
“Crist, sejak kau membuang ku, aku sudah anggap selesai dengan mu, jadi kita enggak akan bisa seperti dulu lagi, aku juga sudah memaafkan mu, dengan semua kesalahan mu, jadi ku mohon berhentilah mengganggu ku, aku juga tahu, kau sudah punya kehidupan yang baru, bersama kekasih mu, cintai dia jagalah kehormatannya, cukup untuk ku saja perbuatan buruk mu.” terang Beeve, yang membuat Cristian bungkam.
Setelah itu Beeve meninggalkan Cristian menuju ruang kelasnya.
_____________________________________________
Andri yang bertemu Arman di cafe dekat rumah sakit duduk berhadapan di temani 2 cangkir kopi di hadapan mereka masing-masing.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Arman.
“Belum siuman Man.” jawab Andri dengan khawatir.
“Semoga dia baik-baik saja, hmmm...” Arman menyeruput kopinya yang masih panas.
“Jujur ya Man, setelah aku melihat janin Arinda saat di usg, hati ku jadi melemah, aku enggak tega Man menyakiti anak tak berdosa itu,” terang Andri.
“Kalau aku mendukung apapun keputusan mu Ndri, kau memang boleh tak suka pada ibunya tapi kalau soal anak, jangan sampai kau buang, kasihan dia, terlepas kau di jebak atau apapun, anak itu enggak bersalah,” ucap Arman yang merindukan seorang anak.
“Kau benar Man, aku akan menerima anak itu.”
“Apa kau akan jujur pada Beeve?” tanya Arman penasaran.
“Enggak mungkin Man, pasti dia akan syok, apa lagi dia lagi hamil, sebisanya akan ku sembunyikan hubungan ku dengan Arinda.” terang Andri.
“Menyembunyikan hubungan? Apa kau akan menikahinya?” tanya Arman kembali.
“U-untuk itu aku belum tahu Man, akh!! Aku pusing Man, aku enggak tahu harus bagaimana, aku kasihan pada anak ku, kalau tumbuh tanpa ayah nantinya.”
“Terserah kau saja Ndri, semoga yang terjadi adalah kehendak baik dari Allah.”
“Urusan kantor hari ini ku serahkan pada mu Man,” ucap Andri.
“Oke, percayakan saja pada ku, kalau begitu aku ke kantor sekarang ya.” Arman pun pamit pada Andri. Andri dan Arman sama-sama keluar dari dalam cafe.
“Apa kau mau ke kamar Arinda?”
“Iya Man.” Andri pun bergegas ke kamar Arinda, sesampainya ia ke dalam ruangan, Ia pun duduk di sebelah ranjang wanita yang telah menjebaknya.
Andri menunggu Arinda yang belum siuman, hingga 5 menit kemudian wanita yang ia tunggu pulih itu mulai membuka mata.
“A-aku ada dimana?” gumam Arinda.
Andri yang melihat Arinda telah bangun langsung mengusap puncak kepalanya.
“Kau di rumah sakit, bagaimana keadaan mu?” tanya Andri lembut.
“A-aku baik-baik saja mas, tapi... apa bayi ku juga baik?” tanya Arinda yang takut bayinya kenapa-napa.
“Alhamdulillah, dia juga baik,” jawab Andri.
“Syukurlah mas, terimakasih mas sudah mengantarkan ku ke rumah sakit.” melihat Arinda tak berdaya di hadapannya, hati Andri menjadi iba.
_______________________________________________
Beeve yang berada di kelas menunggu dosennya merasa bosan, ia pun memutuskan untuk melakukan video call dengan suaminya.
__ADS_1
Ia pun mulai mendial nomor Andri, namun berulang kali ia memanggil nomor sang suami, tapi tak kunjung di angkat.
Apa dia rapat ya? batin Beeve.
______________________________________________
Andri yang melihat panggilan video dari Beeve hanya menatap layar handphonenya.
“Kenapa enggak di angkat mas?” tanya Arinda yang masih berbaring di tempat tidur.
“Bukan urusan mu,” jawab Andri.
“Dari Beeve kan? Kasihan mas, angkatlah sebentar, mungkin ada yang perlu,” bujuk Arinda.
