
Setelah mendapatkan alamat lengkap Arinda, Beeve pun beranjak dari kamarnya.
“Nyonya mau kemana?” tanya Winda.
“Aku mau pergi ke rumah si jalan.g itu! Kalau tuan pulang, katakan aku menginap di rumah orang tua ku,” titah Beeve.
“Tapi nyah, nyonya kan belum sembuh, jangan pergi nyah, nanti nyonya kenapa-napa di jalan.” Winda teramat mengkhawatirkan Beeve yang kondisinya masih belum stabil.
“Tenang saja mbak, aku baik-baik saja, cukup katakan itu nanti pada tuan, beritahu pada yang lain untuk bersikap biasa saja,” titah Beeve.
Setelah mengganti pakaiannya, ia pun berangkat dengan mengendarai mobil sendiri.
Selama perjalanan Beeve masih menangis, menyesali setiap keadaan yang ia lakukan. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, akhirnya ia sampai juga di depan rumah Arinda.
Beeve menatap dengan seksama rumah madunya yang tak begitu besar tapi cukup mewah.
“Ternyata kau tinggal di perumahan ini?” gumam Beeve.
Setelah menghapus air matanya, dan juga memperbaiki riasan di wajahnya, Beeve keluar dari dalam mobil.
Ia berjalan dengan percaya diri, tok tok tok tok!! Beeve mengetuk pintu rumah Arinda.
Ceklek!!
Terdengar ada seseorang yang membuka pintu dari dalam.
Kriettt!!!
“Hei Bee! Kenapa bertamu semalam ini?” tanya Arinda dengan senyum manisnya.
Beeve yang sudah tak tahan dengan muka dua Arinda langsung melancarkan serangan.
Plak!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Arinda, yang membuat Arinda merasa pusing seketika.
“A...”
Plak!! Satu tamparan lagi mendarat di tempat yang sama sebelum Arinda sempat berkata apapun.
Plak!! Plak!! Plak!!
__ADS_1
Beeve tanpa mengucapkan sepatah kata pun terus menerus menampar di tempat yang sama hingga pipi madunya merah dan bengkak sebelah.
“Stop!!! Apa yang kau lakukan!!!” Hardik Arinda.
Beeve yang ternyata jago main tangan menjambak rambut Arinda, menyeretnya menuju sebuah kaca yang ada di ruang tamu Arinda.
“Akh!!!! Lepas! Lepaskan aku! Apa masalah mu pada ku Bee!” Arinda berteriak kesakitan.
Lalu Beeve berhenti tepat di hadapan kaca, “Kau masih belum sadar apa kesalahan mu!! Lihat dirimu yang begitu kacau!” pekik Beeve.
“Akhh!! Lepaskan rambut ku! Sakit tahu, brengse*!!” Arinda terus meronta, namun Beeve yang tubuhnya lebih tinggi dan unggul tenaga tak mampu Arinda lawan.
“Diam! Lihat dirimu! Coba kau berkaca! Enggak tahu diri, enggak tahu balas budi! Beraninya kau menjebak suami ku, memperdaya dia! Hingga akhirnya kau menikah siri dengannya! Dimana otak mu Arinda!” Beeve memukul kepala Arinda berulang kali dengan keras.
“Akh, sakit!!!” Arinda menjerit, ia tak menyangka, Beeve yang kalem dan tak pernah adu mulut dan otot ternyata bisa semengerikan itu kalau marah.
Lalu Beeve menghempaskan tubuh Arinda hingga tersungkur ke lantai.
“Ternyata benar ya, enggak ada yang namanya close friend di dunia ini, menyesal aku menganggap mu sebagai sahabat, eh! Bukan, bahkan aku sudah menganggap mu keluarga, kenapa kau sampai lupa dengan apa yang ku lakukan pada mu selama ini?!!! Dengan teganya kau mengambil satu-satunya kebahagiaan ku! Kenapa harus suami ku!! Hah!!” Beeve yang sudah dirasuki amarah pun mendorong tubuh Arinda ke lantai, selanjutnya ia menduduki dada Arinda kemudian mulai memukul-mukul kepala beserta wajah Arinda kiri dan kanan.
Arinda tak dapat menangkis atau memberi satu perlawanan pun, hakikatnya ia hanya besar mulut dan berakal bulus.
