
Beeve pun menemui Handoko, yang sedang menyeruput kopinya di bawah pohon.
“Pak, sepertinya sudah mau selesai ya?” ucap Beeve.
“Oh, bu Beeve datang? Benar bu, paling 3 hari lagi semua sudah selesai,” terang Handoko.
“Alhamdulillah kalau memang begitu.”
“Bagaimana, apa ibu suka dengan hasil kinerja tim kami?”
“Suka banget pak, bangunannya sangat rapi, pokoknya saya puas, semoga para pelanggan juga suka.” restoran Beeve yang dulu dan sekarang begitu berbeda, berkat saran sang suami tercinta.
“Aamiin bu, pak Andri benar-benar update ya bu, saya saja suka dengan desain yang ia berikan pas pertama kali melihatnya,” ujar Handoko.
Beeve merasa bangga, saat suaminya dapat pujian dari orang lain.
“Baik pak, kalau begitu silahkan di lanjutkan lagi, karena saya harus pulang sekarang.”
“Siap bu, hati-hati di jalan bu Beeve.” setelah berpamitan, Beeve pun beranjak pulang ke rumah sebab ia kasihan pada sang putri tercinta, harus berpanas-panasan di siang hari yang terik, walau sebenarnya ia masih ingin lebih lama disana.
_________________________________________
Helena yang baru selesai menangani pasiennya tiba-tiba merasa rindu pada Emir.
“Pada hal baru bertemu, tapi rasanya aku masih rindu, telepon bentar ah.” Helena pun mengambil handphonenya yang ada dalam laci kerjanya.
Lalu ia pun melakukan panggilan video call pada pria yang membuat ia mabuk cinta. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Emir mengangkat panggilan darinya juga.
📲 “Ada apa?” Emir.
📲 “Ade rindu bang,” Helena.
📲 “Ck, lagi-lagi main gombal!” Emir.
📲 “Aku serius bang, satu jam tak melihat mu hati ku rasanya hampa, apa lagi sehari, rasanya jiwa dan raga ku ingin berlari menemui mu,” Helena.
📲 “Jangan lebay Helena, kau itu gadis berpendidikan tinggi, tunjukkan wibawa mu sedikit, jangan terlalu receh!” Emir.
📲 “Untuk orang lain aku bisa, tapi khusus bang Emir, aku lemah bang,” Helena.
Astaga Helena, aku enggak ngerti, mau marah atau apa pada mu, batin Emir.
📲 “Kalau begitu sudah dulu, aku mau syuting nih!” Emir.
📲 “Kau syuting dimana bang? Aku boleh datang?” Helena.
📲 “Jangan datang! Bisa-bisa kau bikin malu lagi pada ku,” Emir.
📲 “Tenang saja bang, aku bisa mengondisikan diri, ayo bang, katakan kau syuting dimana? Aku akan datang bawa makanan untuk mu,” Helena.
__ADS_1
📲 “Terimakasih banyak atas perhatiannya Helena, tapi... kau enggak usah datang kesini, dan juga aku enggak bisa bertemu dengan mu hari ini,” Emir.
📲 “Kenapa bang?” Helena.
📲 “Ya karena aku sibuk,” Emir.
📲 “Baiklah kalau begitu, tapi kalau besok bisa kan?” Helena.
📲 “Akan ku pikirkan,” Emir.
📲 “Terimakasih banyak bang Emir, I love you full! Ummmachh... tujuh tikungan dan tujuh tanjakan curam!” Helena.
Setelah sambungan telepon terputus, Emir menghela nafas panjang.
Ia yang ingin menghindari Helena, selalu saja gagal, karena wanita itu begitu berusaha masuk ke dalam hatinya, mirip seperti dirinya pada Beeve.
Tanpa sadar, Emir memberi celah lewat jalur iba pada Helena sang calon istri.
Apa memang, Helena adalah jodoh yang terbaik untuk ku Tuhan? batin Emir.
Walau batinnya belum siap, namun ia tak punya pilihan, terlebih yang ia harapkan, takkan pernah jadi kenyataan, ia juga tak punya cadangan, bila tak mau bersama Helena.
Kalau pada akhirnya aku dan dia bersatu, ikhlaskan hati ku ya Allah, dan buat aku menerima segala keputusan mu dengan lapang dada, bagaimana pun aku juga ingin bahagia, meski tak bersama dia, Tuhan... tolong hapus rasa cinta ku, pada Beeve istri saudara ku, ku mohon, batin Emir.
_________________________________________
Beeve yang berada dalam rumah menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
“Mama, kita mau masak apa?” tanya sang putri tercinta.
“Ayam serundeng, tempe bumbu dan juga sayur bening,” ucap Beeve.
“Kayaknya enak ma, Bia belum pernah makan yang namanya ayam serundeng ma,” ucap Bia dengan polosnya.
“Oh ya?”
“Iya ma.”
