Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 242 (Isi Hati Emir)


__ADS_3

“Mas...”


“Apa sayang?”


“Basah...” ucap Beeve.


“Haih... kau ini... nanti malam kita tempur ya?!” ujar Andri yang sudah beberapa bulan tak menerima jatah.


“Sekarang saja mas,” pinta Beeve yang terdesak.


“Jangan sayang, inikan kantor, tempat mencari rezeki, bukan tempat bercinta, lagi pula banyak orang yang keluar masuk, nanti aku cape bolak balik pakai dan buka baju, hehehe.” Andri mengecup kening istrinya.


“Baiklah kalau begitu.” Beeve pun memeluk tubuh Andri, kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sementara Andri dengan tangan jenjangnya lanjut mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


Meski bahu dan pahanya pegal menahan beban 4 orang, namun ia tak menyuruh istrinya untuk turun.


15 menit kemudian, dari luar pintu terdengar ada yang mengetuk pintu.


Tok tok tok!!


Sebelum Andri mempersilahkan masuk, terlebih dahulu ia menyuruh istrinya untuk bangun dari tidurnya, karena ia takut akan ada gosip baru di kalangan karyawan, meski ia adalah anak pemilik perusahaan, namun Andri tetap menaati setiap aturan yang berlaku yang di pukul sama rata oleh Yudi.


“Sayang, ayo bangun, sup iga kita sudah datang tuh!” Andri pun menggelitik pinggang istrinya.


“Iya mas.” Beeve membuka matanya lalu bangkit dari pangkuan suaminya.


“Duduklah di sofa, oke?!” ujar Andri, lalu Beeve pun mengikuti arahan suami.


Setelah itu, Andri menyuruh masuk OB suruhannya.


“Silahkan masuk!” ucap Andri. Lalu sang OB pun membuka pintu.


“Ini makanannya pak.” sang OB meletakkan 2 kantong putih di atas meja kerja Andri.


“Baik, terimakasih banyak ya Bram.” sebelum Bram pergi, Andri memberi uang sebagai bayaran 2 sup iga serta upah jalan kaki OB tersebut dalam membeli makanan mereka.


“Terimakasih banyak pak Andri.”

__ADS_1


“Iya, sama-sama.” setelah itu, sang OB pun keluar dari ruangan, kemudian Andri membawa 2 kantong sup iga panas ke istrinya, dan meletakkannya di atas meja. Tak lupa Andri mengambil 2 gelas air hangat untuknya dan sang istri. Sementara Beeve hanya terima beres.


Usai semua telah terhidang, pasangan suami istri itu pun makan dengan sangat lahap.


_________________________________________


Malam harinya, saat seluruh anggota keluarga Han makan malam, Helena tiba-tiba tak berselera makan.


Ia terus menatap makanannya yang belum ia masukkan sedikit pun ke dalam mulutnya.


“Ada apa dek? Kenapa belum makan juga?” sapa Emir.


“Aku rasanya kenyang banget bang,” sahut Helena.


“Tumben, biasanya apa saja masuk ke perut mu.” ujar Emir seraya menambah nasi ke piringnya.


“Helena, makanlah walau hanya sedikit nanti kau masuk angin,” ujar Rahma.


“Aku kenyang banget bu.” Helena tetap tak mau makan meski mertuanya yang meminta.


“Aduh Bia, kau pintar sekali sayang, tante jadi terharu...” ucap Helena, meski dalam hatinya ia sedikit kesal.


“Mama yang kasih tahu tante, makanya tante jangan sisakan makanan ya, karena itu dosa tan, nasi yang sudah di ambil wajib di habiskan,” terang Bia.


“Benar kata Bia Helena, banyak orang di luar sana yang ingin makan, tapi tak kesampaian, habiskan makanan mu ya,” ucap Yudi.


Helena pun menelan salivanya, ia tak dapat menolak lagi, sebab yang bicara langsung adalah Yudi sang ayah mertua.


Hem... dasar Bia, enggak ibu dan anak, selalu jadi bahan pujian, ya Allah kapan kau berikan aku keturunan, aku juga ingin jadi pusat perhatian keluarga ini, batin Helena.


Selesai makan, Emir yang tak ada kegiatan mengajak Bia bermain ke kolam berenang.


