
Yudi pun memesan teh Sencha yang di rekomendasikan oleh Lea.
“Ngomong-ngomong, kok bisa, bu Lea kenal dengan Helena?” tanya Beeve.
Dia memanggil ku ibu lagi? Dasar setan! batin Lea.
“Karena apartemen ku dan Helena bersebalahan waktu kuliah di London,” ujar Lea.
“Oh... begitu.” ucap Beeve seraya menganggukkan kepalanya.
Pada saat pembayaran, pramusaji memberikan 2 bill pada Lea dan juga Helena.
“Bill untuk kami mana?” tanya Beeve pada Laura.
“Memangnya bu Beeve bayar juga?” tanya Laura kembali, sebab ia berpikir Beeve tak perlu melakukannya karena restoran tersebut milik Beeve.
“Kenapa tidak?” ucap Beeve.
“Pemilik restoran ini kan ibu, kenapa harus susah-susah buat bayar?” ucap Laura.
Helena dan Lea sama-sama mengernyitkan dahi.
“Sudah, cepat ambilkan!” titah Beeve.
“Baik bu!” Laura berlari secepat kilat mengambil tagihan untuk keluarga Han.
Maksudnya, ini restoran kak Beeve? batin Helena tak menyangka, jika kakak iparnya termasuk orang sukses, ia menjadi sedikit segan pada seorang Beeve yang ia remehkan.
Siapa dia sebenarnya? Bukankah dia hanya orang biasa? Apa perlu aku telusuri? Helena makin penasaran dengan sosok Beeve yang sesungguhnya.
What!! Enggak mungkin banget wanita kampungan seperti Beeve pemilik restoran ini, pasti Andri yang kasih modal, Upik abu jadi Cinderella, hum! Tahu begitu, aku enggak datang kemari, dan memuji-muji restoran norak ini! batin Lea.
Baik Lea dan Helena sama-sama bungkam, tersirat rasa iri di dalam hati mereka untuk seorang wanita yang begitu kecil di mata mereka berdua.
Selesai makan malam, keluarga Han keluar dari dalam restoran terlebih dahulu.
Saat di parkiran, Emir yang datang bersama mobil orang tuanya memutuskan untuk kembali bersama Helena.
Selama dalam perjalanan, Emir yang mengemudi hanya menatap lurus ke depan, tanpa mengatakan sepatah kata pun pada istrinya.
Helena yang tak tahan di perlakukan demikian serba salah, ingin bicara gengsi, diam saja membuat hatinya sesak.
Sampai setengah perjalanan, Emir tetap bersikap sama. Helena yang sudah tak tahan mulai membuka mulut.
__ADS_1
“Bang, mau sampai kapan kau diam padaku?” Ciit!! Pria tampan itu melakukan rem mendadak.
“Akh! Bang, apa yang kau lakukan?!” jantung Helena hampir meledak karena suaminya.
“Apa kau belum sadar! Apa kesalahan mu?” hardik Emir.
“Iya aku tahu, tapi enggak seharusnya kau diam pada ku bang!” ucap Helena dengan suara tinggi.
“Aku diamkan kau? Dasar istri enggak tahu aturan! Sampai saat ini aku masih menghargai mu ya! Aku masih tetap perduli padamu! Dengan pulang bersama mu! Ku jaga harga dirimu di depan keluarga ku, meski kau berulang kali berulah!” Emir meluapkan kekesalannya pada Helena.
“Bang, apa salah kalau aku cemburu?”
“Yang salah itu marah mu! Egois mu! Seenaknya berbuat apapun, dari awal kita menikah aku sudah sangat sabar pada mu, tapi kau tak kunjung mengerti juga! Aku ini suami mu! Andri dan Beeve itu ipar mu! Kau yang baru masuk ke keluarga kami, malah berhasil membuat perpecahan! Bikin malu, apa kau enggak merasa malu juga? Hah! Kau masih bisa pulang ke rumah dengan kesalahan yang kau buat??” Emir memelototi istrinya yang sangat bebal.
“Bang...”
“Satu lagi! Kau pergi kerja begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku, minta maaf pun kau tak bersedia pada suami mu sendiri, dasar istri durhaka!”
“Bang, aku enggak bermaksud untuk...”
