Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 211 (Disiplin)


__ADS_3

“Ya ampun sayang, aku lihat anak-anak bayi juga sudah main handphone, kita beli satu untuk Bia ya, biar dia ada hiburan.” Andri yang penyayang anak pun ingin putrinya seperti anak-anak lain.


“Jangan dulu mas, belum waktunya, baca tulis saja dia belum bisa, nanti di kasih handphone malah enggak fokus belajar, lagi pula aku takut kalau dia lihat hal-hal yang enggak bagus di internet,” terang Beeve


“Hum, kau pelit banget sama anak sendiri.” karena istrinya menolak, Andri pun mengurungkan niatnya untuk membeli Bia handphone.


Setelah itu Andri dan Beeve pun menuju kamar Bia.


“Halo sayang, kau sedang apa?” sapa Andri seraya mendekat ke meja belajar putrinya.


“Mewarnai buah apel pa,” sahut Bia.


“Coba papa lihat.” Bia pun menunjukkan hasil yang baru ia kerjakan.


“Loh, kok warnanya ungu sayang?”


“Karena apelnya kurang sehat pa,” ucap Bia.


Kemudian Andri melihat ada ulat di antara gambar buah apel yang putrinya warnai.


“Oh, benar juga ya,” gumam Andri.


Lalu Andri mengelus kepala Bia, “Belajarnya lanjutkan nanti saja ya sayang, sekarang temani papa makan malam yuk!” Bia yang mudah lapar karena lezatnya masakan Beeve pun tak menolak.


“Ayo pa!” ketika Bia ingin turun dari kursinya Beeve mencegatnya.


“Eits! Enggak boleh.”


“Sayang, kok begitu?”


“Bia harus lanjutkan pekerjaan yang belum selesai, itukan sedikit lagi.” ucap Beeve yang ingin membiasakan putrinya disiplin dari dini.


“Justru karena dikit lagi, nanti bisa di lanjut, aku akan menemaninya,” ujar Andri.


“Enggak bisa, Bia baru boleh makan, setelah selesai mewarnai, mas juga mandi dulu baru makan! Masa datang dari luar langsung makan?” Andri menggaruk kepalanya, lalu ia pun mencium tubuhnya yang bau keringat.


“Oh iya, ya sudah aku mandi dulu, Bia, kau lanjutkan mewarnainya ya sayang, nanti kalau sudah selesai, baru kita makan bersama.”


“Baik pa.” Bia dan Andri pun melakukan tos, setelah itu keduanya melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing.


“Bia, mama ke dapur dulu untuk memanaskan sayur, kau selesaikan gambar mu dengan rapi ya sayang.”

__ADS_1


“Iya ma.” Beeve pun menuju dapur menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


15 menit kemudian Andri dan Bia datang bersamaan ke meja makan seraya bergandengan tangan.


Lalu keduanya mengambil tempat duduk masing-masing, Beeve sang ibu rumah tangga menyiapkan tiga piring, dan mengisinya dengan nasi, untuk lauk, Bia dan Andri bebas mengambil.


Bia yang merasa bisa menghabiskan seluruh masakan ibunya mengambil tiga potong ayam sekaligus.


“Bia, ambilnya satu-satu saja sayang, nanti kalau habis baru di tambah lagi,” ucap Beeve.


“Tenang saja ma, Bia pasti habis, karena masakan mama enak banget.”


“Hei, sudahlah, Biarkan anak kita mengambil sesukanya, kau dari tadi cerewet banget.” Andri sedikit kesal dengan Beeve yang banyak aturan.


“Aku hanya ingin mengajarkan Bia disiplin mas, mengajari anak-anak itu ya sedari kecil, agar besar terbiasa.” Beeve yang ingin anaknya lebih baik darinya ke depan, berniat menanamkan nilai-nailai kehidupan yang baik.


“Biarkan saja, asal dia suka enggak masalah.” Andri yang tak ingin ribet malah menentang aturan yang istrinya buat. Beeve pun menghela nafas panjang, karena suaminya tak mengerti akan tujuannya. Bia sendiri makan dengan lahap, dan terus minta nasi pada Beeve.


“Yang banyak ma.”


“Sedikit saja ya sayang, nanti kalau habis baru tambah lagi.”


“Ya sudah, mama kasih banyak, tapi Bia wajib habiskan ya, enggak boleh ada sisa nasi di piring.” Beeve memperingatkan putrinya terlebih dahulu.


“Ck, sifat ibu-ibu rempongnya sudah mulai muncul,” gumam Andri.