“Kalau begitu, Bia mau buat sama-sama dengan mama?” Beeve menawarkan kerja sama pada putrinya.
“Mau ma, tapi nanti Bia boleh makan banyak kan?” tanya Bia yang begitu suka dengan ayam.
“Tentu saja.” kemudian keduanya pun mengolah bahan-bahan yang mereka ingin masak, Bia juga begitu bersemangat membantu ibunya.
Beeve yang ingin putrinya menerima banyak pelajaran darinya, menerangkan bahan-bahan apa saja yang mereka pakai untuk membuat ayam serundeng.
“Untuk membuat ayam serundeng yang lezat dan gurih kita membutuhkan bahan-bahan seperti ayam, 1 butir kelapa parut, 8 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 3 ruas kunyit, 2 ruas jahe, 5 lembar daun salam, 5 batang sereh, 2 ruas lengkuas, garam secukupnya, tambah gula secukupnya, air secukupnya, selanjutnya minyak goreng.” Beeve menjelaskan pada Bia secara terperinci, agar sang buah hati dapat mengenali bahan-bahan dapur tersebut.
“Bahan-bahannya banyak banget ma,” ucap Bia.
__ADS_1
“Tentu saja sayang, untuk membuat sebuah hidangan yang lezat, di perlukan bahan-bahan yang lengkap.” terang Beeve.
“Gitu ya, oh ya ma, kalau sudah besar Bia mau seperti mama, yang pintar masak, agar di sukai suami,” ujar Bia.
“Bagus, tapi yang paling penting dari segalanya, Bia harus sekolah dengan benar, belajar yang rajin, agar bisa menjadi orang sukses!” Beeve menyemangati sang buah hati, agar tak seperti dirinya.
“Iya ma.”
“Bia kalau sudah besar, cita-citanya jadi apa?” tanya Beeve seraya tangannya terus bekerja mengolah bahan masakan.
“Menjaga mama dan papa,” jawab Bia.
“Wah, mulia sekali sayang, menjaga mama dan papa itu memang kewajiban mu, tapi nak... itu berbeda dengan cita-cita.”
“Memangnya cita-cita itu seperti apa ma?”
Oh iya, bodoh banget sih aku, belum jelasin apa-apa, sudah asal kasih pertanyaan, batin Beeve.
“Ehm, cita-cita itu seperti sebuah impian di masa depan, atau pekerjaan yang di minati setelah kita besar, misalnya dokter, guru, atau jadi koki,” terang Beeve.
“Aku mau jadi dokter saja ma, biar bisa obati mama dan papa kalau lagi sakit.”
“Anak mama baik banget sih, mikirin mama dan papa terus, kalau mau jadi dokter, berarti Bia harus giat belajar ya nak, fokus pada satu tujuan, jadilah orang yang sukses untuk dirimu dan juga keluarga.” Beeve mencium kening Bia yang begitu membuatnya terharu.
Semoga kau jadi anak yang sukses nak, perjalanan hidup mu lancar, jangan ikuti jejak mama yang salah, batin Beeve
Ibu dan anak itu pun memasak sambil belajar, hingga tak terasa hidangan makan malam mereka telah selesai.
“Mama, Bia boleh makan sekarang?” Bia yang lapar tak dapat menunggu Andri pulang lagi.
“Boleh nak.” lalu Beeve mengambil nasi untuk putrinya. Bia pun melahap dengan nikmat, hasil masakannya dan ibunya.
“Enak banget ma.” Bia memuji masakan Beeve yang rasanya begitu nikmat tiada dua.
“Kalau enak makan yang banyak, agar Bia cepat besar,” ujar Beeve seraya menambah paha ayam ke piring putrinya.
“Siap mama sayang.” Bia pun melanjutkan makannya hingga selesai.
Malam harinya, Andri yang baru pulang dari kantor pun di sambut hangat oleh sang istri tercinta.
“Assalamu'alaikum sayang,” ucap Andri.
“Wa'alaikum salam mas.” sahut Beeve, lalu ia pun menjabat tangan suaminya, dan Andri pun mencium kening dan bibir istrinya.
“Bia sudah tidur sayang?” tanya Andri yang rindu pada putrinya.
“Belum mas, dia ada di kamar, aku suruh mewarnai buah-buahan, dari pada main enggak jelas,” terang Beeve.
“Sesekali kasih main handphone sayang, agar dia enggak ketinggalan informasi, pasti teman-temannya di sekolah sudah bisa main smartphone semua,” ucap Andri yang kasihan pada putrinya
__ADS_1
“Enggak ah mas, kasihan Bia, diakan masih kecil, nanti matanya rusak lagi, anak sekecil dia memangnya harus tahu informasi apa dari sebuah handphone? Lebih baik dia mewarnai buku gambarnya, dari pada nonton yutub atau main game online yang enggak jelas.” ucap Beeve yang tak ingin sang putri ketergantungan pada benda elektronik yang membuat tiap orang lupa waktu.
...Bersambung......