
Andri benar-benar kapok telah melanggar aturan istrinya.
Sejak hari itu, Andri tak banyak protes akan apa yang Beeve lakukan, dari pada kena amuk, ia lebih memilih diam.
Pada suatu malam yang tenang, Andri pun mengutarakan rencana liburannya pada sang istri.
“Sayang, apa kau sudah bersih?” tanya Andri.
“Sudah mas.” jawab Beeve seraya bermain handphone.
“Kalau begitu, gimana kalau kita pergi liburan? Besok kan Jum'at sayang, lumayan kan 2 hari.” ujar Andri.
“Kemana mas?”
“Enaknya kemana ya? Kalau keluar negeri, waktunya enggak cukup.”
“Gimana kalau ke Bali?” ucap Beeve.
“Balinya dimana sayang?”
“Aku lihat di internet ada Villa romantis untuk orang berbulan madu, tempatnya itu sangat tenang, dan lokasinya juga tersembunyi, karena berada di kaki gunung Agung, disana juga banyak pepohonan mas, mirip tempat yang kita datangi 4 tahun yang lalu, dan villa yang satu dan lainnya jaraknya lumayan jauh, jadi cukup tenang menghabiskan waktu berdua,” terang Beeve.
Lalu Andri melirik wajah Beeve, “Berdua?”
“Iya.”
“Lalu Bia? Bagaimana dengannya?” tanya Andri, yang berpikir kalau putri mereka juga ikut liburan.
“Memangnya Bia ikut mas?” tanya Beeve.
“Ikutlah sayang, kasihan kalau dia di tinggal sendiri,” ujar Andri.
“Tapi mas, bangunan villanya itu terbuka loh, dan hanya memiliki satu kamar, ku rasa Bia akan mendengar aktivitas yang akan kita lakukan,” terang Beeve.
“Kalau begitu kita ke tempat lain saja,” ucap Andri.
“Apa?” Beeve menghela nafas panjang, karena tempat itu sudah lama ia inginkan.
“Jangan begitu, kasihan Bia kalau enggak ikutkan?”
“Tapi mas, aku sudah lama ingin kesana dengan mu.” wajah cemberut dan penuh harap Beeve membuat Andri jadi ingin mengerjainya.
“Kemana pun enggak masalah, asal yang berangkat kita bertiga.” lalu Beeve memancungkan bibirnya, seraya bergumam.
“Katanya kemarin mau bulan madu, huh!”
Lalu Andri mencubit pipi Beeve, “Baiklah, jangan ngambek gitu dong, kita akan kesana, berdua!” seru Andri, lalu perlahan wajah Beeve yang cemberut menjadi sumringah.
“Serius mas? Enggak bercanda kan?”
“Iya, mana mungkin kita bawa Bia, kau kan kalau lagi begitu teriakannya kencang banget!” Beeve tersenyum malu saat suaminya mengingatkannya tentang adegan di masa lalu.
“Kau juga sama mas!” Beeve memeluk Andri dengan manja.
“Kita tidur sekarang?” ucap Andri.
__ADS_1
“Iya mas.” keduanya pun tidur dengan saling berpelukan.
Keesokan harinya, setelah Bia pulang sekolah, ia pun mengantarkannya ke rumah mertuanya.
Kebetulan saat itu Rahma sedang berada di rumah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Beeve dan Bia.
“Walaikum salam, loh kalian datang?” Rahma menyambut Beeve dan Bia dengan senyuman.
“Iya bu,” sahut Beeve.
“Mau nginap ya?” tanya Rahma.
“Enggak bu, kalau ibu enggak keberatan, aku ingin meminta tolong banyak.”
“Apa itu?”
“Tolong jaga Bia hari ini sampai minggu ya bu, karena aku dan mas Andri ingin liburan ke Bali.” ungkap Beeve.
“Wah!! Kalian mau bulan madu?” Rahma begitu antusias menerima kabar baik itu.
“Bu-bukan bu, kita hanya liburan biasa,” ucap Beeve dengan malu.
“Terserah apa judulnya, masalah Bia kau enggak usah khawatir, ibu akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, kau dan Andri nikmati saja liburan kalian dengan tenang, tak usah pikirkan hal lain,” terang Rahma.
“Terimakasih banyak bu,oh iya, Beeve mau naik ke kamar mas Andri dulu bu, karena ada barang yang ketinggalan.” ucap Beeve.
“Iya, pergilah.” kemudian Rahma menuntun Bia untuk menonton tv.
“Kau datang?” Emir menyapa kakak iparnya dengan sopan.
“Iya mas.” sahut Beeve.
“Apa menginap?” tanya Emir.
