Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 110 (Berpulang)


__ADS_3

Selama perjalanan Andri dan Beeve memilih bungkam. Hingga akhirnya mereka sampai ke tujuan. Sebelum turun Andri menelepon ibunya.


📲 “Bu, mereka ada di ruangan mana?” Andri.


Beeve yang mendengar kata mereka jadi bertanya-tanya dalam hati.


Sebenarnya siapa yang sakit? batin Beeve


📲 “Datanglah ke kamar Jenazah,” Rahma.


Astaghfirullah, bagaimana ini? batin Andri.


“Mas yang sakit siapa sih?” tanya Beeve.


“Hmm, ayo kita turun dulu.” ucap Andri.


Keduanya pun keluar dari dalam mobil, lalu Beeve mengikuti langkah Andri yang berjalan terlebih dahulu di hadapannya.


Beeve yang menatap lurus melihat ibu dan ayah mertuanya di hadapan sebuah ruangan.


Sesampainya mereka, mata Beeve menoleh ke atas pintu yang bertuliskan kamar jenazah.


“Siapa yang meninggal?” Beeve bertanya pada ketiganya.


Rahma dan Yudi tak mampu membuka mulut mereka, yang ada hanya air mata.


“Masuklah ke dalam,” ucap Andri.


Kini perasaan Beeve tak baik-baik saja, ia pun merasa lemas dan dingin di sekujur tubuhnya.


Ada apa ini? batin Beeve.


Krieettt!!!


Andri membuka pintu untuk istrinya masuk, lalu mata Beeve melihat di sudut ruangan, abangnya Julian mengangguk pilu di antara dua jenazah yang telah terbujur kaku.


“Ayah!!! Ibu....” kata itu terus terus terulang dari mulut Julian.


Dengan langkah tak stabil Beeve mendekat pada Julian.


“Ba-bang, kau menangisi siapa?” tanya Beeve dengan suara bergetar.


Julian yang sadar akan kehadiran Beeve mulai naik pitam.


“Ini semua karena mu Bee!” pekik Julian.


Beeve tak memperdulikan perkataan abangnya, ia hanya menatap lekat 2 wajah yamg begitu menyayanginya sejak kecil.

__ADS_1


Lalu Beeve mendekat ke ranjang Jane, ia pun menyentuh perlahan wajah ibunya. Bibirnya bergetar, air matanya pun seketika bercucuran.


Tak ada kata yang bisa terucap, kepergian kedua orang tuanya yang begitu mendadak membuat ia syok, baru saja ia di buang oleh suaminya, kini harus di tinggal oleh yang mengasihinya.


“Hiks... hiks...,” Beeve menangis seraya memeluk tubuh Jane yang masih tersisa suhu panas di akhir hayatnya, Beeve juga berulang kali mencium wajah ibunya.


Rasanya ia baru sebentar bersama sang ayah dan ibu, kini mereka harus berpisah selamanya.


Kemudian ia menoleh ke arah sang ayah, yang wajahnya telah rusak akibat terbentur ke kaca mobil.


“Hah!! Hah!! A...” ketika Beeve ingin memeluk sang ayah, Julian mencegahnya.


“Sudah cukup, menjauh kau!” pekik Julian.


“Bang, aku ingin memeluk ayah,” ucap Beeve.


“Akhh!! Enggak bisa! Ini semua karena mu dan suami mu! Pada hal kau sudah di peringatkan untuk tak cerita soal keadaan mu pada orang lain, tapi kau dengan tak memakai otak kecil mu, mengatakannya pada Arinda! Kau memang bebal! Sedari gadis kau susah di nasehati, pertama Cristian, lalu Arinda! Karena mu, ayah dan ibu meninggal! Hah! Sekarang kau sok perhatian dengan mereka, palsu! Kau anak yang enggak berbakti!”


“Maaf bang, tapi aku ingin memeluk ayah.” Beeve yang maju selangkah lagi mendapat pelajaran dari Julian.


Plak! Plak!


Julian yang marah menampar wajah Beeve berulang kali.


Beeve tak mengilak akan tamparan yang Julian layangkan di wajahnya. Karena menurutnya ia pantas mendapatkan itu semua.


“Ma-maafkan aku bang, aku salah.” ucap Beeve dengan penuh penyesalan dalam hati.


Pertengkaran keduanya pun di saksikan oleh keluarga Andri.


Andri yang ikut Andil dalam kemalangan yang terjadi sangat menyesal dalam hatinya.


