Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 121 (Drama)


__ADS_3

“Berat juga ya punya istri dua, belum lagi kalau kau enggak adil, siap-siap dapat ocehan kiri kanan kau Ndri,” ucap Arman.


“Itu dia, ku lihat Beeve takkan mengijinkan ku dekat-dekat dengan Arinda, walau sebenarnya aku juga enggak mau sih, tapi mana mungkin selamanya aku hanya tidur dengan Beeve, kalau dia masih berstatus istri ku, benarkan?”


“Hahaha, kau punya istri dua, tapi tak menikmati sama sekali, kasihan!” Arman meledek Andri.


“Man... Man, coba kalau kau yang di posisi ku, pasti muntaber,” ucap Andri.


“Aku sih enggak akan seperti mu, satu istri sudah cukup!” ujar Arman.


“Kalau sudah alami sendiri baru tahu rasa,” ucap Arman.


“Tapi Ndri, aku kau kasih nasehat untuk mu, di pahami syukur, enggak juga terserah,” ujar Arman.


“Hum, nasehat apa pak tua?” ucap Andri


“Sebenarnya, yang membuat imagenya seorang istri atau pun suami itu jadi buruk, tentunya antara keduanya sendiri, kalau enggak bisa jaga lisan, ya habislah, jangan saling menyalahkan kedepannya, jika orang lain merendahkan pasangan kita atau tak punya harga diri, akibat ulah yang kita buat sendiri, yang namanya rumah tangga, itu tak ada 1 pun yang berjalan dengan lancar, kalau kau melihat rumah tangga si A terlihat oke dan sakinah, kau salah!”


“Maksudnya?” tanya Andri.


“Pasti, ini aku jamin Ndri, banyak cekcok di dalamnya, tapi... itu hanya sampai ruang lingkup keduanya saja, enggak melebar kemana-mana, karena sesungguhnya, ini menurut ku ya Andri, yang namanya Sakinah mawadah Warohmah itu kita yang ciptakan, dengan saling menerima dan memaafkan orang yang kita kasihi, kalau masih suka pada lubangnya, enggak usah! Kau seperti ayam bertelur, kotek sana kotek sini! Pahamkan pak Presdir?” tanya Arman yang telah mengeluarkan nasehat petuahnya.


“Iya pak, saya paham, terimakasih banyak atas nasehatnya, bulan ini aku kasih bonus deh," jawab Andri.


“Yes! Gitu dong!” ucap Arman bersemangat.


____________________________________________


Beeve yang berada di taman kampus duduk sendirian. Karena masih banyak waktu senggang sebelum masuk kelas, Beeve pun mengintip Insta*ram Emir.


“Mas Emir, ternyata kau juga khawatir pada ku?” ucap Beeve.


Ia yang ingin berterimakasih pada Emir memberanikan diri melakukan panggilan video call.


Emir yang sedang rebahan di atas ranjang sontak duduk, karena ia tak menyangka, kalau Beeve mem-video call nya.


“Aduh, aku harus bagaimana? Belum mandi lagi.” Emir jadi heboh sendiri, ia pun turun dari ranjang untuk sisiran, ia juga memakai minyak rambut terbaiknya.


Saat Emir sudah sedia, ternyata Beeve telah mematikan teleponnya.


“Ya ampun, apa aku kelamaan?” gumam Emir.


___________________________________________


“Apa mungkin mas Emir sudah tidur?” ketika Beeve akan memasukkan handphonenya ke dalam tas tiba-tiba Emir menghubunginya kembali. Beeve pun menerima panggilan video yang Emir lakukan.


📲 “Assalamu'alaikum, halo mas,” Beeve.


📲 “Wa-wa'laikum salam, apa kabar Bee?” Emir.


Emir begitu bahagia melihat wajah Beeve kembali.


📲 “Aku baik mas, maaf kalau menggangu, aku mau mengucapkan terimakasih untuk yang kemarin, karena sudah ikut mencari ku,” Beeve.


📲 “Iya Bee, aku senang karena kau sudah kembali, tolong jangan menghilang lagi,” Emir.


📲 “Insya Allah, maaf karena telah membuat mu khawatir mas,” Beeve.


📲 “Iya Bee, tolong jaga diri baik-baik, dan patuh lah pada suami mu,” Emir.


📲 “Iya mas, oh ya mas, kapan kau kembali?” Beeve.

__ADS_1


Emir terenyuh, saat Beeve bertanya demikian padanya.


📲 “Memangnya aku boleh kembali?” Emir.


Beeve terkejut Emir menanyakan hal itu.


📲 “Tentu saja, kembalilah mas, lagi pula kuliah mu perlu di teruskan,” Beeve.


📲 “Kalau aku kembali, apa boleh aku menemui mu?” Emir.


Beeve jadi canggung dengan pertanyaan Emir, sebab ia masih ingat peristiwa tak wajar di antara mereka.


📲 “Bo-boleh mas,” Beeve.


📲 “Baiklah, setelah kontrak kerja ku berakhir, aku akan segera kembali,” Emir.


📲 “Ya sudah mas, kalau gitu aku tutup teleponnya ya, karena aku masuk dulu kelas,” Beeve.


📲 “Iya, assalamu'alaikum,” Emir.


📲 “Wa'alaikum salam,” Beeve.


Setelah sambungan telepon terputus, Emir senang bukan main, hingga ia melompat-lompat.


