
đź’”Jatuh cinta bisa terjadi pada siapa saja
Tentunya tak butuh waktu lama
Karena cinta itu bagai misteri
Datang dan pergi tanpa permisiđź’”
Andri menggelengkan kepala, “Enggak, kau enggak boleh pergi,” gumam Andri.
Saat ia ingin mengejar istrinya, ayah dan ibunya tak memberi izin.
“Biarkan dia pergi! Jangan kau kejar lagi! hardik Rahma.
Tanpa sadar, Air mata Andri menetes, pernikahan yang baru seumur jagung kini di ujung tanduk.
Beeve melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah yang menyimpan sejuta kenangan bersama suaminya.
“Biarkan dia pergi, itu keputusannya,” ucap Yudi.
“Tapi yah, Andri masih cinta pada Beeve.” ungkap Andri dengan penuh penyesalan.
“Kalau kau cinta, harusnya kau tak membuka aib istri mu pada kami, lagi pula dia dan keluarganya telah menipu kita semua, jadi lupakan dia Ndri, dan segera urus perceraian kalian,” terang Rahma.
“Benar kata ibu mu, segera kau urus Ndri, ayah enggak mau banyak pusing karena ulah mu lagi, ini juga pelajaran untuk mu, selagi kau suka, dan masih kau pakai, jangan gegabah dan besar mulut, karena kau dan orang lain itu berbeda, saat orang lain masih menyimpan marah pada apa yang kau katakan, kau sendiri bisa saja sudah berbaikan dengannya, dan masalah yang kau timbulkan bukan hanya soal kau dan dia, tapi menyangkut nyawa orang lain.” terang Yudi.
_____________________________________________
Beeve yang kini berada di pinggir jalan bingung harus pergi kemana, sebab ia tak punya tempat untuk pulang lagi.
Ia pun melangkahkan kakinya di trotoar jalan, saat ia melihat ada sebuah mesin atm, Beeve memutuskan singgah sejenak untuk mencek sisa uang di atm debitnya semasa gadis.
Tit tit tit, setelah pin berhasil di masukkan Beeve pun mencek sisa saldonya, yang ternyata hanya tinggal 1 juta rupiah lagi.
“Aduh, gimana aku hidup dengan uang 1 juta?” Beeve menggaruk-garuk kepalanya.
Kemudian Beeve menarik uang sebanyak 900.000, karena ia tak memiliki uang sama sekali dalam dompetnya, drrrrttt.. setelah selesai ia keluar dari dalam mesin atm.
Beeve yang belum tahu harus kemana, memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi tepat di bawah pohon beringin.
“Aku harus cari kosan murah, dan juga perkejaan untuk bertahan hidup,” gumam Beeve.
Lalu Beeve mencari-cari info kosan murah di internet yang letaknya strategis.
Cukup lama ia mencari, namun tak ada yang sesuai dengan dana yang ia inginkan.
“Paling murah 500.00, itu juga ukuran kamar 2x2, dan kamar mandinya di luar, humm... bagaimana ya? Tapi lumayan sih, karena fasilitas yang di beri, kasur lantai, heksos dan lemari mini, sementara yang lain dengan harga yang sama, tapi enggak ada fasilitas apapun.” Beeve yang tak punya uang banyak merasa semua harga serba mahal.
Karena tak ada pilihan lain lagi, akhirnya Beeve menuju alamat kosan tersebut.
Setelah menempuh perjalan selama 2 jam dengan menggunakan angkot (angkutan umum), akhirnya Beeve tiba di tujuan, yaitu kos-kosan campuran yang memiliki 3 lantai.
__ADS_1
“Ongkosnya berapa bang?” karena Beeve bertanya, sang supir angkot pun mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“50.000 mbak,” ucap sang supir.
“Hah? Mahal banget bang, masa sih segitu?” Beeve benar-benar terkejut atas tarif yang di berikan sang supir.
“Memang segitu mbak, bensin kan lagi naik,” terang sang supir.
“Ya udah bang, kalau bohong kekal di kerak neraka ya!” ucap Beeve.
“Kau saja yang ke kerak neraka!” balas sang supir.
Dengan berat hati Beeve menyerahkan uangnya yang sangat berharga pada sang supir.
Brummm!!! Secepat kilat sang supir melaju kembali.
“Pada hal kalau naik ojek online hanya 30.000, aku bela-belain naik angkot berharap dapat lebih murah, nyatanya malah lebih mahal,” gumam Beeve.
Karena nasi telah jadi bubur, Beeve pun mengikhlaskannya.
Kemudian Beeve membuka gerbang kosan, lalu ia pun melihat rumah makan yang ada dalam halaman kosan. Ia pun masuk ke dalam rumah tersebut.
