
“Dasar gila!” Beeve melanjutkan langkah kakinya.
Cristian yang tak patah semangat terus mengikuti kemana Beeve pergi, hingga langkah mereka terhenti karena ada Emir yang berdiri tepat di hadapan keduanya.
“Siapa dia?” tanya Emir.
“Eeee, dia...” belum sempat Beeve menjelaskan, Cristian telah mengulurkan tangannya pada Emir
“Aku Cristian, teman satu sekolah Beeve sewaktu SMA,” jawab Cristian.
Lalu Emir menerima jabatan tangan Cristian, “Aku Emir, adik ipar Beeve,” ucap Emir.
Oh, ternyata hanya adik iparnya, batin Cristian.
“Senang bertemu dengan mu Mir, ku harap kita bisa jadi teman kedepannya,” ucap Cristian dengan ramah.
“Tentu saja,” sahut Emir.
“Bee, apa kau masih ada kelas?” tanya Emir lembut.
“Mmm, enggak ada lagi sih mas, mas sendiri bagaimana?” jawab Beeve.
“Aku juga sudah selesai, kita pulang sekarang?” tanya Emir kembali.
“Iya mas, ayo.” jawab Beeve buru-buru, tanpa permisi pada Cristian.
“Kami duluan ya Crist, sampai jumpa lain waktu,” ucap Emir.
“Oke bro, hati-hati ya,” ujar Cristian.
Emir dan Beeve pun bergegas pergi, sesampainya di parkiran, keduanya masuk ke dalam mobil.
“Apa dia mantan mu?” tanya Emir seraya memasang sabuk pengaman.
Beeve yang tak nyaman dengan pertanyaan Emir pun langsung menyangkal.
“Enggak, cuma teman,” jawab Beeve.
“Oh, ku pikir mantan mu, kau terlihat gugup tadi,” ucap Emir.
“Enggak kok mas,” sahut Beeve.
“Emm, kita langsung pulang ke rumah?”
“Iya mas.”
“Enggak mampir dulu? Makan di cafe gitu?”
“Enggak mas, aku lelah ingin istirahat," ujar Beeve.
“Oke kalau begitu.” Emir pun melajukan mobilnya membelah jalan raya.
Beeve yang masih tak tenang akan Cristian pun mendapat pesan dari Andri.
✉️ Nanti sore kita USG ya sayang, maaf kalau aku baru punya waktu hari ini, Andri.
__ADS_1
✉️ Oke mas,” Beeve.
“Pesan dari siapa?” tanya Emir.
“Dari mas Andri, nanti sore kita mau USG ,” Jawab Beeve.
“Nanti aku ikut ya.”
“Boleh mas.” selang 15 menit mereka pun sampai ke tujuan.
Beeve yang masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, melihat Arinda sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Arinda?” ucap Beeve.
Arinda yang melihat kedatangan Beeve pun sontak berdiri.
“Hai Bee!! Lama enggak bertemu,” Arinda memeluk Beeve dengan erat.
“Iya nih, kau sih enggak tahu kemana, nomor mu juga enggak aktif sekarang,” ucap Beeve.
“Maaf ya, aku soalnya sibuk mencari kerja, nomor lama juga hilang, dan aku enggak hapal nomor mu,” terang Arinda.
“Umm, ya walau pun begitu kau kan bisa datang ke rumah ku untuk main.”
“Maaf ya, keuangan ku lagi sulit, makanya enggak bisa kemana-mana," terang Arinda.
Emir yang baru saja masuk rumah melihat kehadiran Arinda.
Mau apa dia kemari? batin Emir.
“Eh, ada Emir, apa kabar Mir?”
“Aku baik, ada angin apa kesini?” pertanyaan Emir membuat Beeve tak enak hati.
“Aku hanya main Mir, sudah lama enggak ketemu Beeve,” ucap Arinda.
“Eh, kau mau minum apa Nda?”
“Air putih saja,” ucap Arinda.
Lalu Beeve menyuruh Resti mengambilkan minum pada Arinda, kemudian mereka lanjut mengobrol lagi.
Para Art yang mengetahui kedatangan Arinda menjadi resah, mereka takut akan terjadi hal-hal yang tak di inginkan lagi.