“Apa ini pertanda baik?” gumam Emir.


Ia pun bertekad akan kembali setelah urusannya selesai.


_______________________________________________


Malam harinya, Beeve yang sedang bersantai di ruang tamu menunggu suaminya terganggu dengan kehadiran Arinda.


“Kau sendiri?” tanya Arinda kembali.


“Heh, ini rumah ku, sedangkan kau hanya menumpang disini, sebaiknya kau kembali ke kamar mu, sudah bagus aku enggak usir!” pekik Beeve.


“Siapa bilang ini rumah mu? Ini rumah suami ku.” ucap Arinda, ketika Arinda ingin duduk ke atas sofa, kaki Beeve yang jenjang menendang bokong Arinda dengan pelan.


“Jangan duduk disini, semua yang ada di rumah ini milik ku, tolong deh jangan bikin emosi.” ke judesan Beeve bebar-benar di luar pikiran Arinda.


“Yang nyari api kan kau terus, bukan aku!” hardik Arinda.


“Tapi asapnya darimu! Kalau kau enggak hadir di kehidupan kami, pasti semua baik-baik saja, pokoknya kau enggak boleh disini!” Beeve terus mengusir Arinda.


“Aku enggak mau pergi! Karena aku juga punya hak untuk disini!”


“Oh! Bebal ya!” Beeve bangkit dari duduknya.


Ketika keduanya masih bersitegang, Andri pun datang.


Ting tong ting ting!! Saat Arinda dan Beeve mendengar suara bel, mereka sontak berlari menuju pintu, sampai-sampai mereka lupa, kalau masing-masing sedang berbadan dua.


Arinda yang badannya lebih ringan terlebih dahulu sampai ke pintu.


Krieet!! Ia membuka pintu dengan nafas ngos-ngosan.


“Assalamu'alaikum sayang.” ucap Andri yang mengira Arinda adalah Beeve.


“Wa'alaikum salam sayang,” sahut Arinda.


Beeve yang ada di belakang Arinda menepuk punggung Arinda.

__ADS_1


“Yang di maksud sayang itu aku, bukan kau!” pekik Beeve.


“Apa sih Bee! Jelas-jelas mas Andri bicara di depan mata ku,l.” Arinda pun menarik rambut Beeve karena kesal.


“Lepas!” Beeve menarik menarik rambut Arinda juga.


Andri yang lelah tak dapat menyaksikan pertempuran di dalam rumahnya lagi.


“Sudah-sudah, kalian berdua jangan saling menyakiti!” pekik Andri. Lalu keduanya melepas rambut satu sama lain.


“Mas, yang kau panggil sayang aku atau dia?” tanya Beeve.


Andri menggaruk alisnya, karena wajah Arinda begitu memilukan.


“Kau sayang.” ucap Andri seraya mengelus kepala Beeve.


Bisa gila aku kalau begini terus, batin Andri.


Arinda yang tak pernah mendapat keadilan mulai melalukan drama, matanya pun mulai berkaca-kaca menatap lekat pada Andri.


Andri benar-benar serba salah, “Ayo kita makan, apa kalian sudah makan?” tanya Andri pada kedua istrinya.


“Belum mas, kalau dia sih sudah,” ucap Beeve menunjuk Arinda.


Lalu Arinda yang langkahnya tertinggal di belakang Beeve dan Andri pura-pura pingsan, ia dengan pelan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


Andri yang sadar kalau Arinda tak ada di samping mereka menoleh ke belakang.


“Arinda!” Andri melepas genggamannya pada Beeve, kemudian mendekati Arinda yang tak berdaya di lantai.


“Nda, Nda....” Andri menepuk-nepuk kecil pipi Arinda.


Beeve yang tahu kalau Arinda hanya akting bersedekap. “Itu hanya pura-pura mas, tinggalkan saja dia!” ucap Beeve.


“Sayang, kau enggak boleh begitu, dia sedang mengandung.” ucap Andri. Perkataannya membuat Beeve tersinggung, secara tak langsung Andri mengingatkannya tentang siapa ayah anak yang Arinda kandung.


“Baiklah, ayo kita urus.” Beeve yang tak ingin Andri dan Arinda berduaan menjaga ketat suaminya. Ia mendampingi Andri sampai ke kamar Arinda.


Andri yang khawatir terjadi sesuatu pada anaknya memanggil dokter.


Beeve sebagai istri tua dapat melihat kecemasan di wajah suaminya.


Ikatan batin antara anak dan ayah memang tak bisa di putus, beda dengan anak ku dan Cristian, batin Beeve.


Dokter yang telah tiba pun memeriksa keadaan Arinda yang masih pura-pura pingsan.


“Bagaimana keadaan Arinda dok?” tanya Andri.


“Selain karena tensinya yang rendah, bu Arinda baik-baik saja pak, tak ada yang mengkhawatirkan,” terang sang dokter.


“Tapi kenapa dia sampai pingsan?” tanya Andri.


“Mungkin karena kecapean atau banyak pikiran,” ucap sang dokter.


“Tapi anak kami baik-baik saja kan dok?” tanya Andri.


“Dede bayinya baik pak, baik, saya akan resep kan obat dan vitamin untuk ibu Arinda, pastikan di minum teratur ya pak, kalau bisa, jaga perasaannya pak, karena suasana hati ibu hamil itu sangat sensitif, apa lagi dia masih hamil muda.” terang sang dokter.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2