Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_10


__ADS_3

Malam harinya, Sila baru saja selesai mandi, saat ini ia tengah berdiri di depan cermin, sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang mendekati pintu kamar.


Selang beberapa detik, pintu kamar mulai terbuka, dan siapa lagi kalau bukan Rafael, dia baru saja menyelesaikan tugas kantornya di ruang kerja.


Rafael masuk ke dalam lalu menutup pintu kamarnya.


Langkah Rafael terhenti saat melihat sang istri yang tengah berdiri di depan cermin, tanpa mengenakan pakaian, hanya handuk yang melilit tubuhnya.


Tiba-tiba saja, hasrat yang selama ini ia tahan, meronta-ronta meminta dipenuhi.


"Sila, kenapa kamu menggodaku dengan cara seperti ini," batin Rafael, ia pun menelan salivanya.


Akhirnya dinding pertahanan Rafael jebol juga, merasa tidak tahan lagi, Rafael segera menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang, Sila pun tersentak kaget, terlebih saat tangan kekar suaminya melingkar di perutnya, dan kepala Rafael bersender di bahunya.


"Kak Rafael, Kakak lagi ngapain," ucap Sila gugup.


"Kamu telah menggodaku," lirih Rafael, dan tepat di telinga Sila.


Sila bergidik ngeri, dan terasa geli saat mendengar ucapan suaminya itu, deru nafas Rafael pun terasa hangat menyapu leher jenjangnya.


"Mak-maksud kak Rafael ap-apa?" tanya Sila semakin gugup.


"Aku mau meminta hak aku malam ini," bisik Rafael, seketika wajah Sila merah merona.


Jantungnya terasa mau loncat, darahnya pun mengalir lebih cepat dari biasanya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini, aku enggak mungkin menolaknya, tapi jika aku mau, jujur aku belum siap, duh jantung aku norak banget sih, jangan loncat-loncat dong, bikin malu aja," gumam Sila dalam hati.


Sila masih diam mematung, ia tidak tau, harus menjawab apa, Sila benar-benar bingung.


Sementara itu, Rafael semakin mempererat pelukannya, dari deru nafasnya Sila dapat merasakan, jika suaminya itu tengah menahan hasratnya.


"Sayang, bagaimana?" tanya Rafael, dan itu membuat Sila terlonjak kaget.


Dengan penuh keberanian, akhirnya Sila membuka suaranya.


"Iya, aku bersedia Kak," ucap Sila dengan suara sedikit bergetar.


Mendapat persetujuan dari sang istri, Rafael langsung melepas pelukannya, dan mencium singkat bibir mungil sang istri, setelah itu, Rafael mengangkat tubuh Sila dan ia baringkan di atas ranjang.


"Kamu benar-benar sudah siap?" tanya Rafael untuk meyakinkan. Karena ia tidak mau jika istrinya melakukan karena terpaksa.


"Iya Kak, aku sudah siap, karena ini adalah salah satu kewajiban aku sebagai istri Kakak," jawab Sila mantap, dan itu membuat Rafael tersenyum.


"Baik, kita mulai sekarang ya," sahut Rafael, dan dibalas dengan anggukan oleh istrinya.


Sebelum Rafael memulainya, terlebih dahulu ia mengajak istrinya untuk berwudhu mensucikan diri terlebih dahulu, setelah itu, Sila kembali duduk di ranjang, begitu juga dengan Rafael, dan sebelum itu, Rafael membaca do'a untuk memulai ibadah tersebut.

__ADS_1


"Sila, kamu sudah siap?" tanya Rafael, dan dibalas anggukan oleh sang istri.


Setelah itu, keduanya memulai ibadah yang selama ini tertunda, ibadah yang dianjurkan bagi setiap pasangan suami istri.


Sila akan menyerahkan segalanya kepada lelaki yang telah menghalalkannya, dan detik itu juga, keduanya larut dalam hasrat dan gairah yang telah menggebu, dan sampai pada titik puncak kenikmatan.


Malam ini, Rafael dan Sila telah mengukir sejarah yang tidak pernah akan terlupakan, setelah selesai dengan tugasnya, keduanya sama-sama terlelap, dan menikmati mimpi indah mereka.


***


Pagi telah menyapa, sinar mentari telah muncul dan mengganggu dua insan yang tengah berbahagia.


Perlahan Sila mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah kelompok matanya terbuka sempurna, tiba-tiba senyum terbit di bibir mungilnya.


Sila teringat kejadian semalam dengan sang suami, Sila sekarang benar-benar sudah menjadi istri yang sempurna, senyum pun tak pudar dari bibirnya yang mungil itu, tiba-tiba Sila mendengar derit pintu kamar mandi, dengan segera ia mengeratkan selimutnya.


"Selamat pagi Sayang," sapa Rafael, tentunya dengan senyum yang mengembang.