Pukul 17:15, tak terasa hari sudah sore, Arinda yang tak kunjung pulang membuat para Art gelisah.
Benar saja, tiba-tiba bel pintu berbunyi, ting tong ting tong!
Ketika Sinta membuka pintu, matanya langsung membelalak.
“Ada apa dengan mu?” tanya Andri, Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bu-bukan apa-apa tuan,” jawabnya gugup.
Lalu Andri masuk ke dalam rumah, belum sempat ia bernafas lega, ia sudah syok kembali, karena Arinda tengah berada di rumahnya.
__ADS_1
Astaga, perempuan ini benar-benar menguji kesabaran ku, batin Andri.
Ia pun dengan berlagak tenang menghampiri istrinya yang sedang mengobrol.
“Assalamu'alaikum sayang.” ucapnya seraya mencium kening Beeve yang sedang duduk di sofa.
“Wa'alaikum salam mas, mas sudah pulang ya.” Beeve mencium punggung tangan suaminya.
“Iya, kitakan mau ke rumah sakit sayang.” ucap Andri mengingatkan Beeve.
“Oh iya mas, aku hampir lupa,” ujar Beeve.
“Ya sudah sayang, kau mandi dulu biar wangi, aku tunggu disini,” ucap Andri.
“Oke mas, Nda aku mandi dulu ya.” Beeve pun meninggalkan suaminya dan Arinda di ruang tamu.
Setelah Beeve masuk ke dalam kamar, Andri langsung mencekik Arinda.
“Mau apa kau kemari?” ucapnya dengan suara yang pelan namun menakutkan, Arinda pun mencoba melepaskan cekikan Andri.
“A-aku hanya berkunjung.” jawab Arinda dengan susah payah.
“Berkunjung atau memperingati ku? Sudah ku katakan jangan ganggu rumah tangga ku, tapi kau malah enggak mendengarkan! Dasar jalan*!” Andri melepaskan cekikan nya dari leher Arinda yang meninggalkan bekas kuku dan ruam merah.
“Tadinya aku ingin mengajak mu bicara baik-baik, tapi karena kau sudah lancang, aku mengurungkan niat baik itu, ku pastikan akan menghabisi nyawa mu 1x24 jam dari sekarang, kali ini kau enggak akan bisa berulah lagi,” ucap Andri.
“Hahaha, kau enggak akan melakukan itu kan mas? Aku mengandung anak mu loh.” Arinda meremehkan perkataan Andri.
“Aku enggak butuh anak itu, tak ada rahim yang pantas untuk menampung benih ku kecuali Beeve!" terang Andri.
“Kau akan menyesal seumur hidup mu mas, kalau sampai melukai ku!”
“Akan lebih menyesal, kalau aku tak menghabisi nyawa mu!” ucap Andri.
Andri yang sudah tak pikir dua kali, langsung menelepon pembunuh bayaran di hadapan Arinda.
📲 “Halo, fix saya setuju, akan saya transfer uang mukanya, kalau korban sudah di pastikan tewas, akan saya bayar sisanya, lakukan malam ini juga, target sedang ada di rumah ku, bersiaplah!” Andri.
Arinda yang tadinya bernyali besar kini menciut, “Kau serius akan membunuh ku?” tanya Arinda panik.
“Tentu saja, dan kau tahu, harga nyawa mu hanya 500 juta, hati-hati karena mereka telah menunggu mu di luar, andai kata kau mau menetap disini pun mereka akan menyeret mu! Berani buka mulut, keluarga mu akan kena imbasnya juga, kau pikir aku enggak tahu alamat mu? Masa lalu mu? Aku tahu semuanya, bahkan silsilah keluarga mu pun aku tahu, coba saja ciptakan satu kegaduhan lagi, akan ku buat kelurga mu mendapat akibatnya juga.” kali ini Andri tak main-main.
Sedang Arinda bingung harus keluar dari rumah itu atau tidak.
Tak lama Beeve yang telah selesai mandi pun kembali ke ruang tamu dengan keadaan rapi dan cantik.
“Arinda, kita mau ke rumah sakit buat USG nih, maaf ya, kau mau menunggu atau ikut?” tanya Beeve.
Arinda yang ingin menyelamatkan diri pun buru-buru berkata. “Iya, aku ikut.”
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1