Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_13


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan sekarang Aldo nampak gelisah, setelah jam kuliahnya usai, Aldo langsung keluar mencari keberadaan Sila, tapi hampir setengah jam Aldo tidak melihat sosok Sila.


Aldo pun sudah mengelilingi kampus, dari mulai kantin sampai tempat yang lain, tapi sama sekali tidak ada hasilnya.


"Sila, kamu di mana sih, perasaan tadi pagi kamu kan berangkat duluan sama kak Rafael, tapi kok di kampus enggak ada sih," gerutu Aldo, ia terlihat sangat panik.


Kemudian Aldo mengambil benda pipih yang berada di dalam tasnya, dengan segera ia menelfon nomor Sila, tapi sungguh sial, nomor yang Aldo tuju sedang tidak aktif.


"Kok enggak aktif sih," kesal Aldo, hampir 10 kali ia mencoba menelfon nomor Sila, tapi hasilnya nihil.


"Mending aku telfon kak Rafael aja,"


ucapnya, dan bergegas menelfon nomor Rafael.


[ Halo, kak apa Sila sekarang sama Kakak, soalnya di kampus Aldo enggak lihat Sila ]


[ Apa, terus Sila sekarang ada di mana ]


[ Ya udah, Aldo akan segera pulang ]


Aldo pun segera menutup telfonnya, setelah itu ia bergegas menuju ke parkiran untuk mengambil motornya dan bergegas pulang.


Dalam perjalanan pikiran Aldo benar-benar kacau, ia takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan wanita yang pernah mengisi hatinya.


***


Di sebuah gedung yang tua dan juga kumuh seorang gadis baru saja sadarkan diri, ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk bisa menormalkan pandangannya.


Setelah kelompok matanya terbuka sempurna, ia pun mengedarkan pandangannya, dia adalah Sila.


"Aku di mana," lirihnya, ia mencoba menormalkan pandangannya.


Tiba-tiba dua pria tinggi bertubuh kekar datang menghampiri Sila, seluruh tubuhnya hampir penuh dengan tato, otot-ototnya yang jelas sekali terlihat, serta wajah sangarnya membuat Sila bergidik ngeri.


Terlebih tatapan matanya yang sangat tajam, seperti singa kelaparan yang hendak menerkam mangsanya.


Perlahan Sila menggeser-geserkan tubuhnya untuk menjauh.


"Sudah bangun rupanya bos, kita apa kan bocah ini bos," ujar salah satu orang tersebut.


"Kita biarkan saja, kita tunggu perintah bos besar selanjutnya," sahutnya. Kemudian dua pria itu berjalan keluar.


Setelah dua pria itu pergi, Sila bisa bernafas dengan lega.


Keringat dingin sempat menetes, saat melihat dua pria itu.


Sekarang Sila harus berfikir agar ia bisa kabur dari tempat tersebut.


Sila sangat berharap, semoga suami tercintanya datang menolongnya, ia takut jika nanti kedua pria itu akan menyakitinya, dan hanya sang suami satu-satunya harapan Sila.


"Kak Rafael, tolongin Sila, Sila takut Kak di sini," ratap Sila, tak terasa cairan bening itu menetes.


Sila ingat betul, setelah kehadiran masa lalu Rafael, dan ibu mertuanya, keadaannya akan terancam.


Hal itu benar adanya, mertuanya yang sama sekali tidak menyukainya, pasti akan mencari cara untuk menjauhkan Rafael dari Sila.


Andai saja Sila tau, jika ada orang yang tidak setuju dengan perjodohan itu, pasti Sila akan menolaknya, tapi semua sudah terjadi.


Sila hanya bisa berharap, semoga suatu saat nanti, ibu mertuanya mau menerima Sila sebagai menantunya.


***


Sementara itu, Aldo dan Rafael saat ini sudah berada di rumah.


Mendengar kabar jika istrinya tidak berada di kampus, Rafael segera pulang untuk memastikannya.


Rafael tiba di rumah sesaat setelah Aldo tiba.


