Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 177 (The Power Of Emir)


__ADS_3

Hari yang sudah makin siang membuat Beeve benar-benar rugi waktu karena kedua orang tua Arinda. Terlebih banyak pelanggan yang datang menunggu di luar restoran.


Akh! Benar-benar sialan! Enggak anak dan orang tua, sama-sama bikin naik darah, batin Beeve.


Dimas dan Elia yang tak kunjung bangkit membuat Beeve serba salah.


“Baiklah! Aku akan menemui Arinda, bisakah kalian berdua bangkit?!” mendengar Beeve yang setuju membuat Dimas dan Elia bersemangat.


“Benarkah?” Dimas bangun dari sujudnya.


“Iya!” ucap Beeve dengan judes.


“Kalau begitu kita sama-sama ke penjara saja, bagaimana?” ujar Dimas, membuat Beeve menurunkan alisnya.


Maksa banget! Nyebelin! batin Beeve.


Beeve pun menghela nafas panjang, “Baik, kita sama-sama kesana,” ucap Beeve.


Setelah Beeve setuju, Dimas dan Elia baru mau bangun dari perbuatan konyolnya.


Sebelum berangkat ke rutan, Beeve membrifing karyawannya terlebih dahulu. Selanjutnya, Beeve dan kedua orang tua Arinda berangkat ke penjara.


30 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rutan. Beeve dan kedua orang tua Arinda pun duduk di kursi tunggu khusus tamu.


Tak lama, Arinda yang memakai pakaian lapas datang menjumpai mereka. Melihat wajah Beeve Arinda seolah mendapat sebuah harapan.


“Bee!” Arinda pun duduk di hadapan Beeve dan kedua orang tuanya.


“Kemana saja kau selama ini Bee.” Beeve mengernyitkan dahinya, karena Arinda nampak tak ada segan, atau rasa bersalah sama sekali padanya.


“Jangan banyak omong deh, ada apa kau mencari ku? Sampai-sampai orang tua mu membuat repot pada ku!” pekik Beeve.


“Bee, aku ingin minta maaf pada mu atas kesalahan ku selama ini, maaf karena aku telah khilaf menyakiti mu dan juga anak Hana,” terang Arinda.


“Namanya Bia, bukan Hana, dan aku akan katakan pada mu dengan tegas, takkan ada kata maaf atas semua perbuatan keji mu pada ku di masa lalu, aku datang kesini juga karena terpaksa!” Arinda menelan salivanya karena Beeve begitu kasar padanya.


“Hei Bee, bicaralah lebih halus, kasihan Arinda,” ucap Elia.


“Apa sih tan! Dari tadi kalian bikin aku kesal terus! Kalau hanya soal maaf yang ingin kau katakan pada ku, aku sudah mendengarnya, sekarang aku mau pergi, tante dan om, jangan pernah datang lagi ke tempat usaha ku, kalau enggak, jangan salahkan aku, kalau berbuat kasar!” Beeve yang ingin bangkit dari duduknya di tahan oleh Arinda.


“Tunggu Bee!”


“Apa lagi sih?!” ucap Beeve dengan mata melotot.


“Selain mengatakan kata maaf yang tulus dari dalam hatiku, aku juga ingin minta tolong pada mu.”


“Apa? Kau ingin minta tolong pada ku? Aku enggak salah dengar tuh?”


“Enggak Bee, aku ingin meminta tolong untuk yang terakhir kalinya pada mu, berhubung aku juga pernah membantu mu saat kita masih sekolah, tolong bantu aku kali ini saja!”

__ADS_1


“Hah?” Mulut Beeve menganga, ia tak menyangka Arinda begitu tak tahu diri. “Aku enggak mau menolong mu maaf saja ya!” Beeve benar-benar jijik pada Arinda.


“Bee, please! Hanya 1 permintaan ku, tolong keluarkan aku dari sini, hanya itu, aku sudah menyadari semua perbuatan ku, aku berjanji, akan menjauhi mu, takkan mengganggu kehidupan mu dengan mas Andri kalau aku keluar dari sini!” Beeve menghela nafas panjang, rasanya ia ingin sekali memakan Arinda hidup-hidup.


“Heh bangsat! Kalau kau mau keluar, tunggu 100 tahun lagi!”


“Bee! Ku mohon, kasihanilah aku, bagaimana pun juga, kita berdua pernah berbagi suka dan duka bersama, aku juga pernah merawat Hana saat kau terpuruk.” Arinda mulai menangis dan menggenggam tangan Beeve.


“Betul-betul gila, orang tua dan anak sama saja! Enggak waras! Kau pikir aku akan melakukannya? Hah? Jangan harap ya! Dan satu lagi, memangnya yang menjebloskan mu ke penjara aku?” Arinda menggelengkan kepalanya.


“Itu kau tahu sendiri! Kalau mau minta bantuan, padanya saja, tapi ku rasa dia enggak akan mau mengeluarkan mu! Karena kau bukan manusia, bahkan kau lebih kejam dari pada Setan!” pekik Beeve.


“Bee! Jangan begitu pada Arinda, kasihan dia, dia sudah sangat menderita dalam penjara, tolong jangan terlalu membebani pikirannya!” pinta Dimas, yang tak tahan akan kata-kata pedas Beeve.


“Diam! Kalau enggak mau aku berkata kasar pada anak mu! Jangan suruh aku menemuinya, kalian tahu, aku rugi besar meluangkan waktu berharga ku untuk kalian sekeluarga! Benar-benar bikin jijik!” Beeve yang merasa telah cukup membuang waktunya untuk keluarga Arinda pun memutuskan pergi.


