Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 207 (Elia Sadar)


__ADS_3

“Gimana aku bisa sabar sih mas? Kemarin juga mereka tiba-tiba datang ke restoran, berbuat konyol sujud-sujud segala, membuat aku malu mas, sekarang mereka datang langsung ke rumah, mereka tahu dari mana alamat rumah kita?” Beeve yang emosi memberi tatapan mata tajam pada Elia dan Dimas.


“Dari mana kalian tahu alamat rumah ini? Hah! Jawab! Apa kalian mengikuti kami diam-diam saat pulang kerja?!” hardik Beeve. Lalu Dimas pun menganggukkan kepalanya.


“Betul, saya mengikuti nak Andri seminggu yang lalu dari kantor kesini, maafkan om Bee, om tidak bermaksud jahat,” terang Dimas.


“Dasar stalker! Ayo keluar kalian, jangan bikin aku makin naik darah!” Beeve menarik tangan Elia agar bangkit dari sofa. Namun Elia malah menghempaskan tangan Beeve.


“Sombong sekali gaya mu Bee, pada hal kau dan Arinda pernah jadi sahabat, apa salahnya saling memaafkan, lagi pula kau juga telah menemukan kebahagian mu, bukankah putri mu telah kembali? Iyakan? Aku juga ingin Arinda pulang ke rumah, tolong kalian jangan egois, toh pada akhirnya, kalian tetap bersama, berikan Arinda kebagian juga, dengan mengeluarkan dia dari penjara,” ucap Rahma.


“Benar-benar Menjijikkan!” pekik Beeve.


“Biar saja menjijikkan, demi anak akan ku lakukan, bukankah kau juga begitu? Demi putri mu, kau menipu Andri? Menikah dalam keadaan hamil, setiap orang tua akan berkorban untuk anaknya.” Andri menghela nafas panjang, sebab Elia berani mengungkit masa lalu mereka.


“Tolong! Keluar sekarang juga! Atau kalau enggak, aku akan panggil polisi! Agar kalian sekeluarga berkumpul di penjara!” Andri mengancam kedua mantan mertuanya.


“Apa? Kau tega berkata begitu pada orang tua? Nak Andri, kalau kami mau, kami juga bisa menuntut mu, terkait keguguran Arinda! Apa susahnya sih tinggal cabut laporan?! Selesai, kami juga akan pergi jauh, tolonglah...” Dimas yang telah lelah merendah, mulai emosi.


“Kalian sudah di luar batas!” Andri yang tak segan lagi mengambil handphonenya. “Enggak keluar juga, aku akan telepon polisi!” Andri pun segera mendial nomor berwajib setempat yang ada pada handphonenya.


Melihat Andri tak main-main, Elia dan Dimas pun jadi takut.


“Baiklah, kami akan pergi! Tapi ingat ya kalian berdua, karma akan menimpa kalian! Dan sampai ke akhirat pun, kalian takkan ku maafkan!” pekik Rahma.


“Terserah! Sana minggat!” Andri pun menuntun Elia dan Dimas menuju pintu, setelah itu ia mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.


“Bi Ratih!” Beeve memanggil Art nya.


“Iya nyah?” sahut Ratih.


“Lain kali, kalau 2 orang itu datang kemari, enggak usah buka pintu!” titah Beeve.


“Baik nyah, maaf kalau saya salah.”


“Iya, enggak apa-apa bi.” ucap Beeve, Andri yang telah kembali dari depan pun memeluk istrinya.


“Kau enggak apa-apa sayang?”


“Iya mas, aku baik-baik saja.”

__ADS_1


“Untuk apa kau meledak-ledak pada mereka? Buang-buang energi mu saja.”


“Gimana enggak meledak? 2 Kali loh mas mereka datang, enggak tahu malu banget, harusnya tadi mas seret mereka ke polisi sungguhan, biar jera!” ucap Beeve, lalu Andri mengelus punggung Beeve, agar emosi istrinya mereda.


“Ya ampun, sudahlah sayang, lagi pula mereka sudah pergi kan?” terang Andri.


“Iyalah mas!”


“Dari pada muka mu seram begitu, mending kita makan, aku sudah lapar.” Andri pun merangkul bahu Beeve menuju meja makan.


_________________________________________


Arinda yang berada dalam penjara menunggu kunjungan dari orang tuanya.


“Lama banget sih ibu datangnya, akh! Bikin kesal deh!” gumam Arinda.


Tak lama seorang sipir pun datang, “Arinda, kau dapat kunjungan,” ucap sang sipir. Sontak Arinda berdiri dengan semangat.


“Semoga saja ada kabar baik.” dengan cepat Arinda menuju orang tuanya.


