Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 270 (Mimpi)


__ADS_3

Rahma pun di bawa kembali ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Beeve dan ketiga anak kembarnya telah di sediakan kamar yang ukurannya 3 kali lebih besar dari kamar Andri yang biasa mereka tempati.


Di dalam kamar, telah tersedia 3 ranjang bayi untuk ketiga putra Beeve, begitu pula untuk Beeve. Beeve yang belum boleh banyak bergerak di bantu Emir untuk tidur di atas ranjangnya.


Yudi yang memantau dari pintu memperhatikan keduanya dengan seksama. Ia yang melihat Emir telah selesai menyelimuti menantunya pun mulai memanggil anaknya.


“Mir!”


“Iya yah?” sahut Emir.


“Ayo, ikut ayah ke ruang kerja sebentar.” pinta Yudi, yang berjalan terlebih dahulu.


“Oke yah! Bee, aku tinggal sebentar ya, kau enggak apa-apakan?”


“Iya mas, pergilah,” ucap Beeve. Lalu Emir meninggalkan Beeve di kamar bersama ketiga perawat dan anak-anaknya.


Sesampainya ia di ruang kerja Yudi, Emir duduk di hadapan ayahnya.


“Ada apa memanggil ku kemari yah?” tanya Emir, karena ia merasa tak ada hal penting yang ingin di bicarakan.


“Hem, ayah enggak tahu, ini patut atau tidak di katakan...” ucap Yudi dengan perasaan ragu.


“Katakan saja yah,” ucap Emir.


“Apa... kau masih mencintai Beeve?” pertanyaan Yudi membuat Emir terperanjat, pasalnya kedua orang tuanya selama ini melarang ia mendekati Beeve.


“Kenapa tiba-tiba ayah menanyakan hal itu?” ucap Emir dengan pandangan teduh.


“Ya, kau tahu sendiri, kini Beeve sudah sendiri, kau juga begitu, dan usia kalian masih sama-sama muda, dan... kau lihat kondisi ibu mu sekarang, sudah tidak bisa di harapkan untuk mengontrol rumah dan perusahaannya, kitakan masih keluarga dengan Beeve, kalau kau masih ada rasa padanya, apa salahnya, jika kau menggantikan posisi Andri, dari pada dia menikah dengan orang lain suatu saat, akan sulit bagi kita bertemu Bia dan si kembar, itu jika suaminya mau menerima ke empat anaknya, kalau tidak kan, kasihan cucu-cucu ku, kalau berpisah dari ibunya, atau mungkin kau punya calon?” penjelasan dari Yudi membuat Emir bimbang.


Ia sendiri memang masih mencintai Beeve, namun ia takut melukai perasaan wanita itu, sebab janda dari saudaranya tersebut baru di tinggal pergi.


“Aku memang masih mencintainya yah, tapi menikah untuk sekarang sepertinya enggak mungkin,” terang Emir.


“Tentu saja enggak sekarang, habis masa Iddah nya dulu, baru kalian di resmikan, lagi pula mata ayah amat janggal melihat kalian berdua bersentuhan, pada hal bukan suami istri,” ujar Yudi.


“Ayah benar, Andri sebenarnya juga meminta ku untuk menikahi Beeve sebelum ia meninggal, tapi... tunggu dulu yah, jangan sekarang, beri Beeve waktu untuk menyembuhkan luka di hatinya, nanti karena berhutang budi pada keluarga kita, atau dia merasa tak enak, dia malah memaksakan diri, aku maunya, Beeve menerima ku dengan ikhlas, tanpa paksaan, aku ingin kali ini pernikahan ku langgeng yah, tak ingin berpisah lagi,” ucap Emir.


“Baiklah, kalau menurut mu begitu, ayah ikut saja.” Yudi pun menerima pendapat putranya.


Setelah selesai mengobrol, Emir pun keluar dari ruang kerja ayahnya menuju kamar Beeve dan bayinya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Emir menggendong ketiga anak kembar Beeve secara bergantian, ia teramat sayang kepada anak-anak mendiang Andri, bahkan ia sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


Bia yang baru pulang sekolah pun ikut menjaga adik-adiknya.


“Lucu banget ya om!” ucap Bia pada Emir.


“Iya, mirip Bia!” ujar Emir.


“Mirip papa om, bukan Bia,” terang Bia.


Beeve merasa sedih, kala mendengar nama Andri, ia pun kembali merindukan suaminya yang kini telah bersemayam di kehadirat Ilahi.


1 bulan kemudian, Beeve yang telah sembuh dari pasca operasi, memutuskan untuk berziarah ke makam suaminya.


