
Setelah selesai menelepon, Andri pun kembali kepada Beeve.
“Kita pulang sekarang sayang?”
“Ayo mas.” Andri dan Beeve pun kembali ke rumah.
Sesampainya di depan pintu utama, Andri yang buru-buru pamit pada Beeve.
“Sayang, aku keluar sebentar ya.”
“Loh, inikan sudah jam 21:00, mau kemana lagi?” tanya Beeve penasaran.
“Aku mau ketemu Arman sebentar, katanya ada yang perlu,” jawab Andri.
“Memang harus malam ini?”
“Aku juga maunya besok, tapi katanya penting, maaf ya sayang.” sebelum pergi Andri mencium kening Beeve.
“Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam ya mas.”
“Iya sayang, kalau ngantuk tidur duluan saja, jangan tunggu aku,” ucap Andri.
“Baik mas, hati-hati di jalan ya mas,” Beeve pun keluar dari dalam mobil.
“Aku berangkat sayang.” setelah menekan klakson 2 kali, Andri melajukan mobilnya.
Sebenarnya Beeve meragukan ucapan suaminya, namun apa di kata, ia tak punya cukup bukti untuk kecurigaannya itu.
Ia yang baru saja masuk ke dalam rumah sudah di sambut oleh Emir sang adik ipar.
“Mana Andri?” tanya Emir dengan celingak-celinguk.
“Mas Andri baru berangkat lagi, katanya mau ketemu temannya,” jawab Beeve.
“Oh.” Emir menganggukkan kepala. “Apa kau sudah makan?”
“Sudah, aku istirahat duluan ya mas.” Beeve beranjak menuju kamarnya meninggalkan Emir di ruang tamu.
Sialan kau Ndri! batin Emir.
________________________________________________
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Andri sampai di sebuah gudang kosong yang terletak di pinggir kota.
Keadaan di sekitar gudang begitu gelap, tak ada juga bangunan lain selain gudang tersebut disana.
Salah satu penculik yang tahu Andri telah datang langsung membukakan pintu.
“Masuk bos.” ucap pria berbadan besar dan berkepala plontos.
Andri dengan tenang masuk ke dalam gudang itu.
“Dimana wanita itu?” tanya Andri.
“Ada disana bos.” ucap si penculik seraya menunjukkan jalan ke ruangan Arinda di sekap.
Kriettt...
Setelah pintu di buka oleh si penculik, Andri baru melihat Arinda terduduk di lantai semen kasar dan tubuhnya di penuhi oleh lilitan tali.
__ADS_1
“Kalian enggak menyakitinya kan?”
“Belum bos,” jawab si penculik.
Lalu Andri mendekat ke Arinda yang kesadarannya mulai pulih.
“Ma-mas,” ucap Arinda lirih.
“Bagaimana? Aku enggak main-mainkan?” ucap Andri seraya berjongkok di hadapan Arinda.
“Lepaskan aku, ku mohon mas, setidaknya kalau kau ingin membunuh ku, tunggu sampai aku melahirkan bayi ku, yang salah aku, bukan anak ku, dia tak tahu apapun, dia enggak berdosa mas.” ucap Arinda dengan penuh harap di bebaskan.
“Enggak bisa! Kau harus mati saat ini juga!” hardik Andri.
Lalu Arinda yang sudah tak memiliki energi untuk membela diri pun menangis.
“Hiks... aku terima segala hukuman yang akan kau beri mas, tapi tolong jangan hukum anak ku juga, bagaimana pun ini adalah bayi mu, anak titipan Allah, bagaiman bisa kau melakukan ini padanya, apa bedanya dengan anak yang di kandung Beeve? Ini juga darah daging mu mas, kalau kau menghabisinya juga, kau benar-benar enggak punya hati, dia yang tak tahu apapun harus menerima kebencian dari ayahnya sendiri, hiks..., ya Allah apa yang harus aku lakukan?” Arinda menangis sesungukan meratapi nasibnya.
Hati Andri yang telah goyah dari rumah sakit pun akhirnya memutuskan untuk membebaskan Arinda.
“Baiklah, kau akan ku lepaskan,”
“Benarkah mas?”
