Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 227 (Takut)


__ADS_3

Hufff... ku pikir ada apa, ternyata dia hanya ingin di layani, baiklah, mari kita manfaatkan ke gatalan penyidik sialan ini, batin Arinda.


“Baik pak, saya siap! Tapi... kita mau jalan kemana pak?” tanya Arinda seraya menggenggam tangan Leo yang ada di atas meja.


“Bukankah kita akan bersenang-senang di ruangan ini?” ujar Leo.


Dasar miskin! Dia pikir aku semurah itu? batin Arinda.


“Tapi pak... saya sudah 4 tahun disini, ingin sekali rasanya melihat dunia luar, walau hanya sekali.” Arinda yang pintar menampilkan wajah lugunya, membuat Leo akhirnya luluh.


“Baiklah, akan ku penuhi,” ucap Leo.


Bagus! Kesempatan ini enggak akan ku sia-siakan! batin Arinda.


Malam harinya, Arinda yang telah janjian dengan Leo pun berdandan dengan cantik, saat ia kembali ke ruangan pertemuan terakhirnya bersama Leo.


“Selamat malam pak.” sapa Arinda dengan senyum manisnya.


“Malam juga, waw kau cantik sekali!” ungkap Leo mengagumi kecantikan Arinda.


“Terimakasih banyak pak, saya sangat tersanjung dengan pujian bapak.” Arinda tersipu malu saat Leo menyentuh bahunya.


“Kita main sekarang?” ucap Leo.


“Sekarang? Bukannya kita akan keluar malam ini pak?” tanya Arinda.


“Ehm, setelah ku pikir-pikir, itu sangat sulit untuk ku lakukan, jadi... ku putuskan untuk bercinta dengan mu di ruangan ini.” terang Leo dengan senyum nakal ala hidung belang.


Dasar keparat! Dia pikir aku akan bersedia melayaninya dengan cuma-cuma? Hah?! batin Arinda. Hatinya sungguh berontak menerima janji palsu dari Leo.


“Maaf pak, kalau disini, aku enggak bisa, bagaiamana pun, ini bukan tempat untuk bersenang-senang.” Arinda mencoba menolak keinginan bejat Leo.


“Tenang saja, tidak akan ada yang tahu manis.” Leo menekan dagu lancip Arinda yang mulus.


Sialan! Dasar enggak bermodal! pekik Arinda dalam hatinya.


“Aku tetap enggak bersedia pak, jika bapak ingin melakukannya, bawa aku ke hotel, karena itu adalah tempat yang seharusnya.” Arinda yang merasa jijik pada Leo menolak mentah-mentah keinginan pria tersebut dengan berani.


“Hem... baiklah, begini saja, kali ini kita bermain disini, kalau kinerja mu bagus, untuk yang kedua kalinya, aku akan membawa mu keluar, setuju?” Leo kembali memberi janji manis pada Arinda.


Sebenarnya Arinda tak percaya, namun saat ini tak ada yang dapat membantunya, apa lagi memberi peluang untuk bebas baginya dari penjara.


Baiklah, aku akan berusaha sebaik-baiknya, saat tiba waktunya, aku akan kabur, ketika keluar bersama pria tua jelek ini! batin Arinda.


“Janji ya pak?”

__ADS_1


“Iya manis ku.” Leo pun mengecup pipi Arinda.


Sesungguhnya Arinda sangat jijik melakukan hal itu bersama Leo yang usianya lebih tua dari ayahnya, namun apa daya, Arinda Putri tak punya pilihan apapun saat itu.


Dengan berat hati, Arinda melakukan servis ekstra ganda pada Leo, hingga pria tua itu meraung-raung dalam nikmatnya.


Aku harus membuat dia merindukan ku, semoga saja, ia tergila-gila pada ku, hanya ini kesempatan ku, Tuhan, tolong bantu aku, beri aku kesempatan melihat dunia luar! batin Arinda.


____________________________________________


Beeve yang baru saja pulang kerja merasa pusing tak tertahankan.


“Aduh... aku kenapa sih?” dengan perlahan ia pun duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.


“Enggak biasanya kepala ku sesakit ini, ada apa ya?” Beeve yang tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya, mulai memejamkan mata untuk tidur.


Ceklek!!


Andri membuka pintu, ia yang baru tiba ke rumah, melihat istrinya tidur dengan posisi duduk di atas sofa.


“Bee...” gumam Andri, ia pun mendekat ke istrinya, lalu duduk di sebelahnya.


