
“Awas saja kau Bee, enak banget kalau aku yang sakit sendiri,” gumam Arinda.
Keesokan harinya, di minggu pagi yang indah, ketika Beeve sedang olah raga kecil di halaman utama rumahnya tiba-tiba Rahma dan Yudi datang dengan menaiki mobil sedan berwarna hitam.
Rahma yang melihat Beeve sedang berolah raga pun turun dari mobilnya.
“Heh, kau! Kemari!” Rahma memanggil Beeve seperti orang asing.
“Ada apa lagi nih,” gumam Beeve, seraya mendekat ke mertuanya.
“Ibu datang?” sapa Beeve.
“Enggak usah sok ramah, mana anak ku?” ucap Rahma.
“Mas Andri ada di dalam bu.” ujar Beeve.
Kemudian Rahma masuk kembali ke dalam mobil menuju pintu utama. Sedang Beeve menyusul dengan berjalan kaki.
Rahma, Yudi dan Arinda yang telah sampai terlebih dahulu langsung masuk ke dalam rumah, Beeve yang melihat ada Arinda juga sudah paham maksud dari kedatangan mertuanya pagi itu.
Sedangkan Andri yang baru saja selesai berpakaian rapi keluar dari dalam kamar.
Ia yang melihat kehadiran kedua orang tua dan istri keduanya pun dapat menebak tentang apa yang akan di bahas.
Enggak beres-beres ya masalah ini, batin Andri.
Andri pun mendatangi para tamunya yang telah duduk di sofa.
“Ada apa bertamu sepagi ini bu, yah?” tanya Andri pada Rahma.
“Ada apa? Kau masih bertanya?” jawab Rahma.
“Tentu saja, apa itu salah?”
“Dasar enggak tahu sopan santun!” pekik Rahma.
Yudi yang tak ingin ada keributan pun melerai istrinya.
“Bu, bicaranya bisa jangan pakai marahkan?” ujar Yudi.
“Ibu juga maunya begitu yah, tapi anak ini bikin emosi ku meledak-ledak,” ucap Rahma.
“Ke intinya saja deh bu,” ucap Andri.
“Kenapa kau ingin menceraikan Arinda? Pada hal dia sedang mengandung anak mu?” tanya Rahma.
“Itu karena dia telah melanggar perintah ku, kalau enggak bisa di atur, mending di lepas,” ungkap Andri.
“Kau waras enggak sih? Pernikahan itu sakral! Dulu kau menangis meminta restu, sekarang kau ngotot mau cerai?!” mata Rahma melotot pada putranya.
“Memang benar apa yang ibu katakan, tapi Arinda tak menghormati ku, makanya aku ingin melepasnya,” terang Andri.
“Ya Allah Ndri! Mengambilkan keputusan jangan gegabah!”
“Iya betul nak, pikirkan lagi, Arinda saat ini sedang mengandung,” ucap Yudi.
“Bu, yah, kalian lihat sendirikan? Keputusan mas Andri sudah mutlak,” Arinda kembali menangis.
__ADS_1
Saat Beeve akan sampai ke pintu utama, tiba-tiba kedua orang tua Arinda yang mengendarai motor metik berhenti di sebelahnya.
“Beeve!” hardik Elia. Sontak Beeve menoleh ke sumber suara.
“Tante,” gumam Beeve.
Elia yang turun dari motor langsung melakukan serangan pada Beeve.
“Dasar jahanam!” plak! Elia menampar wajah Beeve.
“Tante! Kenapa datang-datang malah menampar wajah ku?!” pekik Beeve.
“Dasar enggak sadar diri! Sudah salah malah pura-pura bodoh!” plak! Elia kembali memberi tamparan pada wajah Beeve.
Dimas yang menyaksikan hanya diam, tak melerai istrinya.
“Tante apa-apaan sih! Memangnya aku salah apa?!”
“Kau belum sadar juga? Hah! Kau telah menghancurkan masa depan putri ku, karena hasutan mu, menantu ku akan menceraikan anak ku!” Elia yang masih menaruh marah mencoba memukul Beeve kembali, namun Beeve menangkisnya.
“Hentikan tan! Andaikan tante seumuran ku, pasti sudah ku balas!” hardik Beeve.
Dimas yang tak terima istrinya di bentak langsung mengambil tindakan.
“Heh Beeve! Beraninya kau bersuara keras pada orang tua! Dasar anak enggak beretika, jangan buat orang lain mencap orang tua mu gagal dalam mendidik mu,” ucap Dimas.
“Ya memang sudah gagal yah, anak yang ada dalam perutnya saja anak haram orang lain,” ujar Elia.
“Tan! apapun status anak ku, tante enggak berhak untuk berkomentar, karena ini urusan ku,” ucap Beeve.