“Tapi ada syaratnya.” ucap Andri seraya mengeluarkan selembar kertas, Arinda pun mulai membaca isi perjanjian yang Andri buat.
“Tanda tangan di atas materai ini.” Andri memperlihatkan kertas yang berisi beberapa perjanjian tepat di depan wajah Arinda.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, nama Arinda putri siap melaksanakan janji.
Tidak akan menggangu kehidupan rumah tangga Andri dan Beeve.
Tidak ada pernikahan antara Arinda Putri dan Andri
Apabila salah satu perjanjian di langgar, maka siap untuk di tembak mati.
Demikian surat perjanjian ini di buat, dengan penuh kesadaran dan kerelaan dari saya Arinda Putri.
Arinda mengernyit, ia merasa surat perjanjian itu berat sebelah, namun apa daya, nyawanya lebih berharga untuk saat ini.
“Bagaimana? Mau tanda tangan atau enggak?” tanya Andri. Arinda dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Mau mas, aku mau!”
“Buka ikatannya,” titah Andri
Lalu si penculik pun membuka tali yang melilit tubuh Arinda.
Setelah terlepas, Andri memberi pena hitam pada Arinda.
“Ini kesempatan terakhir mu, main-main lagi, aku enggak akan memberi mu kesempatan hidup!” pekik Andri.
“Iya mas, aku berjanji,” ucap Arinda.
Lalu ia pun menandatangani surat perjanjian yang Andri berikan.
__ADS_1
“Mungkin kau merasa enggak adil dengan isi perjanjiannya, tenang saja karena aku akan memberikan mu rumah untuk mengasing, serta tempat usaha,” terang Andri.
“Te-terimakasih mas.” Arinda yang ingin bangkit dari lantai tiba-tiba merasa mual.
Hoek... Hoek...
Ia pun muntah di hadapan Andri, tubuhnya yang lemah membuat Arinda hampir jatuh ke lantai. Lalu Andri dengan sigap menangkap tubuh Arinda.
Tubuhnya dingin sekali, batin Andri.
“Maaf mas, sepertinya aku masuk angin,” ucap Arinda.
Andri yang dasarnya berhati lembut makin goyah, ia pun menggendong tubuh arinda keluar dari dalam gudang menuju mobilnya.
Setelah sampai di mobil, Andri langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Arinda yang benar-benar lemah akhirnya tak sadarkan diri, membuat Andri jadi merasa bersalah.
Tanpa ia sadari, naluri seorang ayahnya pun tumbuh, Andri juga takut kalau anaknya tidak baik-baik saja.
Andri membawa Arinda ke rumah sakit terdekat.
Mereka yang baru sampai langsung di bantu oleh para suster yang bertugas.
“Tolong bantu sus, tolong, dia sedang hamil!” ucap Andri dengan khawatir.
_____________________________________________
Sedangkan Beeve yang berada dalam selimut tak dapat memejamkan mata.
Karena sudah pukul 23:00 malam, suaminya belum pulang juga.
“Kau dimana mas?” gumam Beeve.
Ia pun mendial nomor suaminya, status berdering namun tak kunjung di angkat.
Hatinya bertambah resah, terlebih di luar mulai turun hujan lebat.
“Mas, kenapa kau belum pulang?” Beeve terus menatap layar handphonenya, berkali-kali Beeve mendial nomor Andri namun tak kunjung di jawab.
Ia yang tak tenang memutuskan untuk keluar dari kamar, berniat menunggu Andri di ruang tamu.
Ketika Beeve akan sampai di ruang tamu, ia melihat Emir duduk di atas sofa.
Emir tertunduk lesu seraya memijat pelipisnya, Beeve yang merasa tak pantas bila berdua di ruang tamu dengan iparnya pun memutuskan untuk kembali ke kamar.
“Kau mau kemana?” ucap Emir yang melihat kehadirannya.
“Aku mau ke kamar mas, ngantuk.” sahut Beeve dengan tersenyum tipis.
“Kau enggak ngantuk, duduklah disini,” ucap Emir.
“Maaf mas, sudah malam, aku mau tidur.” ujar Beeve yang gak enak hati.
“Akan lebih baik kalau kau ada yang menemani,” terang Emir.
Bersambung....
Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat.
__ADS_1