Rafael baru selesai mandi, rambutnya pun masih basah, dan saat ini ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya, dan memperlihatkan tubuh atletisnya, Rafael berjalan mendekati sang istri yang masih di dalam selimut.


"Mau mandi sekarang atau nanti?" tanya Rafael dengan senyum manisnya.


"Em, kak Rafael pake baju dulu sana, enggak malu apa," ujar Sila, dengan raut wajah yang menahan malu.


"Malu kenapa? Kan kita sama-sama sudah lihat," sahut Rafael, seraya menaik-turunkan alisnya.


"Ih, sekarang kak Rafael mesum ya,"


"Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa," balas Rafael, dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ih, apaan sih," kesal Sila, yang langsung memanyunkan bibirnya.


"Iya, iya, ya udah aku pake baju dulu ya," pasrah Rafael, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan meninggalkan sang istri.


Setelah Rafael bangkit, Sila pun mencoba untuk bangun, tapi tiba-tiba terasa nyeri di daerah sensitifnya, Sila pun meringis menahan sakit.


Rafael yang mendengarnya, mengurungkan niatnya, dan segera menghampiri sang istri.


"Sayang, kenapa?" tanya Rafael, yang merasa panik.


Sila hanya diam, ia malu jika mengatakan yang sejujurnya.


"Apa masih sakit?" tanya Rafael, dan dibalas anggukan oleh Sila.


"Ya sudah, aku bantu kamu ke kamar mandi ya," usul Rafael, dan bersiap membopong tubuh istrinya.


"Tapi Kak .... " belum sempat Sila melanjutkan ucapannya, Rafael sudah terlebih cepat membopong tubuh istrinya yang masih terbalut selimut.


Sila hanya bisa diam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan saat ini Sila tengah sibuk memandang wajah suaminya yang tampan itu.

__ADS_1


***


Siang harinya, Rafael nampak sibuk dengan tumpukan file di meja kerjanya, meski libur tapi tetap saja ia sibuk.


Sementara itu, Sila nampak kesal, karena melihat suaminya sibuk sendiri tanpa memperdulikannya.


"Ih nyebelin banget sih, punya suami tapi sibuk sendiri," kesal Sila, sembari memanyunkan bibirnya.


Sila berjalan masuk ke ruang kerja Rafael, seraya menghentak-hentakkan kakinya.


Awalnya Rafael cuek, tapi lama-kelamaan ia merasa kasihan juga pada istri mungilnya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Rafael, tapi matanya tetap fokus pada file di hadapannya.


"Ngapain tanya kalau masih sibuk sendiri, emang aku makhluk astral apa, sampai enggak terlihat," decit Sila, dengan memanyunkan bibirnya, dan melipat tangannya di dada.


Rafael terkekeh mendengar ucapan istrinya itu, kemudian Rafael meletakkan file-file yang sedari tadi ia pegang, lalu bangkit dan berjalan mendekati istrinya yang tengah berdiri di dekat jendela.


"Kenapa tuh monyong-monyong, entar jatuh bibirnya," ledek Rafael, yang merasa gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Emang ada bibir jatuh, ngarang banget sih jadi orang," kesal Sila, dengan melirik tajam ke arah suaminya.


Rafael hanya tersenyum mendapat lirikkan dari istrinya itu.


Menurutnya sangat lucu jika melihat Sila yang sedang ngambek seperti itu.


"Kenapa senyum-senyum, emang kamu pikir aku lagi ngelawak apa, pake acara senyum-senyum segala," cibir Sila, yang merasa sangat kesal dengan lelaki di hadapannya itu.


Rafael hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu, ia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang, dan lagi-lagi Sila diam mematung mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


"Memangnya apa apa, hem,?" tanya Rafael, dengan mempererat pelukannya pada sang istri.


Jantung Sila semakin tidak karuan, rasanya seperti loncat-loncat tak beraturan.


Sesegera mungkin Sila menormalkan detak jantungnya.


"Aku sebel aja, semua orang di rumah ini sibuk sendiri," ujar Sila, yang memulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Memangnya Aldo kemana? Bukannya tadi sama kamu?" tanya Rafael, sembari melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya.


"Aldo pergi," sahut Sila kesal.


"Kebiasaan tuh anak, memangnya kamu mau kemana? Kamu bosen di rumah atau gimana?" tanya Rafael panjang kali lebar.


"Ya bosen lah, orang di rumah terus, aku juga lagi butuh buku buat melengkapi tugas kuliah," terang Sila.


"Ya udah, sekarang kamu siap-siap, aku beresin ini dulu," balas Rafael.


"Ya udah," sahutnya dan beranjak pergi dari ruang kerja suaminya.

__ADS_1


30 menit kemudian, Rafael dan Sila telah siap untuk pergi, keduanya pun berjalan menuju ke pintu utama.


Namun saat Rafael membuka pintu rumahnya, ia sangat terkejut saat melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu dengan membawa koper di tangannya.


__ADS_2