Mereka pun lanjut makan, Bia yang ternyata sudah kenyang, mulai melambat dalam mengunyah nasinya.


“Ada apa nak?” tanya Beeve.


“Hehehe... Bia enggak sanggup lagi ma.” jawab Bia dengan tawa canggung.


“Hem, makanya lain kali, harus dengar apa kata orang tua ya nak, kalau kau membuang-buang makanan, itu namanya mubasir, berdosa sayang, karena satu di antara nasi yang kau makan ada yang akan berdo'a pada Allah, kalau kau beruntung memakannya dia akan mendo'akan rezeki Bia lancar, kalau ternyata nasi yang mendo'a itu belum kau makan maka nasi tersebut akan menangis dan mengadu pada Allah, kalau kau membuang-buang makanan sayang.” terang Beeve, yang membuat Bia terdiam, ia yang sudah terlalu kenyang memaksakan diri untuk kembali mengunyah.


Andri yang kasihan pada putrinya pun meminta agar dia saja yang menghabiskan sisa makanannya.


“Sini, biar papa yang makan, lain kali anak papa dengar nasehat mama ya, boleh makan banyak, tapi sedikit-sedikit di taruh dalam piring, oke sayang.” Andri tersenyum seraya mengusap pipi putrinya.


“Iya pa, terimakasih banyak ya pa.” ucap Bia, lalu Andri pun menaruh sisa makanan Bia ke piringnya.


“Ma, maaf ya kalau Bia enggak mendengar nasehat mama.” Bia sangat menyesal karena tak menurut pada ibunya.

__ADS_1


“Iya nak, kalau kau sudah mengerti, itu sudah cukup, lain kali jangan di ulang lagi ya sayang, untuk hari ini, mama terima papa membantu Bia, tapi... kalau besok juga begitu, Bia harus habiskan sendiri ya.”


“Iya ma.” setelah cukup memberi wejangan, Beeve memberi Bia air hangat, agar perutnya tidak begah.


Selesai makan malam, Beeve membawa Bia ke kamarnya untuk tidur, walau itu masih jam 20:00 malam.


Setelah itu ia kembali ke kamar mereka, Andri yang menunggu di atas ranjang pun bersedekap dengan wajah sedikit kecut.


“Kau kenapa mas?”


“Kau ini, kenapa begitu keras pada anak kecil sih? Enggak soal handphone, belajar, makan dan juga jam tidur, pada hal aku masih ingin bermain dengannya, ini masih jam 20:00 malam, kasih kebebasan sampai jam 21:00 lah sayang.” Andri protes pada Beeve yang protective.


“Mas... mendidik anak itu dari kecil, biar mengerti, kau tahukan mas istilah belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air? Aku enggak mau dia seperti ku, enggak teratur dan salah jalan, yang ku lakukan sekarang untuk kebaikan dia kedapannya,” terang Beeve.


“Hem... kau berlebihan sekali.”


“Dan satu lagi, jangan debat aku di depan Bia, agar dia tahu kalau dia salah, takutnya kalau dia merasa punya pembela, dia malah jadi bandel, sebisa mungkin aku enggak mau memarahinya mas.”


“Iya sayang, aku mengerti, sudah ayo kemari.” Andri merentangkan kedua tangannya. Lalu Beeve pun naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh suaminya.


Kemudian Andri mengecup kening Beeve, “Maaf ya, kalau aku salah.”


“Enggak apa-apa mas, lagi pula aku senang kalau kau perhatian pada putri kita,” ujar Beeve.


“Tapi sayang, baru sehari kau jadi ibu-ibu rempong, dahi mu sudah ada garis halusnya loh.” Andri pun mengusap kening Beeve dengan jemarinya.


“Ma-masa sih mas?” Beeve yang takut kecantikannya berkurang, berniat ingin berkaca ke meja riasnya.


“Mau kemana?” tanya Andri.


“Mau ngaca lah mas, awas ah!” Beeve yang panik ingin segera memastikan ucapan suaminya.


“Besok saja.” Andri pun mengencangkan pelukannya.


“Lepas dulu mas, aku mau tambah night cream ke kening ku.” ucap Beeve.


“Sudah ku bilang besok saja, lagi pula kau mau seperti apapun aku tetap cinta,” ucap Andri seraya mengecup pipi Beeve berang kali.


“Bohong! Kalau aku sudah jelek, kau pasti cari mangsa di luar sana mas, rumus laki-lakikan begitu, nanti kau akan beralasan, kalau aku enggak bisa merawarat diri, atau aku enggak bisa mengurus mu, hum!” curahan hati Beeve membuat Andri tertawa cekikikan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2