“Dia belum ganti baju, ada apa ini? Apa dia masih kurang sehat?” Andri meletakkan tangannya ke dahi istrinya untuk mencek suhu badannya.


“Enggak panas.” Lalu Andri pun mengusap lembut kepala istrinya.


“Eh... mas sudah pulang?” ucap Beeve seraya memegang tangan suaminya yang masih berada kepalanya.


“Iya, apa kau masih sakit sayang?”


“Iya mas, tadi kepala ku sakit banget, rasanya mau pecah, enggak biasanya aku begini mas, dan sekarang badan ku rasanya panas banget, gerah dan bikin biang keringat.” Andri pun memperhatikan dengan seksama wajah dan leher istrinya yang basah.


“Kau benar juga, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang ya sayang.” Andri yang khawatir dengan kondisi istrinya pun mengajak untuk periksa kesehatan.


“Jangan sekarang, aku sangat lelah mas, besok pagi saja.” ujar Beeve yang ingin segera tidur cepat.


“Kau yakin sayang?”


“Tentu saja, ayo kita ke kamar sekarang mas.” Andri pun menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Andri juga membantu Beeve membuka pakaian, menyeka tubuhnya dengan kain basah, lalu mengganti bajunya dengan piyama.


Selanjutnya Andri menyelimuti tubuh istrinya, dan mengelus rambutnya hingga ibu satu anak itu terlelap.


Apa mungkin Beeve hamil? Aduh... dia akan marah besar nih pada ku, harusnya waktu itu aku enggak membuang benih ku di dalam, batin Andri.

__ADS_1


Ia sungguh takut akan amarah Beeve, sebab Andri melanggar apa yang Beeve katakan saat mereka bercinta di Bali.


“Biar saja ah! Memangnya kalau sudah isi mau di keluarkan lagi?” gumam Andri.


Ia yang pusing pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Keesokan harinya, saat Beeve baru bangun dari tidurnya, ia mencium bau sup ayam yang sangat pekat.


“Eh? Mas Andri...” Beeve melihat suaminya duduk di atas sofa, tepatnya di sebelah ranjang mereka.


“Kau sudah bangun sayang?” ucap Andri dengan senyuman hangat.


“Iya mas, siapa yang menyiapkan sup ayam sepagi ini?” tanya Beeve seraya bangkit dari tidurnya.


“Ini aku yang masak, aku enggak tahu apa rasanya enak di lidah mu sayang, tapi ku harap kesehatan mu pulih setelah memakannya,” terang Andri.


Beeve pun tertawa kecil melihat usaha suaminya yang begitu manis.


“Iya suami ku sayang, baiklah, ku yakin akan langsung sembuh saat sup ayamnya sampai ke perut ku.” Beeve mencium kening suaminya.


Lalu Andri pun menyuap istrinya dengan penuh cinta, saat sup ayam buatan suaminya sampai ke tenggorokannya, ia merasa rasanya benar-benar aneh, namun karena ingin menghargai kebaikan hati suaminya, Beeve pun memakan sup buatan Andri sampai habis.


Rasanya aku mau muntah, batin Beeve.


“Apa rasanya enak?” tanya Andri, dengan rasa bangga karena masakannya ludes di makan Beeve.


“Hahaha... enak banget mas, terimakasih atas perhatiannya,” ucap Beeve.


“Di dapur masih banyak, kalau kau masih kurang, akan ku ambilkan sayang.” Andri yang bersemangat bangkit dari duduknya.


“Mas! Enggak usah, aku sudah kenyang, nanti saja ya mas.” Beeve yang takut menyantap masakan buruk suaminya untuk yang kedua kalinya mencegah Andri untuk menambah porsinya lagi.


“Baiklah.” ucap Andri, lalu duduk kembali di atas sofa.


“Mas, setelah mandi kita ke rumah sakit ya.” pinta Beeve.


Dengan perasaan ragu Andri pun menjawab, “Iya sayang ku.”


Ya Allah, jika memang istri ku hamil, tolong buat ia menerimanya dengan lapang dada, batin Andri.


Beeve yang merasa sudah lebih baik pagi itu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


15 menit kemudian ia pun keluar dengan berpakaian lengkap.


“Mas, aku cek Bia dulu ya.” Beeve pun beranjak ke kamar putrinya, sementara Andri bergegas untuk mandi.

__ADS_1


25 menit kemudian, keluarga kecil itu berkumpul di meja makan, dengan pakaian yang sama-sama rapi.


...Bersambung......


__ADS_2