
Di dalam kotak masih terdapat 3 buah surat lagi, yang di tuliskan Cristian untuk putrinya, semua atas nama sang ibunda Beeve.
Beeve membaca semua yang Cristian tuliskan, sampai surat yang terakhir.
đź’Ś Dear Bia sayang, selamat ulang tahun yang ke 4 tahun, semoga panjang umur sehat selalu, mama harap apapun yang Bia inginkan segera tercapai.
Maafkan mama belum bisa pulang tahun ini, karena mama lagi bekerja keras untuk membeli Bia istana, agar mama, papa dan Bia bisa tinggal bersama, sabar ya sayang, mama akan selalu mencintai Bia, dimana pun Bia berada, untuk itu mama memberikan Bia boneka beruang raksasa, untuk menemani Bia sehari-hari.
Nak, mama sangat menyayangi mu, tunggu mama pulang ya sayang, jadilah anak yang baik patuh sama papa dan nenek.
Salam dari mama cantik, Beeve An Mahveen. đź’Ś
Selesai membaca surat yang terakhir, Beeve menatap lekat punggung putrinya yang menonton kartun di hadapannya.
“Tahun ini, suratnya atas nama mu Crist, buka aku lagi, mungkin kalau kau masih hidup anak kita enggak akan mendapat kekerasan dari keluarga mu.” Beeve pun menyimpan barang peninggalan Cristian ke lemari yang ada di kamar Bia.
Aku enggak boleh bohong ke Bia, bagaimana pun, dia harus mengenal siapa ayah kandungnya, batin Beeve.
Malam harinya, Beeve tidur di kamar putrinya, sebelum tidur Beeve pun menjelaskan pada sang putri kecilnya, tentang ayah biologisnya yamg sebenanya.
“Bia...”
“Iya ma?”
Aduh, aku harus mulai dari mana ya ngomongnya, apa dia akan mengerti? batin Beeve.
“Ehm, begini nak, mama ingin menjelaskan pada mu, kalau papa Andri itu bukan papa kandung mu.” Bia yang masih polos mengernyitkan dahinya.
“Maksudnya gimana ma?”
“Maksud mama, papa Andri bukan papa kandung Bia, itu artinya, bukan papa asli atau yang pertama, tapi... papa Bia yang sebenarnya adalah Cristian, anaknya nenek Celine.” Beeve serba salah karena tak tahu harus menjelaskan seperti apa.
“Iya ma, nenek Celine juga bilang begitu kok, katanya papa ku meninggal karena aku, nenek juga sering menyebut nama papa, makanya aku heran saat papa Andri mengaku sebagai papa kandung ku,” ucap Bia.
“Jadi Bia sudah tahu?”
“Tentu saja ma, walau pun aku enggak pernah ingat kebersamaan ku dengan papa kandung ku, tapi... Bia kenal wajahnya lewat gambar, dan banyak juga photo kebersamaan Bia waktu bayi dengan papa.” Beeve menjelaskan situasi di rumah mereka saat masih di Paris, hati Beeve teramat senang, ternyata Bia mengerti dan tahu siapa ayah kandungnya.
“Kalau papa masih ada, pasti dia bahagia punya anak secantik dan sepintar Bia,” ucap Beeve.
“Memangnya orang yang sudah meninggal enggak bisa pulang lagi ma? Hemm... Bia juga ingin ketemu papa kandung Bia.” wajah Bia berubah menjadi sedih saat mengatakan keinginannya.
“Sayang....maaf ya, mama enggak bisa mengabulkannya, karena setiap orang yang meninggal, akan pergi selamanya, enggak akan kembali lagi, kita hanya dapat menjumpainya ke peristirahatan terakhirnya.”
“Peristirahatan terakhir?”
“Iya nak, itu maksudnya adalah rumah terakhir papa.” terang Beeve.
“Kalau mama sempat, tolong antar Bia ke rumah papa ma, Bia ingin bertemu dan mengobrol.” Bia kecil berpikir kalau dia masih bisa bertatap muka dengan sang ayah.
__ADS_1
Beeve menahan air matanya, ia merasa kasihan pada putrinya yang kini jadi anak yatim, untuk mengobati rasa rindu Bia, Beeve pun kembali mengambil kotak peninggalan Cristian.
“Ini adalah surat papa untuk Bia, apa Bia mau membacanya?” tanya Beeve.
“Membaca? Bia kan belum bisa baca ma,” ucap Bia.
“Benarkah?”
“Iya ma, karena Bia enggak pernah di ajari,” terang Bia.
“Oh benar juga, aku sih yang bodoh,” gumam Beeve.
“Baiklah, sebelum mama baca surat dari papa, mama mau kasih kalung untuk Bia, ini adalah kado mama untuk Bia saat Bia berusia 1 tahun.” Beeve pun mengambil kalung miliknya, yang pernah ia titipkan pada Celine, selanjutnya Beeve menyematkannya dileher putrinya.
