Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 85 (Mencintai Mu)


__ADS_3

Beeve terus menunggu hingga senja merah telah menyelimuti langit biru.


Ia pun kembali mendial nomor sang suami, namun tetap tak ada jawaban.


Karena kampus mulai sepi, ia pun memutuskan untuk menunggu di depan gerbang.


Kenapa kau belum datang juga mas? batin Beeve.


Ia yang berjalan sendirian menuju gerbang di perhatikan sang mantan yang ternyata sedari tadi memantau pergerakannya.


“Akhirnya kau pulang juga.” gumam Cristian yang khawatir meninggalkan Beeve di kampus yang sepi itu.


Sesampainya Beeve di depan gerbang kampus, ia duduk di sebuah halte bus yang letaknya ada di samping gerbang.


Ia yang baru saja duduk tiba-tiba menerima panggilan telepon.


Ketika ia melihat layar handphonenya ternyata itu telepon dari Emir.


Ia tadinya bersemangat, kembali muram, sebab yang ia tunggu adalah telepon dari suaminya.


📲 “Halo mas,” Beeve.


📲 “Halo, kau ada dimana?” Emir.


📲 “Di halte dekat gerbang kampus,” Beeve.


📲 “Oke, tunggu aku disana, aku akan segera sampai,” Emir.


Belum selesai Beeve bicara, Emir sudah memutus panggilan teleponnya.


“Ya ampun, pada hal aku belum selesai bicara,” gumam Beeve.


2 menit kemudian, mobil sedan warna hitam Emir berhenti tepat di depan halte, ia pun membuka kaca mobilnya.


“Naik.” titahnya pada Beeve yang masih duduk.


“Maaf mas, tapi aku sudah janji mau pulang bersama mas Andri,” ucap Beeve.


“Dia enggak akan datang, cepat naik sudah malam,” ujar Emir.


Beeve baru sadar ternyata hari sudah gelap, ia yang takut sendirian disana memutuskan untuk masuk ke mobil Emir.


“Tahu dari mana, mas Andri enggak akan datang?” tanya Beeve.


“Intinya dia enggak akan datang.” jawab Emir yang mulai melajukan mobil.

__ADS_1


“Kok aku enggak di telepon sih? Pada hal mas Andri sudah janji mau makan dengan ku di luar.” gumam Beeve dengan perasaan kecewa.


“Makan di luar dengan ku saja,” ujar Emir.


“Hum? Enggak usah mas, aku makan di rumah saja,” ucap Beeve.


“Ayolah, jangan malu-malu, kita makan banyak malam ini,” Emir tersenyum pada Beeve.


“Lain kali saja mas, tapi mas tahu enggak kira-kira kenapa mas Andri enggak jadi datang menjemput ku?” Emir yang tak suka Beeve terus menyebut nama Andri merem mobilnya dengan tiba-tiba.


Ciit!!


“Kok berhenti mas?” tanya Beeve dengan wajah bingung. Lalu Emir mendekat pada Beeve.


“Andri terus, Andri terus! Apa hanya dia yang ada di kepala mu? Sampai-sampai memakai sabuk pengaman pun kau lupa?”


“Oh iya, maaf mas, hehehe.” Beeve memakai pun segera memakai sabuk pengamannya setelah di tegur oleh Emir.


“Ini sudah, apa kita bisa berangkat?” ucap Beeve, namun Emir yang mabuk menjadi emosi tak karuan.


“Apa kau secinta itu padanya? Apa-apa Andri, semua serba Andri.”


“Ya wajar mas, dia kan suami ku,” ucap Beeve.


“Mas, kenapa kau marah-marah enggak jelas begitu, lebih baik kita jalan lagi lihat, disini itu perbatasan, takutnya ada begal.” pinta Beeve yang mulai resah.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, aku belum selesai, dengar Bee, aku enggak suka kalau kau selalu menyebut nama si brengsek itu, dan jujur saja, aku enggak pernah suka akan pernikahan mu, seharusnya yang menjadi suami mu itu aku, bukan dia.” Beeve tak habis pikir dengan arah pikiran Emir.


“Kau bicara apa sih mas? Enggak jelas bangat, apa kau mabuk? Akh, ayo jalan!” pekik Beeve.


“Aku enggak mabuk, kau mudah berjanji, mudah pula mengingkari!”


