
“Sudah, jangan nakal lagi ya, kita fokus dulu pada Bia,” ujar Beeve.
“Iya sayang.” jawab Andri seraya tersenyum manja. Setelah 1 jam kemudian, mereka pun tiba di kediaman Abraham.
“Ini rumahnya mas?” tanya Beeve.
“Menurut alamat sih bener yang,” jawab Andri.
Keduanya pun turun dari dalam taksi, dan langsung menuju rumah Abraham yang sederhana tak memiliki gerbang.
Tok tok tok! Andri mengetuk pintu rumah Abraham.
Tak lama, dari dalam rumah ada yang membuka pintu.
Ceklek, krieett...
“Selamat malam om.” sapa Andri dan Beeve.
“Malam, dengan siapa ya?” ucap Abram dengan mimik wajah bingung.
“Kenalkan saya Andri, dan ini istri saya Beeve.” Andri dan Beeve pun menjabat tangan Abraham.
“Oke, ada perlu apa kesini? Karena saya merasa kita tidak saling kenal,” ucap Abraham.
“Kami adalah orang tua dari Bia, cucu dari tante Celine, dan kita dapat kabar dari tante langsung kalau Bia berada disini.” terang Andri tanpa berbasa-basi lagi.
“Oh ya?” Abraham merasa aneh karena Celine tak memberitahu sebelumnya.
Ketika ia masih bingung harus mempersilahkan tamunya masuk atau tidak, tiba-tiba Meri istri dari Abraham muncul ke dekat pintu dengan menjewer telinga seorang gadis kecil.
“Dasar nakal kau ya! Aku kan sudah bilang, jaga Zea selagi tidur, kenapa malah pergi ke dapur?!” Meri memarahi gadis kecil tersebut.
Beeve yang melihat sekilas wajah gadis itu pun dapat mengenali, kalau itu adalah Bia putrinya sebab parasnya sangat mirip dengan Cristian.
“Bia!” Beeve memanggil nama putrinya, Bia pun menoleh ke arah Beeve yang tak ia kenali.
Meri yang melihat ke hadiran Beeve dan Andri pun sontak melepas jeweran yang ia lakukan pada Bia.
“Mereka siapa mas?” tanya Meri dengan wajah yang judes.
“Ibu dan ayah sambung Bia,” terang Abraham.
“Bia!” Beeve yang tak bisa membendung rasa rindunya menerobos masuk sebelum di persilahkan.
“Eh, dasar enggak punya sopan santun!” pekik Meri.
__ADS_1
Beeve pun berjongkok memeluk tubuh putri kecilnya dengan berderai air mata.
“Bia!! Sayang!!” Beeve mencium setiap inci wajah putrinya, Andri yang melihat ikut menitihkan air mata.
“Kakak siapa ya?” tanya Bia dengan wajah bingung.
“Ini mama nak, kau enggak kenal mama?” ucap Beeve dengan masih memeluk Bia.
“Mama yang meninggalkan aku, karena aku nakal?” ucap Bia.
“Sayang, Bia enggak pernah nakal sayang.”
“Bohong! Mama dan papa meninggalkan aku karena aku nakal.” Bia menangis, sebab ia juga sangat merindukan kedua orang tuanya.
“Enggak nak, mama yang salah bukan Bia.” Beeve menyeka air mata Bia yang mengalir.
“Tapi kata nenek Celine, itu semua karena aku nakal, dan nenek Meri juga bilang begitu, mama enggak suka Bia, karena Bia buat mama sakit, hiks...”
“Mama pergi bukan karena kau nakal sayang tapi...”
“Tapi karena mama mu itu wanita nakal Bia! Dia itu lontong!” sambung Meri.
“Maaf bu, apa maksud ibu memfitnah istri saya?” tanya Andri dengan wajah gusar.
“Fitnah dari mana maksud mu? Dia memang gadis nakal kan? Hamil di luar nikah, dan meninggalkan putrinya pada Cristian, kita sekeluarga tahu, ibunya Bia itu wanita macam apa, pelacu*r! Lacur tahu enggak!”
“Hei, tolong jangan buat ribut di rumah ku,” ucap Abraham.
“Iya betul! pergi sana! Nanti rumah ku jadi kotor karena kehadiran wanita panggilan gila ini!” Meri yang sombong menarik tubuh Bia dari hadapan Beeve.
“Ayo Bia, kembali ke kamar! Jaga adik mu Zea!” ketika Meri ingin menggenggam tangan Bia, Beeve menepis tangan Meri.
“Bu, jangan suruh-suruh putri ku, dan aku kesini bukan untuk buat rusuh, kami hanya ingin menjemput Bia!”
“Apa? Memang sudah ada izin dari kak Celine?”
tanya Meri dengan wajah tengil.
“Ada atau enggak itu tidak penting, karena Bia adalah putri kandung ku!” Beeve yang emosi meninggikan suaranya.