Setelah itu, Beeve pun membaca surat yang Cristian tuliskan untuk putri mereka, degan sedikit mengubah teksnya, mulai dari usia 1 tahun sampai dengan 3 tahun.
“Dari papa tampan Cristian Rinaldi.” ucap Beeve membaca penutup surat yang ia baca.
“Mama, aku harap papa juga bahagia dimana pun papa berada, karena Bia juga sayang papa.” meski tak mengingat kasih sayang Cristian padanya, namun Beeve sangat menyayangi ayah biologisnya itu.
“Aamiin sayang, papa pasti bahagia, untuk itu Bia harus seperti yang papa bilang ya, jadi anak yang baik, dan besok mama akan daftarkan Bia untuk sekolah PAUD, disana nanti Bia akan bermain bersama teman-teman baru.”
“Iya ma?!” Bia begitu antusias saat tahu akan mendapatkan seorang teman.
“Iya sayang!”
Saat keduanya masih berbincang, tiba-tiba handphone Beeve berdering. Ketika di lihat, ternyata itu panggilan video call dari Andri.
“Pas banget, papa menelepon.” Beeve pun mengangkat panggilan dari suaminya.
📲 “Assalamu'alaikum kesayangan papa,” Andri.
📲 “Walaikumsalam papa, ayo Bia sapa papa,” Beeve.
📲 “Halo pa, papa kapan pulangnya?” Bia.
📲 “Hari senin depan sayang, ngomong-ngomong Bia dan mama sudah makan belum?” Andri.
📲 “Sudah dong pa, papa sendiri sudah makan apa belum?” Bia.
📲 “Sudah sayang, nanti kalau papa pulang mau di bawa oleh-oleh apa nak?” Andri.
📲 “Apa saja pa, karena Bia suka apapun kok pa,” Bia.
📲 “Baiklah kalau begitu, mama sendiri mau di bawa hadiah apa?” Andri.
📲 “Cukup hati papa seutuhnya,” Beeve.
Andri menahan senyum saat Beeve menggombalnya.
__ADS_1
📲 “Mama yakin... cuma mau di bawakan hati papa?” Andri.
📲 “Tambah cinta juga boleh, yang penting mas pulang tepat waktu, itu yang paling utama untuk ku,” Beeve.
📲 “Oke, permintaan di kabulkan, kau juga jangan lupa sayang,” Andri.
📲 “Apa mas?” Beeve.
📲 “Atas bawa di bersihkan, karena akan ada tamu spesial yang datang,” Andri.
Mata Beeve langsung melotot, sebab Andri bicara tanpa lihat situasi.
📲 “Sudah ah mas, aku mau kasih Bia makan,” Beeve.
📲 “Oke sayang, Bia... putri ku, papa tutup dulu ya, jangan nakal sama mama ya nak,” Andri.
📲 “Siap papa!” Bia.
📲 “Assalamu'alaikum,” Andri.
📲 “*W*alaikumsalam,” Beeve dan Bia.
“Oh ya ma, bilang sama papa dong, kalau Bia juga mau di bawa oleh-oleh hati dan cinta.” Bia kecil yang berpikir hati dan cinta adalah sejenis makanan, merasa tertarik untuk mencicipinya.
“Pffft... baiklah, mama akan sampaikan ke papa, tapi... sekarang kita makan dulu ya.”
“Kitakan baru makan ma?”
“Itukan 2 jam yang lalu nak, kita harus banyak makan, terutama Bia, biar cepat besar.” Beeve yang iba pada Bia yang bertubuh kurus, bertekad untuk menambah berat badan putrinya agar terlihat gemuk.
Kemudian Beeve dan Bia beranjak menuju meja makan. Keduanya pun makan sore dengan lahap. Malam harinya saat Beeve sedang bersantai di kamarnya, ia mendapat sebuah pesan dari Rahma.
Bee, besok ikut ibu ke mall ya, ibu mau beli baju seragam untuk kita semua, karena awal bulan, kita sekeluarga akan ke rumah Helena untuk prosesi lamaran. ✉️ Rahma.
“Kenapa aku harus ikut sih? Pada hal besok mau lihat perkembangan pembangunan Restoran,” gumam Beeve.
Namun karena tak enak menolak, akhirnya Beeve menyetujui ajakan mertuanya itu.
Baik bu, besok jam berapa? ✉️ Beeve.
Jam 17:00, tenang saja, kau masih bisa ketempat lain kalau ada urusan. ✉️ Rahma.
Baik bu, kita ketemunya langsung di mall saja, nanti ibu tinggal kirim alamatnya pada ku. ✉️ Beeve.
Siap, terimakasih banyak ya nak, ✉️
Sama-sama bu, ✉️ Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1