“Berjanji? Mengingkari?” Beeve tak ingat sama sekali perbincangannya dulu bersama Emir.


“Iya! Kau berjanji akan menikah dengan ku, kedua orang tua mu juga telah merestui kita, tapi kenapa? Kau malah memilih Andri?” Emir membuka sabuk pengamannya dan mendekat pada Beeve yang ada di sebelahnya.


“Kau mau apa?!” hardik Beeve.


Lalu Emir mengelus perut Beeve dan berkata, “Harusnya benih ku yang kau kandung bukan dia!!!” Emir berteriak kencang di telinga Beeve.


“Akh!! Singkirkan tangan mu dari perut ku!” Beeve menepis tangan Emir, jarak wajah mereka yang hanya sejengkal membuat Beeve dapat mencium aroma alkohol dari bibir Emir.


“Pantas saja tingkah mu aneh, ternyata benar kalau kau mabuk! Menjauh dari ku!” Beeve mendorong tubuh Emir dari hadapannya.


Namun Emir yang terlanjur kalap memeluk kakak iparnya sendiri.

__ADS_1


“Jangan katakan itu, biarkan aku memeluk mu sejenak sayang!”


“Akh!! Jangan lakukan ini! Aku ini kakak ipar mu!” Beeve berusaha mendorong tubuh Emir yang mendekapnya dengan erat.


“Hanya sebentar, biarkan aku memeluk mu, aku dari dulu sampai sekarang masih sangat mencitai mu.” Emir mengungkapkan perasaanya pada Beeve.


“Tapi, aku enggak mencintai mu mas! Lepaskan aku! Jangan berbuat gila begini! Aku ini istri abang mu! Menjauh dari ku!” Emir yang tak suka Beeve menyebut nama Andri melepaskan pelukannya, lalu Beeve buru-buru melepas sabuk pengamannya, namun sayang sebelum itu terjadu Emir menghentikan aksinya.


“Bee, Andri itu enggak mencintai mu, satu-satunya orang yang menerima mu apa adanya adalah aku, tinggalkan Andri, dan menikahlah dengan ku, aku akan menerima anak mu juga,” bujuk Emir.


“Konyol!”


Plak! Beeve menampar pipi Emir yang menurutnya sangat keterlaluan.


“Kau pikir kau siapa? Bisa-bisanya kau berkata begitu tentang suami ku! Dengar ya, aku enggak mencintai mu, aku hanya mencintai suami ku, jangan kau fitnah suami ku dengan berkata dia tak mencintai ku, harusnya kau sadar perbuatan mu ini benar-benar keterlaluan, aku benar-benar jijik pada mu! Sekarang lepaskan tangan ku! Karena aku mau pulang!” hardik Beeve.


“Kau enggak boleh pulang,” ucap Emir.


“Lepaskan! Aku mau pulang!” Beeve terus mencoba melepas tangan Emir yang menggenggam tangannya dengan erat.


“Kau mau pulang? Hum?” tanya Emir.


“I-iya mas, aku mau pulang, tolong jangan begini, aku mohon.” Beeve mulai gentar, karena Emir menampilkan senyum aneh.


“Kau boleh pulang, setelah kita melakukan satu ronde, jujur saja Bee, aku sudah lama menginginkan mu.” mata Beeve membelalak, ia tak menyangka, kalau Emir sebrengsek itu.


“Dasar gila! Jangan macam-macam pada ku! Lepaskan aku!!” Beeve meronta dengan sekuat tenaga.


Namun Emir yang tenaganya lebih unggul mengunci pergerakan Beeve, ia pun menarik tubuh Beeve, dan mendudukkannya di pangkuannya, serta menggenggam erat kembali kedua tangan Beeve ke arah belakang.


“Jangan!!!” Beeve berteriak sekencang-kencangnya, namun sayangnya mobil mewah itu kedap suara, orang lain pun tak dapat melihat ke dalam mobil.


Emir yang masih di bawah pengaruh alkohol memeluk Beeve, dan mengelus rambut wanita cantik yang ia cintai itu.


“Jangan takut, toh aku bukan orang lain, aku adalah calon suami yang kau tinggalkan,” ucap Emir.


“Gila! Dasar sinting! Lepaskan aku!” Beeve mulai menangis, ia tak bisa menerima bila nasibnya akan berakhir sial malam itu.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....



__ADS_1


__ADS_2