Kalau ku tahu akan begini, pasti aku tak membawa kabar buruk pada malam hari, batin Andri.


“Kau tahu Bee! Kau dan suami mu itu adalah pembunuh! Aku sangat membenci mu! Membenci kalian semua!!” Julian berteriak ke arah ayah dan ibu mertua adiknya.


“Tinggalkan aku bersama ayah dan ibu, keluar kau Bee! Kau tak pantas berada disini!” Julian mendorong tubuh Beeve hingga ke depan pintu.


“Bang, bang aku mohon, aku juga ingin di samping ayah dan ibu, aku menyesal bang, tolong jangan usir aku bang!!! Aku menyesal hiks! Maafkan atas semua kebodohan ku bang! Huahhh!!” Beeve memohon seraya memeluk kaki Julian. Namun Julian yang terlanjur kecewa, sakit hati dan berduka tak dapat memaafkan Beeve.


“Lepaskan kaki ku!” Julian menghempaskan kakinya.


“Enggak bang, Biarkan Beeve bersama abang juga, menemani ayah dan ibu, huahh.” Beeve terus memohon dalam tangisnya.


“Kau lepas, atau aku tendang perut mu, sebagai balasan atas kehilangan ayah dan ibu?” sorot mata Julian begitu serius, membuat Beeve ketakutan.


Lalu Rahma pun memisahkan Beeve dari Julian, “Sudah Bee, jangan gegabah, menjauh dari Andri.” Rahma membantu Beeve berdiri dari sujud nya.

__ADS_1


Karena tak ingin anaknya kena imbas, Beeve memilih menjauh dari Julian.


“Aku salah bu, aku salah,” ucap Beeve pada Rahma.


“Sudahlah Beeve, semua telah terjadi, mari kita do'akan agar ayah dan ibu mu di terima di sisi Allah SWT,” ucap Rahma.


“Iya bu, maafkan Beeve bu, ibu jangan benci dengan ayah dan ibu ku, mereka enggak bersalah, akulah yang nakal dan salah langkah.” Beeve mencoba menyelamatkan harga diri orang tuanya.


“Tentu saja, aku telah memaafkan mereka,” ucap Rahma.


Saat Beeve ingin memeluk ibu mertuanya, tiba-tiba Rahma mendorong pelan tubuh Beeve.


“Renungkan apa yang telah kau perbuat, karena itu sangat fatal.” terang Rahma seraya menjauh dari Beeve.


Andri dan Yudi juga begitu, tak ada yang bersedia memberi bahu untuk Beeve bersandar sejenak.


Ia yang sadar akan posisinya tak menyalahkan siapapun, Beeve mengkaji diri, karena semua yang terjadi akibat dirinya yang salah pergaulan.


Kenikmatan sesaat, membuat hidup ku sengsara dan mendapat ujian bertubi-tubi setiap saat. batin Beeve.


Tak lama tim ambulance rumah sakit pun tiba ke kamar Jenazah untuk membawa almarhum dan almarhumah pulang ke rumah keluarga Beeve.


Beeve yang ingin ikut pulang ke rumah pun di larang oleh Julian, jangan injakkan kaki mu ke rumah, aku enggak sudi bertemu lagi dengan mu, begitu juga dengan kalian, kalian tak usah datang melayat! Kalau bukan karena kalian, ayah dan ibu ku takkan pergi secepat ini!” pekik Julian.


“Jul! Mas Erdogan itu abang ku satu-satunya, kau enggak bisa melakukan ini pada tante!” ucap Rahma.


“Aku enggak mau tahu! Jangan datang ke rumah ku! Ini semua karena kalian, duka ini karena ulah kalian semua, mulai sekarang ku putus tali persaudaraan dengan kalian!” setelah mengatakan itu, Julian menyusul tim ambulance yang telah membawa ayah dan ibunya.


“Ibu...! Ayah!” meski telah di larang oleh Julian, Beeve tetap menyusul.


Andri yang tahu kalau tas Beeve masih berada dalam mobilnya mengikuti istrinya.


“Ambil tas mu di mobil ku.” ucap Andri, Keduanya pun menuju mobil Andri, sesampainya ke mobil, Andri menyerahkan tas Beeve.


“Pulanglah dengan naik taksi,” ucap Andri.


“Terimakasih banyak mas, aku pergi.” setelah mengatakan itu, Beeve meninggalkan Andri.


Andri sendiri memilih pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri.


“Apa sudah benar yang ku lakukan dengan membiarkan Beeve pergi sendiri?” gumam Andri.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_1



__ADS_2