Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 129 (Egois)


__ADS_3

“Tumben otak mu waras,” ucap Arinda.


“Tapi, kita harus menjual rumah bagian mu Nda, sekalian modal untuk buka usaha, kita buka restoran besar, bagaimana menurut mu? Ku yakin pasti mas Andri juga setuju, enggak apa-apalah, aku di dapur, kau yang pegang keuangan,” terang Beeve.


“Konyol! Jual saja rumah ini!” pekik Arinda.


“Rumah ini ya? Humm... enggak apa-apa juga sih, nanti kita tinggal di rumah mu, rumah mu kan lebih kecil, enggak perlu Art juga, kalau memang harus ada, sepertinya satu saja sudah cukup,” ucap Beeve dengan tersenyum.


“Enak banget, kalau ngomong selalu saja hal yang enggak berguna!” pekik Arinda. Kemudian ia meninggalkan Beeve sendirian di meja makan.


“Hahaha...” Beeve tertawa terbahak-bahak karena ia berhasil menakut-nakuti Arinda.


“Sinting! Dia pikir aku bodoh apa, mau memberikan rumah ku untuk di jual? Hah! Mimpi!” gumam Arinda seraya beranjak menuju kamarnya. Sesampainya ia dalam kamar, Arinda langsung mengemasi baju-bajunya ke dalam koper.


“Terserah si Andri mau ngomong apa! Katanya Dosa! Lebih berdosa kalau aku mengeluhkan keadaan setiap saat, lebih baik aku mencari naungan yang pasti, dari pada dengan suami miskin.” Selesai mengemas bajunya ke dalam koper, Arinda kembali turun ke lantai satu.


Arinda yang ingin menuju pintu utama bertemu dengan Beeve.


“Kau mau kemana? Enggak dengar peringatan dari mas Andri?” ucap Beeve.


“Aku kan sudah bilang, aku di paksa untuk ke rumah mertua ku, kau juga kalau punya mertua, dan di suruh kesana, pasti akan melakukannya,” terang Arinda.


“Tapi mas Andrikan enggak kasih izin.”


“Berisik! Aku mau pergi, persetan dengan izin.” Arinda yang tak mau mendengar nasehat Beeve pun meninggalkan rumah dengan menaiki taksi, perasaannya juga lebih lega setelah bebas dari jerat suami miskinnya


“Bagus deh, pergi jauh sana, semoga mas Andri sadar dan menceraikan mu,” gumam Beeve.


3 jam setelah Arinda pergi, tiba-tiba ada yang menekan bel. Beeve yang berada di ruang tamu segera membukakan pintu.


Ceklek!


Krieeet...


Sontak wajahnya datar, ketika tahu yang datang adalah sang ibu mertua.


“Kenapa wajah mu suram begitu? Mau ku siram pakai air panas?” pekik Rahma.


“Maaf bu, silahkan masuk,” ucap Beeve.

__ADS_1


“Tanpa kau suruh aku juga akan masuk.” Rahma menyenggol bahu Beeve ketika ia masuk.


“Aduh,” gumam Beeve.


“Makanya, buka pintu lebar-lebar, otak mu yang kotor kelihatan banget, dengan membuka pintu sempit untuk ku!” Rahma terus bicara dengan kata-kata menyakitkan pada Beeve.


Beeve yang tak ingin punya urusan baru pada sang mertua memilih bungkam. Ia pun menyusul Rahma yang duduk di atas sofa.


“Mana Arinda?” tanya Rahma.


“Dia sudah berangkat ke rumah ibu.” jawab Beeve seraya duduk di hadapan mertuanya.


“Oh, Andri sendiri mana?”


“Mas Andri pergi cari kerja bu,” ucap Beeve.


“Hufff..." Rahma menghembuskan nafas panjang.


“Sia-sia aku datang kesini,” gumam Rahma.


“Oh ya bu, ibu mau minum apa?”


“Bukan kok bu, bukan begitu,” ucap Beeve.


“Dan apa maksud mu mengusir Arinda? Kau sengaja ya? Agar Andri makin marah pada ku? Karena mau enggak mau aku harus menerima Arinda tinggal di rumah kami, kau memang suka cari perkara ya!”


“Maaf bu, aku enggak menyuruhnya pergi.”