Emir yang begitu sayang pada Bia membuat Helena cemburu buta. “Pada hal aku ingin bermanja-manja dengan bang Emir, tapi kenapa sih, dia sering banget menghabiskan waktu dengan Bia, kembali ke kamar kalau enggak jam 22:00 jam 23:00 malam, dan saat itu aku sudah mengantuk, kebagian ngobrol hanya sebentar doang, hem... andaikan aku punya anak, pasti perhatian bang Emir fokus pada ku dan anak ku, batin Helena.


Helena yang melamun di pintu masuk kolam berenang di lihat oleh Emir.


“Dek! Ngapain berdiri disitu? Sana masuk kamar, tidur! Besok kau kan harus bekerja.” ucap Emir, yang membuat Helena makin marah.

__ADS_1


Bukannya ajak gabung, malah suruh tidur! batin Helena.


Lalu ia pun menghempaskan kuat kakinya ke lantai, selanjutnya ia melangkah kasar meninggalkan Emir dan Bia.


“Kenapa dia?” gumam Emir.


Pukul 22:00 malam, Emir kembali ke kamar, saat baru masuk, ia di kejutkan dengan Helena yang menangis di atas ranjang.


“Kau kenapa dek?” tanya Emir seraya duduk mendekat ke ranjang.


Namun Helena tak mau bicara, air matanya terus saja mengalir.


“Helena, ade ku sayang, kau kenapa? Bicara sama abang sayang, apa kau di gigit semut?” tanya Emir kembali seraya mengusap puncak kepala istrinya.


“Aaahh! Bang Emir emang enggak peka pada istri sendiri!” pekik Helena.


“Maksudnya gimana sayang? Coba cerita...” Emir membujuk istrinya agar mau bicara.


“Akhir-akhir ini, perhatian mu selalu tertuju pada Bia, main terus dengannya, pada hal waktu kita bertemu enggak banyak kalau aku enggak libur, sedangkan kau yang kerjanya bebas cuma main video dan endorse bisa kapan saja bertemu Bia, itu juga abang enggak ngerti, kalau aku ingin lebih lama dengan abang! Hiks... harusnya malam kan jatah ku bersama abang, jangan dengan orang lain lagi!” Helena meluapkan kekesalannya pada suaminya.


“Astaga Naga! Ya Tuhan, begitu saja kau permasalahkan? Pada Bia juga kau cemburu? Pada hal dia hanya anak kecil, keponakan mu.” Emir menyeka air mata yang membasahi wajah istrinya.


“Biar saja! Dan juga...”


“Apa lagi??” tanya Emir.


“Abang enggak pernah upload photo ku di media sosial abang.”


“Ada kok,” ucap Emir.


“Cuma 1, itu juga photo pernikahan kita bersama seluruh keluarga, tapi kalau photo Bia banyak abang upload, di feed dan juga story, hiks... sebenarnya aku ini istri kandung apa tiri mu sih bang? Abang kok tega banget pada ku? Apa aku kurang cantik? Kurang seksi? Atau kau punya kupu-kupu loyo di luar sana?” sikap cuek Emir membuat pikiran negatif Helena meningkat pesat.


“Dek, mana mungkin aku ada selingkuhan, aku enggak unggah photo mu atau kebersamaan kita karena enggak ingin privasi kita di ketahui oleh orang lain, aku juga enggak mau seperti yang lain, segala kegiatan dari A sampai Z nya di ketahui dunia, lagi pula kau dan aku baik-baik saja di dunia nyata, kita juga mesra, aku datang ke tempat kerja mu, ajak kamu jalan-jalan juga, memberi jatah bercinta 3 kali sehari, apa lagi kurangnya? Duit aku kasih tiap bulan meski pun enggak banyak, tiap hari aku ada di samping mu tidur, pada hal kalau aku mau, banyak yang menawarkan syuting ke luar kota dan juga luar negeri, tapi ku tolak, karena tak ingin meninggalkan mu, ku ambil yang bisa pulang harian dan masih dalam jangkauan ku, ku perbanyak konten yutub, dan mencari kreasi baru, itu semua demi kau dek, agar abang dan ade enggak terpisah meski sehari pun, buat apa banyak uang kalau harus meninggalkan istri lama-lama.” Emir menerangkan situasi sebenarnya pada istrinya.


Helena yang tadinya menangis badai perlahan mereda.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2