“Ibu, aduh... aku rindu.” Arinda memeluk tubuh ibunya.


“Loh, ayah enggak ikut bu?” tanya Arinda.


“Ayah mu lagi sakit, makanya enggak bisa kesini,” terang Elia.


“Astaga, semoga ayah cepat sembuh, titip salam ke ayah ya bu,” ucap Arinda.


“Iya nak.”


“Oh ya, ibu tahu enggak.” Arinda mendekatkan wajahnya pada Elia.


“Apa?” tanya Elia penasaran.


“Lawan ku, sudah lenyap.” bisik Arinda dengan hati-hati. Elia deg degan bukan main, mengetahui anaknya jadi pembunuh.


“La-lalu, apa semuanya aman?”


“Tentu saja, aku menjadikan teman ku sebagai kambing hitam, pfff...” Arinda berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


Astaghfirullah, kenapa anak ku jadi psikopat begini? batin Elia.


“Syukurlah kalau kau lolos.” ucap Elia dengan wajah yang sedih.


Kau benar-benar telah hancur nak, entah siapa yang memberi pengaruh buruk pada mu, pada hal dulu kau adalah anak yang manis, rajin dan juga patuh, batin Elia.


“Tapi bu, bagaimana dengan si tolol Andri? Apa ibu sudah bertemu dengannya?”


“Sudah tadi.”


“Lalu, apa katanya?”


Elia pun menggelengkan kepalanya, “Dia menolak nak.” ucap Elia.


“Ck! Benar-benar keterlaluan,” Arinda menggigit kukunya karena geram.


“Pada hal Hana sudah kembali, mereka juga sudah bersama lagi Nda, ya Allah hati ibu sakit terus memohon tapi tak di dengar,” Elia pun menangis kembali.


“Kurang ajar! Pada hal mereka sudah bahagia, masa aku sendiri yang tak ada perubahan? Kejam sekali cara mainnya!” Arinda mengepal tangannya karena emosi.


“Sabar nak, ibu dan ayah mu juga sudah berusaha, tapi hasil tetap nihil.”


“Lebih keras lagi dong bu usahanya, si Andri sebenarnya hatinya lemah, mungkin karena ada Beeve di sampingnya, makanya ia jadi bebal begitu, Beeve... Beeve... pada hal aku sudah berbaik hati meminta maaf pada mu, tapi kau makin menjadi-jadi, tak punya perasaan.” Arinda memijat pelipisnya karena prustasi.


“Arinda, yang bisa kita lakukan sekarang ya hanya berusaha dan berdo'a, agar Allah memberikan hal yang terbaik untuk mu, semua usaha sudah kita lakukan, kau juga harus banyak istighfar dan sholat nak, mana tahu masa tahanan mu di kurangi sayang.” Elia yang merasa tak ada harapan untuk putrinya bebas dalam waktu dekat pun hanya bisa memberi nasehat.


“Do'a juga harus disertai usaha bu, pokoknya ibu temui dia lagi, tanpa Beeve, kalau perlu ibu ancam dia dengan minum racun atau apalah, agar si Andri takut!”


“Ya Allah nak, tadi saja ibu dan ayah hampir di laporkan ke polisi, tolonglah kau mengerti, kami sudah berusaha.”


“Aku ngerti bu, makanya ku katakan, lakukan lagi tanpa ada Beeve, karena biang kerok dari segalanya ya dia! Sumber penderitaan ku darinya, dia sekarang melenggang bebas dan bahagia, berkumpul dengan anak dan suaminya, memiliki restoran, nah! Aku apa? Apa pantas aku menerima ini semua?? 4 tahun di dalam sini bukan waktu yang singkat untuk ku, banyak yang telah ku lalui bu, aku sudah enggak tahan, jadi tolong! Lakukan apapun untuk mengeluarkan ku dari sini, kalau perlu culik Hana, jadikan kebebasan ku sebagai tebusannya.” Elia tercengang, ia tak menyangka, putrinya tak ada perubahan sedikit pun setelah sekian lama mendekam dalam penjara.


Apa yang harus ku lakukan Tuhan, Arinda malah makin sesat, ini enggak bisa di biarkan, batin Elia.


“Maaf Arinda, ibu enggak bisa melakukan itu, dan jangan kau perintah ibu lagi untuk hal-hal yang bisa merugikan ibu dan kau kedepannya."


“Ibu biacara apa barusan?”


“Ibu tidak bersedia lagi, kalau permintaan mu membahayakan orang lain, ibu enggak mau! Harusnya kau ubah sifat mu, otak mu telah menyimpang jauh menurut ibu, dekatkan dirimu pada Allah nak, agar hatimu tenang, berdamailah dengan keadaan Arinda.” ucap Elia.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2