“Apa aku masih kurang mengerti dirimu? Dari kau ingin bersama, sampai masa lalu mu, aku terima Helena, tapi kau! Malah tak mampu memaklumi masa lalu ku yang mencintai Beeve!” Kata-kata Emir membuat Helena sadar, betapa besar pengorbanan suaminya padanya.
“Maafkan aku bang.” ucap Helena dengan menundukkan kepala.
“Bang... sebenarnya tadi pagi aku ingin minta maaf pada mu, tapi aku takut.” Helena yang menyesal mulai menangis.
Emir memutar mata malas saat melihat air mata istrinya.
“Maafkan aku bang, aku sadar kalau aku salah, aku terlalu mudah di pengaruhi orang lain,” terang Helena.
“Helena, kau itu sekolahnya saja yang tinggi, tapi akhlak nol! Dengarkan aku baik-baik, jika suatu saat aku menjauh darimu, itu salahnya bukan dariku, tapi darimu.” terang Emir.
“Bang, jangan bilang begitu, aku enggak mau kau pergi dariku!” Helena menggenggam tangan Emir.
“Itu semua tergantung kau! Dari awal aku sudah banyak memberi kesempatan, tapi kau selalu menyia-nyiakannya.” sikap tegas Emir membuat Helena ketar ketir.
Aku enggak mau jadi janda secepat itu! Bukan hal sulit untuk bang Emir mencari pengganti ku, batin Helena.
“Aku akan berubah bang, jangan tinggalkan aku!” Helena memeluk tubuh Emir.
“Kita lihat saja, bagaimana progres mu ke depan!” Kali itu, Emir tak main-main dengan ucapannya.
Setelah cukup mengeluarkan apa yang ada dalam hati Emir, mereka kembali melaju pulang ke rumah.
__ADS_1
Andri dan Beeve yang telah berada dalam kamar melakukan diskusi terkait acara pengajian 4 bulanan kandungan Beeve.
“Mas, bagaimana kalau kita buat acara pengajiannya di rumah orang tua ku saja? Karena bang Julian minta untuk diadakan disana,” ucap Beeve.
“Disana juga boleh sayang, aku sih terserah kau saja.” Andri yang ingin menyenangkan hati istrinya pun tak menolak, meski keluarganya telah membuat rencana untuk di lakukan di rumah mereka.
“Kira-kira waktu yang cocok kapan ya mas?” Beeve meminta saran dari suaminya.
“Bagaimana kalau lusa? Hari jumat malam?” ujar Andri.
“Boleh juga mas, nanti kita sama-sama bilang ke ibu dan ayah ya,” ucap Beeve.
“Oke sayang.”
Keesokan harinya, saat mereka sedang makan bersama, Andri pun mengutarakan keinginan istrinya.
“Bu, pengajian 4 bulanan si kembar kami, kita lakukan besok ya bu,” ucap Andri.
“Iya nak, nanti ibu akan mengundang ibu-ibu pengajian dan ustad,” ujar Rahma.
“Enggak perlu bu, karena Julian telah menyiapkan segalanya,” terang Andri.
“Oh ya? Bukannya akan di laksanakan disini?” Rahma yang telah membuat ancang-ancang dari jauh hari merasa sedikit kecewa.
“Enggak bu, disana saja dulu, lagi pula masih ada pengajian 7 bulanan kan bu?”
“Kalau memang mau disini enggak apa-apa kok mas, nanti saja ke rumah ku.” Beeve yang ingin menghargai mertuanya memilih mengalah
“Enggak sayang, kali ini ke rumah mu saja dulu, bolehkan bu?” Andri melirik ke arah Rahma.
“Tentu, dimana pun itu sama saja, yang pentingkan do'anya, bukan tempatnya.” Rahma tersenyum meski sedikit tak ikhlas.
“Terimakasih banyak bu, atas pengertiannya,” ucap Beeve.
“Sama-sama nak.”
Helena yang masih merasa malu pada anggota keluarga suaminya hanya bisa menatap ke arah piringnya yang masih terisi nasi.
Aku mau lihat, rumah kak Beeve seperti apa, apa dia lebih kaya dariku, sehingga dia begitu di hargai, batin Helena, ia yang merasa keberadannya tak di anggap di rumah itu merasa putus asa.
...Bersambung......
__ADS_1