“Enak saja kalau bicara! Kalau enggak ada izin, kalian enggak bisa bawa Bia, lagi pula kalau kalian bawa dia, yang menjaga cucu ku Zea siapa? Enak banget, kak Celine sudah meminjamkannya pada ku selama seminggu, kalau mau ambil, tunggu satu minggu lagi!” pekik Meri.
“Anak ku bukan pembantu ya!” Beeve pun menggendong Bia.
“Tapi, aku sudah memberinya makan dan tempat tinggal gratis, kau pikir kak Celine mau padanya? Sejak Cristian pergi karena menyelamatkan anak ini waktu tenggelam di kolam, hidupnya enggak jelas, hanya aku yang mau berlama-lama merawatnya! Dari Paris hingga pindah kesini lagi, jadi dia harus balas jasa dong!” terang Meri.
__ADS_1
“Bagaimana ini pak? Kalau kalian enggak mau dengan cara baik-baik, maka kami akan menempuh jalur hukum, kami juga akan melakukan visum terhadap Bia, jika di temukan bekas penganiayaan, maka siap-siap untuk masuk buih, terlebih istri mu juga sudah mengakui, kalau anak kami harus balas jasa, pada hal Bia masih anak di bawah umur.”
Abraham terdiam, karena selama ini Bia tinggal dengan mereka tidak cuma-cuma. Bia juga sering mendapat pukulan apabila tak menyenangkan di mata keluarga Abraham.
“Baiklah, kalian boleh bawa Bia, asalkan jangan main hukum,” pinta Abraham.
“Kau apa-apaan sih mas?! Kenapa memberi Bia begitu mudah pada mereka?!” Meri mengamuk, sebab ia yang malas menjaga cucunya masih membutuhkan tenaga Bia, meski itu tak seberapa, setidaknya lumayan untuk membentunya hal-hal ringan.
“Sudahlah Mer!” ucap Abraham, yang takut terseret ke penjara.
“Heh Bia! Memangnya kau mau ikut wanita murahan ini?! Di sudah meninggalkan mu selama ini loh!” Meri mencoba mempengaruhi Bia.
“Tante! Jaga omongan mu!” Beeve mendorong tubuh Meri hingga menjauh darinya dan Bia.
“Dasar ******! Benar kata kak Celine, kau gadis nakal, kasar dan tak berpendidikan! Gadis tak dapat menjaga kehormatannya mau mengasuh anak? Jangan-jangan setelah Bia di tangan mu, dia malah mengikuti jejak mu yang salah! Melalukan Zina dengan berbagai pria, lalu bunting tanpa suami!” Bia menangis saat mendengar kata-kata kasar dari Meri, meski ia tak paham artinya, namun nada suara Meri yang melengking membuat Bia takut.
“Kurang ajar sekali kau kalau bicara, tanpa mengenal ku mengatakan kata-kata tidak menyenangkan! Aku enggak akan memaafkan mu! Akan ku masukkan kau dan orang-orang yang menyakiti putri ku ke dalam penjara!” sebenarnya Beeve tak masalah di hina seperti apapun, namun yang membuat ia tak terima, putrinya harus mendengar kata-kata vulgar dari orang dewasa, pada hal orang tersebut adalah keluarga dari putrinya sendiri.
“Apa kau bilang lontong?! Beraninya kau mengaancam ku?!”
“Aku enggak mengancam! Tunggu saja penjemputan mu!”
“Bia! turun dari gendongan pelacu* ini! Apa kau mau ikut dia?!” tanya Meri dengan mata melotot.Bia yang merindukan ibu kandungnya memeluk Beeve dengan erat.
“Aku mau sama mama, Bia ikut ma, hiks...” Bia meminta di bawa oleh Beeve dengan suara yang serak.
Beeve yang tak tahan di rumah itu pun segera keluar. Meri yang ingin menyusul Beeve dan Bia di cegah oleh suaminya.
“Jangan kejar Mer.”
“Tapi mas...”
“Jangan kejar lagi bu Meri, dan untuk mu pak, perjanjian kita batal, andai saja istri mu enggak sesumbar pada istri dan anak ku, pasti semua bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan,” terang Andri.
“Tapi... saya sudah menyerahkan Bia?”
“Betul, tapi sekarang urusan kalian dengan istri ku, kalau dia bilang lanjut, tentu aku mendukungnya! Permisi pak, bu.” Andri pun keluar dari yang menyesakkan itu, lalu Abraham menelan salivanya.
Kini ia harus di repot karena urusan yang mungkin saja menjeratnya ke penjara.
“Istri kurang ajar! Harusnya kau patuh sekali di bilang! Dasar jahanam! Kau enggak mengerti keadaan, awas saja kalau aku terbawa-bawa, apa lagi sampai jadi tersangka, ku habisi nyawa mu! Dasar kau hanya bisa buat aku emosi!” Abraham memaki Meri karena kesal.
“Ma-maafkan aku mas, aku salah,” ucap Meri dengan gemetaran.
“Sudah terlambat tolol! Terima bagian mu, kalau sampai kita kena pasal!”
__ADS_1
...Bersambung......