“Enggak, hanya menitipkan Bia.”
“Loh, memangnya kalian mau kemana?” tanya Emir penuh selidik.
“Rencana, nanti sore setelah mas Andri pulang kerja, kita berdua mau berangkat ke Bali.” ungkap Beeve.
Quality time, batin Emir.
“Selamat bersenang-senang.” ucap Emir dengan perasaan sesak.
“Terimakasih banyak mas.” setelah itu Beeve melanjutkan langkahnya menuju lantai 2.
Saat ia membuka Handle pintu, tiba-tiba dari belakang Emir memeluk tubuhnya.
“Hah! Mas! Apa-apaan kau!” pekik Beeve.
“Maafkan aku Bee, aku benar-benar enggak bisa mengendalikan perasaan ku!” Emir mengecup leher mulus Beeve yang jenjang.
“Lepaskan aku mas, kau benar-benar gila ya! Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Yang ada kita di kira selingkuh!”
__ADS_1
“Sebentar saja, aku sangat rindu,” ucap Emir.
Beeve benar-benar serba salah, ingin teriak takut menimbulkan kekacauan pada keluarga itu. Terlebih ia tak ingin Andri dan Emir berselisih karenanya.
“Mas! Kau jangan membuat aku marah ya! Lepaskan aku!” Beeve terus meronta.
Lalu Emir memutar tubuh Beeve menghadap dirinya, ketika ia ingin mengecup Beeve, dengan sigap Beeve menampar wajah Emir.
Plak!!
“Kau benar-benar kurang ajar! Enggak bisa di kasih tahu dengan halus, kau itu sudah punya calon istri, dan aku sudah punya suami, sadar dong mas! Jangan cari penyakit, kalau mas Andri tahu dengan apa yang kita perbuat bagaimana? Enggak ada yang tahu dia buat cctv dimana, kalau dia lihat dan kalian jadi bertengkar, kau pikir aku enggak akan kesusahan? Akh!” Beeve yang marah mendorong kasar tubuh Emir.
“Menjauh kau dari ku! Kau benar-benar membuat ku kesal! Ku beritahu kau mas! Fokus pada Helena! Karena dia adalah jodoh pilihan kedua orang tua mu!”
Beeve yang tak ingin berlama-lama dengan Emir masuk ke dalam kamar suaminya, lalu mengambil barang yang ia cari, setelah ketemu, ia pun bergegas turun kembali ke lantai satu.
Bisa gila aku karena dia, enggakbada kapoknya, batin Beeve.
Emir yang di tinggal sendirian mematung, tanpa ia sadari air matanya menetes.
Ia tak tahu, bagaimana cara mengendalikan kegilaannya pada Beeve.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? batin Emir.
Beeve yang telah berada di ruang Tv menjumpai anak dan mertuanya.
“Bu, aku pamit sekarang ya.” ucap Beeve yang ingin segera keluar dari rumah itu, ia takut jika harus bertemu Emir lagi.
“Buru-buru banget.”
“Iya bu, karena aku belum menyusun pakaian kami ke dalam koper bu," ujar Beeve.
“Makanlah dulu sebelum pulang.”
“Enggak usah bu, aku masih kenyang, oh ya Bia, selama di rumah nenek jangan nakal ya, nanti pulangnya mama dan papa akan bawa oleh-oleh,” ucap Beeve.
“Iya ma, Bia akan jadi anak yang baik.”
“Pintar, kalau begitu mama tinggal ya.” sebelum ia pergi, Bia pun mencium punggung tangannya, Beeve pun menjabat tangan mertuanya, selanjutnya ia meluncur menuju kediamannya.
Selama dalam perjalanan, Beeve kepikiran akan sikap Emir padanya.
“Kenapa sih dia enggak pernah berubah, sudah mau nikah juga! Semoga saja mas Andri enggak buat cctv diam-diam di kamar,” gumam Beeve.
Ia yang telah sampai ke rumah, mengemas segala keperluan liburan mereka. Beeve begitu bersemangat. Setelah selesai, ia pun mandi, lalu bersantai di ruang tamu menunggu sang suami pulang.
Pukul 17:00 sore, Andri telah tiba di rumah, “Assalamu'alaikum.”
“Walaikum salam.” sahut Beeve, seraya bangkit dari sofa, kemudian menyambut suaminya dengan senyuman lebar.
“Lama banget mas pulangnya.” ucap Beeve meraih tas yang ada di tangan suaminya.
“Justru ini kecepatan sayang, biasakan aku keluar kantor paling cepat jam 5, ini jam 5 sudah sampai rumah.” terang Andri.
...Bersambung......
__ADS_1