Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 202 (Trik)


__ADS_3

Semua orang kecuali Marna di suruh keluar dari ruang interogasi. Marna yang malang harus menanggung semua kejahatan yang Arinda lakukan.


Teman-teman satu sel Arinda pun mulai bergosip, tentang Marna yang menurut mereka yang paling lugu.


Mereka semua pun di tuntun oleh petugas untuk kembali ke sel, sesampainya mereka, Arinda merebahkan tubuhnya di atas tikar seraya menghela nafas panjang.


Saat ia ingin tidur, tiba-tiba seorang sipir pria memanggil namanya.


“Arinda!” sontak ia pun bangun dari tidurnya.


“Iya pak? Ada apa?” tanya Arinda. Lalu sang sipir memberinya sebuah plastik putih yang ada tulisan apotiknya.


“Ini apa pak?” tanya Arinda bingung.


“Obat untuk mu, rawat wajah dan tubuh mu dengan baik.” terang sang sipir yang membuat Arinda tersenyum.


Apa mungkin ini dari kepala penyidik? batin Arinda.


Lalu teman-teman Arinda yang lain pun mendekat karena penasaran.


“Apa itu?” tanya Dewi yang ingin tahu.


“Ini hanya obat,” jawab Arinda.


“Dari siapa?” tanya yang lainnya.


“Aku juga kurang tahu, jangan kerumini aku, sesak tahu!” Arinda yang kini di atas angin merasa bangga atas dirinya sendiri.


Setelah teman-temannya menjauh, Arinda membuka plastik dari apotik tersebut, yang mana isinya adalah krim penghilang bekas luka, dan juga pil yang berguna untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada tubuh.


Keberuntungan Arinda tak sampai disitu, ia juga mendapat handbody dan juga bedak. Di dalam plastik juga terdapat secarik kertas yang memuat pesan.


Semoga cepat sembuh cantik, dari Leo kepala penyidik. 📄


Misi ku berhasil, siapa sih yang dapat menolak tubuh bohai ku? Hanya si Andri tolol saja yang menyia-nyiakan wanita istimewa seperti diriku, batin Arinda.


__________________________________________


Emir yang sedang santai di kamarnya tiba-tiba dapat telepon dari Helena.


“Mau apa sih wanita ini?” gumam Emir.


Ia yang tak ingin berbicara pada Helena pun mengabaikan panggilan dari tunangannya itu.


Namun Helena terus saja mendial nomornya, hingga membuat Emir menyerah.


“Anak ini benar-benar enggak mau ngotot ya!” Emir dengan perasaan malas mengangkat panggilan dari Helena tersebut.


📲 “Apa?!” Emir.


📲 “Assalamu'alaikum calon suami ku?” Helena.


📲 “Walaikumsalam, ada perlu apa?” Emir.


📲 “Bang Emir kok langsung nanya ke intinya sih? Harusnya basa-basi dulu dong bang,” Helena.


📲 “Aku enggak punya waktu untuk itu, katakan saja apa tujuan mu,” Emir.

__ADS_1


📲 “Oke, gini bang, aku mau ajak bang Emir jalan-jalan besok malam, kebetulan besok aku libur kerja,” Helena.


📲 “Enggak bisa, aku sibuk,” Emir.


📲 “Abang jangan gitu dong, masa kita yang akan menikah sebentar lagi enggak ada kenangan semasa lajang?” Helena.


📲 “Maaf Helena, aku banyak urusan,” Emir.


📲 “Urusan apa bang?” Helena.


📲 “Kuliah, jadi kau jangan ganggu aku,” Emir.


📲 “Ya sudah, aku akan menemani mu ke kampus besok,” Helena


📲 “Tapi aku seharian disana, kau akan bosan, jangan ikut,” Emir.


📲 “Pokoknya aku ikut, aku enggak akan bosan asal aku bisa melihat mu sedetik saja,” Helena.


Dasar perempuan gila, du tolak secara halus malah enggak ngerti! batin Emir.


📲 “Terserah kau saja!” Emir.


📲 “Terimakasih banyak bang Emir, I love you 7 tikungan,” Helena.


Emir merasa ingin muntah saat mendengar suara manja Helena.


📲 “Ya sudah, aku tutup!” Emir.


📲 “E e e.. bang aku masih rindu!” Helena.


“Diakan enggak tahu kampus ku dimana, besok aku matikan saja handphone ku, sekalian aku berangkat pagi, ayah dan ibu besok juga kerja, hehehe... rasakan!” Emir yang tak ingin membawa Helena ke kampusnya membuat rencana, agar ia dan sang tunangan tak jadi bertemu esok hari.


_______________________________________


Beeve yang berada di rumahnya, sibuk membacakan buku dongeng untuk sang buah hati sebelum tidur.


Setelah Bia terlelap, ia pun beranjak menuju kamarnya.


“Bosan juga kalau enggak ada kegiatan, semoga pembangunannya cepat selesai, agar aku bisa beraktivitas kembali,” gumam Beeve.


