
“Gombal ah!” malam itu Beeve dan Andri memutuskan untuk begadang.
Pagi harinya, Beeve dan Arinda mengantarkan Andri ke Bandara Soekarno Hatta.
Raut sedih nampak jelas di wajah Beeve, namun berbeda dengan Arinda, ia sangat antusias akan keberangkatan Andri.
“Mas, hati-hati di jalan ya, kalau sudah sampai kasih kabar,” ucap Beeve.
“Iya sayang.” Andri tersenyum dengan perasaan sedih, karena harus meninggalkan orang yang ia kasihi.
“Makan teratur mas, jaga kesehatan, ingat cuaca disana dan disini berbeda, istirahat yang cukup ya mas.” ucap Arinda memberi perhatian pada suaminya.
“Terimakasih Arinda.” tak seberapa lama, rekan kerja Andri yang di utus oleh Yudi pun berdatangan satu persatu.
Beeve yang ingin menangis menahan air matanya, sebab 2 menit lagi suaminya akan take off.
“Mas, selalu kasih kabar pada ku ya,” ucap Beeve.
“Tentu sayang.” sahut Andri mengelus punggung istrinya.
“Berjanjilah, jangan seperti Riski yang ingkar pada Yalisa.” ujar Beeve yang sangat menggemari novel Save Yalisa.
“Enggak akan sayang, tenang saja.” tak terasa, waktu 2 menit pun berlalu, waktunya Andri dan ke empat rekannya masuk dalam pesawat.
“Aku berangkat, kalau ada apa-apa hubungi aku.” Andri memeluk Beeve dengan erat, Beeve yang tak dapat menahan air matanya pun akhirnya menangis.
“Iya mas, cepat kembali ya, aku sayang kau mas,” ungkap Beeve.
“Aku juga, aku mencintai mu sayang.” Andri mengecup setiap inci wajah Beeve serta bibirnya. Arinda memutar mata malas melihat kemesraan keduanya.
Setelah selesai dengan Beeve, Andri pun pamit pada Arinda.
“Aku berangkat Nda.”
“Apa kau enggak akan memeluk ku juga mas?” tanya Arinda. Karena itu adalah perpisahan yang panjang, Andri pun memberi pelukan ringan pada Arinda, setelah itu ia mengelus wajah istri keduanya.
Dengan perasaan berat, Andri pun meninggalkan jantung hatinya di tanah air. Setelah Andri berangkat Beeve dan Arinda pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Beeve yang lapar menuju meja makan, Arinda pun turut ikut, karena perutnya juga sudah terasa keroncongan.
__ADS_1
Saat Beeve ingin mengambil piring dalam lemari, tiba-tiba Arinda memanggil namanya.
“Bee, kau mau makan juga?” tanya Arinda.
“Iya,” jawab Beeve.
“Aku saja yang ambil, kau duduk saja.” ujar Arinda, yang membuat Beeve menaruh curiga.
“Tumben kau baik? Ada rencana apa nih?” ucap Beeve dengan memberi tatapan mata tajam.
“Ya Allah Bee, enggak usah berprasangka buruk begitu, aku hanya ingin membantu mu,” terang Arinda.
“Enggak usah, biar aku saja.” ucap Beeve menolak kebaikan Arinda. Lalu Arinda menuntun Beeve untuk duduk ke atas kursi.
“Beeve, aku hanya ingin membantu mu, lagi pula aku kasihan pada mu yang hamil besar begini,” ujar Arinda dengan tersenyum lebar.
“Arinda, mana mungkin sih kau kasihan pada ku.”
“Sudahlah, kalau kau takut aku racuni, perhatikan saja baik-baik gerak gerik ku, bereskan?!” karena Arinda memaksa, Beeve pun menerima bantuannya.
Dengan telaten Arinda mengambil nasi untuknya dan Beeve, setelah itu ia pun meletakkannya di hadapan Beeve.
Tak cukup sampai disitu, Arinda juga mengambilkan air hangat untuk madunya.
“Oke,” sahut Beeve. Untuk pertama kalinya, Beeve dan Arinda makan dengan akur di satu meja yang sama.
Sudah ku duga, Beeve tipe yang tak bisa di tekan, karena dia akan jauh lebih ganas kalau merasa terancam, batin Arinda.
