Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 185 (Jebakan Rahma)


__ADS_3

“Pindahnya besok saja, terlalu buru-buru kalau sekarang menurut ibu,” ujar Rahma.


“Buru-buru bagaimana sih bu? Kita sudah lama loh numpang disini,” ucap Andri.


“Ya ampun Ndri, inikan rumah mu juga, besok kan hari Kamis, kata orang tua zaman dulu, hari baik memasuki rumah baru, kalau enggak senin ya Kamis,” terang Rahma.


“Tapi bu...” Beeve memegang tangan suaminya, yang membuat Andri jadi diam.


“Aku setuju dengan pendapat ibu, ibu ku juga pernah bilang, hari Kamis itu adalah hari yang bagus untuk pindah rumah.” karena Beeve sependapat dengan Rahma, Jadi Andri harus bersabar satu hari lagi tinggal di rumah orang tuanya.


Yes! Semoga rencana ku berhasil, batin Rahma.


Setelah selesai sarapan, semua anggota keluarga menuju ke kesibukannya masing-masing.


Rahma memegang tangan Emir yang ingin berangkat ke kampus.


“Nanti, setelah urusan mu di kampus selesai, jemput ibu di kantor!” titah Rahma.


“Memangnya ibu enggak pulang dengan ayah?”


“Jangan banyak tanya, pokoknya jemput, awas kalau kau enggak datang!” pekik Rahma.


“Ibu kenapa sih, level judesnya makin hari, makin berkembang, bikin kesal saja,” gumam Emir.


____________________________________________


Arinda yang mendapat kunjungan dari Elia pagi itu merasa bersemangat.


“Bagaimana? Ibu sudah menemui Andri?” tanya Arinda penuh harap.


“Kalau itu masih belum nak, karena ibu belum menemukan waktu yang pas untuk bertemu dia,” ucap Elia.


“Ck, ya ampun bu, jangan lama-lama dong, ibu enggak kasihan pada ku apa? Yang setiap hari tersiksa disini?”


“Tentu saja ibu kasihan, tapi mau bagaimana lagi? Ibu benar-benar belum dapat waktu ya pas,” terang Elia pada putrinya.


Arinda menggaruk-garuk kepalanya karena prustasi.


“Ya Tuhan! Ya sudahlah kalau begitu, ku harap, kunjungan selanjutnya, ibu membawa kabar baik,” ucap Arinda.


“Aamiin nak, ini ibu bawakan makanan untuk mu.” Elia membuka rantang berisi makanan lezat untuk putrinya.


“Terimakasih banyak bu, tapi... soal barang yang ku minta, ibu enggak lupakan?” Arinda mengangkat alis sebelah kirinya ke atas.


“Bawa, tapi...”


“Bagus, akhirnya ibu membuat aku senang juga pagi ini.” Arinda tersenyum lebar.


“Tapi harganya mahal banget Nda,” ucap Elia.


“Enggak apa-apa bu, aku kan masih punya tabungan.”


“Iya ibu tahu, tapi racun ini sangat berbahaya, jangan sampai terhirup atau tertelan, dan juga enggak boleh kena bekas luka, ini racun yang ampuh, membunuh manusia secara perlahan, jadi pintar-pintarlah menggunakannya, jangan sampai senjata makan tuan.” Rahma menjelaskan secara rinci pada putrinya bagaimana cara kerja racun tersebut.


“Ibu beli dimana?” tanya Arinda penasaran.

__ADS_1


“Di dark web, jangan pegang dengan tangan langsung, hati-hati ya nak.” Elia benar-benar takut kalau putrinya sampai terluka.


“Polonium?” gumam Arinda membaca merek racun yang ada di tangan ibunya.


“Iya, pokoknya baik-baik dalam menggunakannya.” Elia tak bosan-bosan mengingatkan Arinda.


“Iya bu, tenang saja.” Elia dengan hati-hati memberikan Polonium tersebut pada Arinda.


__________________________________________


Pukul 16:00 sore, Emir yang telah sampai di kantor ibunya menunggu di depan lobby utama. Tak lama, Rahma pun keluar menemui Emir.


“Wah! Cepat juga kau sampainya!” ucap Rahma.


“Nanti kalau terlambat mengomel!” Emir memutar mata malas.


“Ya kalau salah pasti di marahi.” Rahma pun duduk di sebelah putranya.


“Kita nunggu apa lagi bu?” tanya Emir.


“Ayah mu,” jawab Rahma.


“Kalau ayah datang menjemput ibu, untuk apa aku kesini?”


“Memangnya ada yang salah?”


“Buang-buang bensin dan waktu ku bu!” pekik Emir.


“Dasar pelit!” saat keduanya masih sibuk adu mulut, Yudi pun membunyikan klakson mobilnya. Tin tin! sontak keduanya menoleh pada Yudi yang baru datang.


