Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 34 (Emir)


__ADS_3

Winda dan Siska yang berada di ruang tamu melihat kedua majikan mereka turun dengan rambut basah serta bergandengan tangan, mereka pun melirik satu sama lain.


Andri dan Beeve yang telah sampai ke kamar pun menutup pintu rapat-rapat.


“Hei, ku pikir tuan dan nyonya bertengkar,” ucap Winda.


“Sama, aku juga berpikir begitu tadi, ternyata kita salah,” sambung Siska.


Di dalam kamar, Andri mengecup kening Beeve, “Ayo, kita mandi bersama sayang,” ajak Andri pada istrinya.


“Mmm...., lain kali saja mas, karena aku lelah sekali,” ujar Beeve.


“Enggak bisa, ini adalah mandi perdana kita berdua,”


“Haduh, pada hal aku lelah,” batin Beeve.


“Baiklah mas,” ucap Beeve, kemudian Andri menggenggam tangan Beeve menuju kamar mandi.


“Pasti mas Andri akan minta lanjut lagi nih,” ucap Beeve dalam hatinya.


Dan benar saja, baru saja mereka tiba dalam kamar mandi, Andri sudah menyerangnya kembali.


______________________________________________


Pukul 08:00 pagi, di saat kedua pengantin baru itu masih terlelap, tiba-tiba ada yang menekan bel.


Ting tong ting tong! Suara bel rumah Andri berbunyi, Winda yang berada di dapur buru-buru membuka pintu.


Ceklek...


Kriettt....


Saat pintu terbuka, di hadapannya telah berdiri, seorang pria tampan, kulit putih bersih, dengan tubuh jenjang mencapai 185 cm, Winda di buat terpanah oleh penampakan bak malaikat itu.


“Maaf, apa ada Andri?” pertanyaan lelaki tampan itu mengembalikan kesadaran Winda.


“Eh, maaf tuan, tuan Andri nya ada, dengan siapa ya tuan?” tanya Winda.


“Emir, adiknya Andri,” terang Emir memperkenalkan diri.


“Oh, silahkan masuk tuan,” ujar Winda seraya membukakan pintu lebar.


“Terimakasih,” ucap Emir.


“Tuan mau minum apa, biar saya siapkan,” tanya Winda ramah.


“Air putih saja bu,” ucap Emir yang membuat jantung Winda seakan di bacok parang bengkok.


“Apa aku sudah setua itu?” batinnya.


“Mmm, Andri mana bu?” tanya Emir.


“Tuan dan nyonya ada di dalam kamar tuan, sebentar akan saya panggilkan,” ucap Winda.


Lalu Emir mengangkat tangannya dan menggelengkan kepala.


“Enggak usah bu, saya akan menunggu sampai dia keluar sendiri,” ujar Andri.

__ADS_1


“Oh baik tuan, kalau begitu saya permisi sebentar ke dapur untuk menyiapkan minum,” ucap Winda.


“Silahkan,” sahut Emir.


Emir yang duduk sendiri di ruang tamu melihat kesana kemari, mengamati rumah yang Andri beli sebagai hadiah untuk Beeve.


Tak lama dari dapur Winda muncul membawa segelas air putih di atas nampan.


“Silahkan tuan,” ucap Winda seraya meletakkan gelas berisi air itu di hadapan Emir.


“Terimakasih, ibu boleh pergi,” untuk kedua kalinya, jantung Winda seraya di tebas oleh parang bengkok.


“Pertama di panggil ibu, kedua di suruh pergi, apa lelaki tampan memang begitu ya? Enggak memikirkan perasaan orang lain,” batin Winda.


“Baik tuan, saya permisi dulu,” ucapnya lalu kembali ke dapur.


Emir yang haus pun meminum air yang Winda hidangkan.


Setelah itu ia menunggu Andri yang tak keluar juga dari dalam kamar.


“Apa dia enggak masuk kantor hari ini?” gumam Emir.


1 jam kemudian Emir yang bosan memutuskan untuk berkeliling rumah, baru saja ia bangkit dari duduknya, tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka.


Krieett...


Emir menoleh ke sumber suara, benar saja, Andri yang sudah rapi mengecup bibir istrinya.


“Baik-baik di rumah sayang,” ucap Andri.


“Iya mas, hati-hati di jalan,” ujar Beeve


“Kau??” ucapnya tak percaya, karena adiknya yang sudah lama di luar negeri tiba-tiba ada di rumahnya pagi itu.


