Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 178 (Cemburu)


__ADS_3

Baru jalan 10 menit, tiba-tiba Beeve minta berhenti pada Emir.


“Mas! Stop disini!”


“Loh, kenapa Bee?” tanya Emir.


“Kita makan disini saja ya,” ucap Beeve.


“Disini?” Emir celingak-celinguk, karena ia tak melihat satu pun restoran atau kafe disana.


“Maksud mu kita makan angin disini?”


“Ih!! Punya mata kok enggak di pakai sih mas?! Itu di depankan ada tukang nasi goreng pakai gerobak, ayo makan disitu!” Beeve yang juga lapar keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.


“Aduh, aku paling malas makan di pinggir jalan.” gumam Emir seraya turun dari dalam mobil juga.


Emir menatap dengan seksama, lokasi duduk lesehan di trotoar jalan.


“Dasar Beeve, dia enggak ngerti apa, kalau ada orang lain yang mengenal ku bisa makin repot, aku benar-benar sangat lelah hari ini.” Emir menggelengkan kepala seraya mulai mengambil tempat duduk di sebelah Beeve.


“Mau pesan apa?” tanya Beeve pada Emir yang wajahnya sangat masam.


“Samakan saja dengan punya mu!” ucap ketus Emir.


“Pak nasi gorengnya 2, teh manis dingin 2, mas Emir mau pedas atau gimana?” tanya Beeve memastikan.


“Samakan saja, sudah di bilang juga!”


“Oh, ya sudah kalau begitu, tolong ya pak nasi goreng 2, telurnya di dadar, yang pedes,” pinta Beeve.


“Siap neng,” ucap si bapak penjual nasi goreng.


“Hei, wajah mu jangan kecut begitu mas, enggak enak buat di lihat loh,” Beeve mencolek pipi Emir.


“Habisnya kau enggak ngerti, ini tempat umum, nanti kalau ada fans yang mengenali ku bagaimana?” terang Emir.


“Hum, jadi itu alasannya? Ya ampun mas Emir kok gitu banget, maaf deh kalau gitu, aku enggak tahu, sepanjang jalankan mas lihat sendirikan nggak ada lagi resto atau kafe yang buka,” ucap Beeve.


“Iya-iya, kau yang paling benar deh,” ucap Emir.


Saat mereka masih berbincang, tiba-tiba nasi goreng pesanan mereka telah selesai di masak, si bapak penjual pun menghidangkannya di hadapan keduanya.


“Terimaksih pak,” ucap Beeve.


Beeve yang sangat lapar tak menunggu lama lagi, ia pun langsung memasukkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya.


Namun saat Emir mengunyah nasi gorengnya, tiba-tiba ia memuntahkannya.


“Gila! Pedas banget!” Emir langsung meminum teh manis dinginnya.


“Biasa saja dong mas, katanya tadi samakan dengan punya ku.” ucap Beeve dengan santai, seraya memasukkan kembali 1 sendok nasi goreng ke mulutnya.


“Tapi pedas banget Bee, apa kau enggak tahu, kalau aku enggak suka pedas,” ujar Emir.


“Ya memang aku enggak tahu mas.”

__ADS_1


“Dasar Beeve, sudah ah! Aku enggak jadi makan.” Emir menyeka bibirnya dengan tisu.


Lalu Beeve tersenyum kecil, “Mas, nasinya mubasir loh kalau di buang-buang.” Beeve pun mengambil nasi goreng milik Emir dengan sendok.


“A! Buka mulutnya mas,” ucap Beeve.


“Enggak ah! Pedas, rasanya benar-benar membakar lidah,” terang Emir.


“Ayo mas, buka mulut mu, jangan biasakan membuang makanan, itu dosa besar, di luar sana, masih banyak orang yang ingin makan, tapi enggak kesampaian.” atas bujukan dari Beeve, Emir pun membuka mulutnya.


“Nah, pintar.” Beeve meletakkan kembali sendok milik Emir ke piring. “Lanjutkan sendiri ya,” ucap Beeve.


“Enggak mau, kau harus menyuap ku!” pinta Emir.


“Mas Emir sudah besar, jadi makan sendiri!” pekik Beeve.


“Kalau enggak di suap, aku enggak mau makan, jadi lanjutkan, kerja jangan setengah-setengah, lagi pula, hari ini aku sudah sangat berjasa untuk omset restoran mu!”


Beeve menggaruk kepalanya, kata-kata Emir sungguh membuat Beeve sulit untuk menolak.


“Baiklah.” dengan sedikit terpaksa, Beeve pun menyuap Emir makan sampai dengan selesai.


Setelah itu, Beeve membayar makanan mereka berdua, selanjutnya baru mereka pulang ke rumah.


Sesampainya mobil Emir di pintu utama, Andri pun mengintip dari balik jendela kamarnya yang ada di lantai 2.


Ia pun melihat, Beeve dan Emir pulang bersama, lalu Andri melirik ke jam yang ada di dinding yang telah menunjukkan pukul 01:33 dini hari.


Dari mana saja mereka, batin Andri.


Beberapa saat kemudian Beeve membuka pintu, ceklek! Krieett...


Beeve pun melihat Andri dengan bersedekap di pinggir ranjang.


“Mas, kau belum tidur?” sapa Beeve seraya meletakkan tasnya di atas meja.


“Bagaimana aku bisa tidur, sedangkan istri ku belum pulang hingga dini hari.” terang Andri yang membuat Beeve merapatkan bibirnya.