“Aku kan bawa mobil yah,” ucap Emir.


“Tinggalkan saja dulu, perginya dengan mobil ayah saja,” ujar Yudi.


“Ayo! Jangan lama-lama!” Rahma bangkit dari duduknya menuju mobil.


Ada apa sih ini? Mencurigakan, batin Emir.


Emir dan Yudi duduk di kursi depan, sedang Rahma di bagian bangku kedua.


“Kita mau kemana sih ya?” tanya Emir penasaran.


“Makan-makan,” jawab Yudi.


“Tumben ajak makan, biasanya enggak punya waktu untuk hal apapun,” gumam Emir.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya Emir dan kedua orang tuanya sampai juga di restoran keluarga @saya_muchu.


Mereka pun turun dari dalam mobil, menuju lantai 2.


Emir yang belum tahu apapun tentang apa yang di rencanakan Rahma masih merasa tenang-tenang saja, sampai saat mereka telah tiba di meja 96, wajah Emir berubah jadi kecut tak menentu.


Sialan! Dasar ibu! batin Emir.


“Om! Tante!” seru Helena, yang bangkit dari duduknya, kemudian menjabat tangan kedua orang tua Emir.

__ADS_1


Aduh, tahu begini, lebih baik aku enggak menemui ibu, batin Emir.


“Eh, bang Emir.” sapa Helena dengan mengedipkan sebelah matanya.


Emir geleng-geleng kepala, ia juga memutar mata malas, melihat Helena yang begitu berani padanya di hadapan seluruh keluarga mereka.


“Maaf, kalau kami datang terlambat.” ucap Rahma pada kedua orang tua Helena, yaitu Fatima dan Gurun.


“Tidak apa-apa bu Rahma, kami juga baru sampai.” Fatima dan Gurun bangkit dari duduknya, lalu saling berjabatan tangan.


Emir yang masih mematung, di colek oleh Rahma.


“Ayo, jabat tangan mereka,” bisik Rahma.


Dengan terpaksa, Emir pun berjabatan tangan dengan calon mertua yang tak di inginkannya itu.


Selanjutnya kedua keluarga itu pun duduk melingkar mengikuti design meja yang ada di hadapan mereka.


Kemudian, 2 pramusaji datang membawa pesanan yang telah mereka booking sebelumnya.


“Ini yang namanya Emir?” ucap Gurun seraya memasukkan stik daging ke mulutnya.


“Hahaha, iya pak, ini adalah putra bungsu kami, sebentar lagi akan lulus kuliah.” terang Rahma.


“Tapi, rasanya saya enggak asing dengan wajah nak Emir.” Fatima mengingat-ingat tentang Emir.


“Iya dong, pasti mama familiar dengan wajah bang Emir, karenakan abang Emir ku adalah seleb*ram dan yutuber terkenal!” seru Helena merasa bangga.


“Oh! Pantas, mama merasa enggak asing dengan wajah nak Emir.” Fatima pun baru sadar kalau yang ada di hadapannya adalah idola kaum hawa sejagat raya.


“Tapi dia enggak ada apa-apanya di banding nak Helena yang telah jadi dokter, sudah begitu lucu dan cantik lagi.” Rahma memberi pujian pada calon menantunya.


“Alhamdulillah, Helena memang anak yang bersemangat dari dulu bu Rahma, dia orangnya ambisius dan juga optimis, apa yang dia inginkan, harus dia dapatkan, cekatan dan juga mandiri!” terang gurun mempromosikan putrinya.


Emir menggaruk-garuk alisnya, seraya menghela nafas panjang, kedua orang tua yang ada di hadapannya begitu membuat ia tak nyaman.


“Bang Emir, nih! Tambah lagi makanannya.” Helena menaruh banyak stik daging ke piring Emir, yang membuat Emir hampir mengamuk.


“Aku enggak makan sebanyak itu,” ucap Emir.


“Makan sedikit lagi bang, masa abang yang tingginya bagai tiang listrik berat badannya hanya 60 kg?” terang Helena, yang membuat Rahma dan Yudi terkejut.


“Tahu darimana kalau Emir 60 kg nak Helena?” tanya Yudi.


“Hanya memperkirakan saja om, hehehe.” Helena yang ahli di bidang matematika pun memperlihatkan kecerdasan dasarnya.


“Wah! Luar biasa! Kalau ibu, kau tahu berapa?” tanya Rahma penasaran.


“Ibu tinggi 162, berat badan 58 kg!” ucap Helena.


“Cerdas! Wah! Helena, kau pintar sekali!” Rahma sangat mengagumi Helena yang memiliki otak jenius.


“Helena memang pintar bu Rahma, kalau kita jadi besan, pasti seru.” Fatima dan Rahma tertawa riang, berbeda dengan Emir yang ingin buru-buru pulang.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2