Rafael kini tengah sibuk mencari keberadaan istrinya itu, begitu juga dengan Aldo, ia juga ikut membantu Kakaknya untuk mencari keberadaan Sila, gadis yang pernah mengisi hatinya.


"Gimana Do, kamu sudah ada petunjuk?" tanya Rafael, raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


Aldo hanya menggelengkan kepalanya, pertanda jika Aldo juga belum mendapatkan petunjuk, di mana keberadaan Sila.


Rafael terduduk di sofa, mengusap wajahnya dengan kasar, perasaan dan pikirannya benar-benar kacau.


Jika bisa memutar waktu, Rafael pasti tidak akan meninggalkan Sila sendiri, ia pasti akan mengantarkan istrinya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.


Rafael merasa bersalah, karena dirinya kini istrinya entah di mana keberadaannya.


Rafael terus merutuki kebodohannya sendiri, ia merasa jika dirinya bukan suami yang baik.

__ADS_1


Menjaga istrinya saja ia tidak bisa, sekarang Rafael tidak tau bagaimana nasib Sila, gadis yang sangat ia cintai.


Seperti mendapatkan ide, Rafael langsung bangkit dari duduknya, dan berlari menuju ke ruang kerjanya.


Aldo tersentak saat melihat Kakaknya berlari naik ke atas, merasa penasaran, Aldo pun mengikuti sang Kakak.


Setibanya di ruang kerja, Rafael langsung membuka leptopnya, jarinya segera berkutat di atas keyboard, sementara Aldo hanya berdiri dan menyaksikan Kakaknya.


"Gimana Kak?" tanya Aldo, setelah melihat Rafael menghentikan aktivitasnya.


"Kamu tau tempat ini di mana Do?" tanya Rafael, sembari menunjuk lokasi yang terdapat di leptop tersebut.


Aldo pun mendekat, dan melihat lokasi yang Kakaknya tunjuk itu.


Aldo berfikir sejenak, setelah ia merasa benar-benar ingat di mana tempat tersebut, Aldo segera memberitahukan pada sang Kakak.


"Aldo tau di mana tempat itu berada Kak," ujar Aldo dengan mantap.


Setelah itu, Rafael langsung menutup leptopnya, dan segera keluar dari ruang kerjanya, tak lupa leptop tersebut pun ia bawa.


Sementara itu, Aldo mengikutinya dari belakang, tapi baru saja tiba di bawah, suara ibunya menghentikan langkah Rafael dan juga Aldo.


"Kalian mau kemana?" tanya Maya. Seketika Rafael dan Aldo mengehentikan langkahnya, dan menoleh ke sumber suara tersebut.


"Kami ada perlu ma, permisi," ucap Rafael, dan berlalu dari hadapan ibunya.


Sementara itu, Aldo hanya mengangkat bahu, lalu berjalan mengikuti langkah Kakaknya.


Maya hanya mendengus kesal, sikap kedua putranya sungguh membuat Maya naik darah.


Ia tidak habis pikir, kenapa dua putranya bisa berubah seperti itu, padahal dulunya anak yang penurut.


Rafael langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia segera menuju ke lokasi di mana Sila berada.


Rafael tetap fokus menyetir, sementara Aldo mengambil alih leptop yang Rafael bawa, ia mengawasi jika Sila masih berada di tempat tersebut.


Rafael beruntung, karena sempat memasang GPS di handphone istrinya, berkat itu ia bisa melacak keberadaan sang istri.


Tak butuh waktu lama, kini Rafael dan Aldo tiba di gedung tua yang sangat jauh dari pemukiman.


Rafael menghentikan laju mobilnya, perlahan ia mengedarkan pandangannya, setelah di rasa aman, keduanya segera keluar dari mobil.


"Aku yakin, gedung ini dijaga dengan ketat," bisik Rafael, dan dibalas anggukan oleh adiknya.


"Kita harus hati-hati Kak," ujar Aldo.


Perlahan mereka pun mulai masuk ke dalam.


Benar saja, setelah keduanya berhasil masuk ke dalam, banyak penjaga yang tengah berkeliaran, tubuh tinggi dan berbadan besar dan kekar, tapi semua itu tidak menyiutkan nyali Rafael dan Aldo.


