Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 265 (Gubrak)


__ADS_3

Keduanya pun bercengkrama layaknya tak ada masalah, Rahma dan Yudi yang mengintip dari celah pintu yang terbuka, mengurungkan niat untuk masuk, mereka tak sampai hati, bila menggangu kebahagiaan keduanya.


“Alhamdulillah, ku lihat Andri semakin sehat yah.” senyum sumringah Rahma pun kembali, setelah 2 minggu tersiksa dalam kesedihan.


“Iya bu, semoga anak kita berumur panjang.” Yudi memeluk istrinya.


“Aamiin yah, ibu enggak sanggup kalau hidup tanpanya.”


“Aku juga begitu bu.”


Setelah di rawat selama 1 bulan, akhirnya Andri di izinkan untuk rawat jalan.


Semua orang turut bahagia atas kepulangan Andri. Untuk mengucap rasa syukur kepada yang maha kuasa, kedua orang tua Andri pun mengadakan pengajian syukuran.


Andri yang merasa kesehatannya sudah lebih prima pun berniat ingin membayar janji pada istrinya.


“Besok kita piknik ke taman bunga ya.”


“Enggak usah mas, lain kali saja, toh kau baru keluar dari rumah sakit.” Beeve menolak ajakan suaminya, karena takut kesehatan suaminya menurun.


“Aku baik-baik saja sayang, pokoknya kita sekeluarga harus pergi, lagi pula besokkan minggu.” karena Andri bersikeras, Beeve pun setuju.


Keesokan harinya, seluruh keluarga Han berangkat ke taman bunga Nasional terbesar di Indonesia.


Mereka melakukan piknik di bawah pohon besar nan rimbun.


Setelah tikar di gelar, Beeve dan Rahma mengeluarkan banyak makanan dari box besar yang mereka bawa.


Ada ikan mas bakar, pargedel, rendang sapi, daun ubi rebus, kacang panjang yang di kukus, mie goreng, dan tak lupa yang paling penting adalah kerupuk udang goreng.


Siang itu, semua yang tersaji di atas tikar, adalah makanan kesukaan Andri.


“Wah! Hari ini menunya enak semua!” seru Andri yang merasa perutnya langsung keroncongan.


“Makanya makan yang banyak mas,” ujar Beeve.


“Betul Ndri, kau harus makan banyak, biar berat badan mu bertambah lagi,” ucap Emir.


“Oke-oke.” Andri tertawa riang mendapat perhatian lebih dari keluarganya.


“Papa, mau Bia suap enggak?” Bia juga tak kalah dari yang lain, ia juga ingin menunjukkan kasih sayangnya pada sang ayah sambung.

__ADS_1


”Boleh nak.” Andri pun membuka lebar mulutnya, lalu Bia menyuap satu pargedel ke mulut Andri.


“Enak banget nak, papa juga mau suap Bia,” Andri pun memberi satu pargedel ke putrinya.


Setelah itu, mereka semua makan dengan lahap, terutama Andri, ia makan sangat banyak.


Setelah itu, mereka lanjutkan dengan sesi photo-photo, Andri begitu manja pada Beeve, ia terus memeluk Beeve, memberi ciuman hangat di pipinya, serta menggendong istrinya.


Meski pemandangan itu agak canggung, namun tak ada yang berani protes, prioritas keluarga itu saat ini adalah kebahagian Andri.


Setelah menghabiskan waktu seharian di taman bunga nan indah, mereka memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Andri dan Beeve masuk ke dalam kamar.


“Sayang.” Andri memeluk mesra tubuh istrinya


“Iya mas?” Beeve membalas pelukan suaminya.


“Kita olah raga yuk!” Andri mengajak istrinya untuk bercinta.


“Ayo mas.” Beeve meladeni keinginan suaminya.


Pukul 01:04 Dini hari, Beeve yang terlelap terbangun dari tidurnya, sebab ia mendengar suara rintihan dari suaminya.


“Mas! Bagun mas!” Beeve menepuk-nepuk pipi suaminya yang menggigil dengan mata tertutup.


Karena tak berhasil membangunkan Andri, Beeve keluar dari dalam kamar.


Tok tok tok! Beeve mengetuk pintu kamar mertuanya.


Rahma dan Yudi yang belum tidur saat itu pun segera membuka pintu.


“Ada apa Bee?” sapa Rahma.