“Memang itu bukan urusan ku, tapi karena kamu telah mengusik anak ku, kamu harus dapat pelajaran dari ku,” terang Rahma.
“Dia sering memukuli anak kita mas, yang menghasut menantu kita untuk cerai, ya si Beeve yang enggak tahu di untung ini!”
Dimas seketika naik pitam, saat tahu anaknya di pukuli oleh Beeve.
“Apa hak mu menangani anak ku, hah! Dasar perempuan berhati iblis, sudah salah anak ku menjadikan mu sebagai sahabat! Kalau bukan karena Andri yang menodainya, dia enggak akan mau masuk ke dalam kehidupan keluarga mu yang kotor ini!” pekik Dimas.
“Dasar keluarga sinting!” Beeve yang tak ingin adu mulut dengan orang tua pun beranjak dari hadapan Dimas dan Elia.
Namun Elia yang belum puas, mengambil selang yang terhubung dengan kran air.
“Kau belum boleh pergi perempuan setan!” Dimas pun memegang tubuh Beeve sedang Elia menyiram tubuh Beeve dengan air.
“Akh! Hentikan tan! Lepaskan aku om!” teriak Beeve.
“Kau perlu di mandi wajib, agar bebas dari hadas besar! Terlalu berat dosa dan kebusukan yang ada dalam dirimu!” pekik Elia.
“Akhh!! Lepaskan aku!!" Dimas dan Elia pun mengguyur tubuh Beeve hingga basah kuyup.
Siska yang kebetulan pulang dari supermarket melihat hal itu.
Ia pun segera turun dari taksi tepat di sebelah Beeve yang sedang dirundung.
“Nyonya! Apa-apaan kalian, hentikan!” Siska mencoba memisahkan Beeve dari genggaman Dimas, namun ia tidak berhasil.
“Apa sih babu ini!” Dimas menghempaskan tubuh Siska hingga tersungkur ke rumput hijau yang tumbuh di tanah.
__ADS_1
Karena tak berhasil, Siska langsung berlari menuju rumah.
“Tuan! Tuan! Tolong tuan!” teriak Siska dengan sekencang-kencangnya.
Mereka yang mendengar suara Siska pun sontak berdiri.
“Ada apa Sis?” tanya Andri.
“Itu, ada dua orang gila yang menyerang nyonya!”
“Apa?! Dimana?!” tanya Andri panik.
“Di depan tuan!” mereka semua pun keluar rumah.
Ketika Andri, dan yang lainnya memelihat kedua orang tua Arinda memperlakukan Beeve dengan kasar, seketika mereka jadi syok.
Ibu, ayah! Kok jadi begini sih? batin Arinda.
“Berhenti!!” Andri berlari dan menarik tubuh Dimas dengan penuh tenaga.
“Andri! Kenapa kau menghentikan ku!” pekik Dimas.
“Kurang ajar! Beraninya kalian menyentuh istri ku!” tanpa pikir dua kali, Andri melayangkan tinjunya ke wajah Dimas.
Duak!!!
“Akhh!!” Semua orang histeris dan berhamburan memisahkan Andri dan Dimas.
Elia yang berada di dekat Andri dan Dimas pun melerai perkelahian itu.
“Andri! Berhenti! Durhaka sekali kau pada ayah mertua mu,” pekik Elia.
Andri yang emosi terus saja memukul Dimas di sembarang tempat, “Siapa suruh menyakiti istri ku!”
“Sudah-sudah!” Yudi dan para satpam yang bekerja di rumah itu pun memisahkan Andri dari Dimas.
Arinda sendiri berlari menuju ayahnya, “Ayah! Ayah baik-baik saja?” Arinda memeluk tubuh ayahnya.
“Dasar orang-orang enggak jelas!” pekik Andri.
“Mas! Keterlaluan sekali kau pada ayah ku!” Arinda memarahi Andri.
“Ayah mu yang keterlaluan! Beraninya pada perempuan, asal kau tahu! Enggak ada yang boleh menyakiti Beeve!” teriak Andri.
Rahma yang menyaksikan anaknya main tangan untuk pertama kalinya jadi ketar-ketir.
“Beeve! Beeve! Dia terus! Kau kena pelet atau jampi-jampi apa sih mas! Aku bosan tahu, kau selalu menomor satukan dia! Pada hal aku lebih berhak dari dia! Keterlaluan kau mas!” Arinda benar-benar sakit hati atas perlakuan Andri.
“Siska! Bawa nyonya ke dalam, urus dia!” titah Andri.
“Ba-baik tuan.” sahut Siska seraya membantu Beeve bangkit, berjalan menuju ke rumah.
“Dengar Arinda! Bukan karena aku memprioritaskan Beeve, tapi sikap dan sifat mu lah yang membuat aku jijik!”
“Andri! Kendalikan dirimu!” Yudi mencoba menyudahi masalah yang sedang berlangsung.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...