Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 230 (Beling)


__ADS_3

“Aku enggak tahu Ndri, kenapa Allah menguji ku sampai selama ini, pada hal segala usaha telah kami lakukan, agar kami memiliki keturunan, tapi... Allah masih belum berkehendak juga.” Arman kembali menitihkan air mata.


“Sabar Man, tiada rencana Allah yang percuma, pasti ada alasan untuk segala peristiwa yang kita alami, aku akan selalu mendo'akan mu, agar segera mendapat momongan.” Andri memijat bahu Arman.


“Terimaksih ya Ndri,” ucap Arman.


“Kau kan penghasilannya besar, suruh saja istri mu berhenti bekerja, karena banyak faktor yang menghambat seseorang itu gagal hamil, bisa jadi karena stress, kelelahan dan juga kurang nutrisi, tapi kalau untuk kalian, tak mungkin karena kurang gizi.” terang Andri.


“Istri ku tak mau resign, dia takut aku akan meremehkannya kalau dia enggak bekerja.”


“Ya ampun, sampai sejauh itu pikirannya? Coba kau yakinkan dia, dan bersikap tegas Man, mana tahu mungkin setelah dia istirahat, baru mau isi, kalau memang belum berhasil juga, akan ku sediakan posisi untuk istri mu di kantor kita, kalau dia memang takut kehilangan karirnya, katakan itu padanya, plus aku akan memberikan cuti untuk mu selama 2 minggu bulan depan, kalian berdua harus istirahat bersama, agar kondisi kalian fit, semoga dengan itu, kalian cepat memiliki keturunan.” Andri memberi sahabatnya solusi, sekaligus sebagai balas budi atas kebaikan Arman padanya selama ini.


“Tapikan bulan depan kita ada tender besar,” ucap Arman.


“Tenang saja, aku akan mengatasinya, jangan lupa Man, aku itu jenius, tanpa mu aku bisa melakukan segalanya, hahaha! Jadi fokuslah mengaduk-aduk terowongan semut istri mu!” Andri tertawa terbahak-bahak, berharap ke cemasan di hati sahabatnya berkurang.


“Baiklah kalau begitu, bagusnya kami liburan kemana ya Ndri?” tanya Arman meminta pendapat.


“Coba ke Selandia Baru, di sanakan pemandangannya bagus, udaranya juga sejuk, ku yakin kalian berdua akan enjoy selama disana,” ujar Andri.


“Kau benar juga, tapi Ndri...” Arman menatap wajah Andri dengan serius.


“Apa?” tanya Andri.


“Yang bayar tiket liburan sampai booking hotel dari uang perusahaan kan?” ujar Arman yang tak ingin keluar uang sepersen pun.


Andri menelan salivanya, “Dasar pelit! Pada hal uang mu juga banyak!” pekik Andri.


“Yang menyarankan ke sanakan kau, lagi pula aku sudah lama menjadi pesuruh mu, beri aku penghargaan sedikitlah, kalau hanya kesana selama 2 minggu tak seberapalah untuk mu.” ucap Arman yang cerdik mengeruk uang Andri.


“Iya-iya, nanti aku yang bayar semuanya, tapi jangan sampai uang shopping mu juga ya!” pekik Andri.


“Terimakasih banyak bos ku.” Arman pun tertawa cengengesan, karena keinginannya tercapai.


Sore harinya, Andri yang telah tiba di rumah mencari istrinya ke dalam kamar.


Ceklek!!! Andri membuka pintu saat akan memasuki kamar, lalu ia pun melihat istrinya tengah terbaring lemah di atas ranjang, bersama Bia yang duduk di sebelahnya.


“Sayang... kau sakit lagi?” Andri pun mendekat ke ranjang.


“Iya mas, aku lemas banget, pusing, seharian kerja ku muntah-muntah terus,” ucap Beeve.


“Iya pa, kasihan mama, kita berobat ke dokter yuk pa.” Bia pun mengajak sang ayah untuk membawa ibunya ke rumah sakit.

__ADS_1


“Kau benar juga nak.” Andri memiliki pendapat yang sama dengan putrinya.


“Enggak usah mas, lagi pula inikan efek hamil, dan dokter juga sudah memberikan obat muntah dan pusing,” terang Beeve.


“Kau yakin sayang?” tanya Andri memastikan.


“Iya mas, untuk itu bantu aku kali ini ya mas.”


“Bantu apa sayang?”


“Tolong ambilkan nasi Bia, lauk juga sudah habis, pesan online saja, dan...”


“Dan apa lagi?” tanya Andri.


“Cuci piring dan sapu rumah juga,” jawab Beeve.


“Hah? Sebanyak itu? Memangnya bibi pergi kemana?”