Saat ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Beeve teringat akan perkataan Helena, mengenai dirinya yang hanya lulusan SMA.


“Apa aku lanjut kuliah saja ya? Tapi kali ini ambil jurusan tata boga, walau pun kata-kata Helena bikin kesal, tapi dia ada benarnya, suami ku kan lulusan S2, calon CEO, pasti di sekitarnya, ada banyak wanita cantik dengan pendidikan setinggi langit, ya Tuhan ini enggak bisa di biarkan.” Beeve yang takut akan ada Arinda musim kedua dalam pernikahannya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya.


“Aku harus setara dengan mas Andri, agar dia tak ada celah untuk mengukur ku.” Beeve benar-benar bersemangat untuk kuliah kembali.


__________________________________________


Pukul 06:00 pagi, Emir yang baru bangun, turun ke dapur untuk minum segelas susu hangat.


Saat ia melewati ruang tamu, matanya membulat sempurna, bagaimana tidak, karena sosok Helena yang ia hindari kini telah berpenampilan rapi, duduk di atas sofa mengobrol dengan Rahma yang belum mandi.


Ya Tuhan, wanita ini benar-benar bikin aku merinding! Pagi-pagi sudah main ke rumah ku? batin Emir.


Helena yang melihat kehadiran Emir langsung melambaikan tangannya.


“Bang!” Helena begitu bersemangat saat melihat Emir.

__ADS_1


Emir sontak menggaruk kepalanya, ia yang ingin melanjutkan langkahnya malah di susul oleh Helena.


“Bang Emir! Tunggu!” Helena mengandeng tangan Emir.


“Apa sih?!”


“Au!” Helena tiba-tiba menutup hidungnya.


“Kau kenapa?” tanya Emir bingung, Helena dengan menutup mulut dan hidungnya pun berkata.


“Nafas mu bau banget bang, mirip orang tak gosok gigi setahun!” omongan Helena yang tak di saring itu membuat Emir malu bukan main.


Pasalnya ia seorang seleb*gram sekaligus yutuber terkenal di beri penilaian secara langsung oleh orang lain.


“Apa? Hah!” Emir mengembuskan nafasnya ke telapak tangannya, lalu menciumnya.


“Bau busuk kan bang?” ucap Helena yang membuat Emir makin gusar.


“Kau mengerjai ku ya?! Nafas ku enggak bau sama sekali tahu! Dasar sinting!” pekik Emir.


Rahma yang menyaksikan putranya berkata kasar pada Helena geleng-geleng kepala.


Kalau aku jadi Helena, sudah ku buang Emir jauh-jauh, batin Rahma.


“Tapi benar-benar bau bang, abang tahu kaus kaki basah yang enggak di cuci satu bulan?”


“Apa?!” Emir makin di buat naik pitam atas penuturan Helena.


“Seperti itu bang baunya, ih! Sebaiknya kau gosok gigi yang benar, atau jangan-jangan kau belum bersihkan karang gigi? Itu juga bisa jadi penyebab bau mulut! Kalau abang mau, aku bisa memeriksa gigi mu bang.” Helena yang ingin melakukan pendekatan lebih dengan Emir menempuh jalur licik, sebab kalau baik-baik Emir begitu sulit di gapai.


“Aku punya dokter pribadi, jadi kau enggak perlu repot-repot mengurus ku!” Emir yang judes meninggalkan Helena menuju dapur.


Helena bukannya sakit hati, malah makin bersemangat mengejar Emir.


“Abang... tunggu ade bang.” Helena yang tak mau ketinggalan menyusul calon suaminya.


“Astaga, si Helena muka tembok sekali, Emir yang bagai batu karang, di sentuh sedikit bisa buat luka, masih terus saja di jajal, tapi... mungkin orang seperti Helena lah yang cocok untuk anak ku,” gumam Rahma.


“Abang mau buat apa?” tanya Helena.


“Helena, aku lagi pusing, tolong kau jauh-jauh dari ku, lagi pula nafas ku bau kan?”


“Iya memang bau, makanya bang, ngomongnya pelan-pelan.” ujar Helena seraya mengeluarkan masker dari dalam sakunya.


Apa nafas ku sebau itu? batin Emir.


Perlahan Emir mulai tak percaya diri karena pengaruh dari Helena.


“Mungkin orang lain tak enak hati pada mu, tapi... aku berbeda, karena aku adalah calon istri mu, maka wajib bagiku mengatakan kebenaran yang ada, itu demi kemajuan mu juga.” terang Helena seraya menahan tawa dari balik maskernya.


“Terserah kau mau bilang apa,” ucap Emir.


“Kalau mau, ayo ke rumah sakit, nanti aku sendiri yang periksa, gratis bang, masa calon istri mu dokter gigi, tapi gigi mu bau busuk? Malu dong, apa lagi abangkan seorang artis, jangan-jangan setelah orang lain ketemu abang, abang malah dapat ejekan lagi dari mereka.” Emir yang mendengar omongan negatif dari Helena semakin khawatir dengan penampilannya.


Benar juga, aku harus periksa, batin Emir.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2