg dua tablet untuk susunya tadi, dan 2 tabletnya lagi ke rendang yang nyonya Beeve makan,” terang Desi.
“Wah! Gila, manjur enggak ya entar?”
“Manjur nyah, di jamin!” ucap Desi dengan percaya diri.
“Bagus kalau begitu, nanti akan ku beri kau bonus!” ucap Arinda.
Sementara Beeve yang telah berada dalam kamar mandi merasa perutnya mulas.
Awalnya ia berpikir kalau dirinya ingin buang air besar, namun lama kelamaan mulasnya semakin parah, dan dari kemalua*nya juga mengeluarkan cairan.
“Akh! Sa-sakit.” Beeve memegang perutnya yang makin melilit, ia juga merasa begah.
Beeve yang tadinya ingin mandi, mengurungkan niatnya, ia pun kembali memakai bajunya.
“Aku harus ke rumah sakit,” gumam Beeve.
Dengan memegang perutnya yang makin nyeri tak tertahankan ia berusaha berjalan dengan benar keluar dari kamar mandi.
“Akh...,” Beeve pun mencari handphonenya, ia berniat ingin menghubungi Ali agar menyiapkan mobil menuju rumah sakit.
Namun sayangnya ia tak menemukan handphonenya dimana pun.
Ia yang sudah tak tahan mengambil dompetnya, kemudian Beeve memutar handle pintu.
“Loh! Kok terkunci?” Beeve yang malang menyusuri kamar untuk mencari kunci, namun ia tak kunjung menemukannya juga.
“Akh!!! Kenapa ini? Perut ku kok makin sakit, apa mungkin aku mau melahirkan?? Tapi kenapa waktunya jadi lebih cepat?!” Beeve dengan sekuat tenaga menuju pintu kembali.
“Tolong!! Ada orang di luar!!! Tolong aku!!”
Tok tok tok tok!!! Beeve mengetuk dan menggedor pintu kamarnya, berharap ada yang membantunya untuk membukakan pintu.
Arinda yang berada di hadapan pintu kamar Beeve pun merasa senang, karena sebentar lagi, Beeve akan melahirkan sendirian di dalam kamar.
“Emang enak, melahirkan secara otodidak!” pekik Arinda.
“Ya Allah sakit, hiks....” Beeve menangis, karena kram di perutnya semakin hebat, air ketubannya juga kini telah pecah.
“Hiks..., aku harus bagaimana? Tolong!! Buka pintunya!! Tolong aku!!!” Beeve terus meminta tolong agar ada yang membantunya, namun sayangnya semua Art baru yang bekerja di rumahnya di bawah kuasa Arinda, sementara Winda, di paksa cuti kerja hari itu oleh Arinda tanpa sepengetahuan Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...