
Sesampainya Emir dan Helena ke kafe, keduanya pun memesan 2 cangkir teh, Emir yang masih kagum pada istrinya terus melempar senyum.
“Kau kenapa sih bang? Dari tadi senyum-senyum terus?” tanya Helena, sebab ia merasa tak percaya diri dengan tatapan tiada henti dari suaminya.
“Kau... benar-benar cantik hari ini.” Emir memberi pujian pada Helena untuk pertama kalinya, yang membuat wanita itu tersentak.
“Enggak salah bang?” ujar Helena.
“Itu sudah paling benar, kau sangat cantik!” Emir kembali mengulangi ucapannya.
“Aku tahu kalau wajah ku cantik, tapi kenapa kau baru sadar hari ini? Kemana saja akal sehat mu selama ini bang?” ucap Helena.
“Yang cantik itu bukan wajah mu.”
“Apa?” Helena mengernyitkan dahinya.
“Aura mu, sangat berwibawa dan elegan, aku suka kau yang begini,” terang Emir.
Lalu Helena menyunggingkan bibirnya, “Berarti abang belum mencintai ku apa adanya dong, buktinya abang hanya mencintai aku dari sisi tertentu, beda dengan ku, yang mencintai mu luar dalam, aku juga terima ganteng mu, cerewet mu, dan juga sifat egois mu.” ujar Helena yang membuat Emir tertawa.
“Setiap orang beda cara mencintainya dek...”
“Kau benar bang, tapi... sebaiknya belajar menerima centil ku juga, karena untuk mu aku enggak bisa tegas, hati ku lemah kalau itu soal dirimu.” Helena yang sebelumnya berkelas di mata Emir kini harus runtuh seketika, saat pria tampan itu menerima gombalan maut dari istrinya.
“Astaga... kau benar-benar bisa merusak suasana,” celetuk Emir.
“Aku begini hanya pada mu bang, beruntunglah kau yang bisa setiap saat mendengar gombalan receh dan juga senyuman lebar ku, untuk orang lain, aku berusaha jaga jarak loh! Itu adalah salah satu bukti cinta dan setia ku pada mu abang sayang.” terang Helena dengan setulus hatinya.
Benar juga, harusnya aku bersyukur, mendapatkan istri baik dan juga setia seperti Helena, kalau dia Beeve, pasti aku akan selalu mati kutu, dan tak hentinya mengambil hati, astaghfirullah, berdosa sekali aku yang meremehkan sifat terbuka istri ku pada ku, batin Emir.
Perlahan namun pasti, Emir lebih membuka hatinya untuk sang istri yang belum sepenuhnya ia cintai.
Setelah pesanan mereka tiba, keduanya pun menikmati teh hitam kayu Aro yang cukup terkenal di dunia.
“Bang, tehnya beda dari yang biasa ku minum,” ucap Helena.
“Iya dek, ini namanya teh hitam kayu Aro, yang berasal dari Jambi, salah satu teh terbaik di dunia, dan juga termasuk teh favorit di kalangan ratu Belanda dan juga bangsawan Eropa,” terang Emir.
“Oh... aku baru tahu kafe ini menyediakan teh kayu Aro,” ujar Helena sebab ia tak pernah menemukannya di menu kafe langganannya itu.
“Aku tadi bawa dari restoran Beeve, ini di ekspor langsung dari perkebunannya, tanpa perantara tangan, selain kayu Aro, disana juga menyediakan 6 teh terbaik sedunia, termasuk the Sencha dari Jepang, teh putih Fujian dari Cina, teh Pu'erh dari Cina, Mate tea dari Argentina, teh Oolong dari Cina, dan yang terakhir Rooibos Tea dari Afrika Selatan. Karena kau selalu sibuk, makanya aku bawakan untuk mu, kebetulan pembukaan menu barunya baru satu minggu.”
“Oh... enak sih bang, bagaimana dengan respon pelanggan?” tanya Helena penasaran.
__ADS_1
“Sangat bagus, banyak yang menyukai dan memesan 7 menu baru teh ini, karena pengunjung yang datang juga bukan hanya warga lokal, tapi juga luar negeri, jadi masing-masing dari mereka memesan teh dari daerah mereka, yang enggak kalah penting sih design bangunannya sangat mendukung untuk mengobati rasa rindu para pelanggan pada kampung halamannya,” Emir begitu bersemangat menceritakan kesuksesan bisnis Beeve, tanpa sadari Helena tak nyaman dengan hal itu.
Kalau soal kak Beeve dia selalu bersemangat, batin Helena.
“Oh iya bang, kapan-kapan bawa aku ke restorannya ya, aku juga ingin menikmati keindahan disana,” ujar Helena.
“Oke siap!” sahut Emir.
Ketika keduanya masih asyik mengobrol seraya minum teh, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memantau mereka dari depan kafe.