Benar juga. batin Andri, ia pun bangkit dari duduknya, lalu keluar dari kamar Arinda.
Setelah Andri berada di koridor rumah sakit, ia mengangkat telepon dari istrinya.
📲 “Halo mas, lagi apa? Kok angkatnya lama?” Beeve.
📲 “A-aku tadi lagi sibuk,” Andri.
📲 “Gitu ya mas, oh ya mas, nanti jemput aku pulang ya,” Beeve
📲 “Aku kan pulangnya sore yang,” Andri.
📲 “Aku juga pulang sore mas, sekalian kita makan di luar, sudah lama kita enggak keluar bareng mas,” Beeve.
📲 “Oke sayang, nanti pasti aku jemput,” Andri.
📲 “Oke mas, makasih banyak ya mas,” Beeve.
📲 “I love you too mas,” Beeve.
Setelah selesai video call, Andri kembali lagi ke kamar rawat Arinda yang ternyata sedang di periksa oleh dokter.
“Eh bapak, ibu Arinda nya sudah baikan, hari ini juga bisa pulang, kalau memang tidak rawat inap lagi,” terang sang dokter.
“Terimakasih ya dok,” ucap Andri.
Setelah selesai memeriksa Arinda, sang dokter keluar dari ruangan.
“Kau bisa pulang sendirikan?”
“Iya mas, aku bisa pulang sendiri kok,” ucap Arinda.
“Mau pulang sekarang?”
“Iya mas.” perlahan Arinda bangkit dari tidurnya.
“Sstt..., akh!!” Arinda meringis kesakitan.
“Kau baik-baik saja?” dengan sigap Andri membantu Arinda duduk.
“Makasih banyak mas, aku baik kok.” karena keadaan Arinda masih kurang fit, Andri memutuskan untuk mengantarkannya pulang.
__ADS_1
“Pulang kemana? Biar aku antar saja,” tanya Andri.
“Ke rumah orang tua ku mas,” jawab Arinda.
“Baiklah, ayo kita pergi.” Andri memapah tubuh Arinda menuju kursi roda yang ada di sebelah ranjang Arinda.
Sesampainya di mobil, Andri membantu Arinda untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu Andri juga masuk, selanjutnya meluncur ke kediaman orang tua Arinda.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di tujuan.
Andri membantu kembali Arinda turun dari dalam mobil.
Lalu perlahan keduanya berjalan menuju rumah.
Ceklek! Arinda membuka pintu rumahnya.
“Darimana saja kau!” hardik Dimas, ayahanda Arinda.
“A-ayah,” gumam Arinda.
“Ayah tanya! Kau dari mana saja!! Kenapa enggak pulang semalaman?!!” suara Dimas makin meninggi.
Andri yang merasa bersalah pun mencoba membela Arinda.
“Maaf om, kami dari rumah sakit, tadi malam Arinda mengalami kecelakaan kecil.”
“Kau!” Dimas bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju tempat Andri dan Arinda berpijak.
“Siapa kau! Kenapa kau bisa bersama putri ku!” pekik Dimas.
“Aku tak sengaja bertemu dengannya om,” ucap Andri.
“Tak sengaja kau bilang?” Dimas yang naik pitam melempar selembar kertas ke wajah Andri.
Andri yang tak tahu apa salahnya menjadi emosi akan sikap tak sopan ayah Arinda.
“Anda benar-benar enggak sopan om!”
“Mas...” Arinda mengusap dada Andri.
“Enggak sopan kata mu?! Kau yang enggak sopan! Apa kau enggak bisa baca isi kertas yang ku lempar ke wajah mu?!”
Lalu Andri mengambil kertas yang telah terjatuh ke lantai, dan membacanya.
“Sudah tahu! Arinda! Apa dia ayah dari anak yang kau kandung?” tanya Dimas.
“A-ayah tahu darimana?” tanya Arinda.
“Ayah lihat di kamar mu! Enggak cuma kertas itu, tapi juga kertas visum dll, Apa ini laki-laki bejat yang telah menodai mu?!” Dimas menunjuk tajam ke wajah Andri, membuat Andri jadi jantungan.
Cobaan apa lagi ini Tuhan!!! batin Andri.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1