“Maaf ya mas, tadi restoran rame banget, jadi aku terlambat pulang,” ucap Beeve.


“Oh, tapi kenapa bisa, kau pulang bersama Emir? Sepagi ini loh!”


“Karena keramaian pelanggan hari ini berkat mas Emir, ternyata banyak fansnya di restoran, intinya, kami jadi pulang bersama,” terang Beeve.


“Yang benar saja, tadi pagi aku juga melihat kalau kau dan dia berangkat bersama, Bee, Emir itu adik ipar mu, kau enggak seharusnya berduaan dengannya, apa lagi kau juga tahu, kalau dia menaruh hati pada mu, sejak lama.” Andri yang cemburu pun memberi nasehat pada istrinya.


“Maaf mas, aku salah.” ucap Beeve seraya mengingat kelakuannya bersama Emir.


“Baguslah kalau kau sadar, lain kali, jangan keluar bersamanya, kalau kau butuh supir, biar aku yang antar, aku masih hidup Bee, jadi kalau kau ingin bergantung, lalukan pada suami mu, aku masih sangat kuat untuk membawa mobil.” Beeve hanya bisa menundukkan kepala, karena semua yang di katakan suaminya adalah benar.


“Iya mas, aku enggak akan mengulanginya lagi.” merasa cukup memberi nasehat, Andri pun memeluk istrinya.


“Maafkan aku sayang, aku hanya ingin menghindari hal-hal yang akan menyulitkan kita ke depan,” ucap Andri.


“Iya mas.” jawab Beeve dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


“Ya sudah, mandilah kalau kau ingin mandi.” Andri melepas pelukannya, lalu Beeve pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu, Andri keluar dari kamar menuju kamar Emir yang ada di sebelah kamarnya.


Tok tok tok! Andri mengetuk pintu kamar Emir dengan sembarang.


Lalu Emir yang memakai handuk di pinggangnya membuka pintu.


“Ada apa kau kesini?” tanya Emir.


“Heh! Jauhi Beeve, dia itu masih istri ku, dan selamanya akan begitu! Masih banyak wanita lain di dunia ini, jangan kau ganggu rumah tangga kami!” pekik Andri.


“Ya ampun Ndri, biasa saja dong, takut banget Beeve jatuh ke pelukan ku,” ucap santai Emir.


“Pokoknya jauhi dia! Aku tahu apa yang ada dalam kepala mu saat ini, jangan sampai tali persaudaraan kita putus karena ulah serakah mu,” terang Andri.


“Hum, putus saja kalau itu memang mau mu, aku enggak perduli, lagi pula aku sudah bilang pada mu, kalau kau lengah, atau dia juga menaruh rasa pada ku, jangan salahkan aku, jika aku merebutnya darimu, lagi pula kau bukan apa-apa sekarang, dan kau juga sudah terlalu banyak menaruh garam ke lukanya.” Emir yang emosinya lebih tinggi dari Andri malah menantang.


“Oke, lihat saja Mir! Kau akan ku buat sadar, kalau kau takkan pernah menggantikan posisi ku, karena tempat mu selamanya hanya di garis adik ipar!” pekik Andri, lalu meninggalkan kamar adiknya.


Emir benar-benar gila! Aku harus segera menemukan Bia, dan juga kembali ke perusahaan, setelah itu, akan ku isi rahim Beeve dengan benih ku! Agar Beeve tak bisa kemana pun, batin Andri.


Tanpa Andri sadari, semangat hidupnya pun telah tumbuh kembali, sedangkan Emir merasa kacau, ia benar-benar tak tahu harus bagaimana memisahkan Beeve darinya, semakin ia ingin melupakannya, justru bayang-bayang Beeve makin menghantui pikirannya.


Akh! Aku harus bagaimana? Kalau aku tahu aku salah, tapi aku enggak bisa lari dari jalur kesalahan ini, batin Emir.


Keesokan harinya, saat seluruh keluarga sedang sarapan di meja makan, Andri pun membuka obrolan.


“Ayah, besok aku akan kembali bekerja.” ucap Andri, sontak seluruh keluarga menoleh padanya.


“Kau kan belum pulih betul nak,” ujar Yudi.


“Betul, istirahatlah beberapa bulan lagi Ndri.” pinta Rahma, yang kasihan pada putranya.


“Aku sudah merasa sehat, lagi pula aku kasihan pada Emir, karena ia merasa tak nyaman dengan pekerjaan yang ia lakukan sekarang,” terang Andri.


“Benar Mir?” tanya Rahma.


Emir pun melirik tajam wajah Andri yang duduk di hadapannya, “Benar bu.”


Sedangkan Beeve hanya menyimak percakapan keluarga suaminya..


“Baiklah, kalau kau sudah benar-benar yakin, kembalilah besok, bagaimana Mir, apa kau mau pindah ke divisi lain, atau mau berhenti saja?” tanya Yudi.


“Aku berhenti yah, lagi pula aku mau menyelesaikan kuliah ku dulu, setelah itu akan ku pikirkan lagi, apa harus masuk perusahaan atau tidak,” ujar Emir.


“Oke, baiklah!” Yudi menganggukkan kepalanya.


“Bee, kau juga kuliahnya belum selesaikan? Bagaimana kalau kau lanjutkan juga? Aku akan membimbing mu,” ucap Emir.


Andri memejamkan matanya sejenak karena emosi.


“Akan ku pikirkan mas, lagi pula saat ini aku masih fokus pada bisnis ku,” ucap Beeve.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2