__________________________________________
Beeve yang baru bangun dari ranjang kantor suaminya, segera menuju ke meja kerja Andri.
Ia pun melihat suaminya sedang sibuk mengoperasikan laptop dengan sangat cekatan.
Kira-kira mas Andri lagi mengerjakan apa ya? batin Beeve.
Ia yang sudah terlalu lama tidur, tak ingin kembali lagi ke ranjang.
“Apa aku pulang saja? Disini terus bosan, kalau aku ajak mas Andri mengobrol, pasti kerjaannya tertunda,” gumam Beeve.
Beeve yang melamun di depan pintu kamar, tanpa sengaja di lihat oleh Andri.
“Kau sudah bangun sayang?” sapa Andri yang membuat Beeve tak enak hati.
“Kau pasti lapar, mau makan apa sayang?” tanya Andri yang tahu kalau istrinya pasti keroncongan.
“Aku saja mas yang pesan, kau lanjutkan saja pekerjaan mu.” ujar Beeve, yang tak ingin menggangu suaminya berkerja.
“Tenang, ini tinggal sedikit lagi, duduklah di sofa, agar aku minta bawakan ke OB,” ujar Andri.
“Baik mas kalau begitu.” ucap Beeve, ia pun beranjak untuk duduk ke atas sofa.
“Kau mau makan apa sayang?” tanya Andri kembali.
“Sup iga mas,” ucap Beeve.
“Baiklah, kita maka sup iga ya sore ini.” lalu dengan cepat Andri memberi titah pada OB kantor untuk membeli sup iga di restoran dekat kantor mereka.
“Sebentar lagi pasti datang, kau tunggu saja, dan maaf aku ingin lanjut kerja dulu, biar nanti kita bisa maka sama-sama.” terang Andri lada istrinya.
“Iya mas, sambil menunggu, aku boleh jalan-jalan keluar kan mas?”
__ADS_1
“Jangan sayang, kau disini saja!” Andri tak memberi izin istrinya untuk keluar ruangan.
“Loh, kenapa mas?” tanya Beeve yang merasa curiga, kalau suaminya malu jika orang lain melihat dirinya yang begitu jelek.
“Aku takut kau bertemu ayah.”
“Apa masalahnya kalau aku bertemu dengan ayah?”
“Sayang, ayah itu membuat peraturan ketat yang di perintahkan langsung oleh ibu, kalau setiap karyawan di larang pacaran satu kantor, dan juga membawa pasangan, dan semua karyawan wajib mematuhi aturan itu.” terang Andri.
“Mas kan termasuk atasan, kena peraturan juga?” Beeve tak begitu saja percaya dengan ucapan suaminya.
“Sudah jelaskan? Karena aku juga karyawan, yang bos itukan ibu dan ayah, ayah juga kena peraturan karena saham ibu lebih besar dari ayah, dan ibu melakukan semua ini, agar ayah tak nakal pada gadis-gadis muda di kantor, harusnya kau bersyukur, itu juga bisa mewanti-wanti ku untuk main gila kan?” ucap Andri.
Bukannya sudah lolos satu kali? batin Beeve
“Iya mas, aku percaya pada mu, sudah! Lanjutkan pekerjaan mu, aku akan duduk manis di atas sofa.” Beeve cemberut, karena ia tak percaya 50% pun perkataan suaminya.
“Sini sini!” Andri menyuruh Beeve untuk datang padanya.
“Apa? Aku disini saja, kau kerjakan tugas mu mas, agar kita bisa makam bersama.” ucap Beeve tanpa melihat wajah suaminya.
“Mama kembar! Cepat kemari!” suara Andri sedikit meninggi, hingga membuat Beeve menoleh padanya.
“Mau apa sih mas?!” pekik Beeve.
“Cepat! Jangan buat aku marah!”
Lalu Beeve bangkit dari duduknya menuju meja kerja suaminya.
“Apa!” ucap Beeve dengan wajah cemberut, lalu Andri menuntun Beeve untuk duduk di pangkuannya.
“Kau kok makin hari makin nakal sih?” Andri mencubit bahu Beeve dengan pelan.
“Bukan aku mas yang nakal, tapi anak-anak mu, mereka semua kan mewarisi sifat aneh mu,” terang Beeve.
“Jangan bawa anak-anak ah! Kau ini, suka banget fitnah para jagoan ku!” Andri tak terima bila Beeve menyalahkan anak-anaknya.
“Memang benar kok!”
“Benar dari mana?” Andri yang sudah di ambang batas sabar, menggigit bibir istrinya.
“Akh! Mas! Sakit!”
__ADS_1
“Sekali lagi menyalahkan mereka, aku akan menghukum mu, sampai minta ampun!” Andri pun melanjutkan ciumannya di bibir manis istrinya.
...Bersambung......