Dasar! Keluarga enggak tahu diri! batin Beeve.


Ia yang telah keluar dari rutan pun segera memesan taksi untuk kembali ke restorannya.


Pada malam harinya, Beeve yang ikut mengantar pesanan para pelanggan pun di perhatikan oleh Emir yang baru pulang kerja.


“Pada hal dia adalah bos, tapi mau antar-antar makanan, luar biasa, beruntung banget si tua bangka Andri mendapatkan Beeve.” gumam Emir yang masih berada dalam mobilnya.


Ia yang tak sabar ingin bertemu Beeve pun turun, dan segera masuk ke dan restoran. Emir yang baru tiba, bingung harus duduk dimana, sebab semua meja telah penuh.


“Waduh, aku harus duduk dimana nih?” Emir menggaruk kepalanya, ia yang merasa sebagai tamu istimewa pun mendatangai Beeve yang sedang sibuk membantu para pramusaji menulis list pesanan.


“Eh, ada apa mas?” tanya Beeve.


“Aku duduk dimana? mejanya penuh semua,” ucap Emir.


“Ke dapur saja mas.” ucap Beeve yang kemudian meninggalkan Emir menuju dapur.


“Hah? Masa aku makan di dapur.” walau merasa aneh, Emir tetap menyusul Beeve ke dapur.


Baru saja ia sampai di sana, tiba-tiba Beeve memberikan 1 nampan berisi makanan khas Korea pada Emir.


“Tolong antar ke meja 25!” titah Beeve.


“Apa? Aku kan bukan pelayan!” pekik Emir.


“Sudah antar saja!” Beeve yang juga membawa nampan berisi makanan di tangannya.


Alhasil, Emir mengikuti perintah Beeve, dengan langkah penuh hati-hati, ia mengantarkan pesanan yang ia bawa ke meja nomor 25.


“Silahkan!” Emir pun meletakkan pesanan pelanggan di atas meja dengan telaten. Ketika pelanggan wanita yang Emir layani melihat wajah Emir, sontak matanya membulat tak percaya.


“Sayang! Sayang, ada Emir!” ucap sang pelanggan wanita pada pacarnya.

__ADS_1


“Mana?” sahut si pria.


Si wanita pun menunjuk wajah Emir dengan memancungkan bibirnya.


“Emir Kan?!” ucap si pelanggan pria.


“Betul!” jawab Emir.


Pasangan sejoli itu ternyata adalah penggemar Emir, alhasil mereka pun minta photo-photo bersama Emir.


Karena hal itu pula, banyak pelanggan lain yang melihat Emir, akhirnya Emir sang sele*gram, harus di sibukkan dengan sesi photo dengan para penggemarnya. Orang-orang yang menguploadnya photonya bersama Emir pun memicu penggemar lain untuk datang ke restoran Beeve.


Malam itu, restoran Beeve bagai pasar malam, ramai akan pelanggan, meja yang tak mencukupi membuat para pelanggan yang datang, memutuskan untuk membungkus makanan.


Beeve tersenyum senang, melihat Emir yang di kerumuni para pengikutnya.


Setiap penggemar yang telah selesai berphoto dengan Emir, Emir selalu berkata, “Tolong buat tagar Bia Food di setiap postingan kalian ya.” tujuannya agar restoran Beeve makin terkenal.


Karena bahan makanan di dapur telah kosong, restoran pun tidak menerima pelanggan yang datang lagi. Dan biasanya, restoran Beeve tutup jam 22:00 malam, namun karena malam itu ramai berkat Emir, restoran pun baru tutup pukul 00:00.


Emir yang kelelahan pun duduk di salah satu kursi kosong, lalu menyeka keringatnya dengan tisu.


“Gila! Aku kapok datang kesini,” gumam Emir.


Lalu Beeve pun tiba-tiba muncul dengan membawa jus jambu segar pada Emir yang keringatan.


“Wah wah! Berkat sang artis, malam itu omset ku naik!” seru Beeve penuh senyum di bibirnya.


“Apa ini?” Emir menunjuk ke arah jus yang baru Beeve bawakan.


“Pelepas dahaga mu mas,” ucap Beeve.


“Ck, kau bayar aku hanya dengan jus jambu merah? Hei Bee, aku sekali endorse itu bisa puluhan bahkan ratusan juta, kau ini! Hanya memberi ku 1 gelas jambu halus pake es? Aku juga lapar Beeve!” Emir yang merasa bagai pahlawan malam itu pun berniat meminta balas jasa dari Beeve.


“Bawel! Aku juga mau memberi mu makan mas, tapi masalahnya, sudah enggak ada lagi yang mau di masak!” ucap ketus Beeve.


Saat keduanya masih adu mulut, tiba-tiba perut Emir yang keroncongan pun berbunyi.


Rugg... Sontak Beeve menoleh ke arah perut Emir.


“Hem... ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang sekarang, mas Emir aku traktir!” ujar Beeve yang membuat Emir kegirangan.


“Ayo, buruan kalau begitu.” Emir pun bangkit dari duduknya. Beeve sendiri sebelum pulang berpamitan terlebih dahulu pada para karyawatinya.


Emir dan Beeve pun masuk ke dalam mobil, kemudian meluncur membela jalan raya yang lenggang karena telah tengah malam.


...Bersambung......


Kisah ini akan membuat mu, marah, kesal, berbunga-bunga dan juga berderai air mata, banyak misteri yang harus di pecahkan pada setiap babnya.

__ADS_1




__ADS_2