Keduanya tetap pada tujuannya, yaitu menyelamatkan Sila.


Rafael terus mengedarkan pandangannya, agar cepat menangkap sosok gadis yang ia cari, begitu juga dengan Aldo, dan setelah hampir satu jam, mereka berhasil menemukan di mana Sila disekap.


Mata Rafael memanas saat melihat keadaan istrinya yang terduduk di lantai, dengan kaki dan tangan yang terikat.


Perlahan Rafael mendekat, sementara Aldo berjaga-jaga takut orang-orang tersebut datang.


Wajah Sila terlihat berbinar saat melihat suaminya datang, rasa syukur karena yang ia harapkan datang juga.


"Kak Rafael," ujar Sila, setelah melihat suaminya datang.


Rafael langsung memeluk tubuh mungil sang istri, tak lupa mengecup kening dan puncak kepala sang istri.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rafael, sembari melepas ikatan yang melilit kaki dan tangan Sila.


"Sila baik-baik saja Kak," sahut Sila.


Namun sial, baru saja selesai melepas ikatan yang mengikat kaki dan tangan Sila, tiba-tiba pria bertubuh besar itu datang.


Lebih dari 5 orang yang sudah berdiri di belakan Rafael dan Sila. Dengan cepat, Rafael menarik tubuh sang istri dan mendekapnya.


"Punya nyali juga, berani datang ke kandang macan," ucap salah satu pria tersebut.


"Apa tujuan kalian menculik istriku, apa salah dia," ujar Rafael, matanya melirik kanan kiri memastikan jika mereka tidak menyerang dengan tiba-tiba.


Tiba-tiba saja, seorang pria berbadan besar dan kekar, serta tubuh yang di penuhi oleh tato datang dan berdiri di tengah-tengah di antara pria tersebut, mungkin pria itu bosnya.


Matanya menatap tajam ke arah Rafael dan juga Sila, seketika tubuh Sila bergetar, Rafael yang menyadari itu, ia semakin mempererat dekapannya.


"Siapa saja yang berani datang ke tempat ini, maka dia tidak akan pulang dengan selamat, termasuk kamu," seru pria itu, sembari menunjuk ke arah Rafael.

__ADS_1


Tawa dari anak buah pria itu menggelegar, seakan meremehkan.


Kepanikan semakin menjalar, saat pria-pria tersebut berjalan mengitari Rafael dan Sila, tentunya dengan tatapan tajamnya, yang seakan-akan siap untuk menerkam.


Tanpa hitungan detik, pria bertubuh kekar itu mulai menyerang Rafael secara bersamaan.


Dengan sigap Rafael menepis serangan tersebut, tangannya tidak lepas dari Sila, ia takut jika Sila dilepaskan begitu saja, mereka akan mengambil keuntungan, untuk membawa kabur gadisnya itu.


Aldo yang melihat Kakaknya dikeroyok, dengan segera keluar dari persembunyiannya dan ikut membantu Rafael melawan pria-pria tersebut.


Perkelahian terjadi cukup lama, dan semakin memanas. Sila hanya bisa berdo'a semoga Rafael dan Aldo bisa mengalahkan para penjahat itu.


Setelah hampir satu jam berkelahi, tenaga Rafael dan Aldo terkuras habis, sementara para penjahat itu semakin bringas.


Rafael yang merasa jika suasananya tidak memungkinkan, dengan segera menyuruh Aldo dan Sila pergi.


"Aldo, cepat bawa Sila pergi dari sini," pinta Rafael, dengan nafas yang terengah-engah, matanya tetap siaga.


"Tapi Kak ... Terus Kak Rafael bagaimana," ujar Aldo, yang memang sangat mengkhawatirkan sang Kakak.


"Kamu tenang saja, keselamatan Sila lebih penting, sekarang cepat kalian pergi dari sini," tegas Rafael. Tapi Aldo dan Sila masih berdiri di tempat.


