
“Kita tadi sibuk di atas bu.” ucap Emir dengan perasaan canggung.
“Maklum bu, pengantin baru kalau lama-lama bangunkan wajar saja!” terang Helena yang membuat suaminya makin tak punya muka.
Helen... Helen... aku sibuk buat alasan, kau malah bilang yang sebenarnya, kucing juga tahu kalau kita terlambat turun karena sibuk bercinta, batin Emir.
“Oh, begitu ya? Ya sudah, kalian makan dulu sana, sesibuk apapun di atas, jangan lupa isi perut tepat waktu.” ujar Rahma seraya meninggalkan anak dan menantunya di ruang tamu.
Setelah Rahma tak terlihat oleh mata lagi, Emir mencubit bibir mungil istrinya.
“Mulut mu ini benar-benar bahaya ya!” pekik Emir.
“Abang!” Helena menepis tangan suaminya.
“Sudah di bilang, saring-saring kalau mau bicara, ibu itu bukan teman sebaya mu, yang asal bisa kau katakan apapun yang ada dalam hatimu,” terang Emir.
“Aku hanya ingin jujur, karena bohong itu dosa!” ucap Helena.
“Bagus sih kalau di dirimu ada kejujuran, tapi... masalah kamar kita, enggak usah jujur juga kali!” ucap Emir, yang membuat Helena memancungkan bibirnya, lalu menggandeng lengan Emir.
“Maaf ya bang, kalau ade salah, dan terimakasih banyak untuk setiap nasehatnya, aku beruntung... banget punya suami yang ilmunya lebih tinggi dariku.” Helena yang tak ingin suaminya marah lama-lama padanya pun inistif mengambil hatinya.
“Iya deh, jangan ulangi lagi ya.” karena istrinya sudah minta maaf, Emir merasa permasalahan sudah selesai.
Sesampainya mereka di meja makan, Helena melayani suaminya, ia pun membuat roti panggang untuk Emir dan dirinya, setelah itu, ia taruh selai coklat di antara 2 himpitan kue tersebut, selanjutnya ia memberikannya pada Emir.
Ia juga membuat segelas susu hangat untuk suami tercinta, pagi itu Helena berhasil menjadi istri yang baik di mata ersi Emir.
____________________________________________
Beeve yang sedang mengerjakan laporan sales restoran di hari kemarin, kembali merasa kurang enak badan. Hoek!! Ia juga berulang kali ingin muntah.
“Aduh... pusing dan begah banget purut ku.” gumam Beeve.
Ia sebenarnya sudah tak sanggup melanjutkan pekerjaannya, namun karena laporan yang ia kerjakan sudah setengah jalan, Beeve pun memaksakan diri untuk menyelesaikannya.
Hoek!!! Beeve yang sudah tak tahan atas perutnya yang bergejolak segera menuju toilet untuk muntah.
Uhuk uhuk! Hoek!
Beeve memuntahkan semua makanan yang ia konsumsi, setelah 30 menit, ia baru dapat meninggalkan kamar mandi.
Tubuhnya pun menjadi sangat lemas, ia yang ingin menstabilkan rasa mual di perutnya, memutuskan menuju daput untuk membuat air jahe hangat. Ia turun meggunakan lift menuju lantai 1, ting!
Saat pintu lift terbuka, terrnyata banyak sekali pelanggan yang sedang berkunjung. Hatinya sangat senang dengan pemandangan indah itu.
Saat ia akan sampai ke dapur, perutnya kembali ingin muntah, sebab bau bawang putih dan merah yang sedang di olah begitu menyengat di hidungnya.
__ADS_1
Beeve juga merasa kepalanya sangat pusing, Laura yang baru keluar dapur pun menyapa bosnya.
“Bu, ada yang bisa ku bantu?” tanya Laura.
“Lau, tolong dong buatkan aku air jahe merah, pedas ya, antarkan ke ruangan ku,” ucap Beeve.
“Oh iya bu, ibu baik-baik sajakan?” Laura sedikit khawatir dengan kondisi bosnya, sebab wajah sang bos begitu pucat.
“Aku... kurang sehat, tolong ya!” setelah memberi titah, Beeve buru-buru kembali ke ruangannya.
Sesampainya ia kembali ke ruangannya, Beeve merebahkan tubuhnya di sebuah sofa panjang, seraya menguyah sedikit roti kering, agar perutnya tak kosong.
“Parah banget kalau begini, hamil Bia dulu rasanya biasa saja, enggak sehebat ini.” gumam Beeve seraya mengelus perutnya.
Tak lama, Laura pun datang dengan membawa secangkir teh jahe untuk Beeve.
“Bu... ini tehnya.” ucap Laura seraya meletakkan teh jahe tersebut di atas meja.