“Bibi tadi siang izin pulang selama 3 hari, suaminya sedang sakit.”


Andri pun mengelus dadanya, “Baiklah sayang, akan aku lakukan, kau istirahat yang tenang ya cinta ku.” sebelum bekerja, Andri mengecup kening istrinya.


Setelah itu, ia pun keluar bersama Bia menuju dapur.


“Bia, kau makan sendiri ya sayang, papa mau menyapu rumah kita dulu,” ujar Andri.


“Papa enggak makan dulu baru kerja?” ucap Bia,Nyang khawatir jika ayahnya sakit seperti ibunya.


“Papa kerja dulu baru makan nak.” terang Andri.


“Baiklah pa, Bia akan makan cepat, setelah itu Bia bantu papa bersih-bersih.” Bia yang kasihan pada Andri pun berniat ingin membantu.


“Terimakasih banyak nak, tapi Bia cukup makan yang rapi saja, nasi jangan tercecer kemana-mana, itu sudah sangat membantu buat papa,” terang Andri.


“Baik pa, Bia akan makan dengan baik.”


Setelah percakapan singkat itu, Andri beranjak ke ruang tamu dengan membawa sapu dan juga serok sampah, ia pun mulai menyapu seluruh area rumah dengan sangat detail.


Berulang kali Andri menunduk dan membungkuk untuk menjatah kertas atau apapun yang tak dapat di jangkau oleh sapunya.


Setelah bekerja keras selama 1 jam membersihkan rumah, akhirnya Andri menyelesaikan selesai tugasnya.


Astaga, gila banget nih, sebaiknya aku beli pembersih ruangan otomatis, 3 hari lagi mengerjakan pekerjaan rumah, bisa-bisa badan ku remuk.” Andri benar-benar merasa pekerjaan rumah lebih berat dari pada pekerjaan kantornya.

__ADS_1


“Aku harus menaikkan gaji si bibi, kasihan dia selama ini kesusahan mengurus rumah ini sendirian.” Andri yang sadar, berniat menambah gaji bulanan Ratih.


Setelah istirahat sebentar, Andri kembali ke dapur, ternyata putrinya sudah tak ada disana.


Lalu Andri membereskan bekas piring Bia, dan menaruhnya ke wastafel.


“Astaga!” Andri begitu syok melihat tumpukan piring yang belum di cuci.


“Selesai ku kerjakan, lebih baik aku cari Art harian, bisa stres aku kalau harus mengerjakannya esok lagi,” gumam Andri.


Ia yang ingin segala pekerjaan rumah cepat tuntas, segera mencuci peralatan yang kotor dalam wastafel, Andri yang kurang berpengalaman dalam mengerjakan yang satu ini, tanpa sengaja memecahkan sebuah piring saat ia sedang menyikatnya dengan spons.


Prang!!!


Piring tersebut hancur berkeping-keping di lantai, mirip dengan perasaan Andri, yang harus membersihkan serpihan kaca yabg telah menyebar kemana-mana.


“Andri... Andri... bodoh banget sih kau!” dengan berat hati, Andri melanjutkan acara cuci piringnya, setelah itu ia pun membersihkan lantai, saat ia memungut salah satu beling kaca yang tercecer di bawah meja tanpa sengaja telunjuknya tergores, alhasil jemarinya pun berdarah.


“Astaghfirullah, hum... ternyata pekerjaan ibu rumah tangga itu berat bukan main, bikin lelah dan berdarah-darah, pantas banyak istri yang setres dengan pekerjaan rumah yang terlihat sederhana namun tak putus-putus,” gumam Andri.


Ia yang sudah menyelesaikan segala permintaan tolong istrinya merasa lega. Setelah itu Andru kembali ke kamar.


“Mas... apa sudah selesai?” tanya Beeve.


“Sudah sayang,” jawab Andri.


“Maaf ya mas sudah menyusahkan mu, pada hal di kantor juga kau sudah bekerja keras.” ucap Beeve. Lalu Andri pun duduk di pinggir ranjang.


“Sayang, jangan berkata begitu, kitakan suami istri, sudah selayaknya saling membantu,”


Kemudian Beeve tanpa sengaja menggenggam tangan suaminya yang terluka.


“Ssttt....” Andri pun mendesis karena merasa perih.


“Ada apa mas?” Beeve pun menoleh ke telunjuk suaminya yang kembali mengeluarkan darah.


“Mas, kok tangan mu bisa luka?” Beeve yang cemas bangkit dari tidurnya.


“Ini hanya luka kecil, tadi kena beling,” ucap Andri.


“Beling piring?”


“Iya sayang.” Andri menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2