Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 103 (Amarah Yudi)


__ADS_3

“Mas, aku pulang sekarang ya.” Beeve pun berpamitan pada Andri.


“Iya sayang.” setelah saling melepas pelukan, Beeve meninggalkan Andri dalam ruangannya.


Ia yang turun ke basement segera masuk ke dalam mobilnya, dan meluncur pulang ke rumah.


________________________________________


Arinda yang telah keluar dari rumah sakit dengan penuh semangat menuju kantor ISF.


“Lihat saja kau! Hari ini hidup mu kelar!” pekik Arinda. Ia pun berangkat dengan menaiki taksi.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Arinda tiba di tujuan.


Dengan percaya diri penuh Arinda melenggang masuk ke dalam kantor memakai masker dan kaca mata hitam, untuk menutupi lebam dan bengkak di wajahnya.


Ketika ia ingin masuk lift yang di khususkan untuk CEO dan Presdir tiba-tiba sang satpam penjaga lift mencegah Arinda masuk.


“Selamat pagi, ibu kemana?” tanya sang satpam.


“Pagi juga pak, saya mau ke ruangan pak Andri,” jawab Arinda.


“Mohon maaf, tapi lift ini tidak di khususkan untuk karyawan bu,” terang sang satpam.


“Iya, saya juga tahu pak kalau soal itu,” ucap Arinda.


“Kalau ibu sudah tahu, silahkan menaiki lift karyawan,” ujar sang satpam.


“Tapi, saya bukan karyawan pak, saya ini adalah menantu dari pemilik perusahaan ini, jadi saya setara dong dengan CEO dan Presdir?!” terang Arinda.


“Baik bu, tapi sebelumnya saya mohon maaf, karena perintah dari atasan, lift ini hanya di khususkan untuk CEO dan Presdir, jadi saya disini hanya menjalankan tugas.” sang satpam yang sudah mendapat titah sebelumnya dari Yeni tak memberi Arinda celah.


“Jadi, intinya saya harus naik dengan lift karyawan?” tanya Arinda dengan perasaan jengkel.


“Benar bu,” jawab sang satpam.


“Okelah kalau begitu, lihat saja nanti kalau aku sudah bertemu suami ku, ku pecat kau! Karena sudah mengusik ku, dan membuat aku yang tengah hamil kelalelahan.” pekik Arinda dengan sombongnya.


Namun sang satpam tak bergeming sedikit pun, dengan penuh marah Arinda berjalan menuju lift karyawan yang jaraknya 800 meter dari lift CEO dan Presdir.


Ia yang memakai hak tinggi mulai merasakan lecet di tumit kakinya.

__ADS_1


“Isst!! Sial!!” dengan perjuangan penuh akhirnya ia sampai di depan lift.


Saat Arinda akan menekan tombol lift tiba-tiba sang satpam menegur dirinya.


“Maaf bu, mau kemana?” tanya sang satpam.


“Apa lagi sih!” gumam Arinda.


“Ibu mau kemana?” tanya sang satpam kembali.


“Saya mau ke ruangan Presdir,” jawab Arinda.


“Mohon maaf bu, ini lift khusus karyawan,” terang sang satpam.


Arinda yang mulai gerah memberikan tatapan mata tajam pada sang satpam.


“Pak! Bapak kenal saya kan? Saya mantan karyawan sini,” ucap Arinda.


“Iya, tapi ini lift khusus karyawan bu,” ujar sang satpam.


“Huff!! Oke, saya memang bukan karyawan, tapi kalau saya istrinya Presdir bisa kan?!” ucap Arinda dengan nada suara tinggi.


“Tetap enggak bisa bu, ini khusus karyawan, mohon menepi bu, sebab karyawan lain ingin memakai liftnya.” sang satpam pun mendorong mundur tubuh Arinda.


“Yang sopan dong pak! Atau mau saya pecat sekarang?! pekik Arinda.


“Mohon maaf bu, tapi ibu tidak bisa memakai lift ini, kalau sudah tidak ada keperluan lain, harap tinggalkan tempat.” kata-kata sang satpam merobek harga diri Arinda.


“Lancang! Keluar kau sekarang dari kantor ini! Aku sebagai istri Presdir dan menantu pemilik perusahaan, memecat mu detik ini juga!” bukannya takut dengan ancaman Arinda, justru sang satpam menanggapi dengan senyuman.


“Keluar!!!” teriakan Arinda, memancing banyak pasang mata untuk menontonnya.


“Bukannya dia mantan karyawan training yang dulu?” ucap salah seorang karyawati.