“Permisi bu,” ucap Beeve.
“Eh, iya neng? Mau makan?” tanya ibu paruh baya pemilik rumah makan.
“Bukan bu, saya mau tanya, soal kosan ini, kalau kita mau menyewa kamar gimana ya bu?” tanya Beeve kembali.
“Oh, iya bu, saya sudah lihat di internet, kenalin bu, saya Beeve.” Beeve mengulurkan tangannya
“Saya Feni, panggil bu Fuji saja, hehehe, tapi kalau mau sewa kamar, harus bayar duluan baru bisa masuk neng,” terang Feni.
“Iya bu, saya sudah tahu.” jawab Beeve.
“Neng kos nya sama suami juga ya?” tanya Feni, karena ia melihat perut Beeve yang besar.
Dengan tersenyum kaku, Beeve menggelengkan kepalanya. “Saya sendiri bu,” jawab Beeve.
Oh, ternyata dia lontong? Batin Feni.
Tapi karena yang di butuhkan Feni adalah uang, ia tak perduli akan status Beeve.
“Sendiri juga enggak apa-apa neng, yang penting bayar di muka ya, kamarnya juga sudah bersih, karena tukang bersih-bersih yang bekerja selalu membersihkannya setiap hari,” terang Feni.
“Iya bu.” Beeve yang lelah tak banyak basa-basi, ia pun langsung mengeluarkan uang yang ada di dompetnya.
“Ini bu.” Beeve memberikan uang sewa pada Feni senilai yang di tentukan. Melihat uang yang ada di tangan Beeve, Feni jadi bersemangat.
“Ayo neng, saya antar ke lantai dua.” ucap Feni seraya mengambil uang yang ada di tangan Beeve.
“Oke bu.” Mereka pun bergegas ke lantai 2 dengan menaiki tangga.
__ADS_1
Feni yang iba pada kondisi Beeve menawarkan diri untuk membawakan koper anak kos barunya.
“Sini ibu bawa.”
“Enggak apa-apa nih ngerepotin ibu?”
“Enggak nak, sini.” Feni meraih koper yang Beeve pegang.
Saat koper telah berada di genggamannya, ia terkejut, karena koper tersebut teramat ringan.
Aduh, ternyata yang menyewa kamar ku orang miskin, tapi enggak apa-apa deh, kalau enggak bayar bulan depan, tinggal tendang, batin Feni.
Sesampainya di lantai 2, tepatnya di kamar nomor 35 yang letaknya paling pojok Feni memberikan kunci kamar pada Beeve.
“Ini neng, ibu tinggal dulu ya, semoga betah dan tepat waktu bayar kosannya, sesuai tanggal masuk mu ya,” ucap Feni.
“Iya bu, terimakasih banyak .” setelah Feni pergi, Beeve pun membuka pintu kamar kosnya.
Ceklek, kriettt...
Tek! Beeve menyalakan saklar lampu, seketika ia menelan salivanya, karena melihat penampakan ruangan kecil yang ukurannya lebih kecil dari kamar momo kucing kesayangan Jane.
“Assalamu'alaikum.” ucap Beeve pada tempat tinggal barunya.
Air matanya kembali berderai, ia yang biasa hidup enak dan serba berkecukupan kini harus menyesuaikan diri dengan keadaan.
Ia yang lelah merebahkan diri di atas kasur yang berukuran 90x200 cm. Beeve yang masih bersedih menangis hingga tertidur lelap.
“Bee... Bee...” mendengar suara Andri di telinganya membuat Beeve terbangun dari tidurnya.
“Mas Andri!!!” Beeve mencari Andri ke setiap sudut kamarnya.
“Ternyata hanya halusinasi ku saja,” gumam Beeve.
Ia pun melihat jam di handphonenya yang telah menunjukkan pukul 20:00 malam.
“Biasanya aku akan menyambut mas Andri di ruang tamu, tapi kini..., hiks...” Beeve kembali menangis, ia yang baru beberapa jam berpisah dengan Andri merasakan rindu yang teramat dalam.
“Aku rindu kau mas, hiks... mas Andri lagi apa? Aku kangen, huahh... aku mau pulang, aku mau ketemu mas Andri.” meski singkat, ternyata kehadiran Andri begitu berpengaruh dalam hidup Beeve.
Ia benar-benar ingin menelepon suaminya, meminta agar dirinya tidak di ceraikan, namun mengingat kembali kegaduhan yang ia lakukan Beeve mengurungkan niatnya.
_____________________________________________
Andri yang berada di rumahnya merasakan hal yang sama, rindu akan Beeve, namun karena orang tuanya tak merestui Andri menahan perasaannya untuk tak menghubungi Beeve.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1