Ada rencana apa si madu bala ini! Kalau sampai macam-macam, habis kau ku buat, batin Beeve.
Setelah selesai makan, Arinda yang masih berakting sebagai madu yang baik pun memberikan Beeve tisu.
“Hem, sebenarnya maksud mu apa sih Nda, jadi tiba-tiba baik begini?” tanya Beeve.
“Ehm, apa ya? Mungkin bisa disebut ingin berdamai,” jawab Arinda.
“Damai?”
“Iya, aku ingin berdamai, aku lelah bermusuhan dengan mu, karena yang di hasilkan hanyalah amarah yang tak bermanfaat,” terang Arinda.
__ADS_1
“Hahaha, kau lucu sekali, kalau memang kau ingin berdamai dengan ku, terima saja saat mas Andri menceraikan mu," ujar Beeve.
“Bee.”
“Hum?”
“Bisa enggak sih, kau seperti dulu?”
“Maksudnya yang mana nih?” tanya Beeve.
“Beeve zaman SMP dan SMA, kau yang sekarang bukan dirimu yang sebenarnya Bee, kau itu adalah wanita lemah lembut dan penyabar, kembalilah ke jati diri mu, ya? Aku juga rindu masa-masa saat kita akur, lebih dari saudara, apa salahnya sih, kalau kita hidup bersama dengan suami yang sama?” kata-kata Arinda membuat Beeve geli.
“Hahaha, ku pikir kau beneran sadar, ternyata hanya mengigau, mana mungkin aku mau baik lagi pada mu, setelah apa yang kau lakukan pada ku,” ucap Beeve.
“Ayolah Bee, banyak kok orang yang hidup akur dan kompak bersama madunya, masa kita enggak bisa?” terang Arinda.
“Apa-apaan sih kau?! Hum? Mana ada manusia yang mau cintanya di bagi, kalau pun ada, itu karena terpaksa, entah mungkin dia terlalu cinta pada si lelaki, atau laki-lakinya crazy rich atau mungkin alasannya karena anak, nah kalau kau kan karena harta.” terang Beeve yang membuat wajah Arinda masam.
“Bee, kau jangan sembarangan bicara ya!”
“Itukan memang kenyataan, tapi kalau aku, karena cinta dan di paksa bertahan, apapun usaha mu untuk memisahkan ku dan mas Andri enggak akan berhasil, kalau Allah saja masih merestui.” Beeve yang terang-terangan benar-benar menguji kesabaran Arinda.
“Kau benar-benar jahat ya sekarang, ini buka dirimu, tapi enggak apa, pintu hatiku selalu terbuka untuk memaafkan mu, aku juga akan merawat mu,” terang Arinda.
“Enggak perlu, banyak Art disini," ucap Beeve.
“Jangan salah paham Bee, aku melakukannya untuk anak yang kau kandung, bagaimana pun kehilangan anak itu sangat menyakitkan, kalau dia sudah lahir, otomatis aku juga akan menjadi ibunya.” Arinda benar-benar berusaha untuk mendapatkan hati Beeve.
“Terimakasih, tapi aku enggak mau dan enggak butuh bantuan mu.” Beeve yang lelah pun meninggalkan Arinda di meja makan sendirian.
“Aku harus sabar sedikit lagi, agar rencana ku berhasil” gumam Arinda.
Beeve yang berada dalam kamar merasa lelah, ia pun merebahkan tubuhnya, sekarang sudah Desember, Insya Allah kalau enggak meleset, Januari aku akan melahirkan, siapa yang akan mengkomatkan mu nak?” Beeve yang merasa sedih mengelus perutnya.
“Mas Andri, semoga perjalanan mu lancar, aku akan sabar menunggu mu mas,” gumam Beeve.
Beeve yang rindu pada Andri, membuka galeri photo di handphonenya, ia tersenyum saat melihat kenangannya bersama Andri ketika mereka liburan, ia juga mengingat saat-saat dimana ia pertama kali membina rumah tangga bersama Andri.
“Apa cinta memang begini? Meski banyak menyisakan luka, tapi tetap ku sayang padanya, atau aku yang bodoh Tuhan?” ucap Beeve pada dirinya sendiri.
__ADS_1
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...