“Terimakasih ya Lau.” perlahan Beeve bangkit dari tidurnya, lalu meminum teh jahe buatan Laura.
“Ibu lagi sakit apa? Wajah ibu pucat banget loh!” terang Laura.
“Aku...” Beeve merasa ragu untuk memberitahu kondisi kehamilannya.
“Kenapa bu?” tanya Laura penasaran.
“Aku hanya masuk angin biasa Laura.”
“Terimakasih atas sarannya Lau, setelah laporan sales selesai ku kerjakan, aku akan pulang, kau kembalilah bekerja.”
“Baik bu, kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan untuk minta tolong ya bu.” ujar Laura.
“Baiklah terimakasih banyak.” ucap Beeve.
Laura pun meninggalkan Beeve sendirian di rungannya.
Sebaiknya kabar kehamilan ku di umumkan saat sudah memasuki usia 3 bulan saja, batin Beeve.
Ia pun menghabiskan sisa teh jahenya, setelah merasa agak baikan, Beeve melanjutkan perkerjaannya yang belum selesai.
_________________________________________
Di kantor, Andri yang merasa senang bukan main, bersenandung seraya mengerjakan pekerjaan kantornya di leptop.
“Nanana... hahaha... sebentar lagi, aku akan punya anak, bahagianya hatiku Tuhan.” ia yang sibuk akan hanyalannya tentang si buah hati perempuan atau laki-laki tiba-tiba harus terhenti karena Arman masuk ke dalam ruanganya tanpa mengetuk pintu.
“Andri! Laporannya sudah selesai belum!” sapa Arman dengan suara melengking!
__ADS_1
“Astaghfirullah! Arman!” pekik Andri seraya memegang dadanya.
“Sorry bos ku, enggak sengaja, hehehe!” Arman tertawa cengengesan.
“Kalau masuk ketuk pintu dulu brengsek!”
“Ya Tuhan Andri! Aku sudah minta maaf juga, dasar bos sinting!” hardik Arman.
“Kau yang sinting!”
“Mana laporannya, sebentar lagi mau aku meeting dengan pak Yudi nih!” desak Arman.
“Sebentar lagi selesai.” sahut Andri.
“Lama banget sih,” gumam Arman.
“Heh! Inikan pekerjaan mu, dan baru kau serahkan 2 jam yang lalu, kau ini lama-lama ngelunjak ya, karena mu aku rela menunda pekerjaan yang sedang urgent!” Andri memelototi Arman yang begitu menjengkelkan.
“Oh, iya ya, aku lupa, hehehe, bos jangan marah dong!” Arman mencolek pipi Andri.
“Jangan sentuh pipi ku, bikin jijik!” ucap Andri.
“Oke maaf, tapi Ndri, ngomong-ngoming ada yang beda dengan mu dari pagi,” ujar Arman.
“Biasa saja tuh.” Andri menutup rapat mulutnya, karena belum siap memberitahu kabar kehamilan Beeve.
“Bohong kau! Jujur pada ku, kalau bukan ada hal baik, mana mungkin kau mau membantu ku, saat kau punya pekerjaan yang lebih mendesak.” ujar Arman yang merasa Andri menyembuhkan sesuatu darinya.
“Dasar dukun!” Andri pun tak dapat menahan senyumnya.
“Kan... apa ku bilang, pasti ada sesuatu nih!” Arman makin di buat penasaran.
“Baiklah, aku akan jujur pada mu.” ucap Andri. Lalu Arman yang bersemangat pun mengambil posisi duduk yang nyaman di kursi yang ada di hadapan meja kerja Andri.
“Ayo, cepat cerita!” desak Arman.
“Beeve, dia sedang mengandung anak ku saat ini l.” ucap Andri dengan raut wajah yang sangat bahagia.
Alih-alih Arman mengatakan selamat, sahabat solidnya tersebut malah menangis.
“Kau kenapa?” tanya Andri dengan perasaan bingung.
Lalu Arman menyeka air matanya yang bercucuran, “Aku terharu, sekaligus iri pada mu Ndri, Allah begitu menyayangi mu.” terang Arman, yang sudah 5 tahun menikah namun tak kunjung di karuniai keturunan oleh yang kuasa.
Andri yang mengerti pun merasa bersalah, “Maafkan aku Man, kalau sudah menyakiti perasaan mu,” ucap Andri.
“Kau enggak salah, aku yang terlalu menghayati situasi.” terang Arman. Ia pun menegarkan dirinya.
__ADS_1
“Allah pasti punya rencana baik untuk mu dan juga istri mu Man, ku do'akan agar kalian segera mempunyai keturuanan.” ucap Andri dengan perasaan tulus dari dalam hatinya.
...Bersambung......