“Jangan bohong! Arinda sudah menceritakan segalanya, kau jangan mengelak lagi, apa susahnya rukun dengan Arinda? Kalau begini aku jadi tambah marah kan pada mu? Dan kalau aku melakukan sesuatu kau akan mengadu pada Andri! Bahkan ke Emir juga, yang enggak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini!”


“Maaf bu, kalau aku salah!”


“Minta maaf terus yang kau bisa! Kalau bukan karena Andri, sudah ku cincang-cincang kau!” saat Rahma masih marah-marah tiba-tiba Andri muncul di hadapan mereka.


“Kenapa ibu memarahi istri ku lagi?” tanya Andri yang membuat Rahma jantungan.


“Ka-karena dia menyebalkan! Dia telah mengusir Arinda dari rumah ini!” hardik Rahma.


“Mana mungkin Beeve melakukan itu, dan... untuk apa ibu datang kesini? Ada urusan apa?” tanya Andri seraya duduk di sebelah Beeve.

__ADS_1


Rahma yang ingin mengatakan maksud dan tujuannya pun sangat sulit untuk menyampaikannya pada Andri.


“Itu...”


”Apa bu? Mau memaksa kami cerai lagi? Apa ibu belum jera juga?”


“Diam kau! Ibu datang kesini untuk menyuruh mu kembali ke perusahaan!” ucap Rahma dengan menampilkan wajah angkuh. Andri cukup terkejut, namun ia tak ingin menerima tawaran ibunya.


“Maaf bu, Andri enggak bersedia.”


“Ibu juga enggak mau kau lagi, tapi karena kau darah daging ku, aku tak bisa begitu saja membuang mu!” ucap Rahma berkilah, tak mungkin ia mengatakan jika ia di paksa oleh Yudi, karena itu bisa menurunkan harga dirinya.


“Kalau begitu, ibu bisa pulang, karena aku enggak mau.” Andri yang kukuh pada pendiriannya membuat Rahma kocar-kacir, karena sudah jelas, ia akan dapat amukan ronde kedua dari sang suami.


“Jangan sok jual mahal, besok kau harus masuk kerja, jangan buat ibu makin murka pada mu, banyak yang akan menggantikan mu kalau kau enggak ada, tapi karena kau anak ku, aku masih memberi mu belas kasih, terlebih kau punya dua istri yang sedang mengandung,” terang Rahma.


“Aku masih sanggup, pulanglah bu, aku ingin istirahat.” Andri mengusir Rahma dari rumahnya.


Bagaimana ini? Si ayah pasti akan marah besar! batin Rahma.


“Jangan bebal, pokoknya kau harus masuk kerja! Beeve nasehati suami mu, agar otaknya dapat berpikir jernih! Kesempatan mu hanya besok, kalau enggak, ibu akan benar-benar memutus tali kekeluargaan dengan mu, jangan anggap aku ibu mu lagi!” setelah mengatakan ancamannya, Rahma meninggalkan rumah anaknya dengan perasaan tak tenang.


“Mas, maaf ya, bukannya aku enggak mau mendukung keputusan mu, tapi yang di katakan ibu itu benar, banyak yang akan menggantikan mu kalau kau enggak ada, tapi..., pewaris perusahaan kan hanya kau dan mas Emir, sedangkan mas Emir sendiri enggak disini, ayah pasti sangat membutuhkan mu, tolong kau jangan egois, bagaimana pun mereka orang tua mu, kau adalah kepercayaan mereka mas, tak semua orang yang dapat di percaya untuk mengelola perusahaan, jangan hancurkan apa yang telah leluhur mu bangun, hanya karena emosi sesaat, apapun masalahnya, siapapun yang salah, seorang anak, harus berbakti pada kedua orang tuanya.” Beeve menasehati Andri, agar bersikap baik pada kedua orang tuanya.


“Akan ku pikirkan.” Andri memeluk Beeve yang dapat menenangkan hatinya.


“Mana Arinda? Aku enggak melihatnya dari tadi,” tanya Andri.


“Dia pergi ke rumah ibu mas,” jawab Beeve.


“Oh, jadi dia enggak mau mendengar perkataan ku ya,” ucap Andri.


“Biarkan saja mas, toh itu pilihannya,” ujar Beeve.


Jadi dia hanya menginginkan harta ku? Baiklah, kau akan mendapatkan apa yang kau mau setelah kau melahirkan, batin Andri.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2