
“Bagaimana aku bisa mengendalikan diriku, kalau caranya seperti ini? Mereka datang kemari dengan tiba-tiba, dan membuat kekacauan di rumah istri ku sendiri!” pekik Andri.
“Sudah-sudah, ayo kita bicarakan dengan kepala dingin, kalau serba emosi begini, yang ada kita tidak menemukan titik terang,” ujar Yudi.
Andri mencoba meredam bara api yang masih ada di hatinya.
“Mari kita bicarakan di dalam,” ajak Yudi pada semua orang. Lalu Yudi menuntun tangan Andri untuk masuk ke dalam rumah, kemudian yang lainnya pun ikut menyusul.
Kemudian keluarga Andri dan Arinda pun duduk berhadapan di ruang tamu.
Yudi sebagai tetua saat itu mulai membuka pembicaraan.
“Kenapa bu Elia dan pak Dimas datang kemari dengan tiba-tiba?”
“Kita datang kemari, karena ingin menyelesaikan masalah anak-anak kita pak, karena saya mendapat cerita dari Arinda, kalau dia akan di cerai nak Andri,” terang Elia.
Rahma dan Yudi pun terdiam, mereka tak menyangka Arinda akan mengadu, kemudian Andri pun berkata.
“Itu memang benar, karena dia!” Andri menunjuk wajah Arinda. “Telah melanggar aturan yang telah ku buat, dia juga sering mengadu domba, memfitnah Beeve pada ku dan keluarga ku, agar kami membencinya, dia pikir aku enggak tahu!” terang Andri.
“Mas! Aku enggak pernah melakukan itu!” Arinda yang licik mencoba mengelak.
“Kau jangan berbohong Arinda, aku tahu semua yang ada di otak mu, selama ini aku hanya diam, karena enggak ingin ribut,” ucap Andri.
“Andri! Kenapa kau selalu memojokkan Arinda, kelihatan sekali kalau kau pilih kasih antara Arinda dan Beeve,” ucap Dimas.
“Jelas! Karena aku kan hanya mencintai Beeve, pernikahan ku dengan Arinda hanya karena anak ku, enggak ada alasan lain,” ungkap Andri.
“Andri, jangan begitu ah.” Rahma menghentikan kejujuran Andri yang begitu menusuk hati.
“Biar saja bu, lagi pula aku enggak mau menyimpan isi hati ku lagi,” ucap Andri.
“Kau lihat bu Rahma, anak mu begitu enggak berperasaan, mempermalukan keluarga kami di hadapan semua orang, hanya karena wanita licik seperti Beeve!” pekik Rahma.
“Bu, jangan bawa-bawa Beeve, disini yang jadi korban itu dia, bukan Arinda,” ucap Andri.
“Anak ku juga korban, korban kebejatan mu! Dan teganya, disaat dia hamil, kau malah mau menceraikannya, dimana perasaan mu, apa hati mu sudah mati?” Elia benar-benar marah pada Andri.
__ADS_1
“Andri, sudah lupakan kemarahan mu pada Arinda, ayah minta jangan ada perceraian di antara kalian, bagaimana pun, Arinda dan anak mu sangat membutuhkan kasih sayang mu,” Terang Yudi.
“Yah, Arinda itu enggak ada hati pada Andri, dia hanya mau harta Andri, setelah dia tahu Andri di coret dari warisan, dia malah memilih pergi ke rumah, meninggalkan aku, meski sudah ku katakan jangan keluar dari rumah,” terang Andri.
“Dia ke rumah karena di usir Beeve, dan kau juga mendukungnya!” ucap Rahma.
Arinda jadi ketar ketir karena rahasianya terbongkar.
Andri yang tahu kalau istri keduanya berbohong melirik tajam ke arah Arinda. Sontak Arinda menunduk, karena takut.
Beeve yang baru selesai mengganti baju, ikut bergabung dalam persidangan yang menegangkan itu.
“Ini dia nih, orang yang selalu menghasut Andri, untuk menceraikan Arinda, pada hal sudah bagus kau itu tidak di ceraikan Andri karena mengandung anak haram dari orang lain! Apa salahnya untuk akur dengan anak ku? Asal kau tahu, yang paling berhak atas Andri ya Arinda.” pekik Elia, ibu Arinda yang dendam pada Beeve pun mengambil bantal sofa, lalu melemparnya ke wajah Beeve.