“Betul, kenapa dia marah-marah disini? Dasar gila!” ujar karyawati lainnya.


Tingkah Arinda membuatnya jadi bahan omongan, banyak yang menganggapnya sinting dan gila.


“Sialan kalian semua! Ku pecat kalian!!” ucap Arinda dengan penuh amarah.


Perbuatannya yang di luar batas menarik perhatian Yudi yang kebetulan melintas di belakangnya.

__ADS_1


“Siapa kau?!” ucap Yudi, yang membuat sang satpam memberi hormat.


“Selamat pagi pak, maaf sudah membuat kekacauan di pagi ini,” ucap sang satpam.


“Pagi.” Yudi masih penasaran dengan wanita yang tak mau memberi salam padanya.


Arinda yang masih membelakangi Yudi mulai melancarkan amukan baru.


“Siapa lagi sih!!” ketika ia memutar tubuhnya menghadap Yudi, ia langsung terperanjat, badannya jadi panas dingin dan gemetaran.


Yudi yang tahu kalau itu adalah madu anaknya menggelengkan kepala.


“Mau apa kau kemari?” tanya Yudi. Ia yang biasanya bijak tak dapat mentolerir sikap Arinda yang sangat keterlaluan.


“A-ayah,” ucap Arinda.


Dengan menghela nafas panjang Yudi berkata. “Ikut aku ke ruangan ku, kau juga pak.” suara Yudi yang tenang namun beraura membunuh membuat Arinda ketakutan.


Sesampainya di ruangan CEO, Yudi memperislah kan Arinda dan sang satpam untuk duduk di hadapannya.


“Jelaskan, ada apa ini sebenarnya?” ucap Yudi.


“Ibu ini mencoba masuk lift, pada hal saya dapat perintah dari kepala satpam, yang boleh menaiki lift karyawan, ya hanya karyawan perusaan dan orang yang memiliki izin, sementara si ibu tidak memiliki akses sama sekali, malah mengaku sebagai istri pak Andri, dan membuat kegaduhan, dengan ingin memecat saya dan karyawan lainnya,” terang sang satpam.


Mendengar hal itu, Yudi menekan giginya kuat-kuat.


“Begitukah?” Yudi menatap Arinda yang menundukkan kepala karena takut.


“Lancang! Beraninya kau membuat kegaduhan di perusahaan ku!” hardik Yudi yang membuat Arinda ingin pingsan seketika.


“Kau boleh keluar pak.” titah Yudi pada sang satpam.


“Baik pak.” setelah sang satpam keluar dari ruangan Yudi, Yudi pun tak segan-segan lagi mengeluarkan kata-kata kasar pada menantunya.


“Apa hak mu ingin memecat karyawan ku? Apa tujuan mu datang kemari? Apa kau merasa istimewa setelah di nikahi oleh anak ku? Hei! Sadarlah tempat mu, kau hanya istri siri, harusnya kau bersikap baik, bersembunyi yang aman, agar orang-orang tak tahu status mu sebagai wanita perebut suami orang! Aku sudah menahan amarah ku, sejak tahu kau menjebak Andri, tapi rupanya otak mu tak waras, tidak ada kesadaran diri, malah makin sombong! Beeve, yang sebagai istri sah, tak pernah datang kemari mencampuri urusan suaminya! Tapi kau!! Berteriak, menghardik karyawan lain! Luar biasa,” Yudi mengelus dadanya.


Arinda terus memainkan kukunya karena takut, ia juga tak dapat mengangkat kepalanya karena malu.


“Oh iya, ini salah ku karena tak memberitahu mu sebelumnya, mulai hari ini, sampai seterusnya, tutup mulut mu rapat-rapat, jangan ada yang tahu, kalau kau adalah istri anak ku, dan jangan lagi kau injak kan kaki mu di perusaan ini, mau pun cabang lainnya, diam! Jangan banyak gaya, kau hanya aib bagi keluarga kami, kalau bukan karena anak ku yang ingin mempertahankan bayi mu, pasti aku tak mau memberi restu, jadi apa kau sudah paham?” ucap Yudi.


“I-i-iya yah,” jawab Arinda dengan suara bergetar.

__ADS_1


“Tidak kau belum paham betul, intinya jaga baik-baik anak yang kau kandung, tanpanya kau hanya butiran debu Arinda, bersyukurlah karena Andri mau bertanggung jawab atas anak yang tak bernasab padanya, kalau dia licik, ia tak perlu menikahi mu, apa lagi memberi mu fasilitas, sungguh tak tau diri, perbanyak malu, agar kau di hormati orang lain,” terang Yudi.


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2