“Hentikan! Bukan salah ku! Itu semua bukan salah ku! Mas Andri lah yang memilih ku, ia yang melakukannya sendiri! Jadi apa salah, kalau aku meminta pertanggung jawaban!! Sama seperti mu! Yang menginginkan tanggung jawab dari Cristian, namun sayangnya, dia enggak mau meminang mu! Dan asal kau tahu, pernikahan kami di hadiri oleh kedua belah pihak keluarga kami! Walau siri, tapi aku mendapat restu, kau tahu kenapa mas Andri menikahi ku? itu karena, dia menyayangi aku dan anak ku!” ucap Arinda.
“Enggak! Kau enggak tahu apapun! Di hari aku sakit karena mengandung anaknya, dia menemani ku sampai aku siuman di rumah sakit, lalu membawa ku pulang ke rumah orang tua ku, dan menangis memohon maaf atas kesalahannya, lalu meminta untuk kami di nikahkan! Kau tentu ingatkan, kalau dia pernah enggak pulang ke rumahkan?!” Arinda memanas-manasi Beeve.
Beeve yang termakan omongan Arinda merasa terkhianati oleh suami dan mertuanya.
“Bangsaat! Kau lah yang memaksa untuk di nikahi, dasar gatal! Pelakor!!”
“Hahaha, setidaknya aku lebih baik darimu! Aku melakukannya dengan calon suami ku, sedangkan kau! Sudah bolong dengan orang lain, terus mengandung anak haram! Sudah begitu, kau buat suami ku menjadi penutup aib mu! Bangsat!” pekik Arinda.
“Hohoho, kau memanfaatkan kelemahan ku ternyata, hahaha!” Beeve yang sudah setengah gila bangkit dari tubuh Arinda, kemudian ia menjambak kembali rambut Arinda.
“Bangun kau!!” Beeve memaksa tubuh Arinda untuk berdiri.
Beeve yang tak sengaja melihat asisten rumah tangga Arinda berdiri di sudut ruangan mu pun berkata.
“Dimana kolam berenangnya?! Tunjukkan! Atau kau akan ikut ku makan!” Ancam Beeve.
Art Arinda yang ketakutan pun langsung menunjukkan jalan.
__ADS_1
“Apa kau jalan*! Mau apa kau!” pekik Arinda.
Beeve tak menggubris perkataan Arinda, ia terus membawa Arinda seraya menjambak ketat rambut wanita yang telah merusak kebahagiannya menuju kolam berenang.
Sesampainya di kolam, Beeve menceburkan tubuh Arinda.
“Hah!! Sialan! Kalau sampai kandungan ku kenapa-napa, kau akan terima akibatnya!!”
“Diam kau!! Kau terlalu kotor untuk bicara, makanya kau perlu mandi! Sadarkan dirimu! Dasar wanita enggak laku! Cara mu sungguh busuk! Menikam ku dari belakang!! Lihat saja! Kau akan segera mendapat surat cerai dari mas Andri!” Beeve mengancam Arinda.
“Itu enggak akan pernah terjadi! Karena aku akan membongkar kebusukan mu!” Arinda mengancam Beeve kembali.
“Coba saja kau lakukan! Ku bakar kau hidup-hidup! Perlu kau tahu, aku paling benci orang munafik seperti mu!” ucap Beeve yang berdiri di tepi kolam berenang.
_____________________________________________
Andri yang telah sampai ke rumah di buat heran, karena sang istri yang biasa menyambutnya tiba-tiba tak ada.
“Sin, nyonya mana?” tanya Andri pada Sinta.
“Nyonya tadi sore pulang ke rumah orang tuanya tuan,” jawan Sinta.
“Loh, kenapa dia enggak bilang pada ku?” ucap Andri.
“Kalau soal itu saya kurang tahu tuan, maaf tuan saya permisi ke belakang dulu.” Sinta memohon pamit pada Andri.
“Oke, terimakasih ya Sin,” ucap Andri.
“Sama-sama tuan.” setelah itu, Sinta meninggalkan Andri di ruang tamu sendirian.
Andri yang penasaran pun mengambil handphonenya yang ada di saku celananya. Kemudian ia mendial nomor istrinya.
____________________________________________
“Kau lihat! Suami ku menelepon ku! Bukan kau!! Sadarlah tempat mu Jalan*!” Arinda yang ingin keluar dari kolam di cegah oleh Beeve.
Beeve yang belum puas melampiaskan kemarahannya, menenggelamkan kepala Arinda.
“Kenapa harus kau! Pada hal kau adalah orang yang menemani ku dalam suka dan duka!!” teriak Beeve.
...Bersambung.......
__ADS_1
...Tinggalkan dukungan pada novel ini, agar author makin semangat update untuk kalian....