Rahma dan Yudi yang menyaksikan ke agresipan besannya geleng-geleng kepala, sedang Andri mendengus, dan menarik nafasnya.
“Kau juga sudah main tangan pada anak ku, hingga wajahnya ada bekas goresan, dasar anak yatim piatu, ibu dan ayah mu telah gagal mendidik mu lahir batin, gatal! Benalu! Anak pembawa sial! Ibu dan ayah mu juga mati karena aib yang kau buat, kita sudah berlapang dada kau hidup berdampingan dengan Arinda, tapi apa balasan mu! Ingin menyingkirkan anak ku?” ucap Rahma.
“Yang benalu itu bukan aku, tapi anak mu lah yang masuk dalam kehidupan kami, dan apapun kesalahan ku, jangan membawa-bawa orang tua ku, karena mereka sudah tiada!” balas Beeve.
“Akh! Beraninya kau menjawab perkataan orang tua!” hardik Elia.
“Cukup Andri, ku rasa kalian semua telah mengatakan keluh kesah kalian masing-masing. Ibu dan ayah berserta mertua mu, intinya hanya ingin kau tidak menceraikan Arinda, apapun masalahnya, maafkan dia, ini sudah sangat rumit, tapi kita bisa mensederhanakannya, tak perlu ribut-ribut, saling memaki atau main tangan lagi, kau mengerti kan nak?” Yudi membujuk anaknya untuk berbaikan dengan Arinda.
“Betul kata pak Yudi, kami hanya ingin itu,” ucap Dimas.
“Iya mas, aku minta maaf atas kesalahan ku, aku juga berjanji akan lebih baik ke depannya,” ucap Arinda.
Batin Beeve tak setuju bila Andri menerima Arinda kembali. Andri pun dapat melihat wajah Beeve yang nampak sedih.
Pasti dia akan terluka lagi karena ku, batin Andri.
“Bagaimana Ndri? Ayah juga meminta maaf atas kesalahan ayah dan ibu, yang terlalu ikut campur pada urusan keluarga mu, maaf juga karena ibu mu telah memaksa kau dan Beeve cerai, kalau kau memang menginginkan Beeve tetap disisi mu, ayah dan ibu akan merestui, asal kau dan Arinda juga berbaikan,” terang Yudi.
“Andri belum bisa memutuskannya yah, maafkan Andri,” ucap Andri.
“Ya ampun nak Andri, apa lagi yang kau ragukan?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Betul, kita tidak punya waktu untuk mengurus ini semua,” terang Yudi.
Beeve yang bersedih melihat ke arah Andri dengan nanar, kebetulan Andri pun melihat Beeve.
Elia yang menyaksikan berpikir kalau Beeve memberi kode ancaman pada Andri.
“Heh! Ternyata nak Andri enggak bisa menjawab sekarang karena kau menekannya!” Elia berjalan menuju Beeve yang duduk di satu sofa sendirian.
“Setan!” plak! Elia menampar Beeve dengan keras. Yang membuat semuanya tak habis pikir, padahal semuanya hampir menemui titik terang.
Andri yang sudah di ujung tanduk kesabarannya, mengatakan keputusannya saat itu juga.
“Ku berikan kau talak satu Arinda.” ucap Andri dengan mulus.
Arinda terperanjat, begitu pula dengan semua orang.
“Andri!" jangan keluarkan kata terlarang itu!" hardik Yudi.
Arinda yang menerima talak dari Andri langsung terguncang, nafasnya pun jadi sesak.
“A-a-aku enggak mau! Aku enggak mau!” Arinda yang stres bangkit dari duduknya.
“Kau jahat mas!!!” teriak Arinda.
“Duduklah Nda, biar ku selesaikan," ucap Andri.
“Enggak! Enggak! Jangan katakan lagi!!!” Arinda menutup telinganya, jantungnya pun berdegup kencang, ia pun menekan dadanya karena sesak.
“Akh, sa-sakit.” tiba-tiba Arinda memegang perutnya yang tarena kram.
“Ada apa Nda!” Elia dan Dimas memeluk Arinda yang akan terjatuh. Yudi dan Rahma pun mendekat pada Arinda.
Wajah Arinda kian pucat, tubuhnya pun jadi dingin.
“Sakit bu, sakit.” hanya kata itu yang terucap dari bibir Arinda sebelum ia kehilangan kesadarannya.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...