Kali itu ia datang dengan membawa Emir dan Ke empat anak-anaknya dan para suster.


Mereka yang telah sampai di makam pun menggelar tikar, selanjutnya melakukan pengajian Yasin.


Setelah itu, Beeve pun memperkenalkan ketiga jagoannya pada suaminya.


“Mas, ini anak-anak kita sudah terlahir ke dunia, mereka sehat dan tampan, mirip dirimu.” air mata Beeve mulai mengalir saat mengutarakan apa yang ia katakan.


“Sesuai pinta mu, nama si kembar Nuh, Ibrahim dan Saleh. Mas... kau pasti dapat melihat kami dari sana kan? Kita satu do'a ya mas, agar sama-sama bahagia di tempat kita masing-masing.” Beeve mengusap batu Nisan yang bertuliskan nama suaminya Andri Han.


“Pa, Bia mau kasih tahu papa, Kalau sekarang Bia sudah bisa baca dan tulis, tapi maaf pa, Bia belum dapat juara pertama di kelas, Bia hanya mampu sampai peringkat 2 besar, ayah jangan marah sama Bia ya, Bia akan berusaha agar jadi juara pertama semester depan.” Bia yang hutang janji pada ayahnya merasa tak enak hati karena tak dapat rangking pertama.


“Bia sudah berdo'a buat papa?” tanya Beeve seraya mengusap puncak kepala putrinya.


“Sudah ma, Bia minta semoga Allah kasih surga buat ayah yang baik hati.” Bia masih ingat betul, akan kasih sayang mendiang Andri padanya.


“Pintar.” sebelum meninggalkan makan, Beeve mencium nisan suaminya.


Mas, kenapa kau begitu sombong pada ku? Semasa hidup mu, kau selalu hadir di setiap tidur ku, namun sejak kau pergi, tak sekali pun kau datang ke mimpi ku lagi, kenapa mas? Apa aku ada salah pada mu? Mas... walau hanya sesekali, datanglah, ku ingin memeluk mu, batin Beeve. Setelah itu mereka pun akhirnya kembali ke rumah.


_______________________________________


Tok tok tok! suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Beeve dari bayinya.


Ia yang berada dalam kamar tanpa pengasuhnya, membukakan pintu sendirian.


Ceklek! Krieet...

__ADS_1


Ketika pintu terbuka, netranya terbuka lebar, sebab ia melihat Andri berdiri tegap di hadapannya.


“Ma-mas??” ucap Beeve dengan suara terbata-bata.


“Assalamu'alaikum sayang, kok lama sih buka pintunya?” ucap Andri seraya mencium kening Beeve.


“A-aku...” Beeve merasa janggal dengan kehadiran suaminya, namun ia tak tahu apa penyebabnya.


“Hei anak ayah!” Andri pun menggendong Ibrahim yang saat itu belum tidur.


“Mas, kau dari mana saja, kenapa baru pulang?” tanya Beeve karena seingatnya Andri sudah sangat lama tak kembali ke rumah.


“Kenapa kau masih bertanya, bukankah dulu aku pamit pada mu sebelum pergi?” ucap Andri.


“Benarkah? Kenapa aku enggak ingat?” Beeve mendadak lupa dengan kejadian di hari yang telah lalu.


“Kau sudah memberi mereka asi?” tanya Andri, mengalihkan topik obrolan.


“Sudah mas, tapi di bantu dengan susu formula, karena asi ku enggak cukup,” terang Beeve.


“Oh.” lalu Andri pun meletakkan Ibrahim kembali ke ranjangnya. Lalu Andri menggenggam kedua bahu Beeve dengan kedua tangannya.


“Kau pasti lelah, berjuang sendirian.” ucap Andri, kemudian memeluk tubuh istrinya. Entah mengapa Beeve meneteskan air matanya.


Kenapa aku jadi menangis? batin Beeve.


“Maaf ya, jika kepergian ku yang lalu membuat mu menderita.” Andri mengusap punggung istrinya.


“Kalau begitu jangan pergi lagi.” ucap Beeve membalas pelukan suaminya yang terasa hangat dan nyaman.


“Aku tetap harus pergi, tak bisa berlama-lama disini.”


“Kenapa mas, apa kau tak sayang aku dan anak-anak kita lagi?” tanya Beeve dengan bersimbah air mata.


“Bukan sayang, tapi... ini bukan tempat ku lagi.” seketika Beeve mengingat segalanya, bahwasanya sang suami tercinta telah berbeda alam dengannya.


...Bersambung......


Sudah tayang!!


__ADS_1



__ADS_2