Tiba-tiba pria tersebut melayangkan pisau ke arah Sila, Rafael yang melihatnya segera menarik tubuh istrinya, dan menghalangi pisau tersebut dengan tangannya, alhasil telapak tangan Rafael mengeluarkan cairan merah, karena goresan pisau tersebut.


Rafael segera menendang pria tersebut, dan dengan cepat ia juga mendorong tubuh Sila ke arah Aldo, dan menyuruhnya mereka untuk pergi, sementara Rafael kembali melawan penjahat itu.


"Cepat kalian pergi dari sini," seru Rafael, di sela-sela melawan penjahat tersebut.


Dengan ragu-ragu Aldo menarik tangan Sila untuk pergi dari tempat tersebut, tetapi setelah mereka menjauh, Sila menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Aldo merasa heran.


"Sila ada apa, cepat kita pergi dari sini," ujar Aldo, tangannya kembali menarik tangan Sila, tapi Sila menepisnya.


Dahi Aldo berkerut, ia tidak tau apa yang sedang gadis itu pikirkan, nyawanya sedang terancam, tetapi seolah-olah dia baik-baik saja.


Aldo pun terpaksa berhenti dan menoleh ke arah Sila.


"Ada apa Sil?" tanya Aldo. Matanya menatap tajam ke arah Sila.


"Kalau kamu mau pergi silahkan, aku akan tetap di sini, aku enggak bisa biarin kak Rafael sendirian," tukas Sila dengan mata yang sudah memerah.


"Tapi Sil ... aku yakin kak Rafael bisa jaga diri," ujar Aldo, tetapi Sila sama sekali tidak menghiraukannya.


Sila berjalan dan bersembunyi di balik dinding. Sila bisa melihat dengan jelas bagaimana suaminya tengah berjuang melawan para penjahat itu.


Tanpa rasa ampun penjahat itu melayangkan pukulan dan tendangan ke arah Rafael.


Sementara Aldo terlihat sangat gusar, ia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian mencoba berfikir untuk bisa selamat dari para penjahat itu.


Setelah cukup lama berfikir, Aldo mendapat ide, dengan cepat ia merogoh saku celananya, untuk mengambil benda pipih yang ia bawa.


Air mata Sila menetes saat melihat tubuh suaminya jatuh tersungkur.


Ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh Rafael yang sudah sangat lemah, tapi apa daya, jika Sila keluar sama saja ia menyerahkan nyawanya.


"Kak Rafael, kamu pasti bisa," lirih Sila dengan air mata yang semakin deras.


Dengan tertatih Rafael mencoba untuk bangun, meski tenaganya sudah terkuras habis, tapi semangatnya belum sirna.


Namun tanpa di duga, salah seorang penjahat tersebut, melayangkan balok kayu ke kepala Rafael bagian belakang. Buuuk.


Seketika darah segar muncrat dari mulut Rafael, dan detik itu juga tubuh Rafael perlahan terhuyung jatuh ke lantai.


Selang beberapa detik, suara sirine polisi terdengar, dan dentuman tembakan yang membuat para penjahat itu kocar-kacir.


Sila yang melihat kejadian itu, seketika ia menjerit dan berlari menghampiri suaminya itu.


"Kak Rafael," jerit Sila, seraya berlari menghampiri Rafael.


Sila langsung menopang tubuh Rafael di pangkuannya.


Darah segar mengalir dari kepala bagian belakang, hidung, serta mulutnya.


Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka lebam, sementara itu lidah Sila terasa kelu, ia tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya menangis.


Rafael terbatuk-batuk menahan sesak dan sakit yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.


Perlahan tangan kanan Rafael terangkat dan hendak memegang wajah sang istri, yang sudah basah oleh air matanya.


Namun pandangan Rafael mulai gelap, dan saat itu juga tangan Rafael terayun jatuh lalu detik itu mata Rafael terpejam.


Seketika tangis Sila pecah, ia menggoncang-goncangkan tubuh Rafael, berharap suaminya kembali membuka matanya, sementara Aldo masih berdiri mematung di samping Sila, ia tidak tega melihat kondisi Kakaknya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2