Andri yang merindukan adiknya pun mendatangi Emir ke sofa, yang di susul oleh Beeve.


“Kapan kau sampai?” tanya Andri seraya memeluk adiknya.


“Satu jam yang lalu,” jawab Emir.


Lalu Beeve pun mengulurkan tangannya pada Emir, sebab mereka sudah 3 tahun tak bertemu.


“Apa kabar Mir?” tanya Beeve.


“Baik,” jawab singkat Emir.


“Mana oleh-olehnya? Kau ini datang tanpa menelepon aku dulu,” ucap Andri dengan tawa di bibirnya, ia sangat bahagia melihat adiknya kembali.


“Oleh-olehnya di rumah, kalian pulanglah,”


“Oke, nanti kami akan pulang ke rumah,” ujar Andri.


“Mas, apa enggak sarapan dulu? Aku yakin Emir juga belum sarapan,” ucap Beeve.


“Oh iya benar, ayo Mir, kita sarapan dulu,” ajak Andri pada adiknya.


“Boleh,” mereka pun beranjak ke meja makan, sesampainya di meja makan, Beeve melayani kedua kakak beradik itu.

__ADS_1


“Bagaimana kuliah mu?” tanya Andri.


“Aku belum jadi mendaftar,” jawab Emir.


“Oh, begitu ya? Tapi ku lihat di Instagram endorse mu di lumayan juga banyak,” Andri menggoda adiknya yang seorang selebgram.


“Ah, lagi rezeki saja, bagaimana dengan mu, apa kau menikmati masa-masa pengantin baru mu?” Beeve yang akan meletakkan nasi ke hadapan suaminya menjadi grogi mendengar penuturan adik iparnya.


“Tentu saja, kalau kau mau tahu rasanya, menikahlah,” ucap Andri dengan terkikik.


Pagi itu Andri banyak tertawa dan tersenyum, membuat Beeve bahagia, karena sifat ceria suaminya telah kembali seperti semula.


“Aku baru 18 tahun Ndri, rencana ku untuk menikah masih jauh,” terangnya.


“Nasinya dan lauknya sudah siap, ayo kita makan sekarang,” seru Beeve menghentikan pembicaraan keduanya.


Mereka pun akhirnya makan bersama, dan saat Emir tengah menikmati makannya, Beeve pun bertanya padanya.


“Rencana mu berapa lama Mir di Indonesia?”


“Kita sedang makan ada baiknya untuk enggak bicara,” jawab ketus Emir.


Seketika Beeve menjadi malu, karena di perlakukan seperti itu oleh Emir.


Sedangkan Andri yang sudah biasa mendengar dan mengetahui sifat adiknya menganggap ucapan Emir biasa-biasa saja, karena padanya saja Emir tak mau memanggil kakak atau abang.


Lalu Beeve kembali menyantap makanannya tanpa berkata sepatah kata pun lagi.


Selesai sarapan, Andri berpamitan pada Beeve, karena ia sudah sangat terlambat ke kantor.


“Aku berangkat sayang,” saat Andri akan mengecup bibir istrinya, Beeve menolak.


“Mas,” mata Beeve mengarah pada Emir.


“Emir sudah biasa melihat ini di luar negeri,” ucap Andri, seraya mengecup bibir manis istrinya di hadapan Emir.


Beeve yang tak enak hati pun tak mampu melihat wajah Emir.


“Mir, kau mau ikut ke kantor atau bagaimana? Karena aku sudah terlambat nih,” ucap Andri.


“Aku disini saja, aku lelah tadi malam baru sampai rumah, bolehkan aku istirahat di rumah istri mu?” ucapnya.


“Rumah istri?” batin Beeve.


“Ya tentu saja, kau bebas mau tidur di kamar tamu mana pun, sayang temani Emir selama aku enggak ada ya,” ujar Andri.


“Baik mas,” setelah itu Andri pun masuk ke dalam mobilnya, lalu Ali mulai melajukan mobil meninggalkan area rumah.


“Ayo Ndri, aku antar ke lantai 2,” ajak Beeve.


“Sudah menikah tapi enggak tahu cara bersopan santun, pada hal aku lebih tua dari mu 1 tahun,” lagi-lagi Emir membuat Beeve mati kutu.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Kissky_muchu

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_2