Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 225 (Drama Meja Makan)


__ADS_3

Ketika mereka telah tiba di lantai satu, keduanya berpapasan dengan Rahma yang akan ke dapur.


“Loh, sudah malam, ngapain masih berkeliaran?” tanya Rahma pada anak dan menantunya.


“Kita mau tidur di kamar tamu saja bu,” ucap Andri.


“Memangnya kenapa dengan kamar mu?”


“Banyak nyamuk, berisik!” terang Andri.


“Pakai penyemprot nyamuk, kalau banyak nyamuk, gimana sih?!” ujar Rahma.


“Sudah ah bu, kami mau ke kamar, ngantuk.” Andri dan Beeve pun bergegas menuju kamar. Rahma sendiri geleng-geleng kepala melihat anaknya yang marah-marah tak jelas. Sesampainya di kamar, Beeve pun menasehati suaminya.


“Mas, kau enggak boleh begitu pada ibu, ibu kan enggak tahu apa-apa mengenai Emir dan Helena, kasihan tahu, ibu kena imbasnya.”


“Iya sayang, maafkan aku.” ucap Andri seraya memeluk istrinya yang duduk di pinggir ranjang.


“Minta maaf itu sama ibu, bukan pada ku,” ucap Beeve.


“Oke sayang.”


“Besok wajib minta maaf ya mas.”


“Iya sayang ku...” Andri mengecup bibir manis istrinya agar tak bawel lagi.


“Ya sudah mas, ayo kita tidur, aku sangat lelah,” Beeve pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Yang, kita enggak bercocok tanam nih malam ini?” Andri yang telah lama tak melakukan penyatuan, mengajak sang istri untuk melakukan malam itu.


“Enggak mas.” sahut Beeve yang masih tak enak badan.


“Ayolah sayang, aku ingin...” Andri membelai poni selamat datang istrinya.


“Lain kali saja ya mas, aku lelah banget nih.” ucap Beeve yang sebenarnya masih sakit.


“Terakhirkan di Bali sayang, ayolah...” Andri menarik pinggir baju istrinya.


“Besok ya mas, kita lakukan di rumah, sekarang aku benar-benar lelah.” Beeve menggenggam tangan suaminya seraya tersenyum lembut.


Karena tak berhasil, Andri menghela nafas panjang, “Baiklah kalau begitu, janji ya, besok harus main.”


“Iya mas ku.” setelah sepakat, Andri pun naik ke atas ranjang, lalu tidur di sebelah istrinya.


Keesokan harinya, keluarga besar Han sama-sama terlambat menuju meja makan karena lelah.


Mereka yang telah duduk di kursinya masing-masing memfokuskan pandangan pada pasangan pengantin baru yang rambutnya sama-sama basah.


Sadar menjadi pusat perhatian, Helena dan Emir menundukkan kepala, dengan menahan senyum mereka masing-masing.

__ADS_1


Tadi malam benar-benar indah, batin Helena.


Tak ku sangka, surga dunia begitu dahsyat, mengguncang jiwa dan raga ku, batin Emir.


“Aduh... aduh... harusnya kalian enggak usah turun kalau merusak pemandangan,” ucap Andri.


“Maksudnya?” tanya Emir mendongak.


“Huh! Tubuh kalian ada disini, tapi pikiran kemana-mana, sejak di meja makan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kalian berdua, basa-basi dong ucapkan selamat pagi atau apa!” terang Andri.


“Begitu saja jadi masalah!” balas Emir.


“Sudah-sudah! Ini meja makan, bukan meja debat, Andri! Emir?!” pekik Rahma.


“Betul, jangan terlalu banyak komentar Ndri,” ujar Yudi sebagai tetua di rumah itu.


“Papa lagi sakit gigi ya? Makanya agak cerewet hari ini?” tanya Bia dengan polosnya, sebab dulu Celine jika sakit gigi sering marah-marah tak jelas.


“Bia, gigi papa bersih loh.” semua orang tertawa atas pernyataan Bia.


“Oh, begitu, papa jangan sering marah nanti cepat tua, kata mama kalau banyak tertawa bisa jadi awet muda dan mendatangkan rezeki dari segala arah, jadi dari pada marah, lebih baik papa banyakin tertawa ya pa.” Bia memberi masukan pada sang ayah sambung, karena takut ayahnya cepat keriput.


“Mapus! Anak mu lebih pintar dari mu!” Emir meledek Andri. Lalu Beeve mengelus tangan suaminya, agar tak mengambil hati ejekan Emir.


“Bi-bia... memang papa sudah terlihat tua?” tanya Andri memastikan.


“Enggak kok pa, takutnya nanti cepat tua,” ucap Bia. Helena yang berada di samping suaminya, tak dapat menahan tawa.