“Mas Andri demam bu.” ucap Beeve dengan panik.


“Demam?” sahut Yudi yang berdiri di belakang Rahma.


“Iya yah.” ketiganya pun bergegas ke kamar Beeve dan Andri, tak lupa mereka menelpon Emir untuk segera turun dari kamarnya.


Tak lama Emir pun datang, kemudian ia membantu Yudi untuk menggotong tubuh Andri ke dalam mobil.

__ADS_1


Setelah itu mereka sekeluarga meluncur kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, tubuh Andri kembali di pasang alat medis. Denyut nadinya yang lemah membuat keluarganya panik setengah mati, Emir yang biasa tegar pun ikut terisak, saat Andri berulang kali menarik nafas pajang, mirip seperti orang yang sedang sakaratul maut, mata Andri yang tadinya tertutup kini membelalak ke arah langit-langit, seraya mengeluarkan air mata.


Karena kondisi Andri begitu genting, maka dokter dan perawat yang menangani Andri menyuruh semua orang kecuali mereka keluar dari dalam ruangan.


“Andri! Anak ku... Ya Allah sembuhkan putra ku, aku belum siap kehilangan dia, ambil nyawa ku saja Tuhan sebagai gantinya!!!” Rahma yang berduka mulai meracau tak jelas, Yudi sebagai suami memeluk istrinya yang tak sanggup lagi untuk berdiri.


“Ayah, Andri ku, dia masih kecil, kenapa Tuhan begitu banyak memberikan cobaan padanya yah... ibu enggak mau kehilangan Andri! Pokoknya dia harus sembuh! Ibu enggak mau kehilangan Andri!” Rahma terus merengek pada suaminya.


“Kuatkan dirimu bu, Andri pasti bisa melewatinya, ayah yakin.”


“Andri... Andri... anak ku.” Rahma yang syok pun tiba-tiba pingsan, membuat Emir dan Yudi membawanya ke ruangan lain untuk di rawat.


Beeve yang tinggal sendirian di kursi tunggu tak hentinya berdo'a dalam hati, meminta pada yang kuasa, agar suaminya panjang umur.


“Ya Allah, angkatlah segala penyakit suami ku, pulihkan dia, berikan kami kesempatan bersama untuk waktu yang lebih lama, ku mohon Tuhan, aku belum sanggup kehilangannya, jangan ambil hamba mu yang lemah itu, kasihanilah kami ya Robbi, maafkan segala kesalahan yang pernah kami perbuat selama ini, tolong ya Rohman, kembalikan kesehatan suami ku seperti semula, tak ada yang tak mungkin bila engkau berkehendak, tolong! Tolong kami!!!” Beeve terus memanjatkan tanpa lelah.


Satu jam kemudian, dokter keluar dari dalam ruangan.


“Bagaiman dok keadaan suami saya?” tanya Beeve dengan wajah yang pucat.


“Alhamdulillah, pak Andri dapat melewati masa kritisnya, pernafasannya juga sudah normal kembali, untuk sementara biarkan dia istirahat dulu, jangan ada yang berisik, agar dia bisa tidur dengan nyenyak,” terang sang dokter.


“Baik dok.” setelah mengatakan kabar baik itu, sang dokter dan perawat pun meninggalkan ruangan Andri


Pukul 04:45 menit, Emir, Yudi dan Juga Beeve pun melaksanan sholat berjamaah di mushollah, dalam do'a yang mereka panjatkan tak luput untuk kesehatan Andri dan juga Rahma. Setelah itu, mereka kembali ke ruang rawat Andri.


Beeve pun masuk bersama Emir, keduanya tersenyum lebar, saat Andri telah membuka matanya.


“Kenapa aku ada disini? Darimana saja kalian?” tanya Andri.


“Kami baru dari mushollah mas, kau demam dan juga sakit mu kambuh lagi, makanya kami bawa kesini, bagaimana mas perasaan mu?” Beeve mengelus puncak kepala Andri dengan penuh kasih sayang.


“Aku baik-baik saja, ayo kita pulang.” Andri yang tak betah dengan bau rumah sakit pun ingin buru-buru kembali ke rumah.


“Iya, kita pulang, tapi tunggu instruksi dari dokter, sudah boleh apa belum,” ujar Emir.


“Benar mas,” timpal Beeve.


...Bersambung......

__ADS_1



__ADS_2