“Gantengan mas Andri lah!” Beeve menjawab pertanyaan Helena sebelum di jawab oleh Bia.


“Iya, gantengan papa.” Bia yang takut pada ibunya, memilih sang ayah, walau di matanya Emir jauh lebih tampan.


“Wah! Bia, kau pasti bohong!” ucap Helena yang tak percaya pada perkataan gadis kecil itu.


“Enggak mungkin Bia bohong, memang mas Andri lah yang paling tampan disini.” ujar Beeve.


Semua orang tersedak saat mendengar ucapan Beeve yang begitu ngotot membela suaminya, Beeve yang biasanya pemalu dan santun kini jadi lebih terbuka.


Dasar anak-anak nakal, tak ada satu pun yang menghargai aku disini, batin Yudi.


“Wah!!! Istri ku, aku enggak pernah tahu, kalau aku setampan itu di mata mu,” Andri mengelus puncak kepala Beeve.


“Kau yang terbaik mas!”


Uhuk uhuk uhuk! Lagi-lagi Yudi tersedak karena Beeve. Lalu Rahma pun menepuk-nepuk punggung suaminya.


“Kau baik-baik saja yah?” tanya Rahma memastikan kondisi Yudi.


“Iya bu.” jawab Yudi.

__ADS_1


“Tapi di mata ku dan jutaan pengikut bang Emir, suami ku lah yang tertampan!”


Astaga! Anak-anak ini! Apa perlu ku lempar sendok ke kepala mereka semua? batin Yudi.


Lalu ia yang sudah tak tahan bangkit dari duduknya.


“Ayah mau kemana?” tanya Rahma pada sang suami yang belum selesai makan.


“Disini panas! Aku mau ke kolam berenang.” ucap Yudi dengan wajah kesal.


Lalu Rahma yang mengerti pun bangkit juga dari duduknya juga.


“Ibu mau ikut?” ucap Yudi.


“Iya yah, ibu juga merasa panas disini.” para menantu dan anak-anak mereka pun menoleh pada mereka berdua.


Sebelum keduanya pergi, Rahma pun berkata pada para pasangan muda, penerus garis keturunan mereka.


“Jangan salah ya, suami ku lah yang paling tampan disini, tampannya itu sudah lulus 7 kali saringan, kalian sih enggak ada apa-apanya.” setelah mengatakan hal itu, Rahma dan Yudi pun beranjak pergi, meninggalkan anak-anak mereka dengan perasaan campur aduk.


“Hahahaha! Kocak! Ibu memang kocak!” Helena menepuk-nepuk meja karena merasa Rahma sangat lucu.


“Hei, kondisikan sikap mu, kau harus terlihat lebih anggun saat di hadapan orang yang lebih tua.” Emir menasehati istrinya.


“Kan hanya kita-kita saja bang yang ada disini,” ujar Helena.


“Itu...” Emir menunjuk Andri.


“Oh iya, maaf bang Andri.” lalu Helena menghentikan tawanya yang sangat keras dan nyaring.


“Apa kata mu? Aku hanya beda 7 tahun dari mu! Dan wajah ku masih baby face!” Andri benar-benar tak terima di anggap tua oleh Emir.


“Beda 1 hari juga tetap tertua namanya,” ucap Emir.


“Betul bang.” timpal Helena membela suaminya.


“Usia itu enggak penting, yang paling utama adalah tanggung jawab dan rasa cinta yang tulus,” ucap Beeve.


Mereka yang saling membela pasangan satu sama lain, tak sadar kalau ada anak kecil yang menyaksikan kekonyolan yang mereka lakukan.


“Tapi kak Bee, kalau soal kita berdua, aku merasa lebih cantik darimu loh, iya kan bang Emir?” Helena meminta pendapat suaminya.


Emir dengan ragu pun menjawab, “Te-tentu saja.” Soal pertanyaan itu, Andri dan Beeve tak memperpanjangnya.


“Dan aku juga seorang dokter, sedangkan kak Beeve hanya ibu rumah tangga dan tamatan SMA, kalau mau lebih baik, atau setara dariku, kau harus kuliah kak Bee.” Helena yang tak pandai menempatkan barisan katanya, tanpa sengaja melukai hati 3 orang dewasa yang ada disana. Meski tujuan Helena sebenarnya ingin menyemangati Beeve, agar melanjutkan pendidikannya.


“Mama memang bukan dokter tante, tapi mama punya restoran yang super besar loh tan.” ucap Bia membela ibunya.


“Kau kerja di restoran kak Bee, untuk apa? Bang Andri kan penghasilannya sangat banyak.” Helena yang masih meremehkan kakak iparnya berpikir kalau Beeve hanya pelayan di restoran tersebut.

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2